Dia jodoh ku

Dia jodoh ku
Senggigi beach..lombok.


__ADS_3

darah muda yang mengalir di tubuh Anggara terasa mendidih atas ucapan Andreas yang provokatif


Anggara melangkah selangkah ke belakang dari Andreas karena saat ini posisi ia berdiri hanya dua lantai dari Andreas. sejenak lelaki tampan berusia dua puluh lima tahun itu memaku tatapan mata nya tanpa kedip dengan tajam ke arah Andreas .


"kau meremehkan aku brengsek"


geram Anggara.


Anggara menggaruk ujung hidung mancung nya seraya menoleh, pandangan nya tertuju pada sang istri yang berdiri cukup aman di arah jam sebelas bersama Yusuf dan itu sangat aman menurut nya. seolah tahu apa yang akan di lakukan suami nya Renita menggeleng kan kepala nya cepat dengan tatapan berkaca ke arah suaminya seolah bicara "jangan lakukan" seperti sebuah permohonan netra itu berkata pada Anggara yang tentu saja lebih di artikan lebih oleh Anggara sehingga mampu membuat dada nya sedikit berdenyut sakit.


"apakah istrinya ini tengah mengkhawatirkan mantan nya? apakah istrinya masih menyimpan rasa pada mantan nya? itu, yang kini Anggara tangkap dari tatapan istri nya yang di tunjukkan ke pada dirinya. kedua tangan Anggara mengepal kuat, sangat kuat,, hingga otot tangan nya menyembul kentara sekali di sepanjang permukaan kulit tangan nya. meredam emosi nya. lalu pandangan nya beralih kembali pada lelaki brengsek yang nyaris saja membawa pergi istri nya ke luar negeri kalau saja dia tidak cepat-cepat menjegal akses pesawat pribadi milik Andreas yang sudah bersiap di bandara untuk terbang ke Singapura. dengan kuasa dan serta rencana yang Anggara susun sedemikian rupa akhirnya Anggara berhasil mematahkan semua rencana yang telah di susun rapi oleh orang-orang Andreas.


Anggara terkekeh rendah menatap dingin Andreas lalu tanpa mengalihkan pandangannya Anggara berseru.


"lepaskan dia"


tantu saja para anak buah nya dan juga Yusuf kaget dengan tindakan Anggara yang meminta melepaskan Andreas. bukan kah itu berisiko? karena semua nya sudah terkendali?


dan akan di selesaikan urusan nya oleh anak buah nya. sejenak para anak buahnya yang masih menahan tubuh Andreas saling pandang karena merasa takut terjadi apa-apa


"mas, jangan terpancing dengan ucapan lelaki brengsek ini, sebaiknya kita pergi, liat Kakak ipar" Yusuf menunjuk ke arah Renita yang terduduk di sofa dan Anggara mengikuti arah tunjukkan Yusuf.


Yusuf yang tidak setuju dengan tindakan berbahaya Anggara melangkah maju mendekati kakak sepupu nya itu untuk memperingati.


"Hahaha... sudah aku duga! kamu memang anak ingusan yang bisa nya cuma bisa bilang cinta tanpa punya keberanian!" teriak Andreas kembali memprovokasi Anggara dengan ucapan nya. rasanya kecemburuan yang menyergap jiwanya membuat Andreas ingin menghabisi Anggara saat ini juga tanpa memperhitungkan segala nya.


"bang" lirih Renita walaupun sebenarnya tidak terdengar ucapan nya oleh Anggara namun cukup Anggara mengerti dari gerakan bibir sang istri yang nampak sudah pucat. hatinya Bimbang, karena satu sisi Anggara emosi karena di anggap remeh oleh Andreas. di satu sisi istrinya sudah terlihat tertekan dan wajah nya nampak pucat. gemeletak gigi Anggara terdengar menatap nanar wanita yang sangat dia cintai kini nampak sangat lemah.


dengan hati yang masih bimbang akhirnya Anggara memilih menghampiri istri nya.


sebelum Anggara benar-benar melangkah ia menoleh ke arah Andreas lalu beralih ke anak buah nya yang masih mencengkeram kuat tubuh Andreas yang masih berusaha ingin melepaskan diri.


"bawa dia ke tempat biasa" final putus Anggara


"baik bos!" bram. dan keempat anak buah Anggara yang masih memegangi tubuh Andreas menarik tubuh lelaki berwajah oriental itu ke luar menyeret nya kasar.


"hey, lelaki ingusan lepas kan aku! kau pengecut rupanya ha?!! ayo, lawan aku satu lawan satu kalau kau berani pengecut! Andreas terus saja berteriak walaupun tubuh nya sudah hampir di dorong paksa masuk ke dalam mobil Van tetap saja berusaha memprovokasi Anggara.


masa bodoh, Anggara tak menghiraukan ucapan Andreas yang memprovokasi nya karena terus terang saja saat ini emosi diri nya sudah di ambang batas namun ia berusaha menekan nya demi sang istri yang sudah tidak terlihat baik-baik saja. tanpa bicara lagi Anggara mendekati wanita cantik yang sangat dia cintai itu lalu meraih tubuh mungil Renita dan menggendong nya ala bridal style.


Sontak saja membuat Renita terkejut hingga kedua tangan nya melingkar di di leher kokoh suami nya.

__ADS_1


"bang kenapa di gendong sih!? aku bisa jalan sendiri" walaupun dalam keadaan lemah mulut Renita masih melayang kan protes nya karena merasa risih dan malu atas perlakuan Anggara di depan orang lain yang masih berada di dalam ruangan besar rumah yang baru beberapa jam mengurung diri nya.


cup


Anggara terkekeh pelan lalu mengecup bibir ranum Renita sekilas karena sedari tadi terus saja bicara yang tidak penting dan itu membuat Anggara menjadi gemas di buat nya cara itu satu-satunya yang bisa membungkam mulut Istrinya yang terus mengoceh.


"kalau kamu terus bicara yang nggak penting nanti aku akan mencium mu lebih lama lagi di depan orang-orang ini"


Renita seketika merasakan dirinya meremang mendengar ancaman yang akan membuat Renita mendessah ia pun langsung diam tak lagi bicara hanya berani mengerucut kan bibir nya. Anggara terkekeh melihat itu. lalu dengan langkah ringan nya walaupun Renita dalam gendongan nya seolah tak ada beban di tangan nya. berjalan ke arah sebuah mobil Alphard Vellfire berwarna putih yang sudah stand by


sengaja Anggara membawa mobil mewah itu agar istrinya lebih nyaman di perjalanan yang lumayan jauh agar istrinya bisa beristirahat.


benar saja baru saja beberapa kilo mobil itu berjalan menerobos jalan yang tidak terlalu besar menelusuri di antara hamparan kebun teh di kanan dan kiri jalan Renita sudah memejamkan matanya dengan penuh kehati-hatian seolah barang yang mudah pecah Anggara merebahkan tubuh istrinya dengan kepala nya di letakkan di atas pangkuan nya.


"tidurlah sayang.. kamu pasti lelah"


Anggara membelai lembut rambut hitam panjang ikal istrinya dengan penuh kasih sayang kemudian mendarat kan kecupan lumayan lama pada kening sang istri. helaan nafas panjang Anggara terlihat seolah melepaskan beban yang sudah beberapa hari ini membelenggu nya yang hampir membuat dirinya menggila karena penculikan sang istri.


*


burung camar bersautan sangat berisik sehingga membuat Renita yang sedang terlelap nyaman dalam selimut menggeliat. pelan-pelan kelopak mata yang terbuka sedikit menyipit kan matanya karena rasa silau akan cahaya yang menabrak netra coklat terang nya .


eugh


"laut? seperti suara ombak?"


mempertajam pendengaran nya Renita terhenyak ketika mendengar deburan ombak lalu dengan sedikit terhuyung Renita turun dari ranjang berukuran besar berjalan ke arah balkon kamar. pintu yang terbuat dari kaca itu dia geser perlahan dan..


"waah...laut!!" teriak Renita wajah nya nampak sangat bahagia melihat bentangan laut biru dengan pasir putih sangat indah matanya berbinar


"ah, aku sudah lama tidak melihat pemandangan laut seindah ini" ucap nya dengan senyuman mengembang di wajah bantal nya namun tetap saja kecantikan nya tak berubah sedikit pun tubuh nya sedikit ia Condong kan kedepan pembatas teralis besi balkon, menghirup dalam-dalam aroma laut yang menyengat namun Renita nampak menyukai nya.


"kamu sudah bangun sayang?"


tiba-tiba Renita di kejutkan oleh tangan kekar melingkar di perut rata nya. sejenak Renita kaget tapi ketika ia menyadari suara yang sangat dia kenal bahkan dia rindukan Renita hanya tersenyum saja merasakan kehangatan pelukan suami nya dari belakang tubuh nya. satu tangan nya membelai pelan pipi Anggara yang sedikit di tumbuhi bulu-bulu halus dengan posisi masih membelakangi sang suami. Anggara hanya memejamkan matanya merasai sentuhan lembut tangan istrinya di wajah nya. lalu


"kamu senang aku bawa kesini sayang?" tanya Anggara dengan nada lembut seraya mengecup puncak rambut milik istri nya.


"iya, aku sangat menyukai tempat ini.dimana kita bang?"


tanya Renita baru menanyakan keberadaan nya saat ini.

__ADS_1


"Lombok" sahut Anggara santai wajah nya di letakkan di ceruk leher jenjang milik istri nya.


mata Renita membola ketika suami nya memberitahu tempat nya saat ini.


"Lombok? astaga!!" pekik Renita tak percaya.


"b_bukankah tadi malam kita masih berada di Bandung?" tanya Renita lagi masih kurang yakin kalau dirinya benar-benar sedang berada di Lombok. Anggara terkekeh melihat respon istri nya yang... entah terkejut atau exatis. lalu Anggara membalikkan tubuh sang istri agar berhadapan dengan dirinya kemudian menangkup wajah cantik istri nya dengan kedua tangan besar nya hingga wajah mungil itu tenggelam dalam kedua telapak tangan besar Anggara.


"iya sayang...kita sedang di Lombok tepat nya di Senggigi beach. selama perjalanan kamu tertidur sangat lelap seperti orang pingsan " suara Anggara terdengar gemas menatap dalam wajah cantik wanita belahan jiwa nya.


"issh, seharusnya kamu membangun kan aku bang" Renita mencebik merespon ucapan Anggara. dan lelaki tampan itu hanya tersenyum lebar merespon tingkah dan protes sang istri.


"aku tidak tega untuk membangun kan mu yang sangat nyenyak sayang..."


kruukk


Renita meringis tak kala suara perut nya yang mendemo minta di isi.


sontak saja tatapan keduanya tertuju pada perut siapa yang bunyi


"kamu lapar HM?"


Renita mengangguk. tentu saja ia lapar sudah hampir dua puluh empat jam perutnya belum terisi.


"baik lah ayo kita kita keruang makan"


Anggara menarik pelan tangan Renita untuk mengikuti langkah nya menuju ruang makan. bangunan yang sekarang Renita dan Anggara tempati seperti nya bangunan yang hanya berlantai satu namun lumayan besar pandangan Renita mengedar keseluruh ruangan meneliti semua sudut rumah tersebut.


"apakah ini sebuah resort?" tanya Renita penasaran Anggara tidak segera menjawab pertanyaan Renita setibanya di ruang tengah ada sebuah meja makan yang cukup besar lalu Anggara menarik satu kursi tunggal dekat meja makan untuk sang istri.


"duduk lah"


Renita tersenyum dan duduk di kursi yang sudah Anggara siapkan. ada hidangan macam-macam sudah tersedia di atas meja. Renita menatap lapar makanan tersebut.


"kamu memesan semua makanan ini atau memasak nya?" cecar Renita


Anggara terkekeh "makanan ini semua nya yang masak adalah koki khusus yang biasa di sini sayang"


"benarkah? semewah ini hidup mu bang" Anggara tertawa lepas karena ucapan istrinya.


*

__ADS_1


TBC..


__ADS_2