
suara kunci otomatis yang di tekan oleh Yusuf dari jauh untuk membuka sebuah mobil mewah berlambang tiga bintang, terdengar tanda pintu mobil tersebut terbuka.
Rahman yang berjalan dengan tergesa langsung masuk ke dalam mobil dan menghempaskan tubuhnya, duduk di kursi mobil samping kemudi.tak lama Yusuf menyusul masuk ke dalam mobil, duduk di kursi kemudi menyala kan mesin mobil sebelum kaki kanan nya menginjak pedal gas, Yusuf menoleh sekilas ke arah om nya yang wajah nya terlihat suram dan gusar.tatapan mata pria paruh baya itu lurus ke depan tepatnya seperti tatapan kosong. Rahman mendengus kasar nafasnya.
"om? are you oke?"
dengan sedikit ragu Yusuf memastikan keadaan om nya yang memang seperti nya sedang tidak baik-baik saja.
sedangkan kan Rahman hanya melirik Yusuf sekilas tanpa mengeluarkan satu kata apapun.
merasa tak enak, Yusuf tersenyum tipis mengatasi rasa tak enak hati nya. lalu memilih menjalankan mobil dan mulai keluar dari area caffe tersebut. bergabung ke jalan utama kota Jakarta yang selalu identik dengan kepadatan lalu lintas nya.
sepanjang jalan hanya ada keheningan di dalam mobil.
seperti nya Rahman masih terlihat shock dengan apa yang terjadi hari ini.benar-benar kejadian tidak dia duga seumur hidup nya karena bertemu dengan wanita yang telah mendampingi nya selama tujuh tahun berumah tangga dan dirinya berpisah dengan wanita itu bukan karena perceraian tapi yang lucu nya menurut pemikiran nya adalah dia benar-benar tertipu dengan mudah nya. padahal tidak tahu kah Salma, setelah di tinggalkan oleh istri nya yang bernama Salma itu hati nya hancur karena dia mendapatkan kabar kalau istri nya itu meninggal di Amerika dan parah nya dia dan keluarga besar nya tidak di perkenankan untuk melihat jasad istrinya kalau memang sudah meninggal untuk mengetahui di mana kuburan nya pun dia tidak boleh tau, tentu saja Rahman sangat marah pada waktu itu. Kemalangan terus saja menimpah kehidupan rumah tangga nya belum habis berduka nya karena meninggal nya istri siri nya beserta anak nya dalam kecelakaan. tiba-tiba saja istri nya tanpa seizin nya di bawa oleh pihak keluarga sang istri tepat nya mertua nya. membawa istrinya katanya untuk meneruskan pengobatan di Amerika dan dirinya di larang ikut karena mungkin istri nya itu kecewa dengan dirinya. dan tebakan nya itu benar.ternyata istri nya mengetahui perselingkuhan nya, ah tidak Rahman tidak pernah berselingkuh karena memang diam-diam dia telah menjalin hubungan cukup lama dengan Anjani kekasih nya yang tidak pernah di restui oleh keluarga nya jauh sebelum dia di jodoh kan dengan Salma. karena mungkin Anjani berasal dari orang tak punya. maka dengan kenekatan nya Rahman menikahi wanita yang dia cintai itu yang sudah menjalin hubungan semenjak SMA hingga berlanjut hingga Rahman menyelesaikan S2 nya di London. karena kekasih nya itu hamil. dan karena itu tentu saja Rahman sebagai lelaki harus bertanggung jawab. dan menikahi kekasih nya itu. tapi sayang, seolah tuhan tidak mengizinkan dia berpoligami wanita itu tewas setelah dua bulan sehabis melahirkan bersama anak dan Paman nya dalam kecelakaan tunggal.
hancur dan merasa bersalah pada waktu itu yang Rahman rasakan.
hingga kesalahan fatal karena pada akhirnya dia melupakan istri sah nya yang sedang terbaring di rumah sakit yang sedang berjuang melawan penyakit kanker serviks yang di deritanya nya. berbulan-bulan Rahman larut dalam kesedihannya. hingga melupakan kewajiban nya pada Salma.
sepeninggal Rahman dan Yusuf di cafe.
"sweaty are you oke?"
Robert menegur Salma wanita berusia empat puluh delapan tahun yang masih terlihat cantik yang kini berstatus istri nya yang sudah memberikannya seorang anak lelaki tampan dan lucu berusia tiga tahun.
Robert mengelus lembut punggung istri nya itu, memberikan ketenangan pada sang istri.
Salma menoleh ke arah Robert dan tersenyum.
"aku baik-baik saja darling"
"are you sure?"
Salma kembali mengangguk
"mau kemana kamu zetta?"
melihat putrinya yang tiba-tiba berdiri dari duduknya Robert memicingkan matanya dan bertanya.
"aku akan kembali ke hotel duluan papa, tubuh ku lelah, ingin istirahat.
kalau kalian masih ada yang perlu di bahas silahkan"
Sahut Razetta gadis cantik namun selalu menghadirkan wajah dingin.
"baik lah kalau begitu kamu bisa kembali duluan ke hotel"
"HM"
Razetta tersenyum tipis lalu berlalu begitu saja dari hadapan kedua orang tua nya.
"kalau begitu juga saya tuan, saya akan menunggu anda di depan"
Bram ikut berdiri dari duduknya seperti nya dia pun merasa canggung karena kelihatan nya kedua majikan nya perlu privasi.
Robert pun mengiyakan keinginan assisten nya.
kini tinggal lah Robert dan Salma masih duduk tempat tersebut.
"apa kamu menyesal sweaty?"
Robert menatap lekat wajah istrinya mencari sesuatu yang tengah dia khawatir kan pada istrinya.
"tidak, apa yang aku sesali? semua sudah aku putuskan. aku bersyukur terlepas dari kesakitan ku selama bersama pria itu"
netra mereka bertemu mencoba menyelami hati masing-masing.
perlahan Robert mengangkat satu tangan kanan nya ke puncak rambut pirang bewarna black brown dan membelai lembut rambut itu dengan penuh perasaan.
"aku mencintai mu sweaty"
bisik Robert.
"aku juga mencintaimu mu darling dan aku tidak menyesali semua apa yang terjadi ini karena aku bisa kembali ke sisi mu, asalkan kamu tidak mengkhianati ku, cinta ku tidak akan pudar untuk mu"
Robert tersenyum mendengar ungkapan hati istri nya lalu menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya
__ADS_1
.
memang cinta tak mengenal usia, tak pandang tua ataupun muda jika cinta itu menghendaki di mana dia hadir dan tumbuh, maka harus sanggup lah insan yang menerima kedasyatan rasa di cinta dan mencintai hingga terkadang terlihat bodoh dan hilang akal kalau yang namanya cinta sudah menguasai
dari segala sisi otak manusia.
*
*
Anggara yang masih betah memeluk tubuh istrinya dari belakang seperti enggan melepaskan tubuh sintal dan harum istri nya sehabis mandi plus-plus tadi bersama nya. wangi tubuh Renita yang sudah menjadi candu nya setiap saat.
pikiran nya selalu mesum dan berhasrat bila berada di dekat istri nya seperti sekarang ini lelaki tampan itu terus melingkupi tubuh mungil Renita yang sedang mengeringkan rambut nya yang masih setengah kering. karena kegiatan panas mereka.
"Abang...geli! awas lepas, jangan di merahin ya awas ajah!"
Renita menjerit kecil sekaligus risih dengan suami nya yang terus saja menempeli dirinya seperti lintah sawah. leher dan tengkuk nya terus saja di jelajahi bibir dan lidah suami nya dan sesekali Anggara memberikan gigitan kecil pada kulit mulus leher sang istri dan Renita merasakan leher nya terasa basah karena liur Anggara di sertai dengan rasa yang membuat tubuh nya meremang dasyat.
"bang..... Renita merengek, karena sudah tidak tahan lagi dengan sikap mesum suami nya seakan tidak ada puas nya. padahal lima belas menit lagi dia akan ada kelas dan akan bersiap ke ruang dosen.
dengan gemas Renita mendorong tubuh besar suami nya dengan sekuat tenaga dengan kedua sikut nya, menyikut dengan kuat ke arah perut liat Anggara.
"auww sakit sayang..sikut mu tajam sekali"
Anggara terdorong sedikit ke belakang karena merasa kan sakit wajah nya sedikit meringis akibat sikutan tangan istrinya.
setelah merasa tubuhnya terlepas dari dekapan suami nya Renita membalikkan badannya menatap tajam suami nya.
"biarin, siapa suruh udah kaya lintah sawah!" ucap Renita gusar
masih mengusap jejak sikutan tangan istrinya Anggara terkekeh karena ucapan istrinya.
"bukan lintah sawah sayang, tapi ular sawah"
Renita melotot mendengar ucapan absurd suami yang pasti nya mengandung makna sangat dalam.
"issh, sudah ah, aku mau kembali ke kantor"
Renita melihat jam cantik yang melingkar indah di pergelangan tangan nya.
Renita dengan tergesa, merapikan penampilan nya, setelah merasa semua nya oke, lalu menyambar tas kecil nya yang hanya berisi dompet dan ponsel. lalu berjalan keluar dari ruangan private Anggara. di ikuti oleh Anggara yang juga melangkah keluar dari ruangan tersebut.
lalu dengan cepat mencekal lengan Renita sehingga wanita itu menoleh dengan tatapan heran.
"apa lagi?"
cup
Anggara memberikan kecupan mesra pada bibir seksi istri nya.
Renita sejenak terpaku karena nya.
tak lama kemudian dia hanya tersenyum tipis lalu pergi dari kantor Anggara. lelaki tampan itu tersenyum memandangi kepergian Istri nya keluar dari kantor nya.
senyuman indah terus tak luntur dari wajah tampan sang Arjuna bule yang sudah terpuaskan hasrat dan dahaga nya akan kehangatan yang baru saja dia dapatkan dari istri tercinta nya.
dengan semangat empat lima Anggara menerus kan pekerjaan nya.rasanya tubuhnya telah terisi penuh dengan energi baru. baru beberapa menit berlalu, terdengar suara ketukan pintu ruangan nya di ketuk orang dari luar.
"masuk!"
Anggara mempersilahkan masuk orang yang mengetuk pintu ruangan nya. dan pintu itu pun terbuka perlahan.
"permisi pak, saya dari gofood mengantar kan makanan untuk bapak Anggara?"
"Anggara mengangkat wajahnya melihat seorang kurir makanan mengantarkan sekotak makanan
Anggara menautkan kedua alisnya heran, karena dia tidak merasa memesan makanan via online.
"seperti nya anda salah mas, karena saya tidak berasa pesan makanan?"
"oh, maaf. saya hanya mengantar kan saja ke bapak, anda bapak Anggara kan?"
jelas kurir itu mencoba menjelaskan
tugas nya.
"iya benar"
__ADS_1
di tengah kebimbangan Anggara, tiba-tiba ponsel nya Bergetar dan di layar ponsel nya tertera nama
my wife.
Anggara mengangkat satu telapak tangan kiri nya ke arah sang kurir, mengisyaratkan untuk kurir itu menunggu sebentar karena dia akan menjawab telepon dari sang istri.
Anggara tersenyum lalu menyambar ponsel nya yang tergeletak di atas meja lalu menjawab telepon dari istri nya.
Anggara.
"halo sayang ada apa?"
my wife.
"itu kurir yang mengantarkan makanan sudah sampai?"
Anggara.
"*oh, jadi makanan ini kamu yang memesan nya ya, terima kasih sayang, kita sampai melupakan makan siang kita karena kesibukan kita tadi"
Anggara tersenyum lebar karena masih sempat nya bicara yang menjurus yang iya,iya. apa lagi masih ada sang kurir makanan yang masih berdiri di ruangan nya.
dan kurir itu hanya tersenyum simpul karena tentu saja bisa mendengar pembicaraan* Anggara di panggilan telepon nya bersama Renita.
dan tak lupa Anggara meminta maaf pada istrinya karena melewatkan jam makan siang karena ulah nya.
setelah menutup sambungan telepon nya bersama Renita, Anggara menerima makanan untuk nya dari istri nya.
bahagia nya hati Anggara mendapatkan perhatian dari istri tercinta nya.
di kantor dosen setelah Renita mengisi kelas nya baru bisa menyantap makanan yang sudah satu jam setengah yang lalu dia pesan. karena setelah memesan makanan dia tak langsung memakan nya karena waktu sudah mepet untuk ke kelas.
jadilah sekarang dia baru bisa mengisi perut nya. walaupun terlambat.
"kamu baru makan Ren?"
Renita yang sedang fokus melahap makanannya, mengentikan suapan tangan nya karena suara berat yang menyapa nya. dia pun menoleh ke samping, Raga sudah berdiri di di samping meja kerja Renita.
"ah,iya. aku baru sempet makan"
sahut Renita santai lalu tanpa canggung meneruskan makan nya yang memang belum selesai.
Raga menarik kursi yang ada di depan meja kerja Renita dan duduk di hadapan wanita itu. memperhatikan Renita yang terlihat sangat lahap menyantap makanan nya. Raga tersenyum tipis.
"biar lagi selebor begini saja kamu masih kelihatan cantik Ren" gumam Raga mengagumi sosok wanita yang ada di depan nya.
tanpa Renita dengar.
tapi sepertinya Renita tidak perduli dengan keberadaan Raga. karena dia hanya fokus dengan makanan nya untuk segera dipindahkan ke dalam perut nya.
"ini makan siang atau makan sore Ren?" Raga melihat jam tangannya
"ini seperti nya masih awal juga di bilang makan sore karena masih jam tiga, di bilang bukan makan siang juga"
Raga terus saja berceloteh tapi terlihat wajah pria tampan berkaca mata tips itu nampak khawatir.
Renita tak langsung menjawab pertanyaan Raga karena Renita membereskan kotak bekas makanan nya dan membuka sebotol air mineral lalu menenggak nya hingga tersisa separuhnya.
dan setelah itu barulah Renita menjawab rasa keingintahuan Raga.
"aku memang baru sempet makan pak"
"makan siang?" tanya Raga
"iya" jawab Renita santai sembari tangannya membereskan yang ada di atas meja kerja nya karena bersiap akan pulang.
"astaga Renita.. kamu nanti kena maag karena telat makan" sembur Raga yang memang mengetahui penyakit maag yang di derita Renita yang telah dia ketahui dari masih satu sekolah di SMA bersama Renita.
Renita mengentikan aktivitas tangan nya yang sedang membereskan tak sadar interaksi kedua nya menjadi daya tarik bagi keempat dosen yang lain yang satu ruangan dengan Renita termasuk sari, membuat dosen muda itu merasa tertarik untuk bergabung Sari berjalan mendekati meja Renita.
"Bu bos kita ini telat makan karena baru balik dari kantor ketua yayasan pak Raga"
dengan enteng nya Sari Nyamber seperti bensin membuat Renita dan Raga menoleh ke arah Sari Dengan tatapan yang berbeda.
*
TBC...
__ADS_1