
"sudah lah Miela, nanti kita pikirkan lagi bagaimana selanjutnya rencana ku untuk menyingkirkan perawan tua itu"ucap Verra pelan dengan seringai nya.
"apa Tante tetap mau menjodohkan aku dengan Anggara?" tanya Miela dengan penuh harap
"tentu saja, aku tidak akan sudi Anggara menikah dan hidup dengan wanita yang menua lebih cepat dari dia, aku tidak terima!" kedua tangan Verra mengepal erat menatap lurus ke arah pintu kamar Anggara.
"tapi tante, Anggara sangat kasar pada ku"
Verra menoleh ke arah Miela
"apa cuma segitu nyali mu ha? cuma di kata seperti itu nyali mu sudah menciut?!"
"ti_tidak, tentu saja aku tidak akan mundur" sahut Miela menelan ludah nya kasar.
"bagus kalau begitu, sekarang istirahat lah, kumpulkan tenaga mu buat besok untuk berjuang mendapatkan tempat di hati Anggara" sebegitu yakin nya Verra dengan rencana nya.wanita itu beranjak dari duduknya berjalan ke arah kamar tamu, meninggalkan Miela.
___
pagi menjelang kesibukan rumah keluarga Subianto nampak terlihat hari ini hari Senin, hari yang menjadi momok bagi semua orang yang katanya hari yang paling sibuk dan melelahkan di antara hari yang lain nya.Anggara dan Rahman keluar bersamaan dari kamar nya masing-masing kedua pria tampan berbeda usia itu menapaki satu persatu anak tangga untuk turun ke lantai bawah.
"Good morning papah" sapa Anggara melihat papah sudah ada di samping nya jalan berbarengan turun ke bawah.
"pagi Anggara, pulang dari kampus jangan lupa kamu mampir ke butik Tante Bella untuk fiting baju pengantin mu bersama Renita" ucap Rahman menepuk pundak Anggara.
"iya,papah, tentu aku tidak lupa, semalam aku sudah telpon ke Renita" sahut Anggara menarik kursi tunggal yang ada di dekat meja makan dan duduk begitu juga dengan Rahman.dua lelaki utama rumah itu duduk bersebelahan untuk sarapan pagi nya.
di situ sudah hadir Verra, Miela , juga Aisyah yang sibuk menyiapkan sarapan untuk suami nya.
"terimakasih umi ku sayang" ucap Rahman tersenyum genit pada istrinya.membuat Aisyah yang umurnya lebih muda tujuh tahun dari Rahman, tersipu malu dan mencubit pelan lengan kekar Suaminya yang tak tahu malu itu karena umur mereka yang tak lagi muda.
"tidak ingat umur kamu by!" ucap Aisyah ketus, namun bisa Rahman tangkap rona malu tapi suka pada istrinya nya itu.pria paruh baya itu hanya tertawa kecil menimpali tingkah istri nya.
Anggara hanya tersenyum tipis melihat tingkah kedua orang tua nya yang seperti anak muda yang baru jatuh cinta.
__ADS_1
lain dengan Anggara, lain juga dengan Verra dan Miela, kedua wanita itu memandang sinis melihat kemesraan Rahman dan Aisyah.
"cih, tidak tahu malu, sudah tua bangka berlaga seperti anak muda"gumam Verra.
Miela melirik Verra sembari mencebik seolah membenarkan ucapan Verra.
wanita itu menggerakkan dagu nya dan menggerakkan bola matanya pada Miela.
"what?" tanya Miela hanya menggerakkan bibirnya tanpa suara ke arah Verra karena tidak paham apa maksud gerakan Verra tadi.
"gadis bodoh,layani Anggara sarapan"ucap Verra lagi kali ini sedikit mendekatkan wajahnya ke telinga Miela berbisik.
"oh, baik lah"sahut Miela pelan dengan senyum yang mengembang di wajah.
"kamu mau sarapan apa Anggara? biar aku ambilkan" tanya Miela menarik tangan Anggara yang akan mengambil roti tawar yang akan dia olesi dengan selai.Anggara hanya diam memperhatikan dan membiarkan Miela yang sigap mengambil alih roti tawar yang hendak di ambil Anggara dan di olesi selai nanas kesukaan Anggara dengan percaya diri karena mendapatkan bisikan dari Verra kalau Anggara sangat menyukai selai nanas.
Aisyah dan Rahman saling pandang sesaat kemudian mereka memperhatikan gerak gerik Miela tampak ketidak suka an pada wajah kedua nya.Rahman menatap tajam ke arah Anggara seolah bertanya mengapa Anggara membiarkan gadis itu melayani nya. tapi Anggara diam tak berekspresi walaupun mendapatkan tatapan tidak suka dari papah nya.pria bule itu tetap bersikap tenang memperhatikan Miela yang sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk dirinya.
sementara Miela terlihat bahagia karena Anggara tidak menolak diri nya.
dengan percaya diri Miela memberikan piring yang sudah terisi dengan dua tumpuk roti tawar yang berisikan selai nanas.
tapi betapa kagetnya Miela ketika Anggara mendorong pelan piring tersebut pada Miela.
Rahman dan Aisyah kembali saling pandang tapi kali ini mereka saling melempar senyum nya.
"makan lah buat mu sendiri, aku tidak suka roti isi selai nanas"
jleb!
wajah Miela pias, melirik ke arah Verra wanita itu sama terkejutnya dengan Miela.
apa-apaan Anggara bilang tidak suka dengan selai nanas, karena setahu dia selama dia mengasuh Anggara ponakan nya itu sangat suka dengan selai tersebut. bahkan sering kali Anggara minta di buat kan selai nanas buatan nya sendiri di saat berkunjung ke Belanda untuk di bawa pulang ke Indonesia pikir Verra seperti itu.
__ADS_1
"Anggara, bukan nya selai nanas ini kesukaan mu, kenapa sekarang kamu bilang tidak suka? apa karena kamu sengaja menolak Miela melayani mu, kamu tidak sopan Anggara"
"selera orang bisa berubah kan Tante? mungkin dulu aku sangat menyukai nya,yaah, walaupun aku sekarang pun masih menyukai selai ini, tapi seperti nya sekarang aku jadi tidak berselera dengan selai nanas ini" Anggara berdiri dari duduknya sedikit mendorong kebelakang kursi tunggal yang dia duduki.
"mau kemana kamu Angga?" kali ini Rahman bicara.
"aku berangkat ke kampus papah"
sahut Anggara mengambil tas kerjanya yang dia taruh di bangku sebelah nya.
"tapi, kamu belum sarapan Angga" Aisyah ikut menimpali ucapan Rahman dengan wajah khawatir.
Anggara tersenyum tipis
"tidak apa-apa umi, aku akan sarapan di kampus Dengan Renita"
"oh, baik lah kalau begitu" sahut Aisyah pasrah dengan kemauan anak sambung nya itu.walaupun begitu ada senyum samar di bibir Aisyah.melirik sekilas wajah kedua tamu nya yang sangat meresahkan.
setelah berpamitan Anggara pergi begitu saja melangkah ke luar rumah itu dan tak lama terdengar deru mesin mobil meninggalkan rumah. dan ketika suara deru mesin mobil tersebut menghilang tidak terdengar lagi.
"aku sudah selesai" ucap Rahman berdiri dari duduknya tapi Rahman masih berdiri diam menatap tajam ke arah Verra dan Miela bergantian kali ini wajah tua tapi terlihat masih tampan dan gagah itu, Rahman terlihat menegang dan dingin.
"aku harap, kamu dan Gadis ini cukup sampai di sini mengusik Anggara, aku tidak mau anak ku terganggu karena kalian berdua"
"apa maksud mas?!" sahut Verra pura-pura tidak mengerti ucapan Rahman.
"kamu pasti tidak bodoh untuk terus mempermalukan diri mu Verra.tapi aku tekan kan sekali lagi di sini.selama ini aku diam melihat apa yang kamu lakukan pada anak ku dan itu tidak masalah karena selama anak ku bahagia.tapi lihat sekarang, Anggara sangat terganggu dengan kehadiran dan maksud mu di sini.apa kamu tidak punya hati Verra? bukankah kamu menyayangi Anggara seperti anak mu sendiri? kalau kamu menyadari Anggara semestinya kamu mendukung apa yang sudah menjadi pilihan Anggara sekarang.apalagi pilihan itu yang membuat Anggara bahagia" ucap Rahman dengan wajah tegas nya menatap tajam ke arah Verra.
"mas, aku juga memikirkan kebahagiaan Anggara, tapi tidak dengan gadis tua seperti Renita"
"VERRA!! juga mulut mu, apa kamu pernah bertemu Renita yang sekarang?" Rahman berteriak pada Verra membuat semua wanita yang ada di meja makan itu berjingkat kaget dan pias melihat wajah Rahman yang berubah menjadi garang.
*
__ADS_1
TBC.