Dia jodoh ku

Dia jodoh ku
demi Anggara


__ADS_3

perjalanan dari rumah Rahman ke apartemen Anggara hanya membutuhkan waktu satu jam, itu pun berikut jalanan macet kota Jakarta yang tidak pernah sepi dari kendaraan. tentu saja iya kan? kota besar,kota metropolitan. ibu kota kebanggaan rakyat Indonesia yang tidak hanya di isi dengan penduduk asli, juga pendatang yang lebih banyak mendominasi. padahal pemerintah pusat menetapkan UMR kota Jakarta lebih kecil berada di urutan nomer tiga dari kota penunjang yaitu Bekasi di urutan kedua dari Jakarta dan pertama Karawang yang menyandang status UMR terbesar di daerah Jawa barat padahal banyak nya industri lebih besar di kabupaten Bekasi ada empat kawasan industri. kenapa kok Jakarta UMR nya lebih kecil dari kedua kota itu? entah lah. tapi nyatanya Jakarta lebih merangsang dan menjanjikan mungkin? untuk para pendatang memenuhi kota besar itu untuk mengadu nasib para perantau mencari peruntungan hidup.


mobil Pajero sport bewarna hitam itu memasuki basemen parkiran khusus apartemen mewah yang di tinggali oleh Anggara.


lelaki itu tersenyum di kala melihat sang pujaan hati nya bersandar lunglai karena tertidur. ya, rupanya wanita berparas cantik nan ayu itu tertidur setelah berhasil menggoda dirinya. tangan kanan Anggara terjulur ke arah rambut istri nya yang sedikit turun menutupi pipi halus sang istri. di usap nya dengan lembut pipi halus itu.


"sayang,kita sudah sampai"


Anggara bicara pelan di depan wajah istrinya dengan jemari kokoh nya masih setia mengusap usap lembut pipi halus istri nya.


heughh..


Renita menggeliat perlahan mengerjapkan matanya berkali-kali bola mata besar dengan bulu mata yang lentik itu perlahan terbuka.


"aku tertidur rupanya, apa kita sudah sampai bang?"


suara Renita yang masih serak karena baru saja terbangun dari tidurnya bertanya pada Anggara yang sedang menatap nya lekat dengan tersenyum.


"iya kita sudah sampai. kamu pulas sekali tidur nya lumayan setengah jam. apa kamu masih mengantuk? kalau masih, tidur saja lagi"


Renita menatap heran suami nya.


"tidur lagi? di sini? kita kan sudah sampai, nggak lah. ayo kita turun"


beo Renita merasa aneh dengan perkataan suami nya yang menyuruh nya tidur lagi.


Anggara terkekeh pelan karena istri nya berpikir lain. lelaki itu pun turun dari mobil nya lalu berjalan ke arah pintu mobil satu nya dan membuka nya lalu tubuh jangkung itu membungkuk dan..


"ee..eh. a_pa yang kamu lakukan bang" Renita kaget dan berteriak karena Anggara tanpa aba-aba lagi langsung menyelusup kan kedua tangan kekar nya di antara tubuh mungil istri nya dan langsung menggendong tubuh istrinya tanpa kesulitan. lalu menutup pintu mobil nya dengan menggunakan tubuh nya yang dia dorong ke arah pintu mobil itu hingga pintu mobil itu tertutup rapat. lalu dia berjalan dengan tubuh istrinya dalam gendongan nya seperti bride style. tentu saja Renita refleks mengalungkan tangannya di leher kokoh suami nya agar tidak terjatuh untung saja basemen parkiran itu langsung terhubung dengan lift yang langsung membawa mereka ke atas tepat nya ke apartemennya Anggara yang berada di lantai paling atas gedung tinggi dua puluh lantai tersebut.


tak lama lift itu berhenti lalu pintu nya terbuka dengan langkah yang lebar Anggara keluar dari dalam kotak besi persegi empat itu. seolah tak merasa berat dengan beban tubuh istrinya yang dalam gendongan nya lelaki itu menekan beberapa angka pada kunci digital apartemen nya. dan pintu apartemen itu pun terbuka. lalu mereka masuk ke dalam nya tentu saja setelah Anggara menutup kembali pintu itu dan lagi-lagi dengan satu kaki nya dia dorong pintu tersebut.


"bang sudah turun kan aku"


pinta Renita karena Anggara belum juga menurunkan dirinya. tapi Anggara tidak menggubris ucapan istrinya dia terus membawa tubuh mungil istri nya itu langsung ke kamar dan ketika sudah di dalam kamar Anggara merebahkan tubuh istrinya dengan hati-hati sekali seolah takut terluka tubuh istrinya.


"tidur lah lagi kalau kamu masih mengantuk" ucap Anggara lembut


duduk di sisi tubuh istrinya di tepian ranjang.


"tidak, mana bisa tidur, tubuh ku berkeringat mau mandi dulu. ini sudah sore"

__ADS_1


lalu Renita memilih bangun dari rebahan nya. Anggara terkekeh melihat tingkah istrinya yang menurutnya sangat menggemaskan.


"mandi bersama?"


tawar Anggara dengan tatapan yang... Renita hafal tatapan apa itu dan seketika tubuh nya bergidik.


"nggak! aku mandi sendiri tidak perlu bersama!" Renita langsung dengan cepat menolak tawaran suami nya itu yang dia yakini itu bukan sekedar tawaran biasa. lalu dengan cepat Renita turun dari ranjang dengan menggeser tubuh tegap suaminya agar menyingkir. Anggara dengan kekehan nya terpaksa menggeser posisi duduknya untuk memberikan akses istri nya turun dari ranjang. dan dengan cepat Renita berlari kecil menuju kamar mandi, menghilang di balik pintu kamar mandi.


"kamu pikir bisa menghindar dari pembajakan malam ini sayang no, itu tidak mungkin. aku tidak akan bisa absen untuk tidak membajak mu sayang karena kamu sangat..ah" Anggara bicara sendiri dengan pikiran mesum nya berpikir liar akan tubuh istrinya rasanya selama dirinya menikahi dengan Renita membuat jiwa lelaki nya terus berkobar bila sudah berada di dekat istri cantik nya yang sangat menggairahkan untuk dirinya.


dan tanpa di rasa sang pusaka sudah menggeliat bangun dari tapa Brata nya ingin bertemu lawan mainnya. Anggara mengusap kasar wajah nya lalu lelaki tampan dua puluh lima tahun itu berdiri melepaskan satu persatu kancing kemeja nya hingga kemeja itu lepas dari tubuh liat nan seksi itu setelah itu melepaskan celana jeans nya dan kini hanya tinggal mengenakan boxer ketat yang melekat pada tubuh atletis nya. berjalan ke arah balkon kamar nya dengan menggeser pintu kaca yang membatasi ruangan itu. lelaki itu berdiri gagah bertelanjang dada seolah menantang angin yang menabrak tubuh liat nya dua tangan nya bertumpu di besi pembatas balkon mata nya yang jeli namun tajam menatap lurus kedepan entah apa yang menjadi objek pandangan Anggara yang jelas sekarang ini pikiran nya sedang penuh dengan masalah kedua orang tua nya. benar-benar mengusik ketenangan nya tanpa terasa mata itu berkaca di saat hati nya merasakan kekecewaan yang sangat dalam melukai perasaan nya.


"mamah sungguh egois! kamu tidak menyayangi angga mam! membiarkan seorang anak kecil yang masih membutuhkan kasih sayang mu di tinggalkan begitu saja!" Anggara dengan amarah serta kekecewaan yang sedang menguasai hatinya menggeram dan berteriak.


"bang"


suara lembut serta rangkulan kedua tangan mungil melingkar di dada telanjang Anggara. sedikit kaget Anggara dengan datang nya istrinya yang tiba-tiba saja memeluk tubuh telanjang nya. lalu dengan cepat Anggara membalikkan tubuhnya dan langsung menarik tubuh istrinya kedalam pelukannya. memeluk dengan erat seolah takut kehilangan . Anggara memberikan kecupan mesra di pucuk rambut istri nya yang masih setengah kering di hirup nya dalam-dalam aroma mawar yang menguar lembut di penciuman Anggara. dan itu sangat menyenangkan dan menenangkan bagi Anggara.


"bang"


lirih Renita dia tahu seperti nya suami nya dalam keadaan tidak baik-baik saja dan bisa Renita tebak apa yang membuat emosi suami nya berubah seperti ini.


"sayang" hanya itu yang keluar dari mulut Anggara membalas ucapan istrinya. setelah beberapa lama Renita mengurai pelukan nya lalu menatap lekat wajah tampan suami nya.


dengan mata membola Renita menarik tangan suaminya mengajak nya masuk ke dalam kamar. Anggara yang masih terbawa suasana hati nya yang sedang gundah hanya tersenyum melihat sikap istri nya yang lagi-lagi menggemaskan hingga membuat lelaki tampan itu terkekeh pelan dengan melihat expresi wajah khawatir istri nya. dan melangkah menuruti istri nya menarik tubuh nya ke dalam lalu duduk di sofa panjang yang ada di kamar tersebut.


"kamu mau mandi bang? mandi sana?" Renita berkata sedikit gugup dan wajah nya merona merah karena malu sendiri di saat melihat tubuh suaminya yang hanya memakai celana kolor ketat atau bahasan keren nya boxer.


tapi Anggara hanya diam dan menatap penuh arti wajah cantik istri nya membuat Renita salah tingkah di buat nya.


"k_kenapa Abang menatap aku seperti itu" ucap Renita gugup tapi suami nya tetap diam tak menjawab ucapan dirinya. Anggara terus menatap lekat istri. akhirnya Renita bangkit dari duduknya tapi dengan cepat Anggara menarik tangan Renita dan tubuh sang istri jatuh di atas pangkuan nya. membuat Renita menjerit karena kaget dan menutup mulutnya dengan satu tangan nya.


langsung Anggara menenggelamkan wajahnya di dada kenyal milik sang istri mencari ketenangan dengan sensasi yang berbeda.


"jangan bergerak sayang.. biarkan seperti ini rasanya sangat menyenangkan dan menenangkan"


ucap Anggara suaranya terdengar tidak jelas tapi masih bisa di dengar oleh Renita sehingga membuat Renita meremang sekaligus malu karena sikap suami nya yang terus saja mengusal kan wajah nya di dada nya tepat nya di antara dua benda kenyal milik nya. Renita hanya bisa pasrah ketika tangan Anggara yang bebas menjelajah menyelinap masuk ke dalam pakaian tidur nya yang berbahan satin lembut, mengusap usap lembut punggung nya dan terus semakin turun ke dua bongkahan kenyal milik Renita di bawah sana membuat tubuh Renita berjengkit kaget sesaat tapi setelah nya hanya bisa merasakan, mata nya memandang sayu wajah tampan suami nya. dan akhirnya semakin lama hawa kamar yang semula di rasakan dingin kini terasa panas karena darah mereka yang mengalir deras terbakar gairah. dan pemirsa bisa tebak sendiri lah ya apa yang terjadi berikutnya pada kedua sepasang insan berbeda gender itu yang sedang di Landa gairah yang tidak bisa di bendung lagi hingga semua menyatu dalam kenikmatan dunia yang mereka kejar salah satu nikmat yang di ciptakan oleh sang pencipta, yang bisa di lakukan sebaik-baiknya oleh pasangan yang sudah halal di mata agama dan sah di mata hukum negara.


*


"by"

__ADS_1


"HM?"


Aisyah berjalan mendekati suaminya yang sedang fokus dengan laptop di atas pangkuan nya duduk di sofa tunggal di dekat jendela balkon kamar dengan meja kecil di depan nya ada segelas cangkir kopi hitam dan sepiring camilan goreng pisang tanduk favorit Rahman. lalu Aisyah duduk di kursi tunggal yang ada di hadapan Rahman. sekilas Rahman melihat istrinya itu. lalu kembali memfokuskan diri kembali pada layar laptop yang sedang menyala entah apa yang sedang Rahman kerjakan lima jari nya bergerak lincah di atas keyboard laptop tersebut.


Aisyah menarik nafas nya dalam-dalam lalu berkata dengan ragu.


"apa sebaiknya kalian bertemu dengan Salma"


seketika jemari Rahman yang sedang mengetik di papan keyboard laptop nya berhenti, mengalihkan pandangannya ke arah wajah Aisyah dengan tatapan yang datar.


"apa maksud mu mi?"


tampak sekali wajah kaget Rahman


Aisyah melipat bibir nya ada rasa tidak enak dalam hati nya. merasa lancang memberikan pendapat pada masalah yang tengah di hadapi suami nya dengan mantan istri nya tapi entah lah Aisyah tidak tahu tepat nya sebutan wanita yang bernama Salma itu. apa kah mantan istri suami nya atau bahkan masih berstatus sebagai istri suami nya Aisyah pun tidak mengerti tapi sejauh yang di mengerti status Salma itu bukan lagi istri suami nya kalau menurut pandangan Agama karena Rahman sudah tidak pernah memberikan nafkah lahir batin selama delapan belas tahun lamanya tentu status Rahman sebagai suami sudah gugur di mata agama tapi secara hukum mereka belum ada perceraian secara hukum negara. ketika Rahman menikahi nya secara agama dan negara karena status Rahman pada waktu itu duda di tinggal mati.


Rahman terdiam mencoba mencerna ucapan Aisyah


"apa aku harus begitu?" tanya Rahman malah seperti nya ide Aisyah bisa dia coba dia pun tak ingin masalah ini terus meresahkan hidup nya dan Anggara.


"seperti nya begitu by, bukan kah kalian butuh meluruskan semua nya demi Anggara? kasihan putra mu itu hati nya gamang entah harus percaya pada siapa aby atau salma tapi sepertinya Anggara lebih kecewa pada mu by"


Rahman tersenyum getir lalu meletakkan laptop nya di atas meja kecil yang ada di depan nya. lalu menyender kan tubuhnya pada kursi menatap lurus namun penuh ke gamangan di sorot matanya.


"apa kamu tidak apa-apa kalau aku menemui Salma, cinta?"


Aisyah tersenyum tak kala Rahman memanggil dirinya dengan sebutan cinta dan itu panggilan di saat Rahman khawatir dirinya marah.


Aisyah tersenyum


"tidak apa-apa by, bukan kah memang harus seperti itu ini demi Anggara kan?"


Aisyah menekan kan ucapan nya


"ya, tentu saja ini demi Anggara. kamu jangan berpikir macam-macam cinta,, Salma hanya masa lalu ku yang di paksa hilang dari kehidupan ku dan sekarang hanya kamu masa depan ku yang menemani aku hingga umur senja ku, bahkan sampai maut menjemput" suara Rahman terdengar sedikit bergetar lalu pria paruh baya itu berdiri dari duduknya mendekati istrinya yang duduk di hadapan nya.


Rahman berjongkok di hadapan Aisyah.


"by" Aisyah kaget suami nya berjongkok di hadapan nya.


"baik lah aku akan menghubungi Salma dan Anggara supaya kita bertemu aku pun tidak mau anak ku hanya menyalahkan diri ku saja"

__ADS_1


*


TBC..


__ADS_2