
Rahman yang sedang duduk di beranda samping di temani oleh istri nya,memyesap nikmat segelas teh hijau hangat dan sepiring pisang goreng tanduk favorit nya sebagai teman pelengkap teh hijau hangat nya. betapa kagetnya mendengar suara Anggara yang berdebat dengan seseorang?
tidak pernah Rahman dengar selama Anggara besar di rumah ini mengeluarkan kata-kata lantang. sepertinya Anggara, selalu bisa mengendalikan emosi nya walaupun dalam keadaan marah tapi itu berlaku hanya dengan orang terdekat nya sajakah? tidak kali ini, Rahman mendengar anak sulung nya itu bicara lantang sehingga membuat pria paruh baya itu terhenyak dari Santai ria nya, karena saking lantangnya Anggara bicara, samping terdengar ke indra pendengaran Rahman yang sedang duduk santai di beranda samping rumah nya bersama istrinya, menikmati angin malam dengan langit cerah bertabur bintang menambah megahnya mahakarya sang pencipta.
"by?" ucap Aisyah pelan menatap Rahman yang juga menatap pada istrinya mereka saling tatap dengan raut wajah yang sama kagetnya
maka tanpa ba-bi-bu lagi Rahman berdiri dari duduknya berjalan cepat ke arah di mana suara Anggara terdengar Aisyah yang sama kagetnya mengikuti langkah suami nya dengan gegas.
"ada apa ini ha??" tanya Rahman setelah sudah berada di ruang tengah, melihat wajah Anggara merah padam menatap tajam ke arah Miela Rahman mencium gelagat aneh dari kedua nya wajah Miela yang juga menampilkan kekesalan namun ketika melihat Rahman datang, wajah itu berubah pias.
Rahman menatap ke Anggara dan Miela bergantian lalu berakhir menatap tajam ke Anggara seolah minta penjelasan apa yang sedang terjadi.
"perempuan ini sangat kurang ajar dengan mengatakan ke Renita kalau dia adalah calon istri ku papah" terang Anggara geram seraya menunjuk ke arah wajah Miela
"Astagfirullah" ucap Rahman dan Aisyah bersamaan tak percaya dengan keberanian atau tepatnya kelancangan mulut Miela.
sedangkan Miela hanya tertunduk tidak bisa bicara lagi jantung nya berdebar kencang karena saking gugupnya.
"seperti nya tidak perlu menunggu besok, saya minta dengan sangat, dan sangat! maafkan kalau saya kasar pada mu Miela,, aku minta sekarang juga kamu tinggalkan rumah saya! saya nggak mau melihat kamu sekarang ini!" ucap Rahman dengan nada sedikit menggeram.
wajah Miela terangkat, terhenyak mendengar ucapan Rahman tidak pernah selama hidup nya dirinya di permalukan seperti ini dia adalah seorang model terkenal banyak produk yang menjadikan dirinya sebagai brand ambassador produk-produk ternama, tapi di perlakukan dan di hina oleh keluarga Anggara.wajah gadis itu memerah tubuh nya bergetar menahan tangis dan amarah di dadanya.
Miela menatap nanar pada pria paruh baya itu tak ada lagi rasa takut di dalam dirinya, yang kini berganti dengan rasa tidak terima karena merasa di rendahkan.
"O_Om mengusir saya?!" tanya Miela mencoba meyakinkan ucapan Rahman
"kalau itu anggapan mu baik, saya benarkan.ya, saya mengusir mu sekarang juga!" sahut Rahman menatap dingin Miela
"apa kalian mengusir ku malam begini? aku ini seorang gadis" ucap Miela pelan mencoba mempengaruhi pikiran Rahman seolah seperti gadis yang sedang tertindas tapi Rahman bukan lah manusia bodoh yang bisa di perdaya
karena itu pantaslah Rahman mempunyai banyak perusahaan raksasa yang sukses di tangan nya
pria paruh baya yang masih terlihat gagah dengan itu berkacak pinggang seraya menggeleng kan kepala pelan
__ADS_1
Rahman Terkekeh hambar menatap tajam ke arah Miela kekehan Rahman hilang berganti dengan senyuman sinis pada gadis berambut pirang itu.
"ayolah Miela,, kamu tidak selemah itu, kamu punya pegawai, bahkan seorang asisten yang siap kapan saja bila kamu membutuhkan dan ya, jangan lupa, kamu punya rumah di Jakarta ini bukan? dan sial nya itu tidak terlalu jauh dari kawasan ini bukan? jadi, tidak sulit buat mu untuk pergi sekarang juga dari rumah ku, dan jangan pernah kembali kerumah ini, jangan mengganggu kehidupan kami, kalau kamu ingin tenang tinggal di negara ini paham kamu?!" ucap Rahman dengan nada datar namun terdengar tegas
Anggara terperangah mendengar ucapan papah nya yang ternyata menyelidiki siapa Miela, sedang kan Anggara sendiri tidak pernah mencari tahu siapa itu Miela, lagi pula, apa penduli nya harus menyelidiki siapa Miela? karena itu tidak penting buat dirinya pikir Anggara seperti itu.tapi tidak untuk Rahman dia tidak mau ada orang luar yang menggangu kenyamanan keluarga nya dari maka itu Rahman menyuruh orang kepercayaan nya untuk mencari siapa Miela hanya untuk antisipasi. dan benar saja kan, sekarang Miela tidak bisa mengelak lagi karena indentitas nya di ketahui dengan mudah nya oleh Rahman rupanya Miela tidak menyadari siapa Rahman di negara ini.orang paling berpengaruh karena harta yang dimiliki nya serta usaha nya yang menggurita, merambah di berbagai bidang yang besar di dalam dan di luar negeri. uang memang menentukan siapa yang berkuasa
"baik, aku akan pergi dari rumah ini malam ini juga, tapi aku tidak akan melupakan penghinaan ini om!"
"jangan panggil aku Om, aku bukan Om mu!" potong Rahman cepat karena tidak suka Miela memanggil nya seperti itu.
Miela akhirnya pergi dengan wajah yang marah dari hadapan ketiga orang pemilik rumah tersebut wanita itu berjalan Menuju kamar yang dia tempati rasa nya dirinya masih tidak percaya rencana nya semua nya gagal, rencana yang sudah dia dan Verra rencana kan yang akan mendekati Anggara perlahan.
Bruk!!
Miela menutup pintu kamar itu dengan kasar
"sialan!!! aku tidak terima ini Anggara! apa hebatnya perempuan kaku dan tidak ada menarik sama sekali itu!! , mata kamu buta Anggara,, tidak lihat diriku yang cantik dan seksi ini!! pekik Miela terus saja mengumpat gadis itu berjalan bolak-balik tak karuan nafas nya memburu
Aarrhgh!! Sialan!!!"
"iya papah, Angga hanya punya waktu satu jam lagi untuk ke bandara Soeta" jawab Anggara yang sudah menyeret koper
"di mana Renita?" tanya Aisyah matanya dari tadi menyisir ruangan
mencari keberadaan adik bungsu nya itu.
Anggara menghela nafasnya berat
"Renita sudah duluan masuk ke mobil ummi" sahut Anggara tersenyum kikuk.
"pasti gadis itu marah pada mu ya kan?" timpal Rahman.
Anggara hanya mencebik pasrah merespon ucapan papah nya karena seperti nya memang Renita kesal entah pada Miela atau pada dirinya? Anggara tidak tahu itu yang pasti nanti dia akan mencari tahu sendiri dengan bertanya langsung pada Renita.
__ADS_1
Anggara berjalan mendekati kedua orang tua nya itu, meraih tangan mereka satu persatu mencium punggung tangan nya.
"papah, ummi, aku berangkat ya,doain biar segala urusan pekerjaan Angga lancar, dan bisa kembali pas sebelum hari H" ucap Anggara pamit Anggara.
panggilan Anggara untuk kedua orang tua nya yang berbeda karena Anggara sudah terbiasa memanggil Rahman dengan panggilan papah, karena kebiasaan yang di terapkan oleh ibu kandung nya, tapi Aisyah tidak mau di panggil dengan sebutan mamah menyamai panggilan Rahman maka akhirnya seperti itu lah Anggara memanggil papah dan ummi panggilan yang sangat kontras pada kedua orang tua nya.
setelah berpamitan Anggara masuk ke dalam mobil bersama Yusuf
sudah ada Renita duduk di kursi belakang penumpang, Yusuf duduk di samping Pak sokip, yang duduk di balik kemudi yang akan mengantarkan mereka ke Bandara menuju Singapura.
***
Anggara terkejut dengan pertanyaan Renita pria tampan itu menatap Juwita hati nya dengan tatapan tidak suka karena ucapan yang keluar dari mulut Renita.
"maksud mu apa sayang? apa kamu masih meragukan aku HM?"
"aku hanya ingin memastikan sekali lagi bang, agar kamu tidak menyesal di kemudian hari memilih aku sebagai istri mu" ucap Renita lirih
matanya yang terlihat sembab menatap sayu Anggara.
rahang Anggara mengeras menatap penuh arti Renita.
"kalau kamu berpikir mau mundur dari pernikahan kita, aku tidak akan membiarkan nya Renita Khadijah.. kamu akan tetap menikah dengan ku, menjadi istri sah ku,satu -satunya!
apa yang ada di pikiran mu HM??" tanya Anggara tegas seraya menyentil pelan kening Renita.
pletak!
Auch! ssakiit Abang...." pekik Renita menekan kan nada bicaranya di ujung ucapan nya meringis seraya tangan nya mengusap jejak sentilan Anggara pada kening nya.
"justru aku yang khawatir karena kamu, begitu banyak wanita yang menggilai kamu, silih berganti datang berusaha mengklaim dirimu..terus apa aku akan damai berada di sisi mu, apalagi wanita yang datang ke pada mu semua nya cantik dan berkelas, sedang kan aku? aku hanya seorang wanita yang sudah lewat masa remajanya entah apa bisa mengimbangi jiwa muda Anggara pramuja Subianto" terang Renita menumpahkan semua keresahan hatinya pada Anggara ada rasa sesak di dadanya saat dirinya mengatakan itu.
*
__ADS_1
TBC..