
Renita selesai dengan sarapan bubur nya. lalu mengalihkan perhatian nya pada suaminya dan Yusuf bergantian. tampak kedua lelaki tampan itu pandangan nya tertuju ke arah dirinya dengan expresi yang Renita tebak tak.. nyaman? ah Renita hampir lupa rupanya kalau dia sedang ada di pinggiran jalan di pedagang kaki lima. ya, Renita merengek untuk makan bubur ayam di pedagang kaki lima yang berada tak jauh dari pantai mungkin sekitar dua ratus meter dari bibir pantai. bubur ayam yang sangat nikmat sekali menurut Renita. saking nikmatnya tak menyadari apa yang terjadi pada kedua pria tampan bersaudara ini. tak menyentuh bubur ayam yang mereka pesan.
Renita mengerjapkan matanya menatap suaminya dan itu sangat menggemaskan bagi Anggara dan sadar hal itu Anggara melirik ke arah Yusuf yang dengan mulut sedikit terbuka menatap Renita sedemikian rupa.
"jaga pandangan mu Yusuf...!"
dengan rasa yang jengkel Anggara mengusap kasar wajah Yusuf tepat nya mata Yusuf seperti tatapan orang yang sedang terkesima memandang ke arah istrinya.
"astaga mas! nggak sopan amat tangan nya!" Yusuf terkejut dan sedikit berteriak karena sikap Anggara yang mengusap kasar wajah nya meletakkan telapak tangan besar nya menutupi matanya. kontan saja Yusuf langsung menepis tangan besar Anggara dari wajah nya dengan wajah yang di tekuk.
"kamu tuh yang harus sopan! menatap istri ku seperti itu" balas Anggara tak terima bersungut-sungut pada Yusuf.
"menatap seperti apa maksud nya?" seperti tak punya dosa Yusuf berkilah.
"stop! sudah berhenti kalian! apa sih yang sedang kalian ributkan ha?"
Renita berteriak rendah untuk menghentikan kedua lelaki tampan yang tak jauh beda usia nya. yang sedang berdebat entah apa yang mereka ribut kan. ucapan Renita membuat Anggara dan Yusuf menghentikan perdebatan nya, dan kembali mengarahkan atensi nya pada Renita. tapi tidak dengan Anggara lelaki itu masih menatap Yusuf dengan tatapan menghujam.
"Abang nggak mau makan bubur nya? kalau nggak mau kenapa tadi pesen?" tanya Renita mata melihat semangkuk bubur ayam yang ada di hadapan suami nya masih dalam keadaan utuh belum tersentuh sama sekali. Anggara akhirnya memutuskan pandangan nya pada Yusuf dan menoleh pada istrinya, menggaruk ujung hidung nya seolah gatal dengan senyum tipis namun kaku.
"eh, anu sayang..aku.."
"nggak suka? enak lho bang, bubur nya coba deh" Renita memotong ucapan Anggara cepat lalu menarik semangkuk bubur ayam yang ada di hadapan suami sudah dalam keadaan sedikit dingin karena memang di biarkan begitu saja sedang kan bubur ayam milik Renita sudah habis ludes. bola mata biru Anggara mengikuti pergerakan tangan istrinya yang sedang mengaduk sebentar bubur ayam itu dan mengangkat satu sendok makan yang sudah berisi bubur mengarah kan ke arah dirinya. mata Anggara melebar karena kaget.
"AA... buka mulut nya bang" Renita mengarah kan satu sendok bubur ke arah mulut Anggara. sejenak Anggara diam menatap lekat wajah istrinya. tapi sedetik kemudian Anggara membuka mulut nya untuk menyambut suapan dari istri nya.
Anggara melahap bubur itu tanpa melepaskan tatapan matanya pada istrinya. Renita tersenyum manis melihat reaksi suami nya ketika bubur ayam yang dia suapkan ke mulut suami.
"enak?" tanya Renita matanya berpendar menunggu jawaban dari suaminya.
"HM, enak" Anggara mengangguk mengunyah merasakan bubur yang ada di dalam mulut nya.
"sebenarnya yang bikin bubur ayam nya enak karena makannya dari suapan tangan kak Renita ya kan mas?!" ucap Yusuf dengan bibir mencebik melihat kemesraan pasangan suami istri itu. k
"kalian ini jangan pamer kemesraan di depan jomblo dong, tidak punya prikejombloan" sambung Yusuf lagi memalingkan wajahnya ke arah lain namun masih tetap duduk di tempat nya.
Renita tertawa pelan menanggapi tingkah Yusuf.
"makanya cepet cari pacar eh, jangan pacar tapi langsung saja cari buat calon istri karena kamu sudah ngerasain bagaimana nikmatnya surga dunia yus" cecar Anggara dengan nada sinis dan hanya melirik sekilas ke arah Yusuf tanpa mempedulikan reaksi wajah Yusuf yang merah padam karena ucapan frontal Anggara. mata Yusuf membola wajah nya menegang saat mendapat pertanyaan dari Renita.
__ADS_1
"surga dunia? maksud nya apa yus? apa kamu....?" Renita mengarah kan jari telunjuk nya ke arah Yusuf dengan wajah penasaran akut dalam otak cantik nya mencerna ucapan suaminya tadi Renita bukan perempuan polos lagi yang tidak mengerti arti ucapan suaminya yang terkesan ambigu tapi sepertinya Renita dapat menangkap arti nya.
"tidak, tidak. buang jauh-jauh pikiran kotor itu kak Ren" Yusuf menjawab cepat menyangkal yang ada di pikiran Renita yang mungkin menduga Yusuf sudah merasakan yang iya, iya. sementara Anggara hanya tersenyum puas melihat kepanikan adik sepupu nya.
hingga Yusuf sudah tidak tahan lagi karena merasa malu dia pun berdiri dari duduknya hendak berjalan keluar dari tenda kaki lima itu.
dan pecah lah tawa Anggara melihat tingkah Yusuf seperti itu.
Yusuf hanya bisa mendengus kasar menatap tajam ke arah Anggara yang mentertawakan diri nya. rupanya Anggara menyinggung kejadian pada waktu mereka mengalami malam laknat di Singapura.
"bang, kok kamu kayak nya puas banget sih" Renita meringis melihat suaminya tertawa lepas dan itu membuat Renita tak enak hati pada Yusuf.
"biarin aja. kan aku nggak salah nyaranin dia langsung cari istri saja dari pada pacar. berabe,, kalau lelaki yang sudah pernah ngerasain nikmat nya bercinta kalau tidak buru-buru cari pasangan tentu nya pasangan halal itu lebih baik"
dengan gaya santai nya Anggara berceloteh tanpa beban menjelaskan perilaku Yusuf. Renita hanya tercengang mendengar ucapan suaminya tentang Yusuf.
"aku nggak nyangka bang" lirih Renita dengan wajah kaget menatap lurus ke arah Yusuf yang sudah berjalan ke arah mobil mereka yang terparkir di pinggir jalan dengan wajah cemberut.
"sialan tuh si mas bule kalau ngomong emang nggak ada filternya itu mulut" gerutu Yusuf sambil membuka tutup botol air mineral yang dia bawa tadi, yang tersedia di pedagang bubur. di tenggak nya air kemasan itu hingga hanya tersisa seperempat nya saja. berdiri di depan kap mobil penampilan Yusuf yang hanya memakai kaos putih bertuliskan New York di bagian depan dadanya, dengan stelan bawah memakai celana pendek chinos selutut dengan kaca mata hitam bertengger di atas kepala nya.
dan seperti nya dia mengingat apa tujuan utama menemui Anggara dan dengan terpaksa dia pun berjalan kembali ke tenda kaki lima menghampiri Anggara yang masih betah di dalam tenda menghabiskan bubur ayam nya Dari tangan istrinya nya.
"kheem!" Yusuf berdehem untuk menegaskan kehadiran nya yang seperti nya di abaikan oleh kedua pasangan bucin yang sedang asik sarapan pagi. dan berhasil. Anggara dan Renita menoleh ke arah Yusuf yang sudah berdiri menjulang di belakang tubuh Anggara.
"kenapa yus? apa kamu mau sarapan juga?" tanya Renita.
sejenak Yusuf diam tidak ada kata yang terlontar dari mulut nya. seperti nya Yusuf sedang menyusun kalimat yang tepat untuk menyampaikan maksud nya. Yusuf menatap lurus ke arah Anggara dan Renita bergantian dan berhenti pada Anggara. dengan tatapan yang menurut Anggara aneh?
"ada apa yus? apa ada yang akan kamu katakan?" tanya Anggara dengan tatapan selidik tapi rupanya Yusuf masih enggan mengeluarkan kata-kata nya. dan itu membuat Anggara menjadi gusar karena penasaran. begitu juga dengan Renita wajah nya sudah tak lagi santai karena menunggu lama Yusuf tak kunjung bicara gemas rasanya Renita melihat Yusuf seperti itu.
"Yusuf Ferdiansyah....." Anggara menyebut nama lengkap Yusuf dengan nada menggeram rendah menatap tajam pada adik sepupu nya. dan itu membuat Yusuf terhenyak karena seperti Anggara sudah benar-benar marah.
Yusuf menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nafasnya perlahan kemudian baru lah dia bicara dengan nada ragu dan hati-hati.
*
di sini lah mereka sekarang Anggara dan Renita serta Yusuf di depan sebuah hotel atau lebih tepatnya seperti sebuah resort mewah masih di sekitar pantai Senggigi. bangunan mewah resort bintang lima. langkah Anggara berhenti tak kala sudah berada di depan pintu sebua restoran di sebuah resort mewah.
wajah nya menegang ada gurat keraguan di wajah nya dan ada juga aura kemarahan di wajah tampan itu.
__ADS_1
"bang" lirih Renita menggenggam erat satu tangan kekar suami nya dengan dua tangan nya dan memberikan usapan lembut di lengan sang suami yang dia tahu sedang tidak baik baik saja. Anggara menoleh ke arah istrinya dengan tatapan sendu.
"aku tidak ingin menemui nya sayang. lebih baik kita balik ke villa saja ya?"
setelah mengatakan itu Anggara berbalik badan menarik tangan istrinya untuk mengikuti langkah nya namun Anggara merasakan langkah nya tertahan karena tangan nya di tahan oleh istri nya. dua alis tebal Anggara saling bertaut menatap tanda tanya pada istrinya.
"kamu harus menemuinya bang. biar bagaimanapun dia itu mamah kandung mu. apa kamu tidak merindukan nya?" ucap Renita dengan hati-hati karena dia tahu hal yang dia katakan tadi adalah sesuatu yang sangat sensitif untuk suami nya. dia tidak mau kalau suami nya marah atau tersinggung dengan ucapan nya. Renita menatap takut-takut suami nya yang menatap dirinya dengan tatapan seperti tidak suka? dan Renita meneguk Saliva nya susah payah mendapatkan tatapan seperti itu dari netra biru itu.
"bang" Renita kembali berucap pelan nyaris tak terdengar. apa lagi suami nya masih dalam posisi berbalik arah.
ya. seperti nya Yusuf menyampaikan amanah dari Om nya Rahman. kalau Salma mamah kandung Anggara datang. ingin bertemu dengan Anggara di Lombok dan Rahman memberi tahu hal itu pada Yusuf untuk di sampaikan pada Anggara. Salma terlebih dahulu sudah meminta izin pada Rahman untuk bertemu dengan Anggara karena masih menghargai Rahman itu pun atas saran suami kedua nya Robert kalau saja suami nya tidak berkeras menyuruh nya untuk meminta izin pada Rahman untuk bertemu dengan Anggara Salma enggan untuk meminta izin terlebih dahulu pada lelaki yang telah menorehkan luka di hati nya itu. untuk menemui putra pertama nya dan di sini lah ia sekarang berada di sebuah resort mewah dan saat ini Salma dan suami nya sedang menunggu kedatangan putra nya itu di sebuah restoran yang ada di area resort tersebut dengan wajah harap harap cemas.
"tenang lah darling.. putra mu pasti datang" Robert yang melihat wajah gelisah istri nya memberi usapan lembut di punggung istri nya untuk menyalurkan ketenangan pada istrinya yang sedang gelisah kedua jemari tangan nya saling meremas karena rasa gelisah yang sedang Salma rasakan saat ini. bola mata biru Salma yang serupa dengan Anggara bergerak menyisir arah sebuah gerbang kecil yang ada di ujung restoran tersebut menunggu seseorang yang dia harapkan kedatangan nya dari arah gerbang kecil itu.
dan tak lama netra biru wanita berusia kepala empat yang masih terlihat cantik dan segar itu melebar karena melihat seseorang yang dia tunggu sedari tadi muncul dari arah gerbang kecil itu. netra biru Salma menatap penuh kerinduan pada sosok pria muda gagah tampan yang berjalan pelan ke arah dirinya tak mau diam Salma berdiri dari duduknya berjalan mendekati Anggara ya lelaki muda itu Anggara dengan expresi wajah tak terbaca menatap lurus pada seorang wanita cantik dengan warna rambut serupa dirinya bewarna tembaga begitu juga netra biru nya yang serupa dengan dirinya. lagi-lagi Anggara membenci kemiripan itu yang dia miliki dari sang mamah kandungnya. hanya raut wajah nya saja keseluruhan mirip dengan wajah Rahman istilah nya sosok Anggara adalah Rahman versi bule.
Salma berlari kecil menghampiri Anggara dan ketika jarak dirinya dengan Anggara hanya menyisakan dua langkah saja, Salma menahan langkah nya dan berhenti di depan Anggara yang masih memberikan tatapan tak terbaca pada sosok wanita cantik di hadapan nya ini.
"Angga, anakku" ucap Salma Pelan dengan senyuman yang terlihat canggung namun netra biru nan cantik itu terlihat berkaca. karena sikap Anggara yang masih terlihat datar.
Renita yang berdiri di samping suami nya, melihat itu mengusap punggung lebar suaminya pelan.
dan Salma baru menyadari keberadaan Renita dia pun berjalan mendekati Renita dengan mengulas senyum di bibir nya.
"kamu pasti Renita kan? istri nya Anggara menantu ku" tanya Salma dengan wajah terlihat hangat memandang Renita apa lagi Salma menggenggam tangan Renita.
"i_iya saya Renita Tante" jawab Renita sedikit gugup lalu menoleh sekilas pada suami nya yang juga menoleh ke arah dirinya.
"darling kenapa kamu bicara terus, ajak mereka duduk dulu baru kita bicara" Robert menyela pembicaraan di situasi canggung itu.
"ah, iya maaf kan aku. saking senangnya jadi lupa begini"
kemudian tanpa beban Salma menarik lembut tangan Renita untuk ke sebuah.meja dengan enam kursi tunggal di dekat nya.
"ayo sayang kita duduk dulu" ajak Salma dengan suara lembut nya pada Renita yang di balas anggukan serta senyum yang masih kaku dari Renita lalu Anggara serta Yusuf mengikuti langkah kedua wanita berbeda usia itu dari belakang lalu duduk di kursi tunggal yang sudah tersedia di restoran tersebut. Anggara duduk di samping Renita yang berhadapan dengan Salma serta Yusuf duduk di samping Anggara berhadapan dengan Robert. semenit kemudian keadaan di antara mereka hanya keheningan yang ada saling memberikan tatapan dengan arti yang berbeda.
*
TBC..
__ADS_1