Dia jodoh ku

Dia jodoh ku
kata hati dan perasaan Anggara.


__ADS_3

rasa yang berkecamuk dalam jiwa Anggara yang kini dirinya rasakan membuat Anggara bersikap dingin untuk menyembunyikan segala perasaan yang tengah berkecamuk di dalam dadanya. Salma yang duduk di hadapan nya memperhatikan setiap inci garis wajah putra sulung nya yang di tinggalkan nya tanpa berpikir panjang lagi dengan membawa segala keegoisan nya membiarkan seorang anak kecil berusia tujuh tahun menderita karena dirinya belasan tahun.


wajah Salma berubah sendu. yang tadi sangat menggebu ingin bertemu dengan putra sulung nya tapi kini rasanya untuk bicara saja rasanya seperti ada yang mengganjal di tenggorokan nya.


"apa kita hanya diam seperti ini?!" Yusuf yang sedari tadi merasakan situasi canggung dan dingin tak tahan untuk menyeletuk, memecah kesunyian di tengah kelima orang berbeda generasi ini. baru saja Robert ingin angkat bicara, mengurung kan niat nya karena seorang waiters datang membawa kan tiga gelas jus orange dan tiga botol air mineral.


"permisi tuan dan nyonya"


sang waiters meletakkan apa yang dia bawa di baki yang dia pegang satu persatu ke atas meja dengan sangat profesional lengkap dengan senyuman ramah nya.


"terima kasih" ucap Salma Pelan tersenyum tipis pada sang waiters itu. yang di balas dengan anggukan dan tersenyum ramah pada semua orang yang duduk melingkari meja tersebut. angin laut menerpa wajah mereka, karena posisi mereka duduk sekarang kurang lebih hanya sepuluh meter dari pinggir pantai dengan pemandangan yang exotic. deburan ombak menambah setuasi menjadi menyegarkan. namun sepertinya semua itu tidak dirasakan oleh Anggara saat ini. udara di sekitar nya terasa menyesakkan untuk dirinya. Anggara merasa kan seolah udara sulit memasuki ruang paru-parunya udara yang menyegarkan terasa dingin dan lembab. ingin rasanya dirinya lari ke bibir pantai dan berteriak sekencang mungkin untuk melepaskan sebag di dadanya saat ini. matanya memerah di saat tatapan mata nya lurus ke arah wanita cantik yang memang usianya tak muda lagi. dia tidak akan bicara lebih dulu. Anggara ingin mendengar kan lebih dulu apa yang akan di katakan oleh wanita yang bergelar sebagai ibu kandung nya itu. rasa rindu yang menyelimuti hati nya seakan tertutup oleh rasa kecewanya yang amat besar. pada wanita cantik berparas Eropa bernetra biru serupa dengan dirinya.


"bang, apa sebaiknya kamu bicara berdua saja dengan mama mu?"


Renita yang merasa canggung karena merasa ini adalah pertemuan keluarga yang membutuhkan privasi dan bukan hanya itu saja. seperti nya suami nya dan mama mertua nya butuh bicara dari hati ke hati ya kan? jadi sebelum Renita bicara pada suami nya Renita sudah memberi kode pada Yusuf dengan saling tatap seolah berkata "ayo kita pergi dari sini untuk memberikan ruang untuk suami nya bicara dengan nama nya itu mungkin yang bisa Yusuf artikan dari tatapan Renita pada dirinya. sebaiknya dia berdua meninggalkan tempat ini. lalu Renita pun berdiri dari duduknya. tentu saja Anggara mengalihkan atensinya pada sang istri.


"mau kemana kamu sayang?" tanya Anggara dengan kedua alisnya beradu tangan nya menahan satu lengan sang istri.


"aku dan Yusuf akan berada di pinggir pantai sana, kamu butuh bicara dari hati ke hati dengan mama mu" ucap Renita pelan dan hati-hati.


Anggara menggeleng kan kepalanya cepat


"tidak, tidak perlu kamu pergi dari sini. tetap di sini temani aku. privasi? untuk urusan ini kamu berhak tahu karena kamu istri ku jadi tidak ada yang perlu di sembunyikan"


Anggara menatap lekat wajah istrinya yang sudah berdiri dari duduknya.


"tapi bang"


"tidak ada tapi,tapian kamu di sini saja ya" Anggara berkata dengan lembut dengan pandangan penuh cinta pada sang istri lalu menarik tangan istrinya untuk kembali duduk di samping nya.


"baik lah" terdengar pasrah berucap pelan Renita hanya bisa menuruti keinginan suaminya dan kembali duduk dengan tersenyum canggung. karena menurut nya situasi saat ini lebih persis seperti sedang pertemuan dengan klien untuk membahas kesepakatan bisnis, Dari pada pertemuan keluarga yang seharusnya terkesan intens. apalagi seseorang yang menurut nya sangat penting dan spesial? Renita tersenyum miris. tapi tidak dengan Yusuf lelaki itu tetap berdiri dan

__ADS_1


"aku sebaiknya ke sana dulu mas" izin Yusuf pada Anggara jari telunjuk nya menunjuk ke arah gazebo yang tak jauh dari bibir pantai. Anggara menghela nafasnya dalam menatap Yusuf.


"baik lah kalau itu mau mu" Anggara mengizinkan Yusuf ya. mungkin Yusuf juga merasakan kecanggungan saat ini dan untuk Yusuf, Anggara bisa mengerti yang akhirnya membiarkan adik sepupu nya itu berpindah tempat ke arah gazebo yang tak jauh dari dirinya saat ini.


setelah Yusuf pergi Anggara kembali membenarkan posisi duduknya.


"Anggara" Salma membuka suara nya pelan. dan Anggara masih diam tak bergeming.


"maaf kan Mama ya?" dengan tatapan memohon Salma bicara dengan suara bergetar kedua tangan Salma terulur di atas meja ke arah Anggara mungkin berharap Anggara menyambut uluran tangan nya. tapi sepertinya itu tidak akan terjadi karena kedua tangan Anggara malah saat ini menggenggam erat tangan istrinya dengan kedua tangan nya berada di atas paha Anggara. ya Anggara mencari kekuatan untuk menenangkan diri nya dengan menggenggam erat tangan istrinya yang dia letakkan di atas pangkuan nya.


"maaf untuk apa?" balas Anggara masih dengan nada dingin. Salma tersenyum tipis merespon ucapan Anggara.


"untuk semua kesalahan yang telah Mama perbuat pada hidup mu sayang" biar bagaimanapun rasa rindu yang Anggara rasakan saat ini atas sosok seorang ibu amat besar betapa sesak nafas nya melihat linangan air mata yang menggenang di pelupuk mata Mama nya. tak ingin terbawa emosi, Anggara memalingkan wajahnya ke arah lain. menetralkan amukan rasa yang meremas jiwa nya. lalu dengan menarik nafas dalam-dalam serta menghembuskan nya dengan kasar Anggara berkata dengan kata-kata yang mampu membuat Salma, Robert serta Renita kaget.


"kenapa anda harus muncul lagi? bukan kah status Anda yang sudah meninggal lebih membuat anda nyaman tanpa harus repot seperti ini, untuk bertemu dengan anak yang mungkin juga sudah anda Anggap mati" Anggara berdecak setelah berkata seperti itu karena menurut nya expresi wajah Salma dan Robert menurut nya terlalu berlebihan.


"bang?"


ucap Renita dan Robert bersamaan.


"kamu tidak tahu selama ini mama mu sangat menderita karena berjauhan dengan mu anak lelaki nya satu satunya!" Robert terpaksa angkat bicara dengan nada sedikit tinggi karena tidak terima apa yang telah Anggara katakan tadi.


"Robert, darling s oke" Salma memberikan senyum teduhnya pada suami nya agar tetap tenang. karena dia mengerti perkataan Anggara seperti itu karena sangat kecewa pada dirinya walaupun hatinya sakit mendengar ucapan seperti itu dari anak nya.


Anggara tertawa pelan dan hambar melihat interaksi pria asing yang bernama Robert yang kini berstatus sebagai suami seorang Salma.


nampak cinta terpancar dari sorot mata kedua nya dan Anggara yang tidak mengetahui apa-apa tentang cerita Salma dan Robert merasa mama nya itu berkhianat pada papa nya. dan Anggara tidak terima itu. dia merasa cemburu karena mama nya melupakan papa nya, meninggal kan nya dan memilih untuk menikah dengan orang lain sangat miris. sorot mata Anggara menatap kecewa pada kedua orang yang kini ada di hadapan nya.


"seperti nya.. kalian sangat saling mencintai ya" ada jeda di ucapan awal Anggara karena emosi nya yang dia tekan kemudian melanjutkan ucapannya lengkap dengan senyuman miring nya.


sadar dengan ucapan Anggara Salma dan Robert mengalihkan perhatian nya pada Anggara. tanpa melepaskan genggaman tangan nya pada Robert seolah dia ingin menunjukkan sekaligus ingin menjelaskan semua apa yang telah terjadi yang tidak di ketahui oleh Anggara. Salma tersenyum sebelum dia kembali angkat bicara wanita itu memandang sendu wajah tampan putra nya itu. dia sudah bertekad apapun hasil nya dari cerita yang akan dia ceritakan pada Anggara nanti dia akan terima karena dia tahu putra nya itu dewasa untuk bisa menilai apa yang akan dia dengar dari mulut nya.

__ADS_1


"lelaki ini adalah cinta pertama mama Anggara"


mata Anggara melebar mendengar penjelasan tentang siapa Robert.


dia pun terkekeh tapi bukan kekehan senang lebih tepatnya terdengar seperti kekehan mencibir. Salma menarik nafas nya dalam-dalam karena sikap yang di tampilkan oleh Anggara. tapi dia berusaha tenang agar bisa melanjutkan cerita nya. Salma tidak masalah dengan sikap Anggara yang seperti itu. ya Sikap seorang yang sedang kecewa dan patah hati. Anggara memang patah hati dan kecewa dengan wanita yang menjadi cinta pertama nya itu.


"boleh mama lanjut kan cerita mama? setelah ini mama harap kamu bisa menyimpulkan dan apapun itu yang menjadi sikap mu pada mama, akan mama terima" ucap Salma meyakinkan Anggara. dan Anggara pun diam seakan memberi waktu untuk Salma bercerita. melihat itu, Salma mulai bercerita semua kisah nya dari awal perjodohan nya dengan Rahman hingga keputusan nya untuk meninggalkan suami nya itu dengan memberi kabar palsu tentang kematian nya karena rasa kecewa dan luka yang sangat dalam yang di torehkan oleh suami nya itu hingga anak semata wayangnya yang menjadi korban di sini dan Salma sadar itu. maka pantaslah jika Anggara kecewa, marah terhadap dirinya. tapi dia bersyukur saat ini melihat Anggara sudah menikah dan bahagia bersama dengan wanita pilihan nya yang tentu saja berlandaskan atas cinta sama cinta tidak ada yang bertepuk sebelah tangan ataupun saling keterpaksaan seperti pernikahan nya dengan Rahman. karena saat itu mereka masing-masing sudah mempunyai seorang kekasih. yang pada akhirnya yang ada hanya saling melukai,


dalam perjalanan rumah tangga mereka.


Anggara hanya bisa terdiam dan membisu mendengar setiap kata demi kata yang terlontar dari bibir Salma tak terasa buliran air mata yang sedari tadi sudah dia tahan mati-matian agar tidak luruh, kini tanpa seizin nya akhirnya cairan bening itu meluncur juga membasahi rahang tegas nya. bagi lelaki air mata adalah hal yang sangat mahal dan berharga tidak sembarang bisa tercipta dan keluar begitu saja dari mata lelaki. butuh alasan yang sangat jelas untuk air mata seorang lelaki mengalir jatuh. dan seperti nya Anggara saat ini memang mempunyai alasan yang bisa menjelaskan bagaimana air mata nya luruh begitu saja dari sudut mata nya. hati nya terasa di remas, sakit. itu yang dia rasakan saat ini saat mendengar kan dalam diam cerita apa yang telah terjadi pada rumah tangga kedua orang tua kandung nya. yang akhirnya berakhir dengan mementingkan perasaan dan keegoisan masing-masing. tak hanya Anggara yang menitik kan air mata nya begitu juga Salma wanita itu terisak di sela ucapan nya. bagaimana dengan Renita? wanita itu hanya bisa menunduk dalam-dalam menggigit bibir bawahnya menahan agar dia tidak menangis menjerit. tapi rasa sedih Renita lebih melihat suaminya yang selama ini dia kenal tegas dan berwibawa kalau di depan orang tapi menjadi sangat manis dan manja bila sedang berdua dengan dirinya tapi sekarang sangat menyakitkan melihat sang suami terlihat sangat menyedihkan Renita yakin saat ini keadaan suami nya sedang sangat kacau. jiwanya terpukul dengan apa yang sudah di dengar oleh nya.


Anggara sendiri bukan tidak percaya dengan apa yang telah di ceritakan oleh mama nya. tapi Anggara berpikir kenapa baru sekarang dia mengetahui nya? baik papa nya maupun semua orang terdekat nya tidak ada satupun yang memberitahu keadaan sebenarnya apakah ini sebuah aib? yang tidak perlu dirinya tahu? itu yang tengah ada dalam pikiran Anggara. dan akhirnya Salma menutup cerita nya dengan linangan air mata serta kata maaf berkali-kali terucap dari mulut nya pada anak lelaki yang telah dia abaikan selama ini.


"apa kamu bisa memberikan maaf pada mama nak? mama akan menebus segala kesalahan karena telah menelantarkan mu selama ini" wajah Salma nampak memelas. Robert yang duduk di samping nya menghapus air mata istri nya itu dengan lembut dengan kedua jempol nya.


"tapi aku bukan anak kecil lagi yang masih merengek minta buaian orang tua nya. aku sudah berumah tangga dan tentu saja ada seorang istri di samping ku yang butuh perlindungan ku.tapi juga saling memberikan kasih sayang"


Salma tersenyum getir dia mengerti arti ucapan Anggara yang artinya Anggara tidak lagi mutlak memerlukan perhatian penuh dari orang tua nya karena dia sendiri sudah menjadi lelaki beristri yang pasti nya sekarang segala perhatian dan perasaan nya sudah tercurah sepenuhnya untuk wanita yang sudah menjadi belahan jiwa nya.


"darling, kuatkan hati mu. kamu sudah meminta maaf dan menjelaskan semua nya pada putra mu ini selebihnya tinggal dia sendiri yang bisa menentukan sikap selanjutnya" ucap Robert lembut dia tak tega melihat istrinya begitu menderita berharap maaf dari putra sulung nya.


begitu juga Renita wanita cantik itu memeluk dari samping tubuh tegap suami nya untuk memberikan kekuatan paling tidak hanya sebuah pelukan yang saat ini Renita bisa berikan untuk menenangkan suami nya.


"sayang, aku harus bagaimana?" ucap Anggara seperti berbisik di telinga Renita. dan Renita mengangkat wajahnya, menatap lekat wajah tampan suami nya.


"turuti kata hati mu bang. aku tidak mau ada pengaruh kata-kata ku untuk membujuk mu yang pada akhirnya kamu menyesali keputusan mu. raba hati mu seperti apa mau nya lalu kalau sudah kamu mengetahui nya apapun itu jangan kamu sesali" Renita tersenyum di Sela ucapan nya satu tangan nya meraba dada bidang suaminya.


Anggara paham apa yang istrinya ucap kan dia pun melepaskan pelukan istri pelan dan kemudian berdiri dari duduknya.


*

__ADS_1


TBC..


__ADS_2