
dari pertama Anggara meninggalkan istri nya untuk urusan dinas di Surabaya, hati nya entah mengapa sudah merasakan tidak nyaman meninggalkan rumah lebih tepatnya meninggalkan istri nya sendiri. tapi semua itu dia tepis karena dirinya beranggapan itu karena efek pengantin baru yang tidak tahan jauh dari sang istri. dirinya berusaha berfikir positif demi semuanya lancar dan tepat waktu dalam pekerjaan nya. maka dari itu, dirinya tidak pernah melewatkan untuk menelpon sang istri walaupun hanya sekedar menanyakan keadaan istrinya. hampir setiap tiga jam sekali dirinya menelpon istri nya berlebihan memang, tapi seperti itu lah Anggara yang terlalu bucin pada istrinya. hingga final nya malam hari Anggara selalu melakukan panggilan video sampai puas dengan sang istri.
dan sekarang rasa khawatir yang dia rasakan itu terbukti apalagi kemarin istri nya bilang, mendapatkan kiriman buket bunga tulip putih yang dia tahu itu bunga favorit sang istri di tambah dengan satu kotak coklat mahal yang lagi-lagi coklat favorit istri nya membuat hati dan pikiran Anggara was-was karena Anggara pikir semua barang yang istrinya terima itu adalah sesuatu benda yang sangat intim untuk di berikan ke seorang wanita dari pria yang pasti nya memiliki hati. dan Anggara sangat marah akan hal itu hingga dia ingin memaksa pulang ke Jakarta tak perduli pekerjaan nya di Surabaya belum selesai tapi Renita melarang nya dan berkata kalau dia baik baik saja, Anggara tak perlu mengkhawatirkannya.
puncak nya sekarang istri nya tidak bisa di hubungi Dari tadi siang hingga sekarang sudah jam delapan malam, semua orang terdekat nya sudah dia hubungi menanyakan keberadaan sang istri tapi jawaban nya membuat hati Anggara benar-benar tidak tenang.
Aaaarrg!!!
Anggara menggeram frustasi mengacak rambut nya kasar, tangan nya meremas kuat ponsel yang ada di genggaman nya hingga buku-buku jemari nya memutih pucat saking menekan emosi nya.
pak Daud Yang juga ada di ruangan kamar Anggara nampak sedang berbicara dengan seseorang di panggilan telepon nya dengan wajah tak kalah serius di balkon kamar hotel yang Anggara tempati. lalu tak lama lelaki itu pun menyudahi panggilan telepon nya berjalan gegas menghampiri bos muda nya yang terlihat sangat kacau keadaannya.
bagaimana mana tidak kacau, penampilan Anggara yang hanya memakai kemeja putih dengan kancing atas terbuka tiga hingga menampilkan dadanya yang bidang dan liat serta separu kemeja itu hanya di masukkan sebagian dari dalam celana panjang nya. rasa khawatir dan cinta nya dengan sang istri membuat Anggara terlihat berlebihan merespon semua urusan yang bersangkutan dengan sang istri tentu saja.
"pak Anggara, saya sudah dapat info dari dari pihak kampus dan ini rekaman cctv-nya"
pak Daud memperlihatkan rekaman cctv kampus satu hari ini di semua titik sudut area gedung kampus termasuk di area parkir betapa kagetnya Anggara, wajah nya memerah, rahangnya mengeras. saat melihat rekaman cctv di area parkir di mana semua kejadian terekam tanpa terkecuali tapi sayang lelaki yang menyeret istri nya itu tidak terlalu jelas wajah nya karena posisi nya yang membelakangi arah cctv.
BRAAKK! SIALAN!!! siapa pria itu?!! yang berani menculik istri ku!!"
suara deep Anggara menggema keras memenuhi ruangan kamar hotel tersebut wajah nya merah padam.
"kita balik ke Jakarta sekarang juga!!" putus Anggara pikiran dan perasaan nya sudah tak karuan
"baik pak, segera saya urus semua nya"
tanpa di perintah dua kali pak Daud keluar dari kamar tersebut mempersiapkan semua nya untuk kembali ke Jakarta.
*
di tempat lain di sebuah kamar yang cukup luas dan tentu saja mewah seorang lelaki duduk dengan tenang kedua tangan nya tertumpu di atas pahanya yang bersilangan di sofa sudut ruangan itu. pandangan nya terus tertuju tanpa putus ke arah ranjang di Mana seorang wanita cantik tergeletak nyaman di balik selimut lembut dan tebal.
sudah satu jam lelaki itu duduk tak bergerak Memandangi tubuh mungil di balik selimut itu dengan tatapan penuh damba dan kerinduan. rasa yang terus bergejolak yang sedari tadi dia tahan, akhirnya memutuskan menggerakkan tubuh tegap nya berdiri dari duduknya berjalan mendekati ranjang dengan hati yang berdebar kakinya yang tanpa alas itu menapaki karpet bulu berwarna putih tebal dan halus menghampar di lantai kamar tersebut sesaat mata tajam itu terus memandangi wajah cantik yang terlelap damai dalam tidurnya lalu perlahan membungkukkan tubuhnya mengambil posisi untuk duduk di tepian ranjang, tepat nya di sisi tubuh wanita yang masih lelap dalam tidurnya. merasa ada pergerakan di sisi tubuh nya wanita yang tak lain adalah Renita, merasa terusik dari tidurnya. perlahan kelopak mata nya perlahan terbuka, mengerjap lemah untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam mata indah nya.
eugh.. Renita melenguh, menggeliat dari tidurnya, dan membalikkan badannya ke arah tepian ranjang karena pergerakan tempat tidur di belakang tubuh nya.
"kamu sudah bangun dear?" suara bariton menyapa pendengaran Renita. nyawa yang belum terkumpul sempurna dari bangun tidur nya membuat Renita memaksa dirinya cepat sadar dan melebarkan kedua matanya untuk memperjelas pandangan nya ke arah lelaki yang kini duduk di sisi tubuh nya dengan satu tangan lelaki itu mengurung tubuh nya sedang kan satu nya membelai lembut rambut nya.
setelah benar-benar terkumpul dari kendaraan nya Renita langsung berteriak.
__ADS_1
AAAA!!! K_kamu??!"
lelaki itu hanya tersenyum melihat respon wanita cantik yang ada di hadapan nya ini ah, tepat nya berada di bawah Kungkungan nya karena tubuh besar lelaki itu hampir separuh menindih tubuh Renita yang masih berbaring. dan tentu saja Renita dengan gerakan cepat dan refleks mendorong dengan kuat tubuh yang separuh menindih nya. hingga membuat tubuh besar itu terdorong ke belakang walaupun itu tidak banyak tapi Renita berhasil bangun dari tidur nya dan duduk lalu beringsut mundur hingga mentok ke headboar ranjang, tangan nya dengan cepat menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya hingga batas leher nya.
"a_aku di mana ini??!" pandangan Renita mengedar ke seluruh ruangan kamar tersebut matanya menatap horor menyisir seluruh ruangan tersebut.
"kamu di tempat ku dear, jangan takut" ucap Andreas lembut kedua tangan nya meremas pelan kedua bahu Renita. Renita terkejut bukan main dengan tindakan Andreas yang seenaknya menyentuh tubuh nya, Renita langsung menepis kedua tangan besar Andreas dari bahunya.
"lepaskan tanganmu dari tubuh ku! jangan lancang kamu Andreas!" pekik Renita tidak terima. tatapan nya nanar dan lagi-lagi mata nya berkaca menahan buliran kristal yang akan kembali jatuh di pipinya.
tak kuasa menahan rindu yang sudah lama dia pendam Andreas menarik tangan Renita lalu menjatuhkan tubuh mungil Renita ke dalam pelukannya dan mendekap nya erat. entah kekuatan dari mana, Renita meronta kemudian mendorong tubuh besar Andreas hingga berhasil membuat tubuh Andreas sedikit terjungkal ke belakang hingga tubuh lelaki itu sedikit rebah. kesempatan itu tentu di pergunakan sebaik-baiknya oleh Renita untuk loncat dari tempat tidur kemudian berlari ke arah pintu kamar yang dia yakini itu arah keluar dari kamar itu. Anggara yang tidak menduga Renita seperti itu sedikit terhenyak tapi kembali tersadar, dan segera bangkit, berlari mengejar wanita pujaan nya itu yang sudah hampir mencapai pintu kamar. dengan kaki nya yang panjang tentu saja Andreas memiliki langkah lebar
menyusul Renita yang akan menarik handle pintu kamar dan..
grepp!
aaakkh!!
Andreas berhasil meraih pinggang Renita dan langsung memeluk nya dari belakang tangan nya yang kekar dan berotot itu melingkar sempurna di pinggang ramping Renita. dengan Nafas memburu, Renita berteriak lirih.
"lepaskan aku Andreas...ku mohon.. biarkan aku pergi"
"kalau kamu masih saja berusaha kabur dari ku, aku akan menghukum mu dear. aku tidak suka kamu seperti ini" ucap Andreas berbisik lirih namun penuh penekanan di telinga Renita nafas lelaki itu berhembus panas di leher Renita membuat Renita merasa merinding jijik.
"kamu sudah gila Andreas, lepaskan aku. aku sedang mengandung anak dari suami ku!" terpaksa Renita berdusta berharap kalau Andreas mau melepaskan diri nya jika dia mengandung anak dari Anggara.
dan seperti nya perkataan dusta Renita berhasil, karena Andreas sedikit mengendorkan dekapan nya dan mengangkat wajahnya dari ceruk leher Renita dan membalikkan badan Renita tanpa melepaskan dekapan tangan nya pada pinggang Renita. dan seperti nya itu membuat Renita lega membayangkan kalau ucapan nya tadi membuat Andreas berubah pikiran dan melepaskan nya mungkin? itu yang ada di pikiran Renita.
"kamu Hamil?"
terdengar gemeletuk gigi Andreas di saat bicara alis nya bertaut mata monolide nya memicing seolah tidak percaya pada ucapan Renita
"i_iya"
dengan raut wajah yang terlihat takut Renita membenarkan ucapan nya. Andreas diam menatap Renita dengan tatapan tak terbaca. entah apa yang ada di dalam pikiran lelaki berwajah oriental itu. jantung Renita berdebar kencang menunggu reaksi selanjutnya dari Andreas. nafas berat terhembus dari hidung mancung Andreas. bibir nya berkedut lebih tepatnya tersenyum satir pada Renita.
"kamu pikir setelah kamu bilang dirimu hamil, aku akan membiarkan kamu pergi dari ku begitu? tidak, tentu tidak dear, cinta ku. aku tidak akan membiarkan kamu pergi dari sisi ku lagi. dan kalau memang kamu benar-benar hamil?" Andreas menjeda ucapan nya sebentar lalu kembali menghirup udara dalam dalam sebelum meneruskan ucapannya dan berkata,
"kita akan merawat anak itu bersama, bagi ku tidak masalah yang penting kamu berada di sisi ku dan anak yang ada di dalam kandungan mu aku anggap anak ku juga" Andreas meyakinkan Renita dengan keputusan nya yang membuat Renita melotot tak percaya apa yang telah di putuskan Andreas.
__ADS_1
"kamu gila Andreas!!!"
jerit Renita tak menyangka akan seperti ini jadinya kedua tangan nya terangkat ke arah dada bidang Andreas, memberikan pukulan bertubi-tubi pada lelaki nekat itu.
kali ini dengan sigap Andreas menangkap kedua tangan mungil Renita dan mengunci nya dengan tangan besar nya. menatap lekat wajah cantik Renita dengan senyuman mengulum.
"ya, aku memang sudah gila dear! dan entah mengapa aku pun tidak mengerti aku menjadi gila karena mu kamu tahu?!" Andreas menunduk kan wajah nya ke arah wajah Renita dan.
cup
Andreas memberikan kecupan singkat pada kening Renita.
"kau!?"
Renita melotot horor karena kecupan singkat itu pada kening nya. dada nya terlihat turun naik karena nafas nya tersengal dia tidak terima Andreas menyentuh tubuh nya.
mengabaikan respon Renita yang seperti itu Andreas membopong tubuh Renita dan membawa nya ke arah tempat tidur tentu saja Renita meronta tapi tak berdaya karena rasanya tubuh nya sudah lemas tak bertenaga. perlahan Andreas merebahkan tubuh Renita ke atas tempat tidur berukuran king size itu dengan sangat hati-hati. lalu menarik selimut sebatas dada Renita dan lagi-lagi lelaki itu menyematkan kecupan mesra pada kening Renita. Renita terhenyak dan refleks tangannya menghapus jejak kecupan itu dengan kasar.
Andreas hanya terkekeh melihat itu
"istirahat lah, kamu belum makan. biar tubuh mu bertenaga dan buat bayi dalam kandungan mu juga ya kan? pasti butuh nutrisi. aku akan pergi sebentar nanti ada pelayan ku yang mengantarkan makanan untuk mu. kamu harus makan, jangan coba-coba berpikir untuk kabur! jangan membantah oke? karena tengah malam kita akan terbang ke Singapura"
"apa?? ke Singapura?! kamu gila Andreas!!"
"ssstt... tenang lah dear simpan tenaga mu kasihan bayi dalam kandungan mu kalau kamu terus berteriak seperti itu" ucap Andreas lembut. membelai lembut rambut hitam panjang ikal milik Renita.
"kamu selalu cantik dan menggemaskan dear" lirih nya. meremas pelan pundak Renita memandang lekat penuh damba Renita. sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi Renita memalingkan wajahnya tidak mau pandangan nya bertemu Dengan manik hitam milik Andreas. dan lelaki itu tersenyum tipis merespon Sikap Renita memberikan usapan lembut pada puncak rambut Renita kemudian melangkah pergi dan keluar dari kamar tersebut meninggal kan Renita sendiri dalam kamar yang dingin dan sunyi. Renita tidak mengetahui posisi nya sekarang ini di mana setelah kepergian Andreas Renita segera bangun dari tidur nya turun dari ranjang, berjalan ke arah jendela kaca yang di lengkapi dengan teralis besi. Renita mengedar kan pandangan nya ke arah luar.
"kebun teh? seperti nya rumah ini ada di sekitar kebun teh? apa di daerah Bogor kah? Bandung?"
air mata nya tak kuasa dia bendung lagi yang akhirnya luruh juga dengan deras.
"Abang... di mana kamu.. kenapa kamu tidak datang mencari ku bang.. apa kamu sadar aku menghilang? ya Tuhan.. kenapa lelaki itu datang kembali setelah sekian lama nya dengan membawa kegilaan nya" Renita terus meracau di tengah isakan tangisnya meratapi nasibnya yang rumit ini. dia tidak menyangka akan terjadi seperti ini isakan tangisnya semakin menjadi di mana dia mengingat suami nya dan sangat merindukan nya.
cklek!
suara pintu kamar terbuka sontak Renita menoleh ke arah pintu kamar yang terbuka.
*
__ADS_1
TBC...