
"seperti nya itu ciuman pertama mu"
ucap Anggara pelan seraya ibu jarinya mengusap bibirnya sendiri, menatap lekat Renita.
gadis itu nampak gelagapan, wajah nya merona seperti tomat matang.
"iya! memang nya kenapa kalau itu ciuman pertama ku.. kamu telah mengambil nya!" sungut Renita tak terima.
Anggara tertawa pelan.
"wah, kalau begitu aku benar-benar sangat beruntung,bisa mengambil ciuman pertama mu, dan aku pasti kan, hanya aku yang pertama dan terakhir buat mu" tanpa dosa Anggara terus menimpali Renita.
"Anggara..."
"iya.. Renita.. sebaiknya kamu memanggil ku seperti itu, jangan panggil aku bapak,, emang nya aku bapak mu? aku ini bakal Suami mu" dengan senyuman yang terus mengembang di wajah tampan nya.terus menggoda Renita.
Renita diam, dan jadi salah tingkah
Anggara pun sama terdiam.manik biru nya menatap
lekat manik coklat terang Renita.
"aku bahagia Ren, tidak kebayang, kalau gadis ceroboh yang aku lihat di bandara, telah menawan hati ku hingga tak berkutik begini" ucap Anggara pelan.
"enak ajah ceroboh, waktu itu aku hanya kehilangan KTP ku" bantah Renita tak terima.
"loh, apa itu bukan nya ceroboh namanya, sampai barang sepenting itu kamu hilang kan? untung aku yang menemukan nya.. jadi aman"
"apa urusannya hilang KTP dengan rasa aman?" tanya Renita bingung.
"ya tentu ada, kalau saja lelaki lain, khawatir punya niat jahat setelah tahu alamat mu Renita,apa lagi gadis nya itu seperti diri mu,bisa gawat itu"
"gawat gimana kamu ini Ngada Ngada deh"
"ya gawat, bisa, bisa pria itu sama kepincut nya dengan ku, dan datang kerumahmu untuk melamar kamu" ucap Anggara tanpa beban.
"aissh, enak ajah di kira aku perempuan apaan,maen datang melamar ajah, nggak sembarangan lelaki yang datang melamar aku"
ucapan Renita membuat Anggara tersenyum simpul.
"memang bukan lelaki sembarangan yang datang melamar mu Renita.. dan lelaki itu adalah aku, benar kan?"
"bukan kamu maksud aku" ucap Renita pelan seraya memalingkan wajahnya ke arah lain.
"loh, siapa? apa ada lelaki lain yang akan melamar mu selain aku ha?!"
cecar Anggara tidak terima,raut wajah nya berubah tegang.
"aduh, kok jadi ribet gini sih" gumam Renita.
"Renita,, kalau bicara tatap aku, apa kamu perlu aku kasih pencerahan lagi hm?"
__ADS_1
mendengar kata pencerahan,Renita dengan cepat menoleh ke arah Anggara.dan menunjuk wajah Anggara.
"eh, Awas ya! jangan macam-macam lagi kamu!" ucap Renita dengan wajah panik.
Anggara tergelak, melihat reaksi Renita yang seperti itu, langsung dia meremas telunjuk Renita yang mengarah ke wajah nya.dan mengecup sekilas jemari lentik milik Renita. Sontak saja Renita kaget, langsung menarik tangan nya yang di pegang Anggara.dan gadis itu langsung berdiri.membuat Anggara kaget.
"mau kemana kamu?"
"mau pulang"
"loh, sebentar, kita makan malam dulu" pinta Anggara yang ikut berdiri juga.
"sudah hampir gelap,nanti mas Adam cari aku" kilah Renita.
"tenang, ummi Aisyah sudah kasih tahu mas Adam, kalau kamu ada di sini, lagian masih sore Renita, setengah enam. dikit lagi magrib,kita jamaah dulu ya?" bujuk Anggara.
akhirnya Renita duduk kembali, begitu juga dengan Anggara. dan Renita pun menuruti keinginan Anggara. pria bule itu tersenyum.
"aku senang, kamu selalu menuruti apa yang aku pinta Renita"
"ya, karena menurut ku, permintaan mu masuk akal, jadi aku menuruti nya!" ucap Renita ketus.
dalam hati, Renita juga heran, kenapa kok setiap Anggara meminta dia harus begini, begitu, seperti tak kuasa buat nggak menurut perintah nya.
Anggara tergelak merespon ucapan Renita.
"iya,iya.. dalam artian kamu memang gadis yang penurut.aku suka itu, tapi hanya Dengan ku saja,, bukan dengan lelaki lain ingat itu!" tiba-tiba saja Anggara berucap tegas pada Renita begitu juga expresi wajah nya.
melihat kedatangan Rahman Anggara berdiri, begitu juga dengan Renita juga berdiri dari duduknya.dan langsung menyambut tangan Rahman kemudian mencium punggung tangan nya sedangkan Renita hanya melipat kedua tangannya di depan dada nya sebagai tanda sallam pada.Rahman, dan Yusuf.
Rahman melihat Renita dan Anggara
bergantian, seolah bertanya dengan tatapan nya.
"ini Renita pap"ucap Anggara langsung bicara karena melihat expresi Rahman seperti itu.
"kamu Renita?" tanya Rahman tak percaya, melihat Renita.
"iya Om"
"loh,kok om sih panggil saya papah, karena kamu sebentar lagi jadi mantu saya" ucap Rahman entengnya, membuat kembali wajah Renita Merona.
"ba_baik pah" ucap Renita sedikit ragu dan canggung.
Rahman dan Anggara tersenyum puas mendengar Renita memanggil Rahman dengan sebutan papah.
"nah, begitu seharusnya.. biasakan dari sekarang, jadi kedepannya tidak canggung lagi,saya baru lihat kamu lagi sudah beberapa tahun ini, baru sekarang bisa ketemu lagi dengan kamu.pantes saja.... Rahman menahan ucapan nya memperhatikan Renita sejenak dan tersenyum
"Anggara ngotot, ingin mempersunting kamu, ternyata begini wujud mu sekarang" ucapan Rahman yang ceplas-ceplos itu kali ini membuat Anggara wajah nya memerah.
"papah"bisik Anggara dengan nada protes.
__ADS_1
Rahman hanya terkekeh ringan merespon reaksi putra sulung nya itu.
tak lama muncul ummi Aisyah.
"loh, kok jadi pada berdiri ngumpul di tengah sih,ayo,kita makan malam bersama..ayo Renita ikut mba ke dapur" ajak Aisyah menarik tangan Renita.menyelematkan dari para pria itu,
setelah Renita pergi ke dapur dengan Aisyah.
"pantes saja mas angga klepek klepek sama yang namanya Renita.. ternyata mba Renita itu memang patut di perjuangkan cuantik re,kaya putri Sultan" ucap Yusuf tiba-tiba tanpa beban.
"yus, kamu masih mau cepet lulus kuliah mu kan?"ucap Anggara datar menatap tajam Yusuf.
wajah Yusuf langsung pias mendengar ucapan Anggara yang bernada ancaman pada urusan perkuliahan nya.dia lupa kalau yang di ajak bicara, adalah kepala yayasan tempat dia menuntut ilmu.
langsung saja, Yusuf mengangkat satu tangannya, membuat gerakan seperti meresleting rapat mulutnya.
kemudian mereka bertiga duduk di sofa ruang tengah itu.
Hahaha... Rahman tergelak melihat tingkah kedua anak muda di depan nya itu.
"tapi yang di bicarakan Yusuf itu benar adanya loh,Angga.. papah terakhir ketemu dia itu waktu masih SMA, kamu masih SMP, kalian memang belum pernah ketemu, nah, baru sekarang ini papah ketemu lagi Renita sudah dewasa begitu"
ada rasa takjub di nada bicara Rahman,pada Renita.membuat wajah Anggara masam.dan itu dilihat oleh Rahman, pria berusia 58 tahun itu memicingkan matanya menatap Anggara.
"kamu kenapa ngga?" tanya Rahman heran.
"aku? kenapa emangnya?"sahut Anggara mengangkat kedua bahunya.
"kamu cemburu?"
"cemburu? dengan siapa? papah ini ada ada saja" Anggara berkilah.
*aku cemburu? benarkah? tapi rasanya memang aku tidak rela kalau ada lelaki siapapun itu termasuk papah ku? ah gila kau Anggara! memuji kecantikan Renita dengan sedemikian rupa nya, aku nggak rela! batin Anggara.bermonolog.
"seperti nya begitu, kamu seperti tidak senang mendengar kita orang memuji kecantikan Renita,ya Tuhan Anggara... sebegitu cinta nya kamu pada gadis itu" ucap Rahman geleng geleng kepala nya.melihat putra sulung nya telah jatuh cinta sedalam dalamnya pada seorang gadis.
"tidak papah.. siapa yang cemburu,, aku biasa saja" elak Anggara merasa malu sendiri dengan sikap nya.
sedangkan Yusuf hanya senyam senyum saja,tak berani bicara lagi.
"cinta pada pasangan mu boleh saja, tapi jangan jangan terlalu cinta, masih ada Allah dan rasul-nya yang patut kamu berikan cintamu, cemburu boleh, tapi jangan cemburu buta, itu bisa menyakiti kamu dan pasangan mu juga Anggara.. paham kamu?!"
jelas Rahman.tegas.
"iya papah" ucap Anggara pelan kemudian berigstifar dalam hati.
Rahman hanya tersenyum tipis menatap lekat wajah Anggara.
lalu pria itu berdiri dari duduknya dan menepuk nepuk pundak kokoh putranya itu.
"sudah ayo,kita ke ruang makan, mereka pasti sudah menunggu kita"
__ADS_1
to be continued.