
Salma sengaja memilih tinggal di Indonesia dan kebetulan juga suami nya masih ada beberapa pekerjaan di Indonesia. tentu saja Salma dengan senang hati menemani suaminya. tinggal di sebuah apartemen mewah di bilangan kapuk yang sengaja suaminya beli, selama tinggal di Indonesia. tujuan utama Salma, adalah dia ingin memperbaiki kualitas hubungan nya dengan putra tampan nya, Anggara. berbagai cara pendekatan Salma lakukan. walaupun begitu Salma masih merasa sikap Anggara masih kaku malah terkesan menjaga jarak. entah lah sifat keras Anggara di turunkan oleh siapa. karena yang dia tahu Rahman sosok pria yang humble dan Salma sadari mantan suami nya itu tipye pria yang selalu mengalah pada dirinya. andai saja tidak ada orang ketiga di kehidupan rumah tangga nya pada saat itu, tentu kehidupan rumah tangga nya baik, baik saja. dan Anggara bisa memiliki keluarga yang utuh.
pikiran Salma terus saja menerawang jauh ke masa silam.
mereka sudah duduk manis di dalam sebuah mobil mewah berlambang tiga bintang bewarna putih, melaju membelah macet nya jalan kota Jakarta.
"kita akan kemana mam?"
tanya Renita membuyar kan lamunan Salma dengan segala pikiran nya. saat di perjalanan ingin memastikan karena sebenarnya mertua nya ini sudah mengatakan akan ke mall yang ada di daerah Casablanca. Salma menoleh ke arah Renita yang duduk di sebelah nya dengan expresi kaget.
"oh, kita akan ke mall Casablanca. kita akan menghadiri opening toko berlian milik teman mama di sana, sekaligus kamu bisa memilih koleksi berlian terbaru di toko milik teman mama itu" ucap Salma sedikit terbata di awal bicara nya.
"oh begitu, wah pasti seru seperti nya" ucap Renita terlihat biasa saja tapi Renita tetap mengulas senyum nya agar terlihat menghargai. karena Renita tidak begitu menyukai perhiasan apalagi untuk memakai nya. walaupun ada, Renita hanya memakai cincin sebagai pemanis jari nya saja. selebihnya Renita enggan memakai perhiasan walaupun ada acara yang menuntut penampilan sempurna dari seorang wanita Renita tidak suka berpenampilan glamor atau dengan sengaja menunjukkan status sosial nya. bagi Renita, cukup orang melihat dirinya apa adanya tapi tetap terkesan berkelas.
"iya, kamu bisa memilih koleksi teman mama itu dia salah satu perancang berlian yang sudah punya nama di Asia sayang. kamu pasti terpesona dengan perhiasan itu" wajah Salma begitu semringah ketika bicara tentang perhiasan berbahan batu mulia itu.
"i_iya mam"
Renita hanya mengangguk pelan untuk menanggapi ucapan sang mertua yang begitu antusias nya.
*
di tempat lain di sebuah cafe mewah tepat nya di satu ruangan yang cukup private yang memang khusus di sediakan oleh pihak kafe untuk pertemuan atau meeting para eksekutif. di sana Anggara, Johan, dan tak ketinggalan Yusuf. duduk di sebuah sofa berbentuk huruf U dengan satu meja yang cukup besar di depan nya. Anggara melihat jam tangan mahal nya yang melingkar ganteng di pergelangan tangan nya.
melirik ke arah Johan dan Yusuf
"kenapa mereka belum datang Jo?"
tanya Anggara, kesal. karena saat ini ia sedang menunggu kedatangan partner baru perusahaan nya dari Surabaya rencana Anggara akan mengakusisi perusahaan tersebut yang bergerak di bidang alat kesehatan
__ADS_1
yang sedang goyang kondisi nya karena kekurangan dana hingga menyebabkan kolap karena di lihat dari segi prospek, bisnis yang masih sangat menjanjikan menurut Anggara. yang akhirnya perusahaan Andalas group mau menopang perusahaan tersebut. karena itu Johan mengagendakan pertemuan awal dengan direktur utama PT Sansai Dari Surabaya itu di kantor milik Anggara, namun ternyata klien nya itu menginginkan pertemuan di luar perusahaan dan ya...di sini lah Anggara dengan masih memasang wajah gusarnya, masih berusaha bersabar menunggu orang-orang itu datang.
"mereka lima menit lagi sampai boss. tadi sekretaris nya sudah mengabarkan saya"
jawab Johan dengan suara tegas nya.
"CK, sial! seperti kita yang perlu saja di buat menunggu seperti ini!!"
umpat Anggara.
saat Anggara masih menggerutu Yusuf yang duduk di sebelah Anggara berdiri dari duduknya karena mendapat panggilan telepon dari ponsel nya.
"baik om. Yusuf akan kesana"
ucap Yusuf di panggilan telepon nya dan sedetik kemudian memutuskan panggilan telepon nya dan..
"mas. seperti nya aku akan balik kekantor, om Rahman meminta aku untuk bertemu Dengan pak samsul orang yang akan menyediakan alat-alat berat untuk proyek di Kalimantan" terang Yusuf seraya memasukkan kembali ponsel nya di saku celana bahan nya.
"kenapa bukan papa saja yang bertemu dengan pak samsul sih. kenapa jadi kamu?"
"karena memang dari awal aku yang memegang data nya jadi ya seperti itu"
walaupun Anggara terlihat tidak suka kalau Yusuf pergi, karena Anggara baru beberapa hari masuk ke perusahaan dan otomatis Anggara masih mempelajari segala setuasi nya dari Yusuf karena selama ini sepupu nya itu yang lebih dulu terjun membantu mengelola perusahaan milik keluarga papa nya.
Anggara harus puas di temani oleh Johan asisten yang berwajah ganteng tapi sangar begitu juga Sikap nya yang tidak banyak omong.
"baik lah silahkan kamu pergi, aku cukup dengan manusia es ini" ucap Anggara melirik ke arah Johan yang tidak terpengaruh oleh ucapan Anggara, tetap memasang wajah dingin nya. benar-benar tidak bewarna kalau Anggara hanya berdua dengan Johan dingin tambah dingin yang ada hhh! Anggara menyenderkan tubuhnya pada sofa dengan MacBook di tangan nya. sambil menunggu, Anggara mengecek pekerjaan nya di yayasan.
"maaf seperti nya pak Anggara sudah lama menunggu?"
__ADS_1
suara feminim menyapa pendengaran Anggara yang masih sibuk dengan MacBook nya, perlahan mengangkat wajahnya pertama yang ia lihat sepasang kaki jenjang dengan sepatu hak tinggi Lima centi, bewarna merah marun. dan setelah Anggara benar-benar mengangkat wajahnya serta melihat siapa pemilik sepasang kaki jenjang nan putih itu expresi wajah Anggara berubah sedikit kaget.
"kamu?"
seorang wanita cantik dengan potongan rambut Bob, dengan kedua orang lelaki berpakaian jas hitam.
"iya, saya pak Anggara. ternyata anda masih ingat saya? oh tentu saja setiap lelaki yang pernah bertemu dengan saya pasti susah melupakan wajah cantik saya" wanita itu menampakkan senyuman terbaik nya pada Anggara dan dengan percaya diri sekali bicara narsis. sumpah demi apapun rasanya Anggara saat ini sangat kaget sekaligus muak melihat wanita yang berdiri di hadapannya dengan gaya nya yang seksi.
Anggara terkekeh datar karena ucapan pede Anjani.
"anda sangat percaya diri sekali nona.saya tentu mengingat anda karena kejadian yang tidak menyenangkan waktu di Surabaya dan sampai saat ini anda hanya meninggalkan kenangan buruk di memori saya"
Anggara melipat kedua tangannya di dadanya bersidakep, terlihat santai namun tatapan matanya sangat tajam ke wanita yang di ketahui bernama Anjani adik dari pak Broto mantan rektor di yayasan Handersson yang dia pimpin.
wajah Anjani memerah mendengar ucapan Anggara yang telak menyudutkan dirinya. Anggara tersenyum sinis merespon perubahan raut wajah Anjani.
"silahkan duduk nona"
Johan mempersilahkan ketiga tamu nya untuk duduk.walaupun tamu menyebalkan tentu nya Johan harus menjadi tuan rumah yang baik mewakili perusahaan Andalas bukan? setidaknya untuk saat ini. entah selanjutnya seperti apa Johan tinggal mengikuti alurnya saja.
Anggara mendelik pada Johan karena sikap sok ramah nya itu.
dan Johan seolah tak peduli mendapatkan tatapan seperti itu dari boss muda nya toh saat ini dia hanya menjalankan tugas nya saja.
kedua lelaki yang menyertai Anjani akhirnya duduk di sofa yang ada di depan Anggara tapi Anjani belum, dan ada seringai samar tercetak di bibir bergincu merah menyala itu.
"seperti nya aku akan memesan minuman ku dulu" setelah itu wanita berpakaian seksi itu melangkah mendekati bartender untuk memesan minuman untuk nya dan kedua pria yang bersama dirinya dan seperti nya Anjani juga memesan minuman lain untuk Anggara juga Johan.
*
__ADS_1
TBC...