
Yusuf menatap satu persatu wajah keluarga nya yang berakhir pada om nya Rahman yang duduk di depan nya hanya meja yang menjadi penghalang mereka.wajahnya yang terlihat ada sedikit luka di pelipis nya dan pergelangan tangan nya yang di perban. semua orang yang ada di ruangan itu menatap Yusuf dengan tatapan tanda tanya besar.
Yusuf menatap ke arah Rahman dengan tatapan yang sukar untuk di artikan.
"tolong om katakan pada saya, siapa tuan Jose itu? dari mana om Rahman mengenal lelaki kejam itu?" Yusuf mencecar Rahman dengan semua pertanyaan yang sudah lama bersarang di pikiran nya.
Rahman menarik nafas nya dalam-dalam lalu menghembuskan nya berat seperti ada ribuan kilo timbal di dalam dadanya, kedua tangan nya di tumpu di atas pahanya dengan kedua jemari tangan nya saling bertaut. di tundukkan sejenak wajah nya lalu kembali di angkat wajah nya menatap lurus ke arah Yusuf.
"dia teman Om" jawab Rahman dengan suara pelan dengan gurat marah dan penyesalan di wajah nya.
Yusuf tersenyum miring mendengar jawaban Rahman walaupun dengan wajah kaget tak percaya.
melihat respon Yusuf seperti itu, ada rasa tak nyaman dalam benak Rahman.
"apa benar tuan Jose itu teman Om? kok bisa tega sih? dari sisi mana nya orang seperti itu om bilang teman?" dada bidang Yusuf turun naik dan mendengus kasar nafasnya sebelum melanjutkan ucapannya
"bisa-bisanya tuan Jose itu menipu saya dan Anggara dan putri nya yang tepat nya seperti seorang la*cur! memperdaya kami semua. terutama untuk menjebak mas Anggara!' kali ini Yusuf Menaikan sedikit intonasi suara nya mungkin saking emosi nya bagaimana tidak emosi? apa yang sudah di alami oleh Anggara dan dirinya.
Rahman menatap dingin Yusuf kedua tangan nya mengepal kuat sehingga otot-otot tangannya terlihat timbul. lidah nya kelu, membuat dirinya tidak mampu membalas ucapan Yusuf keponakan nya yang sedang mengintimidasi diri nya
baru kali ini Rahman melihat keponakan nya yang masih sangat muda itu bicara dengan emosi dengan dirinya.dan betapa marahnya Rahman mengingat perlakuan kurang ajar teman nya Jose pada kedua anak muda yang masih ada keterkaitan darah dengan dirinya.
"memang nya apa yang telah di perbuat Jose pada dirimu dan Anggara yus?" kali ini Haris papah nya Yusuf ikut bicara karena jujur saja setelah kedatangan Yusuf dan Anggara beserta Johan sang asisten yang tidak terduga, dengan penampilan yang lusuh serta acak-acakan Harris menahan mulutnya dengan tidak meminta penjelasan apa yang terjadi di Singapura.
Yusuf menoleh ke arah papahnya yang duduk di sebelah nya
__ADS_1
"mereka memberikan minuman yang sudah di campur dengan obat perang*sang pada Yusuf dan mas Anggara pap"
"ya Tuhan!!" sambar Aisyah setengah berteriak sambil menutup mulutnya dengan satu tangan nya. Aisyah yang langsung melirik tajam ke arah Rahman begitu juga Harris yang tak kalah kagetnya wajah nya menegang dan memerah sekilas dia melirik ke arah kakak lelaki nya itu yang juga memendam kemarahan yang luar biasa tak menduga yang dia sebut teman itu berani berbuat keji terhadap putra nya.
"Aby! dari mana kamu kenal teman seperti itu by!" sembur Aisyah menatap lekat pada suami nya.
Rahman diam terpaku tak ada jawaban yang keluar dari mulut nya lagi.karena sekarang yang ada dalam otak nya adalah, bagaimana cara nya dia membalas perlakuan teman biadab nya itu.ah, apa kah masih layak orang seperti Jose dia sebut teman? pikiran Rahman bergelut dengan emosi nya.
"terus apa yang terjadi Yus?" kali ini suara Harris sudah sangat berat dan menekan. bertanya ingin tahu kelanjutan dari penjelasan Yusuf. amarah yang luar biasa berusaha dia tahan.
"tentu saja dengan sisa-sisa kewarasan kami, berusaha melawan rasa itu walaupun... aku akhirnya terjebak karena efek obat sialan itu, karena bersamaan itu pula suruhan tuan jose menghadirkan dua orang wanita la*cur untuk merealisasikan tujuan nya di saat itu aku melihat mas Anggara sedang di sentuh habis-habisan oleh Natasha dan mas Anggara tentu saja di bawah pengaruh obat perangsang itu tidak tahan dengan segala sentuhan Natasha. tapi bersyukurlah Johan datang pas pada waktu nya karena kalau terlambat sedikit saja" Yusuf menjeda ucapan nya ada rasa keraguan di hati nya untuk menjelaskan lebih lanjut tapi sepertinya dia harus menyelesaikan penjelasan nya, dan Yusuf pun kembali bicara.
mendengar penuturan Yusuf Aisyah menutup mulutnya dengan satu tangan nya, tubuh nya bergetar karena tak kuasa menahan tangisnya,dia tidak bisa membayangkan bila ada sesuatu yang sangat buruk benar-benar terjadi pada Anggara, anak sambung nya apa lagi pada waktu itu akan di gelar acara pernikahan nya dengan adik bungsu nya Renita.
beberapa hari yang lalu saja hati nya sudah terasa sakit melihat kesedihan Adik perempuan nya itu yang terus saja gelisah dalam tangis karena Anggara tidak memberikan kabar sama sekali. Aisyah sungguh tidak sanggup membayangkan kebahagiaan adik nya hancur begitu saja dan kembali terulang kejadian empat tahun yang lalu.
tapi baru saja Harris akan membuka mulutnya untuk melanjutkan pertanyaan lebih lanjut..
"istri ku sayang, tolong buat kan Aby kopi jahe ya" Rahman langsung menyela, dan meminta di bikin kan sesuatu oleh istri nya.hingga semua mata tertuju pada Aisyah dan Rahman bergantian. Harris paham dengan maksud Rahman bersikap seperti itu dia pun menunda ucapan nya dan diam.
begitu pula dengan Aisyah paham,sang suami bukan hanya ingin meminta di buatkan kopi jahe, tapi tidak secara langsung Rahman mengusir nya secara halus. Aisyah pun paham seperti nya dia tidak di perkenankan oleh sang suami untuk mengetahui lebih jauh karena memang sangat tidak pas untuk di dengar oleh seorang Aisyah.
Aisyah tersenyum tipis merespon permintaan Suaminya karena memang juga jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam tentu saja para Art yang memang tidak menginap di rumah nya sudah pulang sejak jam lima sore tadi.
"baik lah by, akan aku buatkan kopi jahe untuk mu" Aisyah berdiri dari duduknya dan menatap satu persatu orang yang ada di ruangan tengah itu yang duduk di sofa dengan wajah yang semua tegang dengan expresi masing-masing.
__ADS_1
"apa yang lain juga ada yang mau aku buatkan minuman?"
tawar Aisyah.
hening
"kalau ummi tidak keberatan apa aku bisa minta di buat kan susu hangat ummi, rasanya aku butuh energi" pinta Yusuf ragu memecah keheningan.
Aisyah tersenyum tipis ke arah Yusuf.
"tentu saja boleh dan ummi tidak keberatan. baik lah kalau begitu ummi ke dapur dulu ya"
"terima kasih ummi" ucap Yusuf di sertai tersenyum tipis
Aisyah mengangguk dan
setelah itu Aisyah berjalan menuju dapur.
Rahman mengusap wajah nya dengan kasar dan mendengus.
keempat pria berbeda usia itu pun kembali memposisikan duduk nya dan pandangan mereka kembali tertumpu pada Yusuf.
*
*
__ADS_1
TBC..