
Anggara tergelak melihat reaksi Renita dan mundur selangkah dari Renita.
"ya ampun Renita..galak sekali sih kamu, emang nya aku mau ngapain"
"aku juga wanita normal Anggara yang mempunyai hasrat dan perasaan, tapi kalau kamu terus begitu... Renita tidak meneruskan kata-katanya gadis itu menurunkan nada bicara nya serta menundukkan wajahnya sesaat.
Anggara yang melihat sikap Renita yang seperti itu segera mendekati gadis itu lalu memeluk erat tubuh Renita.
"kenapa kamu tidak meneruskan ucapan mu?" bisik Anggara membelai lembut pipi Renita dengan bibir nya.dengan mata nya yang terpejam merasakan lembutnya kulit wajah Renita.
"Anggara" lirih Renita.
"hm"
"geli"
"geli,apa geli"
"Anggara.. lepas ah"
Anggara tertawa kecil mendengar ucapan manja Renita.
lalu dia mengurai pelukan nya kemudian memandangi wajah cantik Renita dalam dalam.
lalu pria itu sedikit memiringkan wajahnya mendekat ke arah wajah Renita dengan tatapan mata nya yang tak putus pada Renita.
Renita yang sudah pasrah tidak bisa bergerak karena erat nya rangkulan tangan kokoh Anggara satu di pinggang ramping nya, satu lagi tangan kokoh itu merangkul di punggung nya dan ketika bibir Anggara baru saja menyentuh ujung bibir Renita..
tok
tok
suara ketukan pintu membuat suasana hangat itu menjadi terganggu.Anggara dan Renita mengurai pelukan mereka dan saling pandang.
"Angga ada yang ketuk pintu apartemen mu" ucap Renita.
CK, siapa sih, ganggu saja" gerutu Anggara dan sebelum Anggara benar-benar melepaskan pelukannya pada Renita dia melu*mat sebentar serta dalam bibir Renita cukup membuat nafas Renita gelagapan serta bibir gadis itu basah karena Saliva mereka berdua dan terlihat bengkak dengan cepat melepas pagutannya lalu dengan berat hati melepaskan pelukannya pada Renita kemudian Anggara, berjalan menuju pintu apartemen nya.
meninggalkan Renita dengan keadaan masih diam berdiri di dapur dengan perasaan yang tak karuan.
Anggara melihat siapa yang berada di depan pintu apartemen nya melalui lubang kecil yang terdapat di pintu apartemen nya.
__ADS_1
"Paula? mau apa lagi dia?" gumam Anggara tak senang melihat Paula sudah berdiri di depan pintu apartemen nya.dengan terpaksa Anggara membuka pintu tersebut.
cklekk.
"Paula? ada apa?" tanya Anggara datar basa basi karena dia tahu apa maksud kedatangan Paula ke apartemen nya karena Anggara melihat Paula membawa sesuatu di tangan nya.
dengan wajah yang semringah
"hai Angga, lihat aku bawakan apa" ucap Paula.
"apa" tanya Anggara dengan nada malas.
"ini dia!" Paula dengan percaya diri menyodorkan piring yang berisi steak ayam pada Anggara.
"apa ini?" Anggara menautkan kedua alisnya mata nya mengarah ke piring yang di bawa Paula yang anggara tahu itu adalah steak ayam yang memang dulu sering Paula hidangkan jika Anggara sedang berkunjung ke apartemen Paula. itu pun karena di suruh papah nya untuk urusan pekerjaan.
"steak ayam kesukaan mu" ucap Paula semangat.
"oh" ucap Anggara singkat.
"kenapa kamu Angga?"
"kok reaksi mu begitu aku sudah buatkan steak ayam kesukaan mu?"
"kamu buatin itu buat siapa?"
"tentu buat kamu Anggara" sahut Paula dengan senyum nya.
"tapi aku di sini bersama Renita, kalau kamu buatin aku saja gimana dengan Renita" ucap Anggara dengan sikap yang tenang namun menatap dingin Paula.Anggara bukan anak kecil yang tidak mengerti maksud Paula apa.
Renita pernah protes pada dirinya tentang sikap nya bila bersama Paula dan saat ini dan seterusnya ada hati yang dia harus jaga perasaan nya.
"tapi Angga"
"aku nggak minta di buatin kok, dan kebetulan aku baru saja makan bersama Renita tadi di jalan.jadi seperti nya aku masih kenyang' tolak Anggara halus.
Paula memandang Anggara dengan tatapan kecewa.
"aku sudah capek-capek bikin ini buat kamu Anggara.. sudah, aku nggak mau tahu kamu harus makan steak ayam buatan ku ini.biarkan aku masuk ya" tanpa menunggu jawaban dari Anggara Paula mendorong pelan tubuh tegap Anggara untuk memberi jalan pada dirinya agar dapat masuk ke dalam apartemen Anggara. pria itu melebar kan matanya melihat Paula begitu saja masuk ke dalam apartemen nya.
"hei Paula tunggu" Anggara mendengus kasar nafasnya melihat tingkah Paula yang seenaknya
__ADS_1
Paula terus melangkah menuju dapur lalu meletakkan sepiring steak ayam itu di sebuah meja makan minimalis yang ada di dekat area dapur apartemen Anggara.
Renita yang sedari tadi masih berdiri di dapur dekat pantry dengan cepat melangkah mendekati Paula yang akan menyiapkan makanan untuk Anggara.
"sini Aku saja yang nyiapin makanan nya, kamu dan Anggara duduk saja ya" Renita mengambil alih piring besar yang berisi steak ayam dari tangan Paula. awal nya Paula enggan memberikan piring nya yang ada di tangan nya tapi dengan tersenyum tipis namun licik dia memberikan Pring itu pada Renita.
ketika Renita mendapatkan steak ayam itu dan akan mempersiapkan nya di meja makan Paula menghampiri Anggara yang hanya diam berdiri memperhatikan tingkah kedua wanita yang ada di hadapannya.
"sini kamu duduk Anggara, kenapa hanya berdiri saja" Paula dengan pedenya menarik tangan Anggara mengajak untuk duduk di kursi yang ada di dekat meja makan.
Anggara melangkah berat mengikuti gerakan Paula yang menuntun nya ke kursi dekat meja makan dan mempersilahkan Anggara duduk, terlihat sangat manis memang perlakuan Paula terhadap dirinya tapi Anggara terlihat tidak senang malah tatapan nya selalu tertuju pada Renita yang sedang sibuk mengambil piring, sendok, garpu Serta menuangkan air ke gelas yang ada di atas meja makan.
sedangkan yang di tatap, hanya acuh tak acuh seolah tidak perduli dengan dirinya yang sedang di perhatikan oleh Anggara.
"kenapa hanya ada dua Ren?" tanya Anggara heran Renita hanya mempersiapkan hanya dua semuanya.
"kan, memang hanya kamu dan paula yang akan makan di sini" sahut Renita dengan wajah datar nya.
mendengar jawaban Renita pandangan Anggara beralih ke arah paula tampak wanita itu tersenyum dengan penuh kepuasan. dan memang kursi yang tersedia di dekat meja makan tersebut memang hanya ada dua.maklum apartemen bujangan tidak banyak forniture yang Anggara sediakan di apartemen nya Hanya seperlunya saja sesuai dengan kebutuhan.
Paula tidak peduli dengan protes Anggara dengan tatapan nya yang tajam terhadap dirinya.malah dia mengambil piring Anggara dan mengisi nya dengan makanan yang tadi dia bawa.
Renita hanya tersenyum tipis melihat tingkah Paula itu walaupun terasa di dadanya bergemuruh.tapi dia berusaha menenangkan diri nya dan tidak mau bertindak yang memalukan.jujur,Renita sendiri ingin melihat sejauh mana sikap Anggara terhadap Bukan nya naif tapi Renita malas mendebat sesuatu yang dia percaya itu memang milik nya.
sepede itu dirinya.tanpa sadar Renita tersenyum tipis.
"kamu mau kemana Ren?" tanya Anggara tak senang takkala melihat Renita hendak melangkah pergi. Anggara mencekal lengan Renita.
"aku nggak kemana-mana Anggara.. aku hanya mau duduk di sofa" balas Renita kemudian melepaskan tangan nya dari cekalan tangan Anggara." sudah lah silakan kamu makan dulu, kasihan kan paula sudah capek-capek bikin ini khusus buat kamu" ucap Renita dengan senyuman nya entah tulus apa tidak senyuman itu.
dan Renita memilih menyingkir dari hadapan mereka berdua berjalan menuju arah ruang tengah lalu mendudukkan dirinya di sofa tersebut senyaman mungkin.
Anggara yang masih saja belum memalingkan wajahnya dari Renita mendengus kasar.
"Anggara" panggil Paula.
*
to be continued..
"
__ADS_1