
pak Daud melihat sikap wanita yang bernama Anjani itu bersikap berani pada bos muda nya. dan tentu saja kurang ajar kaget. dengan tersenyum sinis pria berusia empat puluh tahun itu berkata dengan nada Santai namun terdengar sarkas.
"anda berani sekali nona! pak Anggara ini bukan buaya rawa yang mungkin sering nona jumpai di luaran sana, jadi jangan merendahkan diri anda kecuali memang diri anda memang sudah rendah"
Anjani yang mendengar ucapan kedua pria berbeda usia itu dengan kata yang sangat merendahkan diri nya. sontak saja membuat wajah nya merah padam. malu, kesal rasa itu jadi satu. sementara Anggara yang sampai menggeser posisi kursi tunggal yang dia duduki lebih menjauh dari Anjani. sama halnya Anggara juga terlihat gusar menatap tajam ke arah Anjani.
"seperti nya tidak ada yang di perlu bicarakan lagi jadi saya minta, nona Anjani pergi dari sini! dan tentang keputusan saya mengenai pak Broto, itu sudah final tidak ada yang berubah apapun yang terjadi!"
"tapi pak"
Anjani dengan wajah di buat memelas dengan beraninya kedua tangan nya hendak meraih tangan Anggara tapi kali ini Anggara sampai berdiri dari duduknya hanya untuk menghindari sentuhan tangan Anjani dan..
"anda jangan kurang ajar nona! pergi dari hadapan saya sekarang!"
Anggara setengah berteriak dengan wajah yang berubah terlihat sangar
membuat Anjani menjadi ciut seketika. kedua tangan nya mengepal kuat menahan rasa yang ada di dadanya. karena terus terang saja dia sangat menyukai Anggara yang sangat tampan dan rupawan awal nya dia pikir ketika di suruh kakak nya Broto menemui pimpinan yayasan Handersson dalam bayangan nya adalah pria yang sudah tua dan bertubuh tambun. tapi betapa terkejutnya setelah dirinya berjumpa dengan sang pemimpin yayasan Handersson yang ternyata adalah pria yang masih muda dan yang terpenting adalah sangat tampan.dan benar-benar sangat tampan malah. siapa yang tidak suka melihat pria seperti ini pikir Anjani. niat nya yang semula hanya ingin bernegosiasi urusan kakak lelaki nya itu. kini ada satu misi lagi untuk dirinya sendiri setelah melihat ketampanan seorang Anggara. dengan wajah cantik nya serta tubuh nya yang tentu dia yakini tidak akan ada pria manapun yang menolak keindahan tubuh nya.tentu saja itu pemikiran Anjani yang terlalu percaya diri hingga sikap nya tidak terkendali ketika sudah berhadapan dengan pria tampan dan gagah seperti Anggara.
"pak Anggara jangan mengambil keputusan sepihak dan terburu-buru. tolong pertimbangan kan lagi permintaan saya ini jika pak Anggara memenuhi permintaan saya ini akan saya turuti apapun keinginan Anda"
rupanya Anjani masih belum mau menyerah. dengan suara di buat mendayu wanita tak tahu malu itu terus berusaha mendesak Anggara dengan keinginan nya.
Anggara berdiri dari duduknya dan menoleh ke arah pak Daud sekilas dan berkata
"pak Daud, sudah selesai minum kopi nya?"
dengan cepat pak Daud menjawab ucapan Anggara, mengerti sikap atasan nya ini lalu dia pun ikut berdiri dari duduknya.
"sudah pak"
"bagus, kalau begitu ayo, kita pergi dari sini. rasanya aku sudah tidak nyaman dengan tempat ini karena sudah tercemar lingkungan nya"
setelah berucap seperti itu Anggara melangkah kan kaki nya dari tempat itu mengabaikan wajah pak Daud Yang nampak rada kaget dengan ucapan Anggara yang terdengar nyelekit bagi siapa pun yang mendengar nya. tak menyangka mulut bos muda nya ini sangat tajam, setajam silet. pak Daud hanya menggeleng kan kepala nya seraya tersenyum tipis lalu sebelum meninggal kan meja itu pak Daud menoleh ke arah Anjani wanita malang dengan kepedean nya yang tinggi, nampak diam terpaku melihat sikap Anggara yang susah di dekati.
"anda memilih korban yang salah Nona.. karena apa?" Pak Daud sedikit membungkukkan badan nya lalu bicara sedikit berbisik pada Anjani.
"karena pak Anggara memiliki istri yang jauh lebih cantik dan tentu nya lebih baik dari wanita seperti Anda"
astaga pak Daud,, seperti nya sudah tertular sikap Anggara tanpa rasa berdosa menambah setuasi menjadi lebih keruh dan seperti nya melihat ekspresi wajah Anjani yang mendelik ke arah nya membuat pak Daud puas lalu dengan tertawa sumbang pria itu berjalan ke arah keluar kafe tersebut untung saja posisi mereka lebih privasi jadi jauh dari pengunjung lainnya di cafe tersebut. menyusul langkah Anggara yang seperti nya sudah berdiri di samping mobil di parkiran menunggu pak Daud karena memang kunci mobil pak Daud Yang pegang. hingga membuat pria itu berlari kecil dan mengarahkan remote kontak mobil
Tut
tut
mobil sudah tidak terkunci dan Anggara dengan segera membuka pintu mobil dan masuk ke dalam nya. di susul oleh pak Daud duduk di kursi kemudi.
"kita kemana lagi pak?"
tanya pak Daud pada Anggara. sebelum menjalankan mobilnya
Anggara yang bersandar pada kursi mobil sambil memejamkan matanya
"kita kembali ke hotel saja pak, aku lelah" lirih Anggara
"tapi Anda belum makan pak. dari pagi hanya sarapan wafel dan segelas kopi saja tadi pagi di hotel dan tadi di cafe anda belum menyentuh makanan apapun yang di sajikan tadi. ah, itu gara-gara wanita murahan tadi" ucap pak Daud dengan wajah khawatir dan gusar bersamaan mengingat pertemuan mereka dengan wanita tak tahu malu itu. Anggara hanya tersenyum miring menanggapi ucapan orang kepercayaan nya ini. yang nampak nya sangat memperhatikan kondisi dirinya.
"nanti saya makan lewat layanan hotel saja pak, sekarang kita balik ke hotel saja saya ingin istirahat"
putus Anggara yang tak lagi di bantah oleh pak Daud walaupun lelaki itu sangat khawatir dengan bos muda nya ini. yang akhirnya dia hanya patuh dan melaju kan mobil menuju hotel five star tempat mereka istirahat selama di Surabaya.
*
__ADS_1
di tempat lain tepat nya di kampus
Renita di kejutkan oleh sebuah kiriman satu buket bunga tulip putih dan satu kotak coklat Swiss dengan isi saos vanilla dan itu semua adalah dua benda favorit nya.
sudah dua hari ini dia mendapatkan nya dan itu membuat Renita menjadi tanda tanya besar dalam dirinya.
"waah...Bu bos dapet kiriman lagi nih, romantis banget sih pak bos"
ucap sari dengan antusias yang di dukung oleh Dasmita para dosen wanita yang memang cukup akrab dengan Renita. tapi sepertinya kiriman hadiah yang semestinya membuat Renita bahagia tapi kenyataannya itu membuat Renita ketar ketir.Renita hanya tersenyum kaku menanggapi ucapan Sari dan Dasmita teman sejawat nya.
entah apa yang mesti dia katakan pada kedua dosen wanita yang sudah akrab dengan nya.
"tapi saya nggak tahu siapa yang mengirimkan ini sar" ucap Renita sedikit berbisik tak mau terdengar oleh yang lain.
mata Sari dan Dasmita melebar
"lho, jadi ini bukan kiriman dari pak bos toh?!"
ssstt..."jangan kenceng-kenceng Bu ngomong nya" bisik Renita pada kedua dosen wanita itu.
Renita meletakkan satu telunjuk nya di bibir seksi nya isyarat agar Sari bicara pelan dan langsung sari melipat kedua bibir nya
"waduh, jadi siapa yang mengirimkan hadiah yang sangat manis ini ke ibu? wah, pasti orang ini pengagum rahasia bu Renita ya? ah, so sweet" lagi-lagi Sari bertingkah seperti berhadapan dengan idola nya tapi tidak dengan Dasmita dosen wanita ini lebih serius menanggapi ucapan Renita.
"jadi siapa menurut Bu Renita yang mengirimkan hadiah ini dan seperti nya kedua barang ini favorit ibu semua iya kan?"
Renita mengangguk membenarkan semua ucapan Dasmita dengan wajah bingung.
"apa ibu sudah menghubungi pak bos untuk memastikan kalau bukan pak bos yang mengirim nya?" tanya Dasmita lagi.
"tentu saja sudah, dan dia tidak pernah merasa mengirimkan hadiah ini"
"bagaimana tanggapan pak bos Bu?"
Sari yang tadi terlihat labil, mulai memasang wajah serius menyimak pembicaraan Renita dan Dasmita.
"tentu saja suami ku kaget dan seperti nya sangat marah sampai-sampai dia mau pulang saat itu juga dari Surabaya. tentu saja aku larang karena urusan nya di sana belum selesai"
"ya itu karena pak bos khawatir dengan kamu bu Renita.."
"iya sih, tapi aku juga nggak mau cuma karena masalah ini pekerjaan nya di sana jadi terganggu"
"kalau begitu coklat nya buat saya saja bu bos, kalau kamu tidak mau kan sayang juga coklat mahal begitu kalau di buang"
dengan mata berbinar Sari menginginkan coklat itu tanpa canggung lagi. Renita tersenyum menanggapi hal itu.
"kamu mau?"
"tentu saja mau" sahut Sari bersamaan dengan Dasmita tidak menolak kalau memang Renita memberikan satu kotak coklat Swiss mahal itu untuk mereka berdua.
"kalau begitu ambil nih semua"
tanpa basa-basi lagi Renita menyerahkan satu kotak coklat Swiss itu pada Sari dan Dasmita yang di terima dengan senang hati oleh kedua dosen wanita itu.
"terima kasih ya Bu bos untuk coklat nya" ucap Dasmita semangat
"tidak perlu berterima kasih pada saya, karena itu bukan saya yang membeli nya tapi orang yang mengirim hadiah ini"
"ah, itu sih pasti,, kalau ketemu orang itu pasti saya berterima kasih sering-sering saja dia ngirim coklat ini, hahaha" balas Dasmita yang di barengi dengan gelak tawa nya. setelah kedua dosen wanita itu pergi dari hadapan Renita wanita cantik itu terdiam, pikiran nya sedang menerka siapa yang mengirimkan hadiah tersebut yang semuanya benda favorit nya.
"apakah dia?" gumam Renita pikiran nya tertuju pada seseorang yang dia sangat kenal pada masa lalu nya. dan seketika wajah Renita menjadi pias mana kala mengingat seseorang dari masa lalu itu.
__ADS_1
"tidak, tidak. tidak mungkin orang itu dia sudah di Amerika bersama istri nya di sana terakhir kabar yang aku dengar dia sudah bahagia dengan istri dan anak nya" gumam Renita bicara sendiri membuat rasa gugup dan takut menjalar di dirinya lalu tanpa menunda lagi Renita membereskan semua barang-barang bersiap untuk pulang karena memang jam kerja nya sudah selesai.
"aku pulang"
pamit Renita pada semua dosen yang satu ruangan dengan dirinya termasuk pada Sari dan Dasmita
"hati-hati bu bos di jalan, salam buat pengagum rahasia nya ya"
canda Sari yang mendapat kan toyoran pada kening nya dari Dasmita. sementara Renita hanya mencebik menanggapi ucapan Sari lalu melangkah ke luar berjalan menyelusuri koridor kampus menuju parkiran mobil. di mana mobil nya berada. dan suara petir terdengar gemuruh di atas langit dan tak lama air hujan turun dengan derasnya.
"oh astaga hujan" wajah Renita menengadah ke atas langit lalu berlari kecil mendekati mobil nya.
"Renita!"
suara lelaki memanggil dirinya dari arah belakang tubuh nya. Renita menoleh ke arah sumber suara tersebut dan.
"K_KAMU?!!"
mata Renita membola sempurna, tubuh nya membeku menatap lelaki yang berdiri tepat di hadapan nya
lelaki itu tersenyum
"apa kabar mu dear, lama kita tak bertemu. kamu semakin cantik saja"
dengan penuh perasaan serta tatapan penuh damba pria itu bicara dengan Renita lengkap dengan senyuman nya. lelaki tampan berusia tiga puluh empat tahun berdiri tegap di depan Renita yang masih berdiri bergeming dari posisi nya. masih belum sadar dari keterkejutan nya.
"hey, apa kamu sampai terpesona seperti itu melihat ku? aku tahu aku ini tampan"
ucap pria itu dengan percaya diri memandangi wajah Renita dengan penuh arti lalu perlahan lelaki itu melangkah maju mendekati Renita yang berdiri berjarak sekitar lima meter dari Renita.
"a_apa semua coklat dan bunga itu kamu yang mengirim nya?" tanya Renita dengan suara sedikit gugup.
menyadari lelaki itu melangkah maju mendekati dirinya Renita melangkah mundur sedang kan petir terdengar menggelegar di atas langit, hujan di sertai angin yang cukup kencang. seperti menggambarkan apa yang sedang terjadi saat ini dengan pertemuan tak terduga Renita dengan lelaki itu. yang sama sekali tidak pernah dia ingin kan . lelaki yang pernah menorehkan luka sekaligus trauma dalam diri nya.
"iya, aku yang mengirimkan bunga dan coklat kesukaan mu. kamu menyukai nya?" ucap nya santai tanpa beban seolah itu semua baik baik saja.
"tidak! kata siapa aku menyukai nya!"
"benarkah? bukan nya itu semua barang favorit mu dan aku tahu apa yang semua yang menjadi favorit mu" balas pria bertubuh tinggi berwajah cukup tampan dengan mata sedikit sipit.
Renita menatap horor pria yang memberikan kenangan buruk pada hidup nya empat tahun yang lalu, seraya menggeleng kan kepala pelan masih tak percaya dengan apa yang dia lihat sekarang ini.
"mau apa kau! jangan mendekat!"
pekik Renita wajah nya terlihat takut di kala ingatan nya kembali ke empat tahun yang lalu. mata Renita berkaca tatapan mata nya nanar melihat sosok yang ada di depan nya kini.
"kenapa? kamu takut dengan ku?"
ucap lelaki itu tersenyum tipis tetap melangkah maju mengikis jarak pada Renita.
"aku tidak takut pada kau, tapi jijik!"
elak Renita padahal tubuh nya sudah bergetar melawan rasa takutnya. oh ya Tuhan.. tolong hadir kan seseorang sekarang ini untuk menolong dirinya saat ini batin Renita menjerit.
Hahaha..
bukan nya marah atas ucapan Renita yang berkata jijik pada dirinya
lelaki itu malah tertawa lepas.
*
__ADS_1
TBC...