
hening, namun tegang.itulah keadaan sarapan di pagi hari yang terlihat cerah, namun terasa kelam dan mencekam di ruang tengah tepatnya di meja makan.
Rahman menatap lurus ke arah Verra dengan tatapan mengintimidasi pada perempuan berusia empat puluh lima tahun itu.
Verra menelan ludah nya kasar sesekali mengerjapkan mata nya hanya ingin menormalkan tekanan jantung nya yang berdegup kencang karena kaget sentakan Rahman dengan suara bariton nya yang menggelegak memenuhi ruangan tengah, mungkin keluar rumah?
"by" Aisyah berdiri memberanikan diri untuk memegang tangan suaminya yang mengepal kuat yang dia tumpu di atas meja makan.
ya, tadi Rahman menggebrak meja makan dengan satu tangan nya yang mengepal.nafasnya turun naik, dia merasakan sentuhan hangat Aisyah pada kepalan tangan nya menoleh ke arah Aisyah perlahan mata Rahman yang tadi menyalang perlahan meredup ketika mereka beradu pandang seolah tatapan Aisyah menyalurkan kesejukan pada otak nya yang mendidih.
"ke_kenapa kamu marah mas? bukan kah benar yang aku bilang, kalau Renita itu lebih tua umur nya dengan Anggaran? di mana-mana lelaki pasti mencari wanita yang usianya lebih muda dari diri nya, supaya bisa mengimbangi fisik dan gerakan kaum lelaki. karena kami kaum Hawa memang lebih cepat lemah dan menua,beda dengan Lelaki yang lebih kuat fisik nya,malah ada yang bilang kalau lelaki itu makin tua, makin menjadi.
jadi wajar dong, kalau aku menginginkan pendamping untuk hidup Anggara itu yang lebih muda,dan agresif itu bisa membuat Anggara bahagia" Verra berkilah walaupun di hati nya masih merasakan ketakutan dengan sikap Rahman tapi dengan keberanian nya yang masih bersarang di dalam dirinya Verra masih beragumentasi yang masih masuk akal menurut nya.
"kata siapa lelaki itu mesti punya wanita yang lebih muda dari diri nya ha? apakah kamu lupa, kalau salma lebih tua usia nya tujuh tahun dari ku ha? dan bisa kamu lihat, aku tetap bahagia dan salma bisa mengimbangi ku yang usianya lebih muda dari diri nya, kami bahagia, karena aku dan salma mempunyai cinta yang tulus menerima kekurangan kami apa adanya.mungkin ini kisah yang terulang lagi Anggara mendapatkan pendamping yang lebih dewasa usia nya empat tahun dari dirinya.
tapi itu tidak jadi masalah, kalau Anggara bahagia dengan pilihan nya.dan lagi pula yang harus kamu tahu kamu akan terkejut kalau sudah melihat fisik Renita, gadis itu tidak terlihat tua dan bahkan terlihat lebih muda dari usia nya kamu pasti akan mengubah pandangan mu kalau sudah bertemu dengan Renita, mungkin Renita jodoh yang sudah yang kuasa siapkan untuk Anggara. dan kalau saja... Rahman menjeda ucapan tiba-tiba saja dadanya menjadi sesak membicarakan istri nya yang sudah meninggalkan nya ke sisi sang pencipta. dia salma damar Handersson mamah kandung Anggara yang sudah meninggal. Rahman menghela nafas pelan dan kembali melanjutkan ucapannya.
"kalau saja Salma tidak sakit dan meninggal, aku dan dia hidup bahagia, dan perbedaan antara usia kami itu tidak menjadi hambatan buat hubungan ku dan dia" seketika mata tajam Rahman memerah tak kala mengingat kembali kenangan diri nya bersama mendiang istrinya tercinta nya.pria paruh baya itu berusaha menetralkan kembali keadaan nya yang menjadi melankolis mana kala mengingat seorang salma.wanita yang pernah dia cintai dan di puja dengan seluruh jiwa dan raganya.
lalu Rahman kembali melayang kan tatapan menghujam pada Verra membuat wanita itu terhenyak pias.
__ADS_1
ucapan Rahman telak membuat Verra terhenyak, dia benar-benar melupakan kalau Rahman menikahi salma kakaknya lebih tua usia nya tujuh tahun dari Rahman.kenyataan yang dia lupakan dan sekarang bisa-bisanya dia protes, Dan tidak terima kalau Anggara menikahi Renita yang usianya lebih tua empat tahun dari usia Anggara.
merasa tidak bisa berkata apa-apa lagi Verra perlahan menggeser kursi tunggal nya kebelakang dan...
"mau kemana kau?!" Rahman cepat mengalihkan pandangannya kembali ke arah VERRA yang terlihat hendak beranjak dari duduknya dengan wajah gugup.
"a_aku sudah selesai sarapan, aku mau ke kamar ku,ayo Miela" Ucap Verra terbata seraya menepuk pundak Miela untuk ikut berdiri dari duduknya.
"iya Tante, aku juga selesai sarapan, permisi om" ucap Miela berdiri mendorong sedikit kebelakang kursi tunggal nya.mereka berdua kompak berjalan meninggalkan meja makan
tapi ucapan Rahman kembali membuat langkah mereka yang belum jauh terhenti.
"ingat ucapan ku Verra,, cukup sampai di sini peran mu pada kehidupan pribadi Anggara, jangan sekali-kali kamu ikut campur tentang hubungan Anggara dan Renita.apa lagi mereka sebentar lagi akan menikah, jangan sampai kamu menyakiti mereka berdua dengan tindakan mu paham kamu!!"
"sebaiknya kamu pulang saja Verra!!!" teriak Rahman lagi lantangnya seolah belum puas mengintimidasi.mantan adik ipar nya itu. Verra sudah di ujung lorong menuju kamar nya bersama Miela hanya bisa bergumam mengumpat.
"sial! lelaki tua! bangka sialan!!" umpat Verra langsung masuk ke dalam kamar nya yang di ikuti oleh Miela yang wajah nya sama marah nya dengan Verra.namun Dia tidak bisa berbuat apa-apa Verra saja gentar terhadap Rahman,apa lagi dirinya tidak ada apa-apa nya.
Miela merasa senang dan bahagia ketika Verra datang pada dirinya untuk menawarkan untuk menjadi kandidat untuk calon Anggara.
Miela sudah mengenal Anggara sejak Anggara sering datang ke belanda untuk berlibur di rumah Verra dia sering datang ke Rumah Verra bila ada Anggara di rumah Tante nya itu.Miela sering mencari perhatian pada Anggara tapi sepertinya pria itu dulu hanya bersikap biasa dan datar saja terhadap nya,tapi itu tidak menyurutkan niat nya untuk menyukai Anggara walaupun dingin dan datar Miela mengagumi ketampanan wajah Anggara yang tidak biasa.di saat VERRA datang ke pada nya dan mengutarakan niatnya
__ADS_1
tanpa pikir dua kali Miela tentu saja menyetujui nya.
tapi apa yang dia pikirkan semua di luar expetasi.ternyata Anggara sudah punya calon, bahkan sebentar lagi akan menikah.demi apapun dia tidak terima di tolak dan di rendahkan oleh Anggara dan keluarganya. baru kali ini dia merasa di permalukan oleh seorang pria.
"aku tidak akan tinggal diam Anggara, kamu akan menyesali atas penolakan mu pada ku" gumam Miela tersenyum licik, dan Verra menangkap wajah aneh Miela. yang masih berdiri di ambang pintu kamar.
"apa yang kamu katakan Miela? dan apa yang sedang kamu pikirkan ha?!"
Miela gelagapan dengan pertanyaan Verra yang tiba-tiba membuat diri nya kaget.
"ti-tidak, apa emang nya apa yang aku pikirkan?" elak Miela mengangkat kedua bahunya berusaha Santai walaupun ucapan nya tadi sedikit terbata.
Verra yang sedang duduk di sofa dalam kamar nya memicingkan mata menatap selidik pada Miela.
"awas kamu Miela, jangan bertindak sesuatu yang tidak aku ketahui apa lagi itu menyangkut Anggara" ucap Verra memperingati Miela.
gadis itu menautkan kedua alisnya menatap Verra.
"jangan bilang, Tante termakan ucapan Om Rahman dan melupakan rencana Tante" balas Miela meyakinkan Verra tersenyum miring
wanita itu terdiam sejenak menatap dalam wajah Miela.
__ADS_1
*
TBC.