
mobil Pajero sport bewarna hitam memasuki pekarangan rumah Adam
setelah selesai fiting baju pengantin di butik Bella, Anggara mengantar pulang Renita.
"besok aku jemput kamu sayang" ucap Anggara masih di dalam mobil.
Renita yang hendak turun dari mobil Anggara tangan nya di cekal oleh Anggara menahan nya untuk tidak turun dulu Renita sedikit memutar tubuhnya ke atas Anggara dan memicingkan matanya menatap Anggara.
"kenapa kamu melihat ku seperti itu" tanya Anggara bingung
Renita hanya tersenyum tipis merespon ucapan Anggara
"kamu ini lucu Anggara"
"lucu? apa nya yang lucu? apa aku selain terlihat tampan,apa aku juga terlihat sangat menggemaskan di mata mu?" Anggara menjawab narsis dengan kedua alisnya turun naik.
"aish, narsis banget sih kamu Angga,, yang aku maksud,, kamu memberikan aku mobil untuk apa?" tanya Renita
"yaa.. untuk kamu dong" sahut Anggara cepat
"iya buat aku benar.. tapi buat apa?" tanya Renita lagi ingin Anggara mencerna ucapan dan menjawab nya.
Anggara diam sejenak mencoba memahami ucapan Renita dan..
Anggara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan tersenyum tipis
"ya, aku kan hanya ingin kita bareng pergi ke kampus sayang" akhirnya Anggara menjawab apa maksud pertanyaan Renita.
"aku bisa pergi sendiri Anggara.. kalau aku Pergi dengan mu otomatis aku tidak membawa kendaraan. nah, jika kamu ada urusan mendadak atau pekerjaan mu belum selesai sedangkan aku sudah selesai dengan pekerjaan ku, apakah kita saling menunggu?"
"apa kamu keberatan menunggu aku sayang?"
"iya, aku keberatan menunggu mu kalau aku yang sudah selesai jam kerja ku, tentu aku ingin segera pulang dan beristirahat" sahut Renita jujur.
Anggara hanya mencebik merespon ucapan Renita.
"aish, Sayang.. kamu benar-benar kejam sih, tidak mau menunggu aku" ucap Anggara sedikit protes
__ADS_1
"sudah, pokoknya besok aku jemput kamu,, nggak ada penolakan"putus Anggara tetap dengan keinginan nya
"kamu kok gitu sih Anggara"
"nurut sama suami sayang"
"baru calon" sahut Renita ketus
"tinggal menghitung hari saja sayang dan rasanya aku sudah tidak sabar" goda Anggara
Renita membuang wajah nya ke arah jendela mobil wajah nya terasa panas sekarang karena ucapan Anggara tadi.
Anggara tersenyum lebar melihat wajah Renita yang merona.
"sudah ah, aku mau turun" Renita dengan cepat menarik handle pintu mobil dan membuka nya.
"eh, sayang.. tunggu" Anggara berusaha meraih tubuh Renita tapi tidak berhasil karena Renita dengan cepat menghindari tangan Anggara, buru-buru turun dari mobil.
Anggara pun ikut turun dari mobil nya dengan tergesa menyusul Renita, melangkah cepat mendekati Renita dan..
Renita hanya mengulum senyum melihat sikap Anggara yang seperti anak manja.
"kamu seperti nya harus berpikir ulang untuk menikah deh Anggara"
"what? maksud mu?!" Anggara tidak senang dengan ucapan Renita dan apa maksud nya Renita bicara seperti itu apa Renita mau membatalkan pernikahan nya NO WAY! pikir Anggara kemana-mana.
"kamu seperti anak kecil kalau lagi begini tepat nya seperti ABG" ucap Renita santai gadis itu tidak menyadari ucapan nya yang menyebut Anggara seperti anak kecil.Anggara sangat tidak suka.
Anggara menatap dalam wajah Renita di tatap sedemikian rupa, perlahan senyum di wajah Renita perlahan meredup berganti dengan wajah gugup.karena Anggara terus mendekat ke arah Renita mengikis jarak dengan seringai terbit di wajah tampan nya.
entah mengapa jika Renita mengatakan Anggara seperti anak kecil darah pria itu mendesir hebat ada rasa tertantang dalam dirinya untuk menunjukkan keunggulan Dari dirinya, sebagai pria yang sudah cukup dewasa. dan mungkin sebagian pria merasa dengar umur dua puluh empat tahun sudah bisa hidup berumah tangga atau berani mengambil keputusan untuk menikah menjadi kepala rumah tangga, menafkahi seorang wanita yang menjadi istri nya dan juga anak-anak nya kelak dengan syarat,mapan dalam pekerjaan tentu nya kalau hidup hanya bermodalkan cinta itu hanya bulshit! karena hidup itu perlu uang, apa lagi seorang wanita menginginkan seorang pria yang mapan bukan berarti di bilang matre. itu realistis kan? karena seorang wanita itu perlu biaya dalam rumah tangga nya, untuk menyekolahkan anak-anaknya yang lebih baik tentunya.maka itu Anggara salah satu dari sekian pria yang sudah sangat mapan dan tentu nya sudah cukup dewasa untuk menjalani kehidupan rumah tangga. terutama sudah sanggup menafkahi istri dan anak-anak nya kelak.dan sekarang dengan enteng nya Renita calon istri nya sendiri bilang kalau dirinya seperti anak kecil? tidak tahu kah Renita, kalau pria yang di bilang anak kecil ini sudah mampu menafkahi nya lahir batin bahkan lebih dari cukup dari mampu.
Renita menyadari perubahan sikap Anggara menjadi gugup dan perlahan dia berjalan mundur
ya Tuhan.. apa aku salah bicara ya?
mati aku.
__ADS_1
gumam Renita dalam hati merutuki ucapan nya.
"STOP Anggara! mau apa kamu? ingat, ini lagi di depan rumah mas Adam" Renita mencoba memperingati Anggara satu tangan nya mengulur ke arah dada Anggara satu tangan nya lagi meremas kuat tas kerja yang terselempang di bahu nya.menatap cemas Anggara sesekali pandangan nya tertuju ke arah pintu rumah Adam.
"kenapa emang nya kalau di depan rumah mas Adam HM? aku tahu kok ini di mana" balas Anggara dengan wajah tak terbaca nya.
setelah jarak antara kedua nya sudah terkikis habis dengan cepat Anggara menarik pinggang ramping Renita.
"AArg.. Anggara m_mau apa kamu" ucap Renita suara nya tertahan dia tidak mau suaranya terdengar sampai ke dalam rumah dan itu akan sangat memalukan.
Anggara tersenyum tipis menatap lekat wajah cantik Renita yang terlihat memerah seperti tomat kemudian satu tangan nya terangkat ke atas di sentuh nya bibir merekah Renita dengan jari telunjuk nya di tekan-tekan telunjuknya itu berulang ke bibir Renita.
"issh! apaan sih kamu Angga lepas ah!" protes Renita karena
itu membuat Renita sangat risih.dan berusaha menepis jari telunjuk Anggara tapi Anggara menepis tangan Renita
"jangan sekali-sekali lagi dari bibir seksi mu ini bilang, aku ini seperti anak kecil sayang.. tahu kah kamu, aku ini pria dewasa yang akan segera memberi mu seorang anak di rahim mu.apa karena usia ku di bawah mu, jadi kamu selalu mengatakan aku seperti itu HM?"
jelas Anggara dengan suara yang sudah memberat terdengar sangat dekat di telinga Renita dan kini bukan lagi jari telunjuk nya yang ada di bibir Renita tetapi jempol besar nya menyisir lembut bibir Renita walaupun sesekali ibu jari itu di tekankan ke bibir Renita.
tubuh Renita diam membeku tidak tahu harus berbuat apa mereka berdiri di samping mobil Anggara di sisi yang lain, tidak terlihat dari arah jalan sehingga orang yang berlalu-lalang di sekitar itu tidak menyadari kegiatan mereka.
sampai saat suara deheman berat seseorang menghentikan aksi Anggara walaupun awalnya kedua nya tidak menyadari kalau ada seorang yang sudah berdiri tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"kheem!! apakah kamu tidak ingin masuk Renita?" suara berat itu menginterupsi kedua nya membuat Anggara dan Renita menoleh ke arah sumber suara tersebut.sontak saja Anggara menurunkan jari nya yang masih bertengger di bibir Renita tapi tidak dengan satu tangan yang satunya masih betah di pinggang ramping Renita.
menyadari hal itu Renita buru-buru menepis tangan Anggara
"lepaskan tanganmu Angga!"
Anggara pun dengan cepat melepaskan tangan nya dari pinggang Renita dan..
"Mas Adam" ucap Anggara tersenyum canggung
*
TBC..
__ADS_1