
suara derap langkah dari balik pintu masuk ke pendengaran Renita. wanita cantik itu terdiam tak bergeming dia berpikir itu pasti seorang pelayan yang tadi di suruh Andreas untuk mengantar makanan untuk nya.
Renita tersenyum getir mata nya memandang lurus keluar menembus malam yang pekat. hanya cahaya rembulan dan beberapa lampu jalanan yang pencahayaan nya pun tidak seberapa terang. tapi, matanya dapat melihat jelas hamparan kebun teh berada di sekitar rumah tempat nya sekarang ini tubuh nya bergetar karena membayangkan dirinya akan di bawa oleh Andreas keluar dari negara ini.
'ya tuhan....' jerit Renita di batin nya.
Cklekk
suara pintu kamar terbuka tapi Renita tak berniat untuk melihat siapa yang datang karena dia tak peduli. rasanya sudah lelah dia menangis dan berteriak yang ada hanya sebait doa pada Tuhan berharap kemurahan atas kuasanya untuk membebaskan diri nya dari kehidupan nya yang pelik ini dan dari cengkraman Andreas.
"sayang,, kau kah itu??"
deg.
hati Renita mencelos saat mendengar suara panggilan itu, suara khas yang sudah yang sangat dia harapkan, dari orang yang sangat dia rindukan dan di nanti kan nya.
dengan sedikit ragu karena takut dirinya berhalusinasi Renita membalikkan badannya pelan-pelan
ingin membenarkan apa yang dia duga di pikiran nya. jantung nya berdebar tak karuan apalagi langkah itu terdengar semakin cepat mendekati di mana dia berdiri dan..
setelah badan nya benar-benar sudah berbalik mata nya membola, pikiran nya masih tak percaya apa yang di lihat nya. benarkah ini?
Renita terpaku sesaat memastikan kebenaran, bukan berhalusinasi
dan berikut nya dia pun tersadar.
benar ini bukan halusinasi nya. tak ayal dengan mata berkaca dia melangkah cepat menyambut tubuh tegap yang berjalan ke arah nya dengan wajah penuh kekhawatiran
dengan mata yang memerah
"Abang!!"
Renita langsung berlari menghambur masuk ke dalam pelukan Anggara ya, lelaki itu Anggara dia berhasil menemukan kebahagiaan nya, dunia nya, cinta nya, yang nyaris terampas dari sisi nya kalau saja dia tidak cepat bergerak. saking kencangnya Renita menghambur ke pelukan Anggara membuat tubuh tegap itu sedikit terdorong selangkah kebelakang. dan langsung menyambut tubuh istrinya kedalam pelukannya, di dekap nya erat tubuh ringkih itu. dan pecah lah sudah tangisan Renita di dalam dekapan sang suami rasanya masih tak percaya akan kedatangan suami nya ini.
ya Tuhan.. ternyata engkau masih mendengar doa ku..
batin Renita berteriak syukur masih bisa di pertemukan dengan belahan jiwa nya.
"maaf kan aku sayang, aku lalai menjaga mu"
lirih Anggara penuh dengan penyesalan tak hentinya dia memberikan kecupan dalam di kening istrinya. menyalurkan rasa rindu serta khawatir yang sudah dalam level tinggi di dirinya.
"siapa lelaki yang menculik mu sayang?"
tanya Anggara di disela pelukan dengan nada geram. tak ada jawaban dari istri nya hanya isakan yang masih Anggara rasakan, Anggara sedikit mengurai pelukannya demi melihat wajah sang istri.
menatap dalam wajah cantik yang sembab karena menangis.
Renita masih diam, membalas tatapan suaminya rasa takut bercampur khawatir masih jelas terlihat di mata bulat nan indah nya.
"sayang?"
lirih Anggara masih menanti jawaban dari istri nya walaupun dia sudah tahu siapa lelaki itu tapi dia ingin mendengar dari mulut Istrinya sendiri.
"dia mantan calon tunangan ku"
suara Renita terdengar terbata menjawab pertanyaan Anggara.
hanya helaan nafas berat dan memburu menandakan betapa emosi nya Anggara mendengar nya.
empat jam sebelum nya...
Anggara yang baru saja tiba di bandara Soetta yang sudah di tunggu oleh beberapa anak buah nya, langsung ke arah rumah yang di jadi kan markas oleh
__ADS_1
Bram orang yang dia percaya untuk melacak keberadaan istri nya.
tiba di markas Bram di daerah pinggiran Bekasi, Anggara langsung memasuki sebuah rumah yang di sekitar nya banyak di tumbuhi pohon rambutan. kala itu sudah sangat malam hujan gerimis masih mengiringi malam, membuat cuaca semakin dingin dan menusuk hingga ke persendian tulang.
Braakk.
dengan tak sabar Anggara membuka kasar pintu yang terbuat dari kayu itu, masuk dengan langkah yang tergesa di ikuti oleh pak Daud,juga Yusuf di belakang nya. ya, Yusuf ikut datang menjemput Anggara ke bandara setelah di minta oleh pamannya Rahman yang kebetulan berada di London kala menerima kabar penculikan Menantu nya. di saat dalam perjalanan bisnis nya di benua itu.
pandangan Anggara tertuju ke-dalam, satu ruangan yang di penuhi dengan segala alat elektronik seperti komputer, laptop dan lain nya kabel-kabel yang melintang di lantai membuat langkah Anggara menjadi sedikit terhambat oleh itu. ada lima orang di dalam nya, satu orang duduk di depan layar laptop, tangan nya sedang fokus bergerak di atas keyboard. ke empat lelaki dengan perawakan besar, menoleh ke arah pintu yang di buka kasar oleh Anggara terkecuali lelaki berkacamata tipis yang masih fokus dengan laptop nya. seperti nya konsentrasi nya tidak terganggu walaupun kedatangan Anggara yang berisik.
"boss" sapa keempat lelaki berbadan besar itu bersamaan. lalu memberikan ruang pada Anggara yang melangkah mendekati pria berbadan kecil berkacamata yang sedang fokus dengan tugas nya di depan laptop nya. hanya sekilas lelaki berkacamata itu menoleh ke arah Anggara yang berdiri tepat di samping nya.
"bagaimana Gery apa yang kamu dapat"
suara tegas Anggara menginterupsi lelaki yang bernama Gery itu.
"sebentar lagi boss"
sahut Gery tanpa menoleh ke arah Anggara jemari nya masih bergerak cepat di atas keyboard laptop nya.
"CK, cepat lah! aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan istri ku!" geram Anggara tak sabar ingin mendapatkan hasil dari kerja anak buah nya.
Gery hanya tersenyum tipis merespon ucapan Anggara yang sangat sudah tidak sabar dan dia mengerti. tapi Gery tidak terpengaruh oleh tekanan yang di berikan Anggara karena dia harus fokus untuk mendapatkan apa yang boss mau.
"BINGGO!!!"
seloroh Gerry tersenyum lebar karena seperti nya apa yang dia cari sudah dia dapatkan.
"kau sudah mendapatkan nya??"
mata Anggara melebar mempertegas penglihatan nya ke layar laptop dengan menarik kursi tunggal yang ada di samping Gerry lalu duduk dengan tubuh sedikit di tarik mengarah ke arah laptop Gerry.
"yes! lihat cctv ini. dan aku berhasil meretas cctv jalan raya di belakang kampus. dan berhasil melihat no polisi mobil tersebut dan ternyata mobil yang mereka pakai adalah salah satu inventaris dari orang yang punya jabatan penting di kedutaan Singapur" terang Gerry
"lalu apa yang kau dapatkan dari mobil itu ha??!" Anggara rasa nya sudah tidak sabaran dengan penjelasan Gerry yang di nilai nya terlalu bertele-tele.
mata Anggara melebar mendengar penjelasan Gerry.
"lalu, cepat lah... bicara mu terlalu bertele-tele Gerry!! langsung jelas kan keintinya saja!" wajah Anggara sudah memerah rasanya dia sudah tidak memiliki kesabaran lagi untuk mengetahui keberadaan istri nya.
mendapatkan tatapan Anggara yang seperti ingin membunuh itu, Gerry menelan ludah nya banyak-banyak
yang tadi nya bicara dengan penuh semangat seketika tubuh nya bergidik ngeri.
"i_iya boss. mobil yang membawa mereka dan istri anda sekarang berada di daerah Bandung, tepat nya lembang menurut GPS mobil yang mereka pakai itu. berdoa saja kalau benar mobil itu yang membawa istri Anda" jelas Gerry.
tanpa bicara lagi Anggara berdiri dari duduknya lalu berjalan cepat keluar.
"Bram, bawa dua puluh anak buah mu ikut kami!" titah Yusuf pada pria bertubuh tinggi besar dengan potongan rambut cepak.
"siap tuan"
lalu Yusuf, Daud dan Bram beserta beberapa anak buah nya berjalan menyusul langkah Anggara, berangkat ke daerah Lembang.
waktu sekarang..
pandangan mata mereka saling mengunci bola mata biru Anggara bergerak menyapu wajah cantik istri nya yang masih mengeluarkan buliran kristal dari sudut mata indah nya. jari jempol nya menghapus jejak air mata yang membasahi pipi putih sang istri.
"apa kamu baik-baik saja sayang?"
ah, Anggara merutuki ucapan nya. buat apa dia bertanya seperti itu? bukan kah jelas sekarang istri nya sedang tidak baik-baik saja? batin nya.
"apa bajingan itu menyentuh mu?"
__ADS_1
terasa sakit dan sesak di dadanya ketika Anggara menanyakan hal itu pada istri tangan nya yang berada di balik punggung istri nya mengepal kuat menahan rasa emosi yang mendekap jiwa nya. karena membayangkan jika lelaki bajingan itu sampai menyentuh tubuh istrinya.
Renita menatap lekat manik biru Anggara sejenak ada rasa kecemasan dan kecewa dari sorot mata sebiru Lautan milik sang suami. Renita menggeleng lemah. dan langsung Anggara menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya ada rasa bahagia serta kelegaan dari raut wajahnya serta tarik kan nafas nya.
"thanks God" lirih Anggara
mengecup bibir ranum Renita sekilas namun dalam. dan setelah itu Anggara melepaskan pelukannya
"sebaiknya kita pergi dari sini secepatnya dari tempat laknat ini sayang, ayo!"
ajak Anggara menggenggam erat tangan istrinya untuk keluar dari kamar tersebut. baru beberapa langkah dia berjalan hendak mencapai pintu kamar tersebut, terdengar suara gaduh di lantai bawah. suara orang berteriak lantang memanggil nama istri nya rahang Anggara mengeras dan lebih mengeratkan genggaman tangan nya pada Renita seolah tak ingin sedetik pun istri nya terlepas dari genggaman nya.
tiba di lantai bawah Anggara melihat seorang lelaki tampan berwajah oriental berusaha memberontak karena keadaan nya dalam penjagaan anak buah nya kedua tangan lelaki itu di pegang kuat oleh ketua lelaki besar serta leher nya di piting kuat oleh satu orang lagi yang berdiri di belakang tubuh Andreas.hingga lelaki itu tidak bisa berkutik lagi walaupun ada pergerakan untuk melepaskan diri nya dari cengkraman kuat anak buah nya namun itu sangat sia-sia saja. Ada beberapa lelaki yang di perkirakan anak buah Andreas yang sudah tergeletak tak berdaya di lantai dengan posisi tangan mereka yang sudah di ikat kebelakang tubuh nya.
Anggara melangkah mendekati Andreas tapi tinggal hanya beberapa langkah lagi tangan Anggara terasa di cengkram kuat oleh Renita. karena cengkraman itu Anggara menoleh ke istri nya.
"bang.." lirih Renita menggeleng kan kepala nya pelan
"tenang sayang.. jangan takut. ada aku" Anggara menatap teduh pada istrinya, mengelus lembut lengan istri nya memberi ketenangan.
"tapi..."
cup
Anggara melabuhkan kecupan singkat pada kening istrinya dan itu cukup membuat Renita akhirnya pasrah dan mengikuti keinginan suaminya, berjalan lebih mendekati Andreas yang menatap nyalang karena emosi nya melihat kemesraan yang di perlihatkan oleh Anggara di depan matanya dengan wanita yang dia inginkan itu.
lalu tak lama kemudian suara tawa bernada sumbang terdengar dari mulut Andreas.
Hahaha...oh my dear... ternyata selera mu sekarang berubah HM?!
kamu ternyata menyukai lelaki yang lebih muda ya?! waah... pantas saja kamu enggan aku ajak untuk kembali pada ku, ternyata seperti ini alasan nya" ucap Andreas terdengar sarkas.
tubuh Renita bergetar hebat karena ucapan Andreas yang seolah menghina nya dan memandang dirinya rendah, seolah wanita yang punya pemikiran liar.
Anggara melepaskan genggaman tangan nya lalu dengan cepat Merangsek maju ke arah Andreas dan..
Bug!!
satu pukulan tinju nya mendarat di wajah lelaki berwajah oriental itu dengan telak. mata Renita membola sempurna satu tangan nya menutupi mulutnya yang terbuka hampir menjerit melihat itu.dengan cepat Yusuf yang posisinya berdiri tak jauh dari mereka melangkah lebar ke arah Renita dan menarik tangan sang kakak ipar nya untuk menjauh membawa ke posisi yang lebih aman.
"lelaki brengsek!! tutup mulut kotor mu itu! kamu tidak berhak bicara seperti itu brengsek!!" dengan mata melotot dan terlihat sangar Anggara berteriak memaki Andreas yang sudut bibir nya mengeluarkan darah segar pipi nya nampak lebam akibat pukulan keras dari Anggara.
Cuih!! Andreas merasakan rasa anyir di sudut bibir nya dan membuang ludah kesamping dengan tatapan penuh amarah serta mengejek pada Anggara yang di nilai nya sangat muda. dia pun tak menyangka kalau lelaki yang menjadi suami mantan calon istri nya masih sangat muda. tapi dengan rasa percaya diri yang tinggi dia tidak akan mengakui kelebihan Anggara tentu saja. di bandingkan dirinya yang sudah berusia tiga puluh empat tahun. karena memang Andreas merasa kalau dirinya adalah lelaki tampan dan mapan bahkan lebih dari mapan tentu nya yang masih pantas bersanding dengan Renita.
"hey bocah, lepaskan kekasih ku itu..dia tidak pantas bersanding dengan mu yang terlalu muda. pasti nya sikap mu sangat kekanakan dan manja. karena selera Renita itu, lelaki seperti ku. lelaki yang lebih matang dari dia" dengan rasa percaya diri yang tinggi Andreas memprovokasi Anggara dengan keinginan nya tanpa beban.
Anggara terkekeh pelan tepat nya seperti menyeringai.
"benarkah itu? tapi sepertinya selera istri ku sudah berubah, dia lebih menyukai yang lebih muda, segar dan... Anggara menjeda ucapan nya lalu sedikit mendekatkan wajahnya ke arah Andreas dan bicara dengan nada pelan namun mampu membuat lelaki berwajah oriental itu mengetatkan rahangnya mata nya melotot mendengar apa yang di ucapkan Anggara.
"yang muda lebih kuat di ranjang dan memuaskan nya ya kan?"
setelah itu Anggara tertawa setan.
puas membuat Andreas menatap membunuh ke arah nya.
"brengsek kau!! ku bunuh kamu! lepaskan aku.. aku akan menghajar lelaki ingusan ini!!" Andreas berteriak tidak terima.
"oke, kalau itu mau kau, aku terima tantangan mu!"
Anggara melirik ke anak buah nya yang memegang tubuh Andreas.
"lepaskan dia!!"
__ADS_1
*
TBC ..