
Renita berjalan ke arah ruangannya langkah nya terhenti ketika ada seseorang yang memanggil nya dari arah belakang tubuh nya
"bu Renita?"
Renita berbalik dan melihat seorang pemuda tampan yang mungkin seumuran Yusuf badan nya cukup tinggi tegap, berwajah oriental?
"iya?"
"wow cantik nya"
gumam seorang pria muda berwajah oriental itu menatap kagum wanita yang berdiri di depan nya.
"siapa ya?"
tanya Renita sedikit memicingkan matanya pada pemuda yang menyapa nya. apa ini salah satu mahasiswa di kampus ini?
"oh, saya Jefri Bu salah satu mahasiswa ibu yang akan bimbingan" jelas pemuda itu yang ternyata bernama Jefry. ya Renita protes dengan suami nya Anggara kalau dirinya tidak mau merubah mahasiswa bimbingannya. Anggara tetap dengan keputusan nya untuk mengganti nya dengan mahasiswi karena itu Renita memberikan ancaman yang membuat Anggara tak berkutik dan terpaksa menuruti keinginan istri nya. entah apa yang membuat Anggara takut akan ancaman istri nya itu hingga mengalah menuruti keinginan istri nya. ya.. seperti ini lah.
"oh, kamu Jefry. Ok kalau begitu ikut saya ke ruangan saya"
setelah tahu siapa pemuda tampan yang ternyata mahasiswa bimbingannya, dengan wajah datar Renita menyuruh pemuda itu ke ruangan nya.
"pantas saja Kakakku seperti orang gila setelah kehilangan wanita ini. ternyata dia sangat cantik. wow, memang wanita seperti ini patut di perjuangkan"
gumam Jefry sangat pelan tersenyum tipis. berjalan di belakang Renita tapi walaupun begitu, pendengaran Renita sedikit menangkap ucapan mahasiswa nya itu. hingga Renita mengentikan langkah nya dan berbalik badan.
dan itu membuat Jefry kaget, ikut menghentikan langkahnya
"a_da apa Bu?" ucap Jefri terbata
"kamu bicara apa tadi Jef?"
tanya Renita dengan wajah penasaran.
Jefry mengerenyitkan dahinya sesaat.
"bicara? saya bicara apa emang nya Bu?" ingin rasanya Jefry menepuk mulut nya sendiri karena ucapan nya yang tidak dia sangka sang dosen cantik mendengar ucapan nya yang menurut nya sangat pelan itu sungguh dosen cantik nya mempunyai pendengaran yang sangat baik. ah sial!
Renita terdiam menatap tajam Jefry, dan sedetik kemudian..
"ah, sudah lah" ucap Renita mengibaskan tangannya ke arah Jefry lalu kembali melangkah merasa tidak penting apa yang dia tanyakan tadi walaupun di hati nya masih ada rasa penasaran tapi ia berusaha mengabaikan.
"uufs," Jefry mengelus dadanya merasa lega karena dosen cantik nya tidak bertanya lebih lanjut.
selama bimbingan Jefry lebih banyak mencuri pandang, mengagumi sosok sang dosen yang sangat cantik. Renita yang Sadar atas sikap Jefry merasa riskan juga lama-lama. sudah tidak tahan mulutnya akhirnya berucap.
"kenapa dengan kamu jef? apa ada sesuatu yang menggangu kamu?"
Jefry kaget dengan pertanyaan dosen nya yang tidak dia duga, dengan wajah memerah pemuda itu berucap dengan santai atau lebih tepatnya berusaha santai walaupun ada perasaan berdebar di dadanya.
karena beberapa kali dosen nya itu memberikan pertanyaan selalu saja Jawabannya ngaco dan itu membuat Renita menjadi gusar. padahal yang Renita tahu Jefry ini salah satunya mahasiswa ber otak encer.
__ADS_1
"saya nggak bisa fokus Bu, maaf"
"eh, kenapa? maksud mu? apa yang membuat kamu nggak fokus?"
cecar Renita dengan mimik wajah heran.
"yang bikin saya nggak fokus ya ibu"
jawab Jefry seolah tidak ada beban bicara seperti itu.
"saya? karena saya?" Renita menunjuk dirinya sendiri
Jefry tersenyum tipis merespon Sikap dosen nya.
"kamu jangan mengada-ada Jery,,apa maksud mu itu?"
"karena ibu terlalu cantik" timpal Jefry Santai dengan gaya cool nya
memandang penuh arti Renita.
dan itu membuat Renita sangat risih
seperti nya dirinya telah menyepelekan insting suami nya. Renita kesal rasanya.
'dasar lelaki,, mau yang mana juga sama ajah, kalau liat lawan jenis nya yang bening dikit mau yang muda atau pun yang lebih muda hh!!
umpat Renita dalam hati nya menatap lurus Jefry. Renita dan Anggara itu sifatnya sama kalau di depan Lawan jenis nya yang tidak dia kenal "dingin, datar! tidak pernah mau mengumbar senyum begitu saja. menanggapi sekedar saja atau seperlunya.
"saya nggak lagi merayu Bu, apa yang saya katakan adalah kenyataan. ibu memang sangat cantik. setiap kali pelajaran ibu saya selalu bersemangat ini yang bikin saya rajin hadir setiap mata pelajaran ibu"
dengan senyuman tiga jari nya Jefry berseloroh tanpa beban berterus-terang apa yang selama ini ia pikirkan.
wajah Renita memerah mendengar penuturan mahasiswa nya ini yang benar-benar membuat dirinya kesal karena Jefry terlalu berani bicara apa yang dia pikirkan.
braakk!
Renita menutup buku yang sedang dia bahas untuk mahasiswa nya dengan sedikit kasar.
Jefry diam matanya sedikit melebar melihat gerakan dosen tadi.
"baik lah, untuk hari ini saya rasa cukup" ucap Renita ketus
Jefry Hanya tersenyum tipis merespon Sikap dosen nya ini.
bukan nya merasa bersalah melihat sang dosen gusar tapi sepertinya si Jefry ini malah bersikap santai, senyum tipis terus terpampang di wajah nya.
"kalau kamu merasa tidak fokus bimbingan dengan saya, silakan kamu bisa minta ganti dosen, saya tidak masalah dan mungkin itu lebih baik"
"nggak kok Bu, saya nggak bakalan ganti dosen pembimbing. karena saya betah sama ibu"
"kalau begitu saya yang minta ganti mahasiswa" putus Renita wajah nya sudah menampakkan rasa tak suka
__ADS_1
"jangan dong Bu, apa yang menjadi alasan ibu"
"terserah saya, ternyata apa yang di katakan suami saya itu benar"
"suami? ibu sudah menikah?"
Jefry terkejut mengetahui kalau dosen nya sudah menikah. seperti nya Jefry ketinggalan info. apa memang karena dia mahasiswa pindahan?
Renita tidak menjawab pertanyaan Jefry
"silahkan kamu keluar dari ruangan saya. untuk hari ini sudah cukup. dan saya akan mengajukan penggantian dosbing buat kamu"
ucap Renita sedikit ketus alih-alih menjawab keterkejutan Jefry.
"nggak bisa begitu dong bu.. konsep nya. ibu nggak profesional. apa karena saya bilang ibu cantik? tapi itu kan memang kenyataan nya. saya ini lelaki normal Bu tentu wajar memuji seorang wanita cantik yang ada di depan mata saya"
papar Jefry membela diri nya untuk membenarkan sikap nya.
Renita menghela nafasnya dalam-dalam memejamkan matanya sekejap sebelum kembali berkata.
"baik lah terserah mau kamu. sekarang kamu keluar dari ruangan saya" Renita mengulang kembali ucapan nya kali ini dengan mengulurkan tangannya ke arah pintu yang sedari tadi ia biarkan terbuka memang. tak mau perpanjang masalah, Jefry berdiri dari duduknya dan..
"baik bu Renita yang cantik.. terima kasih untuk bimbingan nya hari ini kita ketemu lagi lusa" ucap Jefri tegas di sertai tersenyum manis.
Renita hanya diam menatap lurus ke arah Jefry.
dan ketika Jefry sudah di ambang pintu hendak melangkah keluar dari ruangan tersebut langkah nya berhenti karena bersamaan itu seorang wanita cantik paruh baya dengan penampilan anggun dan berkelas berdiri di hadapan nya.
hampir saja bertabrakan dengan Jefry kalau saja pemuda itu tidak menarik tubuh nya ke arah samping.
"oh maaf nyonya" ucap Jefry pelan sambil memperhatikan sekilas penampilan wanita paruh baya yang ada di hadapan nya. lagi-lagi pemuda itu hanya menggeleng kan kepala nya pelan tampak mimik wajahnya menunjukkan kagum nya terhadap penampilan wanita yang terlihat sudah berumur namun masih terlihat cantik. apa lagi netra biru nya itu. sungguh menghipnotis.
setelah wanita itu memberikan jalan pada Jefry dan pemuda itu pun melangkah keluar barulah wanita itu masuk ke dalam.
melihat siapa yang datang Renita langsung berdiri dari duduknya berjalan mendekati wanita itu dengan wajah tersenyum ramah.
"mama apa kabar nya?" ucap Renita menyapa wanita cantik yang ternyata Salma bersama seorang wanita berpakaian serba hitam berwajah datar mungkin kah bodyguard nya? entah lah Renita tidak mempersoalkan nya.
"baik sayang... terima kasih kamu sudah menerima ajakan mama"
balas Salma lalu memeluk tubuh Renita sebentar.
"tidak perlu berterima kasih mam, Anggara pun mengizinkan. ayo kalau begitu. kita mau kemana?"
Renita yang sudah bersiap mengajak mertuanya itu keluar.
sepanjang berjalan di area gedung kampus kedua wanita cantik berbeda usia itu menjadi perhatian bagi setiap mata yang melihat nya.
wanita cantik dan bening.
"
__ADS_1
TBC..