Dia jodoh ku

Dia jodoh ku
kekecewaan Anggara.


__ADS_3

kali ini memang Anggara datang kala papah nya memanggil dirinya ke rumah ini.Anggara memandangi Rahman dengan tatapan dingin


seperti nya kekecewaan nya tentang perilaku papah nya yang mempertaruhkan dirinya hanya untuk sebuah tander perusahaan yang di lakukan oleh Rahman sungguh membuat hati Anggara kecewa dengan pria paruh baya yang berdarah sama dengan dirinya bahkan wajah tampan lelaki paruh baya itu terwaris di wajah nya hanya nerta biru dan ke bulean nya dia dapat dari sang mamah.


Rahman yang melihat putra nya itu hanya diam berdiri dan memandang nya dengan tatapan dingin terhadap dirinya hanya bisa menghela nafasnya berat lalu dia pun berkata


"kamu tidak mau duduk Anggara? apa terus berdiri saja?"


ucapan Rahman memecah kecanggungan di antara mereka.


tapi bukan nya langsung duduk Anggara tersenyum tipis dan.


"apa yang akan papah bicarakan? apa ada sesuatu yang penting?"


Anggara bicara dengan nada yang amat datar lalu dia pun berjalan menuju sofa dengan menarik tangan Renita lalu duduk bersamaan di sofa.


Rahman tersenyum tipis mengangguk angguk saja merespon ucapan Anggara. dia pun ikut duduk di sofa tunggal berhadapan dengan Anggaran di sebelah nya Aisyah duduk juga di sofa tunggal.


lama Susana di ruangan itu hening tak ada yang mengeluarkan kata-kata. Renita dan Aisyah sesekali saling pandang terlihat wajah Renita ada rasa canggung dan bingung dengan setuasi seperti ini. Renita memegang pundak lebar suami nya pelan hingga lelaki itu menoleh ke arah istrinya.


"bang" ucap Renita pelan menatap lekat wajah sang Suami.


Anggara tersenyum tipis merespon istri nya yang dia tahu istrinya itu merasa tidak nyaman.


"apa papah tetap diam? baik lah kalau begitu aku akan ke kamar ku saja ingin istirahat"


putus Anggara karena melihat papahnya hanya diam. padahal dia pun sama banyak yang akan di tanyakan pada papah nya tapi biarlah dia menunggu untuk itu walaupun hati nya rasa nya kesal karena papah nya hanya diam saja.


"duduk lah Anggara, papah mau bicara"


Anggara yang sudah hampir berdiri dari duduknya menjadi urung dan dia pun kembali duduk.


Rahman melirik ke arah Renita dengan tatapan yang sukar untuk di artikan. Anggara yang seperti nya mengerti arti tatapan papah nya hanya bisa tersenyum miring lalu menggenggam erat tangan mungil Renita.


"apapun yang akan papah bicarakan, saat ini bicara kan saja di depan Renita. dia istri ku, otomatis Renita juga sudah menjadi bagian dari keluarga ini iya kan? jadi papah tidak usah sungkan untuk bicara sekarang"


"bang"


Renita tambah tidak enak hati wajah nya meringis menatap suaminya.


"nggak apa-apa sayang, kamu berhak"


"tapi..


"tetap di sini"


putus Anggara dan Renita hanya tersenyum kaku


"baik lah"


ucap Renita pelan sekilas melirik ke arah papah mertuanya yang sama sedang memperhatikan dirinya.


"baik lah kalau itu keinginan mu Anggara, papah tidak masalah. papah pikir kamu belum siap kalau istri mu ini mendengar cerita masa lalu keluarga kita"


"aku sudah menjadi suami nya pah, dan Aku berusaha tidak ada yang perlu di tutupi dari hal ini"


seolah tahu apa yang akan di bicarakan oleh Rahman Anggara langsung bisa menebak apa yang akan di katakan oleh papah nya.


"ini tentang mamah?"


tebak Anggara. dan Rahman terkesiap mendengar ucapan Anggara.


"d_dari mana kamu tahu"


Rahman terlihat gugup tapi kembali dia mengendalikan dirinya dan bersikap seperti biasa.


lagi-lagi Anggara hanya tersenyum miring.


"aku sudah ketemu dengan mamah, apa ada yang perlu papah jelas kan sekarang? kalau ada tolong jelaskan sekarang juga pah, aku tidak mau ada lagi yang di sembunyikan"

__ADS_1


suara Anggara terdengar sedikit bergetar lelaki itu tampak sekali seperti menahan sesuatu di dalam diri nya sebuah emosi yang tak karuan campur aduk dia rasakan.


"kamu sudah bertemu dengan mamah mu?"


wajah Rahman tampak sangat khawatir karena takut mantan istri nya yang tak pernah dia ceraikan itu sudah bicara dengan Anggara dan memojokkan dirinya.


"dia yang menemui aku pah, jangan khawatir mamah belum cerita apapun karena aku belum mau bicara dengan wanita itu"


Rahman bisa bernafas lega mendengar penuturan Anggara.


akhirnya pelan-pelan Rahman menceritakan tentang kondisi pada waktu itu serta kondisi bagaimana pernikahan nya dengan Salma mamah Anggara bisa hancur, sehingga berujung drama kematian sang istri yang kuburan nya tidak pernah dia ketahui sampai saat ini hingga kedatangan Salma yang tiba-tiba, membuat dunia nya Rahman seolah berbalik berputar meninggalkan porosnya. walaupun dirinya salah tapi kenapa Salma harus berbuat se extrim itu?


dengan meninggalkan dirinya dan Anggara dengan memalsukan kematiannya sendiri dan kini kembali muncul sudah menjadi istri seseorang yang katanya itu adalah cinta pertama nya. sakit dan kecewa itu yang Rahman rasakan saat ini walaupun kesalahan nya juga sama besarnya pada istrinya.sehingga Anggara yang sebagai anak menjadi korban nya.


Anggara terdiam. wajah nya merah padam setelah mendengar semua cerita yang keluar dari mulut Rahman.


"egois sekali kalian sebagai orang tua hanya mementingkan perasaan nya sendiri!" cerca Anggara mencoba menahan emosi nya kedua tangan nya mengepal erat hingga otot tangan nya tercetak jelas di sepanjang tangan lelaki itu kulit nya yang putih terang menjadi memerah karena itu.


"maaf kan papah Angga"


Rahman berucap lirih, menatap sendu putra sulung nya seribu penyesalan bersarang di dadanya.


Anggara berdiri seraya menarik tangan Renita. Anggara yang menyimak semua cerita papah nya dengan otak cerdas nya mulai paham apa yang telah terjadi selama pernikahan kedua orang tua nya tapi tetap saja dia sebagai anak sangat kecewa dengan Papah nya yang menyakiti hati mama nya.


"ayo sayang,kita pulang"


Renita kaget sekaligus bingung dengan sikap tiba-tiba Anggara yang mengajak nya pulang Renita menatap satu persatu orang yang ada di ruangan itu lalu kembali menatap lekat suami nya.


"bang, tenang"


Renita menahan tangan besar Anggara bermaksud menahan suami nya itu agar tidak pergi begitu saja karena menurut nya itu bukan tindakan baik.


"kita pulang sayang, sekarang"


Anggara kembali bicara dengan sedikit menekan kan kata-katanya seakan tidak mau ada bantahan dari istri nya. Renita meneguk Saliva nya melihat sorot mata tajam suami nya.


"papah tahu kamu kecewa dengan Papah, tapi pada waktu itu pun papah tidak bisa berbuat apa-apa Anggara,, papah hanya berusaha bertanggung jawab dengan apa yang sudah papah lakukan. karena kejadian itu terjadi sebelum papah menikah dengan Mamah mu!"


melihat wajah sang suami yang sudah merah padam akhirnya Renita


bicara.


"baik lah,kita pulang"


akhirnya Renita menuruti keinginan suaminya lalu tanpa bicara lagi Anggara berjalan dengan langkah lebar nya menuju arah keluar rumah nya tapi sebelum itu, Renita sempat bicara pamit pada kedua mertua nya yang masih diam hanya bisa Memandangi kepergian sang anak dan menantunya.


Aisyah yang melihat anak dan menantunya berjalan keluar dari rumah tersebut, bangun dari duduknya lalu sedikit berlari kecil menyusul langkah Anggara dan Renita yang sudah mencapai mobil nya yang terparkir di pekarangan rumah nya.


"Angga, Renita tunggu"


Anggara yang akan membukakan pintu mobil untuk istri nya menoleh ke arah suara yang memanggil nya. dia pun diam, menunggu ibu sambung nya itu mendekati nya dengan jalan tergesa. dan ketika Aisyah sudah berdiri tak jauh dari kedua pasangan muda itu Aisyah menatap lekat kedua nya.


"apa kamu marah dengan papah mu Anggara?"


Anggara hanya tersenyum getir menanggapi pertanyaan Aisyah


"aku hanya kecewa mi, marah? apa aku boleh marah pada orang tua ku sendiri mi?" lagi-lagi Anggara hanya bisa tersenyum getir


Aisyah yang melihat raut wajah Anggara seperti itu hanya manatap nanar anak sambung nya itu.


"kamu sudah dewasa Anggara dan kamu sudah menjadi kepala rumah tangga. dengan kedewasaan mu ini semoga kamu bisa mengerti dunia kedua orang tua mu dan bisa mengambil keputusan yang benar-benar kamu pahami"


"baik lah ummi aku dan istriku pulang dulu"


Anggara seperti nya enggan menanggapi ucapan Aisyah.malah meraih punggung tangan ibu sambung nya yang berhati lembut itu dan mencium punggung tangan nya begitu juga dengan Renita mengikuti apa yang di lakukan oleh suami nya.


"masuk sayang"


Anggara mendorong perlahan tubuh istrinya agar masuk ke dalam mobil setelah istrinya sudah benar-benar duduk dengan baik di kursi mobil Anggara menutup pelan namun kuat pintu mobil nya. lalu berjalan kearah pintu mobil di sisi satu nya.

__ADS_1


mobil Pajero sport bewarna hitam itu perlahan melaju perlahan meninggalkan pekarangan rumah besar dua lantai itu.


di sepanjang jalan hanya ada keheningan Anggara hanya diam fokus dengan jalan di depan nya.


Renita yang melihat mata suami nya menatap tajam jalanan, memberanikan diri untuk meraih tangan kiri Anggara yang sedang mencengkeram stir kemudi, menarik pelan tangan besar itu dan di genggam nya erat menyelusup kan jemari lentik nya ke sela-sela jemari kokoh sang suami lalu di taruh nya jalinan kedua tangan itu di atas pangkuan nya. tindakan Renita itu sontak membuat Anggara menoleh ke arah istrinya dengan wajah terkejut tapi itu hanya sebentar karena tak lama wajah tampan itu tersenyum manis pada wanita cantik yang duduk di sebelah nya malah Anggara mengeratkan genggaman nya pada jemari tangan istrinya membawa nya ke bibir nya lalu mengecup punggung tangan istrinya itu berkali-kali. membuat wajah Renita bersemu merah karena malu sekaligus ada rasa aneh menjalar ke seluruh tubuh nya rasa yang membuat dirinya melayang dan hangat.


"terima kasih sayang" ucap Anggara pelan dan lembut


"untuk apa?" Renita bingung untuk apa suami nya itu berterima kasih pada nya.


"karena kamu selalu memberikan kekuatan pada ku di saat aku lemah"


Renita tersenyum, memandang lekat wajah tampan suami nya dengan tatapan penuh cinta.


"kamu jangan marah dengan kedua orang tua mu ya bang, mungkin Kisah mereka melukai mu tapi di balik itu semua adalah permainan takdir yang tidak bisa mereka hindari"


Anggara hanya tersenyum tipis dan menghela nafas nya perlahan


"kalau itu, aku belum tahu sayang tapi aku berusaha mengerti walaupun tetap saja ada kekecewaan di hati ku"


Anggara bicara tanpa menoleh ke arah istrinya pandangan nya hanya lurus kedepan tapi dengan membawa tangan istrinya yang dalam genggaman nya ke atas pahanya tepat nya pangkal paha nya


hampir menyentuh pusaka milik nya Renita yang sadar tangan nya hampir menyentuh benda keramat milik suami nya itu langsung berusaha menarik tangan nya dari genggaman tangan suaminya dengan kuat membuat Anggara menoleh ke arah sang istri.


"kenapa?"


seolah tak ada apapun, Anggara bertanya dengan wajah tanpa dosa.


"lepas tangan ku bang"


"biar begini dulu"


"iya, tapi kamu jangan tengak tengok terus! lihat jalan"


ucap Renita sedikit gugup.


"iya,iya tapi nggak usah di lepas tangan nya" pinta Anggara kembali meletakkan genggaman tangan nya di atas pangkal paha nya entah sengaja atau tidak Anggara mendekat kan genggaman tangan nya pada tangan istrinya hampir menyentuh benda keramat milik nya membuat jantung Renita berdebar kencang tak karuan. dan kali Renita seperti nya harus protes.


"kamu sengaja ya bang?"


Anggara menautkan kedua alisnya karena ucapan istrinya.


"sengaja? sengaja apa?"


tanya Anggara aneh, apa Anggara benar-benar tidak menyadari sikap nya yang membuat Renita gemas


tapi Anggara menyadari kenapa istri nya seperti itu karena dia mengikuti pandangan istri dan.. lelaki itu hanya mengulum senyum nya pantas saja dari tadi diri nya merasakan sensasi aneh pada milik nya.


"kamu malu karena ini?" tanpa malu Anggara bicara ke intinya. membuat wajah istrinya bersemu.


"bang, lepas ih! kamu jadi mesum begini sih!" keluh Renita langsung memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil mengigit bibir bawahnya.


"astaga bang kamu ini!" Renita menatap horor wajah suaminya karena dengan tidak tahu malu nya Anggara malah membawa tangan istrinya ke atas milik nya yang nampak sudah sedikit membengkak di balik celana jeans nya dan hanya menampilkan senyum lebar nya pada istrinya yang terlihat sedikit kaget alias shock.


"begini enaknya kalau naik mobil bersama istri" seloroh Anggara santai sesekali bibir nya mengatup mendesis karena efek gesekan tangan istrinya yang dia arahkan ke arah pusaka milik nya.


lagi-lagi Renita melotot mendengar ucapan fulgar suami nya dan terus mengarah kan tangan nya ke benda keramat milik suami nya.


"bang kamu tuh lagi nyetir bahaya!"


Anggara tergelak.


"iya sayang.. baik lah seperti nya memang akan bahaya kalau begini terus. kita lanjutkan nanti di apartemen ya"


Renita tertegun sejenak mendengar permintaan sang suami tapi terdengar seperti perintah buat nya membuat dirinya merinding karena memikirkan apa yang akan Anggara lakukan nanti pasti nya sesuatu yang akan membuat Renita terkapar tak berdaya.


Anggara terkekeh melihat respon istri nya yang diam dengan wajah yang memerah dan mengecup dengan dalam punggung tangan istrinya sebelum dia melepaskan genggaman tangan nya, dan kembali fokus dengan jalan di depan nya walaupun milik nya terasa berdenyut dan sedikit mengeras. Anggara hanya tersenyum tipis merutuki dirinya yang selalu terpancing gairah nya bila bersama istri nya.


*

__ADS_1


TBC..


__ADS_2