Dia jodoh ku

Dia jodoh ku
tamu tak di undang.


__ADS_3

Anggara tersenyum tipis merespon sikap Damian yang menatap nya tajam.sedangkan Damian men, scan penampilan Anggara dari ujung kaki sampai ujung rambut.


"kamu kurang kasih sayang?" tanya Damian membuka pembicaraan.


"apa? kurang kasih sayang? maksudnya mas Damian apa?"


Anggara gagal faham dengan pertanyaan Damian.


"mas, apaan sih?!" ucap Renata juga sama bingung nya dengan ucapan Damian.


"kenapa kamu bisa suka sama Renita? dia lebih dewasa usia nya dari kamu? bukan kah kamu ingin mencari perhatian dengan wanita yang lebih dewasa?"


Anggara tersenyum tipis merespon ucapan Damian.


"ya ampun mas... bicara mu!" sela Renita lagi merasa tidak nyaman dengan ucapan Damian tapi pria itu tak menggubris nya dia tetap melanjutkan argumen nya.


"yakin Renita dewasa sesuai dengan umur nya? mas Damian mungkin lebih tahu, aku mencintai Renita dengan segenap hati ku, tanpa perduli dia siapa, dan usia nya.aku menyukai Renita karena pandangan ku.kita sama sama lelaki, tentu mas tahu apa yang pertama yang menjadi perhatian bagi lelaki pada seorang wanita, dan apa yang aku inginkan insya Allah ada pada diri Renita"jelas Anggara panjang lebar.


"benarkah? kamu tidak rugi?"


tanya Damian.


"rugi?" sahut Anggara mengerutkan dahinya menatap calon kakak ipar nya itu.


"nanti Renita lebih dulu menua dari pada kamu" Damian terus mencecar Anggara dengan segala pertanyaan nyeleneh Damian hanya ingin melihat sejauh mana kesungguhan Anggara mumpung janur kuning belum melengkung begitu menurut nya.


Anggara tergelak merespon ucapan Damian.


"ya ampun mas, apa hanya itu penilaian mu pada kesungguhan hati ku pada Renita kita hanya terpaut empat tahun dan itu tidak ada artinya bagi ku"


"tentu, bukan kah kamu bilang tadi kita sama-sama lelaki, pasti tahu apa yang di lihat pertama pada seorang wanita, dan itu adalah fisik Benar?!"


Anggara terdiam, dia merasa terjebak dengan ucapan nya sendiri.


sedangkan Damian tersenyum remeh pada Anggara.


"iya benar, jujur aku akui pertama yang aku lihat dari Renita memang pisik, tapi itu bukan penyebab utama aku jatuh cinta pada Renita, kalau itu yang menjadi penyebab nya.. mungkin aku sudah tergoda dengan wanita di luaran sana yang lebih cantik lagi"


jelas Anggara tatapan nya tertuju ke arah Renita Anggara tersenyum menatap dalam Renita dengan penuh cinta.


"baik lah, sampai di sini aku percaya padamu, tapi sampai kamu membuat Renita menangis, kamu tahu akibatnya"


"mas Damian, tidak usah khawatir tentang itu, aku tidak menjanjikan semua baik baik saja, tapi aku akan berusaha semua baik baik saja, tapi aku akan berjanji untuk membahagiakan Renita dengan cara ku sendiri" jelas Anggara yakin.


Damian hanya mengangguk merespon ucapan Anggara seraya menepuk pundak lebar milik Anggara.tersenyum miring lalu melangkah meninggalkan kedua nya.


begitu juga dengan Renita ikut melangkah mengikuti Damian, tapi..


"hei kamu mau kemana?"


dengan cepat Anggara meraih tangan Renita menahan langkah gadis itu.

__ADS_1


"mau ke dalam" sahut Renita tanpa dosa.


"sini dulu, kenapa kamu jadi ikut ninggalin aku sih,? kita duduk di sofa itu"


Anggara menunjuk ke arah sofa yang ada di teras samping rumah Adam.


Renita mengikuti langkah Anggara untuk duduk di sofa yang ada di teras samping.


setelah mereka duduk di sofa tersebut.


"aku bahagia Ren, akhirnya aku bisa melamar kamu tanpa ada halangan


semua nya berjalan lancar" ucap Anggara tersenyum pada Renita, kedua tangannya menggenggam tangan Renita memainkan jemari lentik milik Renita.


lalu matanya tertuju pada cincin berlian yang baru saja ia sematkan di jari manis Renita.


"jangan kamu lepas cincin ini kemana pun kamu pergi"


"di kampus juga?" tanya Renita


"iya dong,di manapun, kecuali kalau kamu mandi" terang Anggara.


"tapi.. pasti orang Yang di kampus terutama para dosen akan tanya kalau lihat cincin ini"


"jawab saja jujur kalau cincin ini memang cincin tanda hubungan kita"


"termasuk pada Anita?"


"iya, dengan siapa pun termasuk Raga" jawab Anggara cepat.


"loh, kenapa? kamu malu punya calon suami aku?" tanya Anggara merasa tidak senang


"bukan begitu Anggara.. siapa yang malu, tapi aku takut kalau aku ngajar di kampus mu itu hasil dari nepotisme,, bukan karena kemampuan aku. aku nggak mau itu"


jelas Renita seraya tangan nya meremas gemas dagu kokoh milik Anggara.dan pria itu kaget Renita meremas dagu nya.


"eh, kamu mulai berani ya"


Anggara langsung meraih tangan Renita yang tadi memegang dagu nya dan.


cup


cup


di kecupi berulang jemari Renita.


sontak saja gadis itu celingukan khawatir ada yang melihat tingkah Anggara yang berani itu.


"Anggara.. kamu itu, nggak liat tempat" protes Renita.


Anggara hanya terkekeh merespon protes Renita.

__ADS_1


"kamu yang mulai, aku sih tinggal ngikutin Bu Dosen ajah"


Renita mencebik melihat sikap Anggara.


"udah yuk,kita masuk lagi ke dalam, tidak enak sama yang lain" pinta Renita.


"sebentar lagi Ren, aku masih ingin berdua dengan mu di sini, kalau di dalam mana bisa, banyak orang"


tak lama di depan rumah, terdengar suara orang bicara lebih tepatnya seperti orang berdebat.


Anggara dan Renita menoleh ke arah depan rumah.dan setelah Renita tegas melihat siapa tamu tak di undang itu Renita sangat kaget


"Darwin?" gumam Renita


"bukan kah itu pria yang waktu itu maksa mau nganterin kamu Ren? ngapain itu orang?"tanya Anggara tampak tidak senang.


mereka berdua berjalan mendekati Darwin yang sedang bicara dengan mas Adam,di situ juga ada mba sela.


"kamu tidak ingat? bukan kah kamu yang nyuruh Darwin datang hari Sabtu ini dan ternyata dia memenuhi undangan mu"


Renita mengingat kan Anggara tentang ucapan nya waktu tempo hari itu. Anggara terdiam mencoba mengingat ucapan nya.


"sial, rupanya lelaki itu benar benar penasaran dengan kamu Ren"


Renita hanya mengangkat kedua bahunya merespon ucapan Anggara.


"Renita" sapa Darwin ketika melihat Renita sudah berdiri di belakang Adam.


"ada apa pak Darwin kesini?"


tanya Renita sekedar basa-basi karena dia sudah bisa menebak maksud kedatangan Darwin.


"kamu benar sudah di lamar orang Ren? kamu nggak bercanda ha?"


tanya Darwin dengan rasa penasaran nya.


"iya pak, kan waktu itu saya udah ngomong ke pak Darwin"


Darwin menatap Renita tak percaya, lalu pandangan nya teralih ke Adam.


"mas, bukan nya dulu kamu sudah ngasih izin aku untuk mendekati Renita, dan kamu sudah tahu aku menyukai adik mu ini" ucap Darwin ada rasa tak terima. dan sekarang semua mata tertuju pada Adam.


"iya betul, waktu itu aku memberikan kamu izin untuk mendekati Renita, tapi aku juga pernah bilang, kalau soal hati aku tidak pernah ngatur Renita.karena semua nya terserah Renita aku tidak pernah memaksakan kehendak aku soal siapa yang di pilih Renita" jawab Adam dengan tenang nya.


Darwin terdiam menatap Renita dan Anggara bergantian.kemudian tersungging senyuman remeh di wajah nya.


"oh, karena lelaki ini lebih muda dari aku? seperti nya kamu lebih suka dengan brondong Ren" cibir Darwin.


"Darwin! jaga ucapan mu!" sentak Adam tidak terima dengan ucapan Darwin.


sedangkan wajah Anggara sudah merah padam mendengar ucapan Darwin dia pun sedikit melangkah, mendekati Darwin tapi dengan cepat Renita menarik tangan Anggara menggenggam erat tangan Anggara.

__ADS_1


"


to be continued..


__ADS_2