Dia jodoh ku

Dia jodoh ku
aku masih waras, tidak berbuat yang meresahkan.


__ADS_3

bukan mau Anggara, dan ini di luar prediksi.pembangunan kampus Handersson di Singapura, yang seharusnya di rencanakan memakan waktu delapan belas bulan pengerjaan,tapi ternyata bisa di rampungkan dua bulan sebelum jatuh waktu nya dan itu membuat Anggara exatis seharusnya, tapi karena bertepatan dengan waktu pernikahan nya tentu saja membuat Anggara dilema untuk berangkat ke Singapura. tapi keadaan yang mengharuskan Anggara membuat keputusan seperti ini walaupun dia tahu pekerjaan nya ini membuat semuanya menjadi marah gimana nggak marah, seorang pengantin yang seharusnya sudah dalam masa pingitan eh, ini malah kelayaban!


Aisyah bukan nya menjawab pertanyaan Anggara tapi membalas nya dengan tatapan yang bisa membuat Anggara bergidik sekaligus kaget.gimana nggak kaget, ummi nya Aisyah yang Anggara kenal, wanita yang kalem,lembut, tak pernah sekalipun menampilkan wajah yang galak pada Anggara selama Aisyah menjadi ibu sambung nya.tapi sekarang? Anggara baru kali ini melihat wajah garang Aisyah yaa.. walaupun di pasang wajah garang sekalipun wajah ummi nya itu tetap saja terlihat cantik makanya papahnya Rahman bisa bertekuk lutut dan bisa melupakan mamahnya Salma,tapi Anggara tidak boleh egois bukan? karena sejatinya seorang lelaki itu lebih membutuhkan seorang pendamping yang berstatus istri di samping nya karena perbedaan seorang pria dan wanita, tentu lah berbeda, apalagi Papah nya di tinggalkan mamahnya masih terbilang masih muda berusia tiga puluh delapan tahun pada waktu itu, menduda selama dua tahun sudah cukup bagi Rahman rasanya untuk menyendiri merapikan dan menyimpan rapi, puing kenangan indah bersama Salma istri nya yang meninggal karena sakit gagal jantung yang di deritanya. dan waktu nya meneruskan hidup, mencari pendamping hidup nya agar lebih terarah. Anggara pun bukan anak yang berpikiran sempit dalam hal itu tentu dia mengizinkan papah nya mencari pendamping hidup nya biar bagaimanapun papah nya masih sangat normal di usia nya itu dan Anggara tau kalau papah nya butuh seorang perempuan, perempuan yang halal yang bisa mengurus lahir batin papah nya.


Anggara menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal tapi mendadak jadi gatal.


"kamu tahu kesalahan mu Angga?" akhirnya Aisyah membuka mulutnya untuk bersuara tapi suara itu terdengar dingin dan sedikit seperti mengancam Aisyah melirik juga ke arah suaminya yang hanya di balas dengan senyuman lebar oleh pria berusia enam puluh lima tahun yang masih terlihat gagah dan tampan itu ke istri cantik nya melihat itu Aisyah melengos kesal kembali menatap Anggara.


"salah apa saya ummi?" sahut Anggara tanpa berdosa


Aisyah menajamkan sorot matanya pada Anggara sedangkan Yusuf hanya menepuk jidatnya tak percaya dengan jawaban yang keluar dari mulut Anggara.


"ya lord" gumam Yusuf


"benarkah kamu tidak menyadari apa kesalahan mu?" tanya Aisyah sekali lagi


Anggara menoleh ke arah Renita pandangan mereka sejenak saling mengunci Renita melipat kedua bibir nya kedalam membentuk garis simetris tersenyum kaku pada Anggara, dan pria itu hanya menghela nafasnya berat membalas mimik Renita yang seperti itu lalu mengalihkan pandangannya ke arah Aisyah, berdehem untuk menetralkan radikal Aura yang mencekam. Anggara menegakkan tubuhnya berusaha tenang, dan memulai bicara.


"maaf kan Angga ummi, aku tahu salah, salah karena harus pergi perjalanan bisnis di waktu yang tidak tepat begini. tapi aku janji, malam sebelum hari H, aku sudah kembali" jelas Anggara menatap Yusuf dan papah nya bergantian seolah meminta dukungan atas apa yang telah dia ucapkan pada Aisyah


tapi kenyataannya dua pria berbeda usia itu hanya diam menatap nya seolah melempar kan semua tanggung jawab pada dirinya.


tentu saja itu membuat Anggara kesal bukan main.

__ADS_1


"aku bisa saja hanya dua hari di Singapur, hanya untuk menengok proyek ku dan meresmikan saja, setelah itu aku akan segera pulang ummi" ucap Anggara lagi dengan tersenyum miring melirik ke arah papan nya.


"benarkah?" sahut Aisyah wajah nya berubah mulai sedikit ramah.


"iya ummi" balas Anggara yakin dengan wajah di bikin imut.


"eh, tidak bisa begitu kamu Anggara! kamu harus mendampingi Yusuf di sana sehari, atau mungkin dua hari untuk bertemu klien kita di Singapura!" potong Rahman cepat menyambung ucapan Anggara yang tidak lengkap menurut nya. pria itu menjadi blingsatan.Anggara akhirnya tersenyum kemenangan berhasil membuat papahnya bicara untuk kepentingan urusan selain kepentingan urusan nya sendiri.


Aisyah langsung mendelik tajam ke arah suaminya.


"ooh, jadi empat hari kamu di Singapura berikut urusan perusahaan Aby ya?!" tanya Aisyah akhirnya pada suaminya dan yang membuat Aisyah marah, kenapa dirinya tidak tahu rencana itu parah nya lagi suami nya itu tidak bicara ke pada nya apa lagi ini menyangkut semua pihak.


Rahman menjadi gelagapan sendiri


"i_iya mi, Anggara, Aby pinta untuk mendampingi Yusuf untuk bertemu dengan klien untuk perusahaan tekstil kita di Singapura karena hanya Anggara yang memahami di bidang ini. Aby ingin presentasi ini lebih baik karena Anggara lebih berpengalaman untuk dalam bidang per tekstil lan. Yusuf yang baru terjun ke bidang tekstil ini jadi kurang paham bukan begitu Yusuf?" jelas Rahman dengan hati-hati agar dia tidak salah bicara dan menjelaskan pada istrinya.


dan Rahman senang karena Yusuf langsung menjawab tepat sasaran walaupun tadi Yusuf terlihat seperti sedang tidak fokus karena asik dengan bermain dengan gawai nya tapi rupanya tidak membuat otak Yusuf tidak menyerap apa yang sedang ada di sekitar nya itulah yang Rahman suka dari ponakan nya itu, muda, dan pintar memang gen Subianto itu tercipta dari benih super premium pikir Rahman dengan bangga nya.


"kok, kenapa bukan nya Aby yang berangkat menangani itu?!" tanya Aisyah masih merasa tak paham urusan perusahaan suami nya karena yang dia tahu sekarang, Anggara seharusnya sedang dalam masa pingitan karena empat hari lagi akan menjadi pengantin.


"Aby juga masih belum mendalami dalam bidang ini mi" jawab Rahman


Aisyah melebarkan mata besar nya karena mendengar ucapan suaminya.

__ADS_1


"kalau tidak paham, kenapa Aby merambah usaha di bidang tekstil ini?" tanya Aisyah tambah tidak paham maksud suami nya.


"karena menguntungkan" jawab Rahman singkat dan padat.


Aisyah mencebik merespon ucapan Rahman.


Anggara berdiri dari duduknya


otomatis semua yang ada di situ beralih pandangan pada pria tampan itu.


"mau kemana kamu Angga?" tanya Rahman.


"aku akan membereskan baju salin ku untuk pergi ke Singapura" Anggara melirik ke arah jam tangan mahalnya yang melingkar apik di pergelangan kekar nya kurang lebih dua jam lagi jadwal penerbangan nya bukan? jadi aku harus bersiap-siap.


maafkan aku ummi, aku akan tetap mengatur jadwal ku di sana sebaik-baiknya supaya pulang tepat waktu" ucap Anggara lalu mengulurkan tangannya ke arah Renita.gadis itu diam mengerutkan dahinya menatap Anggara


"ayo sayang,bantu aku beres-beres" pinta Anggara tersenyum tipis pada Renita.tapi tidak dengan Rahman dan Aisyah mereka sejenak saling pandang dengan wajah yang bingung? apa lagi mendengar Anggara memanggil mesra Renita dengan panggilan sayang.


"Anggara?" ucap Rahman tampak tak suka dengan apa yang putra nya maksud mengajak Renita ikut membantu beres-beres berarti harus masuk ke kamar Anggara bukan?


"tenang papa..aku tahu yang papa pikirkan, pintu kamar akan terbuka kok, tidak akan aku tutup kalau itu yang kalian khawatir kan, aku masih waras dan tidak berbuat yang meresahkan kalian oke?" jelas Anggara menjawab apa yang ada di pikiran kedua orang tua nya


"ayo sayang" sekali lagi Anggara meminta Renita agar ikut ke kamar nya lalu dengan rasa canggung Akhirnya Renita mengikuti langkah Anggara ke kamar.

__ADS_1


"permisi ummi,Aby Renita ke atas dulu" pamit Renita yang angguki oleh Rahman dan Aisyah


TBC..


__ADS_2