
aktivitas panas di siang bolong yang panas, mengahasilkan getaran panas. Renita sudah menduga kalau acara mandi bersama dengan sang suami, yang katanya hanya sebentar ternyata memakan waktu hampir satu jam lamanya.rasanya sekujur tubuh Renita terasa remuk redam.
"aku nggak mau begini lagi bang!"
Renita bersungut ria di dalam gendongan suami nya keluar dari kamar mandi yang ada di dalam ruangan private dalam kantor Anggara. Renita memang kembali di gendong bridal style oleh suami karena rasanya tubuh serta tenaga nya habis terkuras akibat bajakan susulan di dalam kamar mandi.
nikmat dan memuaskan itu yang Anggara sekarang rasakan setelah membajak istri nya dua ronde dia dapatkan di siang bolong ini di dalam ruang privat nya dan di dalam kamar mandi membuat wajah pria tampan itu seterang matahari di siang bolong ini.
Anggara terkekeh geli melihat istrinya yang terus menggerutu dalam gendongan nya dengan mulut yang munyung.
"bibir mu lama-lama bisa aku sambar lagi nanti sayang.. kalau manyun gitu"
terang Anggara gemas, melangkah ke arah ranjang yang sudah berantakan seperti di hantam badai karena ulah mereka.
Renita langsung diam tak bersuara lagi, bergidik ngeri memikirkan kalau Anggara serius dengan ucapan nya.
tak lagi bicara tapi matanya menatap sewot suami nya.
dan sial nya pria tampan bernetra biru itu hanya tersenyum lebar menanggapi sikap protes istri nya.
dengan hati-hati Anggara menurunkan tubuh Istrinya dan di dudukan di tepian ranjang.
Anggara yang hanya memakai handuk sebatas pinggang nya melilit tubuh liat nan seksi dengan otot menyempurnakan bentuk tubuh atletis nya.walaupun Renita sudah beberapa kali melihat bahkan sudah merasakan betapa perkasanya tubuh liat itu bila sedang berada di atas tubuh nya bergerak, bergoyang.memberikan kenikmatan pada dirinya hingga terbang melayang menikmati sensasi berjuta juta rasa dari suaminya itu.
Renita menelan Saliva nya kasar.
jantung nya berdetak lebih cepat.
"oh,ya Tuhan betapa sempurnanya yang engkau ciptakan lelaki yang menjadi suami ku ini"
gumam Renita dalam hati nya berusaha menormalkan dirinya dari situasi yang membuat jantung nya tak sehat.rupanya Renita harus membiasakan diri mempunyai seorang suami seperti sosok Anggara.
"sayang ini baju mu, mau aku pakai kan?"
suara Anggara membuyarkan lamunan Renita
"ha?"
Renita yang tersadar dari lamunannya mendongak ke arah Anggara karena posisi Renita duduk di tepian ranjang. hanya memakai kimono handuk.
Anggara tersenyum tipis karena melihat istrinya seperti nya sedang melamun tadi. karena Renita tak sadar kalau Anggara berjalan menjauh ke arah sebuah lemari besar yang berisi pakaian ganti untuk dirinya dan istri nya. rupanya Anggara sudah mempersiapkan semua nya dan ternyata kemungkinan itu sudah terjadi sekarang.
"ini pakaian ku?"
Renita masih bingung saat Anggara menyodorkan satu stel pakaian lengkap dengan dalaman nya
membuat semburat merah terlihat di wajah jelas Renita.
"iya, tentu ini pakaian mu sayang"
"kok bisa?"
seperti nya Renita masih ragu
"bisa dong.. aku sudah mempersiapkan beberapa baju ganti untuk mu di sini jadi kalau ada sesuatu yang membuat kamu harus ganti baju di sini, sudah tersedia.
jangan berpikir macam-macam semua pakaian ini aku siapkan untuk kamu satu Minggu sebelum pernikahan kita"
seolah tahu apa yang ada di pikiran istrinya, Anggara menjelaskan semua yang menjadi keraguan Renita yang bisa jadi, menjadi sebuah kesalah pahaman nanti nya.
dan seperti nya dugaan Anggara tepat.
Renita hanya mencebik merespon penjelasan dari suaminya itu tentang hal yang membuat nya berpikir macam-macam.
"kamu seperti bisa membaca pikiran ku bang" ucap Renita malu-malu
Anggara tergelak lalu lelaki itu membungkuk kan tubuhnya, mendekat kan wajah nya ke wajah sang istri dan..
cup
Anggara memberikan kecupan dalam pada bibir tebal sang istri cukup lama lalu menyudahi nya karena itu cukup membuat istri nya gelagapan.dan kembali menegakkan tubuhnya menatap penuh cinta Renita.
"karena aku sangat mencintai mu, karena itu aku tidak mau kamu berpikir macam-macam yang bisa menyakiti hati mu sayang"
__ADS_1
ada perasaan yang sulit di jelaskan yang Renita rasakan saat ini, mendengar kata manis sang suami.
yang jelas hati Renita terasa menghangat mendengar nya.
"gimana, aku pakai kan baju mu?"
goda Anggara.
"tidak! aku bisa pakai sendiri. sini"
Renita mengambil satu stelan pakaian yang di sodorkan oleh Anggara untuk nya. lalu berdiri berjalan ke arah pintu kamar mandi.
"mau kemana?"
tanya Anggara melihat Renita berjalan ke arah kamar mandi.
"mau pakai baju lah"
tanpa menoleh ke arah Anggara Renita berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Anggara terkekeh sembari menggeleng kan kepala nya pelan. dia mengerti istri nya itu pemalu
walaupun seorang wanita dewasa, tapi untuk hal seperti itu Anggara tahu kalau seorang Renita sangat lah polos. Anggara tersenyum gemas memikirkan sikap istri nya yang berhasil membuat dirinya bertekuk lutut.
*
*
Rahman diam membeku, bola matanya seakan ingin keluar dari rongga mata nya melihat siapa wanita yang dengan anggun dan Santai nya mengambil tempat duduk di sebelah Robert.
dan wanita itu tersenyum ramah ke pada dirinya dan Yusuf.
"S_Sal_Salma?? kamu Salma?"
Rahman dengan terbata menyebut nama wanita yang ada di depan nya wanita cantik berwajah Eropa dengan kulit putih bersih khas wanita bule. begitu juga dengan Yusuf tak kalah terkejutnya dengan sang paman nya. Yusuf hanya bisa diam tak bisa mengalihkan perhatian nya pada wanita cantik yang sangat dia kenal, kalau memang itu wanita yang dia kenal
tapi sepertinya Yusuf yakin dengan penglihatan mata nya.wajah yang dia sangat kenal.
"oh, anda sudah mengenal istri saya tuan Rahman?"
tapi Rahman masih dibawah pengaruh keterkejutan nya hingga dia tidak mengindahkan ucapan Robert, karena pandangan nya tak putus dengan sosok wanita cantik yang dia panggil dengan nama Salma.
"sal_salma.. kamu benar-benar salma istri ku"
dengan rasa percaya diri Rahman menyebut salma itu istri nya.
dan wanita itu heran nya tidak merasa terkejut ataupun risih dengan perkataan Rahman yang menyebut dirinya sebagai istri.
"istri? istri yang mana tuan? saya tidak pernah menjadi istri anda, anda jangan bercanda,, perkenalkan nama saya Salma jane Marquez"
dengan tenang nya Salma mengulurkan tangan kanan nya ke arah Rahman untuk berjabat tangan.
sadar dengan situasi yang sedang terjadi Rahman terhenyak Dari keterkejutan nya. pandangan nya memindai semua orang yang ada di depan nya duduk dalam satu meja dengan pandangan penuh tanya dan seolah menunggu apa yang akan terjadi berikutnya dan menunggu reaksi apa yang di tunjukkan oleh Rahman.
"Salma, kamu itu masih istri ku, aku tidak pernah menceraikan mu!
kamu di bawa oleh orang tua mu entah kemana, tanpa seizin ku dengan dalih meneruskan pengobatan mu di Amerika. dan setelah empat bulan aku mendapat kabar dari papa mu kalau kamu meninggal dan konyol nya orang tua mu tidak mengizinkan aku, untuk mengetahui di mana...
Rahman menjeda ucapan nya karena tak percaya apa yang akan dia katakan ini selanjutnya.
Rahman menatap dalam wajah istrinya itu ada Sirat kerinduan dan rasa bersalah menjadi satu dalam tatapan lelaki paruh baya itu.
"mengetahui diri mu di makamkan!
kenapa Salma? kamu tidak kasihan dengan Anggara yang masih kecil kamu tinggal kan?!"
Rahman terus berkata mengungkapkan perasaan nya serta rasa kecewanya dan ketika Rahman menyebut nama Anggara seketika wajah Salma yang tadi terlihat sinis, berubah mendung ada buliran bening menganak sungai di pelupuk mata nya.
"tega kamu Salma dengan anak kita yang masih membutuhkan mu begitu saja kamu lupakan"
seperti nya Robert sudah mengetahui siapa Rahman karena pria itu berusaha bersikap tenang, sambil memangku balita lucu yang tadi naik ke atas pangkuan nya.
Robert tak banyak bersikap dia hanya ingin menjadi pendengar saat ini dan itu yang sudah dia janjikan pada Salma yang sekarang menjadi istri nya.
__ADS_1
"aku sudah bukan istri mu lagi tuan Rahman hakim, selama empat bulan kamu sudah tidak ada nafkah lahir batin yang kamu berikan pada ku,,oh tidak aku tegaskan di sini, kamu sudah tidak pernah memberikan nafkah batin pada ku selama dua tahun berturut-turut!"
"karena kamu tidak ingin aku sentuh Salma!"
potong Rahman cepat menyela ucapan Salma.
dan wanita itu berdiri dari duduknya dengan wajah gusar menatap tajam ke arah Rahman.
"jelas aku tidak sudi kamu sentuh! kalau dirimu sudah berselingkuh di belakang ku! wanita mana yang sudi melihat suaminya membagi tubuh nya dengan wanita lain!"
Salma bicara sedikit berteriak dengan dada turun naik karena emosi. perkawinan nya dengan Rahman yang semula baik-baik saja di rasa ternyata itu semua hanya kepalsuan belaka. Rahman menyimpan wanita lain dibelakang nya. hingga waktu menunjukkan kebusukan hubungan terlarang Rahman dengan wanita lain di belakang nya.
Rahman terhenyak mendengar suara Salma yang sedikit tinggi namun sarat dengan kekecewaan.
Rahman menatap nanar wanita yang pernah menjadi istri nya. ah, tidak. menurut pemikiran Rahman, Salma masih sah istri nya karena dia tidak pernah berkata menceraikan Salma.
"kamu tahu, kita itu,di jodoh kan dan kamu tahu? sebelum bertemu dengan diri mu, aku sudah mempunyai seorang kekasih dan wanita itu sedang mengandung anak ku"
sakit, ya. sangat sakit yang Salma rasakan saat ini hati nya sangat sakit! walaupun kejadian itu sudah lama namun rasanya seperti luka baru yang kembali berdarah. Salma tersenyum sinis.
"betul, kita menikah karena perjodohan, tapi bukan berarti harus ada pengkhianatan! kamu tahu siapa lelaki di sebelah ku ini?" Salma menoleh ke arah Robert dengan tatapan sendu. Robert membalas tatapan itu penuh cinta dan tersenyum manis. "dia ini cinta pertama ku, kekasih ku waktu itu dan terpaksa aku berpisah dengan nya hanya demi perjodohan itu, aku pun berkorban untuk pernikahan kita! tapi kamu?! apa? malah tega terus berkhianat!"
Salma menatap nyalang pada Rahman tidak ada lagi keanggunan yang tadi dia tampil kan. yang sekarang hanya ada kemarahan yang selama ini dia pendam selama empat tahun selama tujuh tahun pernikahan nya dengan Rahman setelah salma mengetahui perselingkuhan suaminya dengan wanita lain dan setelah dia ketahui selama dia mengabarkan kematian nya sendiri ternyata wanita itu mati karena kecelakaan bersama anak nya yang katanya itu anak Rahman.
tuhan memang maha kuasa, alam membela diri nya. wanita itu meninggal dengan anak nya yang masih dua bulan karena baru pulang dari kampung halaman nya sehabis melahirkan di sana dan akan ke Jakarta menemui Rahman.
Rahman tentu saja terpukul mendengar kabar kalau wanita yang sudah dia nikahi diam-diam secara siri itu, meninggal karena kecelakaan dalam perjalanan ke Jakarta.
ada rasa penyesalan yang menggelayuti Rahman karena tidak bisa menjemput wanita yang dia cintai itu yang akhirnya mengalami kecelakaan hingga meninggal. akhirnya dia pun tidak fokus dengan istri sah nya Salma yang sedang di rawat di rumah sakit karena menderita kanker serviks hingga berbulan-bulan Rahman dalam kekacauan dirinya hingga, tidak pernah datang kerumah sakit untuk sekedar merawat, atau pun menjenguk istri nya itu yang telah memberikan seorang anak lelaki yang sangat tampan.
"cinta pertama mu? kekasih mu?"
pandangan Rahman beralih ke Robert dengan rasa tak percaya dengan apa yang dia dengar.
"oh, jadi kamu pergi dari ku, untuk kembali ke kekasih mu begitu?"
terdengar sinis Rahman bicara
"om, sudah lah..kita pulang ya? rasanya tak elok terus bicara seperti ini"
melihat keadaan yang terus menegang Yusuf berinisiatif menyudahi perdebatan yang Yusuf yakini tidak akan ketemu ujung nya dan Yusuf menyadari keadaan cafe yang sekarang yang mereka tempati sebagai pertemuan, perlahan mulai ramai pengunjung dan itu sangat memalukan kalau terus membiarkan Om nya itu masih berada di sini.dirinya pun tidak percaya dengan apa yang sudah dia lihat dan dia dengar dari perdebatan yang tidak pernah dia tahu permasalahan nya karena yang dia tahu kalau Salma yang notabene nya adalah istri pertama Om nya telah meninggal, itu menurut kabar yang dia dengar tapi sekarang dengan tiba-tiba saja wanita yang sudah di kabar kan meninggal, muncul begitu saja di hadapan nya.
oh ya Tuhan rasa nya kepala nya terasa pusing tiba-tiba.
"ayo om, lihat. caffe ini semakin ramai apakah Om mau menjadi tontonan orang?"
sekali lagi Yusuf mengingat kan Rahman yang terlihat masih tegang karena emosi nya. pria paruh baya itu menoleh ke arah Yusuf yang mencengkram sedikit kuat lengan nya. Rahman menghela nafasnya berat. sepintas dia melirik ke arah Salma dan Robert bergantian.
"baik lah, seperti nya bukan waktu yang tepat sekarang untuk terus meminta penjelasan pada wanita cantik ini"
ucapan Rahman terdengar seperti mencibir bukan pujian.
"ayo om"
ajak Yusuf lagi merasa gemas lama-lama dengan sikap om nya yang masih terbawa perasaan berbalut emosi.
"baik lah"
akhirnya Rahman menurut pada Yusuf karena itu lebih baik saat ini
"kalau begitu kami permisi tuan dan nyonya Robert"
Yusuf sedikit menunduk kan kepala nya, pamit pada Robert dan Salma
tapi saat tatapan Yusuf beradu dengan tatapan Salma pemuda itu tersenyum miris ke arah wanita itu.
lalu membalik kan badan nya meninggalkan keempat orang yang masih duduk di kursi dan meja persegi yang menjadi penyekat nya.
sementara Rahman, sudah berjalan terlebih dahulu tanpa ada kata pamit yang terucap dari mulut nya.
berbagai perasaan yang dia bawa di dalam hati dan pikiran nya.
Yusuf yang berjalan di belakang Rahman, melangkah lebar menyusul Rahman yang hampir sudah mencapai mobil Mercedes Benz yang terparkir di area caffe tersebut.
__ADS_1
*
TBC..