Dia jodoh ku

Dia jodoh ku
Ruang Dosen.


__ADS_3

Renita diam membeku di kursi tunggal di balik meja kerjanya wajah nya merah padam bola matanya menyorot lurus pada seorang yang berdiri di hadapan nya dengan wajah tanpa beban sama sekali.


"pa_pak Anggara?" ucap Renita pelan hampir tak bertenaga untuk mengeluarkan suara nya karena lemas. Yap, lelaki yang berdiri tepat di hadapan Renita tak lain adalah Anggara dengan senyum lebarnya tanpa berdosa.ingin rasa nya Renita lari sekencang-kencangnya.atau nggak ngumpet di kolong meja bila tahu Anggara datang menemui nya di ruang dosen di mana dia lihat bukan hanya Renita yang terkejut akan kedatangan Anggara ke ruang dosen


begitu juga beberapa orang dosen yang ada di ruangan tersebut yang kebetulan sedang jam makan siang.


kehadiran Anggara di ruangan tersebut membuat para dosen itu mengurungkan niatnya untuk keluar untuk makan siang.


karena ada kejadian langka yang membuat mata mereka terbuka sempurna.seorang pria muda tampan dan gagah.hebatnya lagi pria itu pemilik yayasan Handersson


mendatangi Renita dengan membawa bungkusan eh, atau tepatnya lagi kotak makan siang untuk Renita.


"kamu belum makan siang kan Ren" ucap Anggara Santai mengabaikan setiap mata yang memandang antara kaget dan takjub.


"iya belum, ngapain kamu kesini pak Anggara?" ucap Renita setengah berbisik sekilas dia melirik sekitar nya benar saja semua mata tertuju ke arah nya apa lagi ada Anita di tengah ruangan tersebut yang menatap tidak suka ke arah nya


yang tak lama berjalan keluar bersama Atika teman dosen nya yang pro dengan Anita menatap sinis. rasa tak nyaman menggelayuti


hati nya.


"tentu saja menemui calon istri ku"


ucap Anggara dengan suara cukup bisa di dengar oleh semua dosen yang sedang ada di ruangan itu.


"aissh, ya ampun pak Anggara, calon istri nya ya pak? siapa pak?" ucapan Anggara tentu saja membuat Renita terhenyak tapi dengan cepat dia membuat drama.


Anggara hanya tersenyum melihat tingkah gadis nya yang menggemaskan.


bisa-bisanya Renita pura-pura tidak ada hubungan apa-apa. padahal setelah kejadian pulang dari Bandung perihal hubungan nya dengan Renita sudah tersebar dari mulut ke mulut kabar ini di ketahui dari pak daud.makanya rasanya Anggara sudah tidak sungkan lagi mendatangi Renita di ruang dosen


untuk membawakan makan siang untuk gadis nya itu karena dia tahu setelah jam makan siang akan di adakan rapat komite untuk seluruh dosen dan Renita di minta menyiapkan hasil materi selama seminar selama empat hari di Bandung. dan benar saja di saat dosen yang lain keluar untuk makan siang gadis itu masih berkutat di balik meja kerja nya.


Anggara menjadi gemas sendiri dengan sikap jaim Renita lalu dia menarik satu kursi tunggal yang ada di dekat nya lalu dengan Santainya duduk berhadapan dengan Renita.


tambah gugup lah Renita jadi nya dengan sikap Anggara yang spontan ini.


"kamu nggak usah mendrama begitu Renita.. sebagian dosen yang ada di sini, mungkin semua nya yang ada di kampus ini sudah tahu hubungan kita" ucap Anggara Santai namun tatapan mata nya seolah mencengkeram hati Renita.


"maksud pak Anggara apa sih? saya nggak tahu?" Renita tetap saja mencoba untuk berkilah.

__ADS_1


Anggara tertawa kecil menimpali tingkah Renita.tanpa menghiraukan ucapan Renita Anggara membuka kotak makan siang untuk Renita dan menyodorkan makanan itu pada Renita. Anggara pun mengetahui sikap Anita yang sinis menatap ke arah Renita tapi Anggara tidak peduli hingga satu persatu dosen yang lain pun pergi keluar untuk jam makan siang nya setelah mendapatkan tatapan tegas dari Anggara.karena mengerti arti dari tatapan Anggara.yang tentu saja mereka harus turuti sebagai atasan mereka.


"makan lah, pasti kamu sangat sibuk sampai kamu melupakan makan siang mu"


Renita diam dia memperhatikan wajah Anggara yang sibuk menyiapkan makanan untuk nya.


ada perasaan hangat yang menjalar di hati nya. betapa beruntungnya dirinya karena Tuhan mengirim kan seorang pria yang akan menjadi pendamping hidup nya yang sangat perhatian dan hangat pada dirinya apa lagi pria ini seorang pria muda,ya, seorang lelaki yang usianya lebih muda empat tahun dari dirinya bukan kah itu hal yang mustahil yang jarang untuk di dapatkan untuk seorang wanita? lelaki muda dan tampan serta mapan yang jelas sangat di gilai oleh banyak wanita cantik terutama wanita cantik yang lebih muda dari Anggara.


"Renita? kenapa kamu diam? apa mau aku suapin?" goda Anggara memecah lamunan Renita.


"HM? ah nggak perlu, aku bisa sendiri" dengan cepat Renita menarik kotak makan yang di sodorkan oleh Anggara dan mulai memakan nya dengan lahap nya.


memang kalau urusan berhadapan dengan makanan Renita nggak ada jaim nya sama sekali.meskipun di depan Anggara di saat wanita lain menjaga sikap nya agar tetap anggun dan menjaga sikap saat makan.tapi tidak dengan Renita.


gadis itu dengan lahap nya makan walaupun itu di depan seseorang yang spesial buat nya tanpa takut turun penilaian nya.


Anggara yang duduk bersandar di kursi tunggal dengan kedua tangan nya di lipat di dadanya hanya tersenyum tipis melihat Renita begitu lahap nya makan seolah tidak ada seorang pun yang memperhatikan nya.


"pelan-pelan Renita.. aku tidak akan mengambil makanan mu" goda Anggara melihat Renita sangat lahap dengan makanan nya.


Renita mengangkat wajahnya menautkan kedua alisnya menatap Anggara dengan pipi yang menggembung karena terisi makanan.


"jangan bicara,, kalau lagi mengunyah makanan, habiskan dulu makanan yang di dalam mulut mu itu" ucap Anggara lembut karena melihat Renita seperti hendak bicara padahal mulutnya penuh terisi makanan.


lalu dia kembali menyendok sesuap demi suap makanan itu ke dalam mulutnya Hingg habis tak bersisa.


Anggara memberikan sebotol air mineral yang sudah dia buka tutup nya dan di berikan pada Renita setelah menghabiskan makanan nya.


"terima kasih pak"


Anggara Menaik kan satu alisnya.


"untuk apa?" sahut Anggara.


"untuk makan siang nya" balas Renita.


"tidak perlu berterima kasih, karena ini sudah salah satu kewajiban ku. baru ini saja kamu sudah berterima kasih pada ku, apa lagi yang berikutnya banyak yang bakalan aku berikan pada mu seumur hidup mu" ucap Anggara lembut


wajah Renita merona karena ucapan sepele Anggara tapi mampu menyentuh hati nya.

__ADS_1


"benarkah? kamu pintar sekali membuat wanita tersanjung"


"hanya sama kamu saja" terang Anggara


"benarkah?"


"iya sayang.. kamu nggak percaya sih"


"ya sudah, sekarang kamu kembali ke kantor mu sana" usir Renita.


"kamu mengusir ku?"


"iya, lagian ngapain kamu di sini lama-lama mau tebar pesona ya?"


Anggara tertawa kecil merespon ucapan Renita.


"aku tidak tebar pesona pun, wanita sudah terpesona dengan ku" sahut Anggara percaya diri.


"aisssh, pede sekali kamu, bahaya" gumam Renita yang bisa di dengar jelas oleh Anggara.


"bahaya? kok, bahaya?" tanya Anggara bingung.


Renita tidak mau menimpali ucapan Anggara lebih jauh lagi dia berdiri dan menarik tangan Anggara


"sudah ah, kamu pergi sana.. aku masih mau menyelesaikan pekerjaan ku jangan ganggu" pinta Renita mendorong tubuh tegap Anggara. setelah dia berhasil membuat Anggara berdiri dari duduknya.dengan sekuat tenaga tubuh kecil Renita mendorong tubuh besar nan tegap Anggara keluar pintu ruangan itu.


"ya ampun Renita, kamu kejam sih, setelah aku sudah mengantar kan makan siang untuk mu, sekarang kamu mengusir ku" ucap Anggara pura-pura merajuk.


dan ketika Anggara sampai di depan pintu keluar, Anggara membalikkan badannya ke arah Renita dan..


Cup


dengan cepat Anggara memberikan kecupan singkat di bibir Renita


membuat gadis itu kaget dan wajah nya merah. reflek Renita celingukan ke sekeliling takut ada yang melihat perbuatan tak tahu malu Anggara.


"ya ampun Anggara.. kamu sudah nggak waras ya? bagaimana kalau perbuatan mu tadi ada yang melihat nya" ucap Renita dengan wajah panik nya.


"biarin aja" sahut Anggara enteng

__ADS_1


*


TBC.


__ADS_2