
"lepaskan tanganmu dari tangan istriku!"
Renita dan Raga seketika menoleh ke arah sumber suara yang cukup lantang, menyiratkan kemarahan. dan tau-tau nya sudah berdiri di samping di mana Renita duduk dengan tatapan mata setajam silet ke arah Raga rahang lelaki itu mengeras karena Raga masih mencekal lengan Renita belum melepaskan nya walaupun dirinya sudah berdiri di situ.
semua kejadian itu telah menyita perhatian pengunjung kantin yang tentu saja kaget karena suara Anggara yang cukup lantang terdengar di telinga pengunjung kantin. bagus nya saat ini sudah agak melewati jam makan siang jadi tidak banyak mahasiswa berada di kantin tapi parah nya masih ada beberapa dosen, masih di kantin menikmati makan siang mereka yang di kaget kan akan kejadian langka tersaji di depan mata mereka semua, pengunjung kantin, termasuk Raga dan Renita tentu saja sangat kaget. terlihat masing-masing berbeda expresi wajah Raga dan Renita.semula memang Raga terkejut melihat Anggara. Raga, merasa seperti maling ketangkap tangan tapi keterkejutan di wajah nya hanya seperkian detik saja karena setelah itu ada seringai tipis hampir tak kentara tercetak di wajah pria itu. dengan bersikap sesantai mungkin dan tersenyum aneh, Raga menatap lurus Anggara tanpa tidak berniat untuk melepaskan tangan Renita yang masih dalam cekalan tangan nya.
sedang kan Renita? tentu saja wajah wanita cantik itu terlihat pias ketika menyadari tatapan tajam sang suami yang sudah menjelma seperti elang yang akan memangsa buruan nya. Renita masih terpaku oleh tatapan mata Anggara, masih belum menyadari kemana arah tatapan tajam sang suami tapi ketika kesadaran nya kembali, mengikuti arah pandang suami nya dan...
"sial,, gara-gara perkara sambel!"
rutuk Renita dalam benak nya ketika menyadari tatapan mata sang suami melihat tangan nya masih dalam cekalan tangan besar Raga dan dengan cepat Renita langsung menarik kasar tangan dari cekalan tangan Raga agar terlepas.melihat sikap Renita seperti itu Raga bukan nya terkejut atau apa, tapi nampak senyuman puas pada bibir nya, terkekeh dalam. Renita langsung berdiri menghampiri suami nya
"Abang? kamu di sini?"
ucap Renita dengan ekspresi wajah terlihat canggung dan mungkin sedikit kesal juga dengan suami nya ini karena Renita merasa kedatangan Anggara yang tiba-tiba dan berbicara lantang hingga menarik perhatian pengunjung kantin dan itu sangat membuat Renita ada rasa malu karena menjadi bahan pusat perhatian saat ini.
Anggara menatap lekat istrinya, masih diam.tanpa merespon Renita.
Renita tambah gusar dong, melihat suami nya hanya menatap nya saja tanpa menimpali ucapan hingga tak ada pilihan lagi akhirnya Renita menarik tangan kekar sang suami untuk meninggalkan kantin. tapi Anggara seperti sedang memaku tubuh nya di lantai sehingga tidak ada efek apapun atau tidak bergerak sama sekali saat Renita menarik tangan nya cukup kuat tapi tidak cukup untuk menggerakkan tubuh suami nya untuk bergerak. Renita menghela nafasnya berat dan mendekati lagi suami nya, bicara sedikit berbisik di telinga sang suami
"Bang? ayo kita pergi dari sini...malu tuh jadi perhatian orang yang ada di kantin"
Anggara menoleh ke istri nya dengan tatapan datar nya. wajah Renita tampak memelas
deg
__ADS_1
hati Renita berdebar, tapi bukan karena senang tapi dia menyadari tatapan mata sang suami seperti itu berarti suami nya dalam keadaan marah?
"k_kamu marah?" tanya Renita pelan. mata Renita nampak berkaca tiba-tiba perasaan nya seperti tercabik karena tatapan sang suami yang menurut nya marah ke pada dirinya.
Anggara menatap tajam pada Raga, tak menggubris istri nya yang sedang membujuk nya.
Raga? lelaki itu seperti menantang Anggara dengan berani nya walaupun dia tahu siapa status Anggara di kampus ini, tapi Raga seolah tak peduli lelaki itu bangun dari duduk nya melangkah mendekati Anggara. kini kedua lelaki dewasa berbeda usia itu saling berhadapan beradu pandang namun bukan pandangan mesra tapi pandangan seperti hendak akan memangsa lawan nya.
Raga tersenyum satir dan berkata Santai namun terkesan mengejek.
"usia memang membuktikan sikap seseorang"
tentu saja ucapan Raga itu mampu memprovokasi Anggara yang sangat paham arti ucapan Raga. Rahangnya mengencang, wajah Anggara benar-benar merah padam
"bapak Raga yang terhormat.. aku rasa Anda sudah tidak betah mengabdi di universitas ini"
Raga terkekeh kecil karena ucapan Anggara. pria itu sekilas melirik ke arah Renita yang nampak canggung berdiri di sisi kanan tubuh Anggara dengan kedua tangan nya merangkul lengan kekar sang suami
ada rasa sesak di dada merasuki hati Raga dengan tak tahu dirinya karena masih menyimpan rasa pada wanita yang sudah bersuami.
Anggara seketika murka karena cemburu sudah membakar jiwa nya melihat cara pandang Raga ke istrinya sungguh tak tau diri!' pikir Anggara mengumpat
"Abang, kita pergi dari sini ayo!" Renita mencoba lagi berusaha mengajak suami nya tapi Anggara tetap tak bergeming.
gusar karena merasa di abaikan Renita menghempaskan lengannya pada lengan suami dengan kasar yang akhirnya mampu menarik atensi Anggara. lelaki tampan yang sedang di kuasai amarah karena terbakar cemburu itu menoleh pada istrinya dengan pandangan sulit untuk di artikan. sesaat Renita berdiri dan menatap suaminya dengan mata berkaca dan ekspresi wajah marah entah lah Renita yang biasa besikap cuek tapi saat ini rasanya mood nya meledak - ledak
__ADS_1
"baik lah,, kalau Abang nggak mau pergi dari sini aku yang akan pergi! memalukan!" dengan wajah memerah menahan tangis serta bibir bergetar saat bicara, Renita membalikkan badan nya dan melangkah pergi dari tempat itu di mana Anggara dan Raga sama-sama tertegun melihat sikap Renita dan seolah baru menyadari sikap nya serta keadaan sekitar nya Anggara baru menyadari kalau dia telah berbuat kesalahan yang malah menyakiti perasaan istri nya walaupun awalnya dirinya marah.
"sayang!.. tunggu!"
tanpa ba,bi,bu lagi Anggara berlari kecil menyusul langkah istrinya yang hampir mencapai pintu keluar kantin
tapi sebelum Renita mencapai pintu kantin...
"RENITA!!.. Sayang!!"
Anggara panik lalu mempercepat larinya karena melihat istrinya berjalan sempoyongan lalu tubuh ramping itu miring ke samping seperti hendak jatuh untung saja Anggara tepat langkah nya di saat Renita akan benar-benar terjatuh kedua tangan kekar nya berhasil meraih tubuh istrinya walaupun Anggara harus ikut terjatuh tapi setidaknya tubuh istrinya jatuh dalam dekapan nya tidak sampai menyentuh lantai karena tubuh Anggara sudah mengalas nya.
"ya tuhan.. sayang! kamu kenapa? bangun sayang.."
Anggara dengan wajah panik nya bangun dan berdiri dengan tubuh istrinya di gendongan nya dalam keadaan terpejam. Renita pingsan.
seketika keadaan kantin menjadi riuh karena pengunjung yang sedari tadi memperhatikan kejadian itu ikut panik melihat pasangan yang mereka tahu itu siapa.
Termasuk Raga, lelaki itu ikut panik tentu saja dan spontan berlari mendekati Renita yang sudah dalam gendongan suami nya yang sudah berjalan keluar dari kantin mengekori langkah Anggara. tanpa menyadari sikap nya seperti itu.
"
TBC..
*
__ADS_1
TBC..