
semenjak suami nya pulang dan masuk begitu saja, mengabaikan dirinya, hanya mengucapkan salam tanpa menunggu Aisyah untuk meraih punggung tangan suaminya dan mencium punggung tangan suaminya pun tidak di lakukan oleh suami nya. hingga Geraman frustasi sang suami terdengar dari dalam kamar mandi beriringan dengan suara gemericik air yang mengalir dari shower. dan tak kalah terkesiap dirinya, tak kala dia mendengar sebuah seperti sebuah pukulan keras pada tembok. dada Aisyah bergerak turun naik satu mulut nya tak sadar terbuka hingga dia sadar satu tangan nya menutupi dengan satu tangan nya. dan kini dengan tatapan penuh luka dan seperti orang bersalah secara bersamaan.
suami nya melambaikan tangan nya
ke pada dirinya yang masih diam berdiri di depan pintu kamar mandi.
"kemari lah istri ku"
suara berat nan parau sang suami terdengar memanggil dirinya.
Aisyah pun perlahan melangkah, mendekati suaminya dan ketika Aisyah sudah berdiri di depan sang suami, perlahan Rahman melepaskan jilbab syar'i milik istrinya, nampak lah rambut hitam panjang lurus yang di cepol dengan leher jenjang putih milik Aisyah terpampang jelas di mata Rahman. pria itu lalu meraih pinggang istri nya untuk duduk di atas pangkuan nya. Aisyah sesaat kaget dengan sikap suaminya yang tiba-tiba saja memangku dirinya. bukan itu saja yang membuat Aisyah kaget. berikut nya Rahman membenamkan wajah nya ke ceruk leher jenjang milik istri nya dan memberikan sesapan pelan serta kecupan lembut di leher Aisyah lalu mengerat kan lingkaran tangan nya pada pinggang ramping istri nya.
"by.." Aisyah di buat meremang hebat dengan tindakan suami nya.
sedangkan Rahman terus saja dengan aktivitas nya,
menghirup dalam-dalam aroma tubuh istrinya. Aisyah hanya bisa pasrah, membiarkan perlakuan suami nya pada dirinya.
satu tangan nya yang ada di depan dia angkat ke atas, kepala Rahman, tepat nya rambut milik suami nya yang terlihat sudah agak memutih sebagian namun masih tebal seperti tidak ada yang rontok dan berkurang. walaupun usianya sudah hampir menyentuh enam puluh tahun. Aisyah menyibak lembut helaian rambut milik suami nya. dan itu berhasil membuat sang empunya merasakan kehangatan serta kenyamanan dalam jiwanya.
Rahman mengurangi pelukannya agar bisa melihat wajah teduh nan ayu milik istri nya. sesaat pandangan mereka bertemu, saling mengunci. bisa Aisyah lihat sorot mata yang terlihat terluka? pada netra coklat suami nya. Aisyah diam tak bicara sengaja dia ingin menunggu suaminya yang memulai pembicaraan. karena dia berpikir dan merasakan kalau ada sesuatu yang amat berat yang sedang sang suami pikirkan dan seperti nya tidak butuh pertanyaan yang akhirnya menjadi menjudge. Aisyah menginginkan suami nya sendiri yang bicara.
"maaf kan aby, sayang"
Rahman menyorot sendu wajah istrinya yang ada di atas pangkuan nya.
"minta maaf untuk apa by?"
Aisyah bingung, untuk apa suami nya meminta maaf pada dirinya.
"karena hati ku kembali mendua, tapi ini tidak bisa aku hindari sayang" terbata Rahman mengatakan nya . mata Aisyah melebar, dada nya tiba-tiba terasa sesak. apa, apa maksud dari perkataan suami nya. hati nya mendua?!
"m_maksud Aby apa? mendua? aby berselingkuh? Aby punya istri lagi??"cecar Aisyah berusaha baik-baik saja. ternyata menyandang nama Aisyah pada dirinya bukan berarti dia harus kuat melihat suaminya memiliki wanita lain di dalam rumah tangga nya. seperti Aisyah tidak rela dan tidak akan bisa untuk membagi suami seperti Sayidah Aisyah. dia tidak sekuat wanita mulia milik Rasulullah.
perlahan Aisyah berusaha melepaskan diri dari tangan suaminya yang melingkar erat di pinggang nya.
"mau kemana kamu?"
Rahman yang merasakan pergerakan istri nya akan turun dari pangkuan nya. kembali menarik tubuh istrinya dan mengeratkan kedua tangan nya melingkar pada pinggang istri nya.
"lepaskan by" pinta Aisyah dengan wajah yang terlihat sedih.
"dengarkan Aby dulu sayang..aby belum selesai bicara kamu sudah marah"
Rahman bicara selembut mungkin menatap lekat istri nya
dia tahu seperti nya salah mengucapkan hingga membuat istri nya salah paham.
Aisyah membalas tatapan suaminya dengan menatap wajah pria berumur yang ada di hadapan nya, namun sayangnya masih terlihat sangat tampan dan hot.
lihat saja, tubuh nya yang selalu terjaga dan terawat. hingga masih menampilkan tubuh penuh otot yang masih kencang pada posisi nya.
dan itu bisa mengimbangi Aisyah yang masih berusia empat puluh tahun yang juga masih terlihat cantik, dengan tubuh yang ideal yang di miliki nya.
Aisyah menarik nafas nya dalam-dalam dan berkata.
"menurut aby, apa aku harus diam? mendengar penuturan suami yang katanya mendua? ayolah by.. wanita mana yang rela melihat suaminya membagi cinta nya bahkan tubuh nya dengan wanita lain!"
suara Aisyah sedikit meninggi seperti nya perasaan nya sudah tidak bisa dia kendalikan dan dia sendiri merutuki dirinya kenapa bisa-bisanya dia harus bicara dengan suami nya dengan menaikkan intonasi suara nya pada suami nya. selama pernikahan nya dengan Rahman Aisyah tidak pernah melakukan nya.
dan benar saja Rahman kaget dengan sikap istri nya yang bicara dengan dirinya dengan sedikit meninggi kan suaranya.
"Aisyah?" lirih Rahman kaget bola matanya bergerak menyapu wajah cantik istri nya.
Aisyah membuang wajah nya ke arah lain. wajah nya memerah.
__ADS_1
Rahman meraih dagu Aisyah untuk mensejajarkan kembali wajah istrinya dengan wajah nya.
"maaf kan aku by, aku terbawa emosi" ucap Aisyah terdengar lirih.
"sekarang coba aby jelas kan apa maksud perkataan Aby" tanya Aisyah lagi masih menuntut jawaban dan kejelasan dari suaminya.
Rahman tak segera menjawab, malah dia memeluk tubuh istrinya dengan penuh perasaan.tapi itu hanya sebentar namun mampu menghantarkan getaran-getaran kehangatan dalam diri pasangan suami istri yang tak lagi muda itu.
"sebaiknya Aby turun kan aku dulu, baru bercerita" pinta Aisyah karena merasa serba salah apalagi Rahman menatap dirinya dengan tatapan penuh arti dan satu lagi yang membuat Aisyah tak nyaman di atas pangkuan suami nya. karena saat ini Aisyah tahu suaminya tak memakai apapun di balik kimono handuk nya sehabis mandi karena itu, bisa Aisyah rasakan sesuatu yang sedikit mengeras di bawah tubuh nya. dan seperti nya itu terus menggeliat.
"kenapa? aku lebih nyaman begini sayang" Rahman kekeuh dengan keinginan nya agar istrinya tetap di atas pangkuan nya. dengan wajah tak berdosa.
"by" wajah Aisyah memohon
"iya sayang.." Rahman mengulum senyum nya.
"aby mau cerita nggak sih"
Aisyah tak tahan seperti nya suami nya sedang menggoda nya.
"iya, sebentar.. jangan tegang gitu dong"
Rahman kini mengerti kenapa istri nya ingin turun dari pangkuan nya karena dia menyadari kalau milik nya di bawah sana ternyata sedang bereaksi karena merespon setiap pergerakan tubuh Aisyah. bukan salah Rahman kan? biar bagaimanapun dia tetap lelaki normal, yang masih sehat dan segar bugar walaupun usianya tidak lagi muda tapi untuk urusan yang satu ini tentu saja dirinya tak kalah dengan yang masih muda.
Aisyah tidak memedulikan ucapan suaminya. dengan sedikit memaksa akhirnya Rahman membiarkan istrinya turun dari pangkuan nya dan duduk di sebelah nya. tapi mereka saling berhadapan dengan Aisyah naik ke atas ranjang menghadap ke suami nya dengan posisi yang sama.
"ayo cerita kan sekarang, apa yang membuat sikap aby aneh semenjak dari pulang tadi"
Rahman memandang lekat wajah istrinya sebelum dia bicara dan..
"Aby bertemu Salma"
"Salma? Salma siapa by?"
"Salma istri ku yang pertama, mamahnya Anggara"
ucap Rahman pelan seperti nya terlihat hati-hati sekali mengucapkan nya.
"apa??!!"
mata Aisyah melebar sempurna mendengar ucapan suaminya menyebutkan sebuah nama yang dia ketahui adalah nama mantan istri suami nya yang katanya sudah meninggal dalam pikiran nya Aisyah tidak sama sekali percaya.
"sayang, tenang lah"
Rahman memegang kedua bahu istri nya berusaha menenangkan Aisyah walaupun dirinya juga sama kaget nya. malah lebih dari itu yang kini dia rasakan.
"tapi by..m_mana mungkin? bukan kah Salma istri mu itu sudah meninggal?" Aisyah berusaha untuk tidak mempercayai apa yang dia dengar dari mulut sang suami apakah ini lelucon suami nya untuk dirinya? pikir Aisyah seperti itu.
*
*
"kamu sudah kenyang sayang? apa kamu mau tambah lagi?"
Anggara melihat Renita begitu lahapnya menyantap hidangan seafood yang ada di atas meja.
Anggara tersenyum, bahagia melihat istrinya makan dengan lahap.
ah, sebegini sayangnya dan cinta nya pada sang istri sehingga hanya melihat istrinya makan dengan lahap saja Anggara sudah kenyang.
"tidak, ini cukup. aku sudah kenyang hubby, terimakasih untuk makanan nya" dengan tersenyum lebar Renita menyeka dua sisi ujung bibirnya dari sisa-sisa makanan yang mungkin ada menempel dengan tissue.
"ini semua kewajiban ku untuk membuat perut mu kenyang sayang"
perut Renita seperti ada kupu-kupu berterbangan mendengar ucapan suaminya.
__ADS_1
"seperti nya aku lupa daratan ya, makanan yang ada di atas meja ini semua nya aku yang habiskan"
wajah Renita bersemu merah karena malu, baru sadar seperti nya dia seperti orang baru ketemu makan setelah satu Minggu tidak makan.
ada satu porsi kepiting jumbo saus Padang, satu porsi kerang dara rebus lengkap dengan saus nya, satu ekor ikan bawal bakar dan satu porsi udang goreng tepung mentega dan semua itu dia yang menghabiskan. oh astaga Renita sudah menunjukkan jati diri nya yaitu tukang makan! apa lagi dia hadapkan dengan menu favoritnya
selesai sudah, dia lupa diri sedang bersama siapa.
Anggara hanya terkekeh kecil menanggapi tingkah istrinya yang terlihat malu-malu tapi doyan.
"kenapa emangnya kalau kamu yang habiskan Hm? kalau kamu kurang silahkan kamu pesan lagi"
dengan santai nya Anggara menyarankan agar istrinya memesan makanan lagi dan itu tentu saja membuat Renita malu.
"bang.. kamu ngeledek aku ya? pasti kamu ilfeel punya istri doyan makan"
"nggak kok, siapa yang ngeledek kamu? dan juga siapa yang ilfeel? justru aku senang kamu makan nya lahap selera makan mu bagus berarti. mau nambah?"
" nggak, cukup terima kasih"
Renita tersipu malu
"iya sayang, kapan pun kamu mau"
Anggara menjulurkan tangannya ke arah bibir Renita dan mengusap ujung bibir Renita dengan jempol besar nya karena masih ada sedikit saus yang luput dari Renita.
seketika tubuh Renita diam membeku ketika usapan jempol Anggara pada sudut bibir nya yang tambah bikin Renita malu Anggara memasukkan jempol nya tadi kedalam mulutnya sendiri untuk menghilangkan daus dari bibir nya.
apalagi dengan tatapan mata Anggara yang nakal seolah sedang menggoda Renita.
habis lah sudah Renita di buat nya benar-benar di buat tak bisa bergerak karena terpaku dengan sikap absurd suami nya.
"sudah? kita pulang?"
tanya Anggara. menyentuh pundak Renita untuk mengajak nya pulang.
"ah, iya. sudah kita pulang sekarang"
akhirnya dengan terbata Renita menurut. setelah Anggara melakukan pembayaran di kasir, kedua insan manusia berlainan jenis itu keluar dari restoran seafood yang cukup mewah itu. Anggara berjalan ke arah area parkir mobil di mana mobil nya berada dekat menggenggam erat tangan mungil Renita.
dan Anggara membuka pintu mobil untuk istri nya.
"masuk cinta ku"
Anggara sedikit membungkukkan tubuhnya bersikap seolah seperti pelayan yang sedang melayani seorang putri. kembali Renita dia buat tersipu malu sekaligus bahagia dengan sikap ajaib suami nya.
tanpa bisa berkata apa-apa lagi Renita hanya tersenyum dan menurut saja dan masuk ke dalam mobil lalu dengan hati-hati Anggara menutup pintu mobil itu.lalu dengan senyum mengembang di wajah nya pria tampan itu berjalan mengitari depan mobil nya menghampiri ke satu sisi satu lagi pintu mobil nya tapi baru saja Anggara membuka pintu mobil untuk dirinya sendiri sesosok wanita cantik nan elegan berdiri di depan mobil nya menyapa nya dengan tatapan sedemikian rupa.
"Anggara"
sapa nya lembut
Anggara urung masuk kedalam mobil nya satu tangan nya yang sudah bertengger di atas pintu mobil yang sudah terbuka dia lepaskan Anggara seketika menoleh ke arah wanita itu dan itu membuat wajah bule Anggara menjadi pias matanya seperti hendak loncat dari rongga nya. dan seperti nya dia butuh pegangan karena itu Anggara kembali meraih pintu mobil nya yang terbuka untuk menjadi pegangan nya karena saat ini rasanya tubuh nya lemas seperti tak bertenaga karena shock mungkin.
"ma_mmah??"
ya, Anggara seperti melihat hantu rasanya dan itu tidak bisa dia percaya apa yang sedang dia lihat sekarang ini sosok wanita itu kini sudah berdiri sekarang mendekati nya dan sekarang ada tepat di depan nya dengan tatapan nanar ke arah dirinya seakan ada kerinduan yang mendalam, bercampur kesedihan yang amat dalam di sorot mata cantik nan jeli itu.
"iya Angga, ini mamah. mamah mu my boy"
Ucap wanita itu yang ternyata adalah Salma meyakinkan putra nya yang telah dia tinggal kan selama delapan belas tahun karena keegoisan nya dan juga karena keadaan nya yang memaksa nya. kejam? tentu saja sebagai seorang ibu Salma telah berbuat sangat kejam terhadap putra nya satu satunya hasil pernikahan nya dengan Rahman. lelaki yang telah mencabik hati nya.
*
TBC..
__ADS_1