
Anggara dan Renita saling pandang ketika seseorang di luar mengetuk pintu dan memanggil nama Anggara
tok
tok
"Anggara,apa kamu di dalam? tolong buka pintu nya ngga?" seorang wanita terus mengetuk pintu ruang kerja Anggara.
"Debi?" gumam Anggara kaget
"Debi? siapa Debi?" tanya Renita mendengar Anggara menyebut nama wanita yang mengetuk pintu itu Anggara mengenali suara si pengetuk itu. dengan langkah sedikit ragu Anggara mendekati pintu.dan menarik handle pintu lalu membukanya.dan
"Angga..!" ucap wanita yang mengetuk pintu ruang kerja Anggara yang ternyata Debi.wanita itu langsung berhambur ke arah Anggara hendak memeluk pria itu, tapi dengan sigap Anggara mengangkat kedua tangannya ke atas tanda kalau dia tidak mau di peluk oleh Debi. apa apaan!
pikir Anggara seperti itu apalagi ada Renita sedang bersama nya.
eh, kemana Renita? Anggara celingukan mencari Renita ternyata tidak ada di samping nya, Anggara panik dan bingung di tambah tingkah Debi yang konyol hadeuh.. kepala Anggara terasa pening.di tengah kebingungan nya Anggara berusaha bersikap tenang pria itu menatap dingin Debi.
"Angga" Debi tampak kecewa dengan penolakan Anggara.dan tentu saja Anggara tidak perduli.
"mau apa kamu kesini?" tanya Anggara tanpa expresi.
semenjak Debi terang-terangan menyatakan perasaannya pada dirinya Anggara sudah tidak bisa bersikap biasa lagi dengan Debi karena sikap baik nya di salah artikan oleh Debi.apa lagi sekarang ada hati yang harus dia jaga.Anggara tidak mau gegabah lagi dalam bersikap dengan lawan jenis, selain dengan gadis nya.
Debi melangkah masuk ke dalam ruang kantor Anggara dan pria itu berjalan mundur menyingkir dari hadapan Debi, berdiri di depan Daun pintu. kedua tangannya di lipat di dadanya. menatap tajam Debi.
"cepat, apa keperluan kamu kesini, aku masih ada kesibukan"
Debi yang duduk di kursi tunggal yang ada di depan meja kerja nya memandangi Anggara dengan penuh damba.
"benarkah kamu sudah melamar seorang gadis Angga?!" tanya Debi dengan nada kesal
"benar, aku sudah melamar seorang gadis, bulan ini aku akan menikah" jawab Anggara dengan santainya
wajah Debi seketika merah
"kamu tega Anggara! kenapa kamu tidak memilih aku? kenapa kamu memilih wanita lain aku yang selama ini ada untuk mu!" pekik Debi.
"cukup Debi, kamu jangan berulah lagi, aku sudah pernah mengatakan pada mu, kalau aku tidak punya perasaan pada mu.aku hanya menganggap mu sebagai teman tidak lebih"
__ADS_1
"tapi Angga.. aku tidak bisa hanya menjadi teman mu, aku ingin hubungan lebih dari teman.aku mencintai mu"
"tapi aku tidak sama sekali mencintai mu dan itu tidak akan terjadi!" potong Anggara cepat.
Debi terdiam.menatap nanar Anggara.
"siapa perempuan itu ha? aku ingin lihat perempuan itu, secantik apa dia hingga kamu menolak aku" ucap Debi pede dan tak terima.
"bukan urusan mu, secantik apapun calon istri ku, bagi ku dia yang paling cantik di mata ku.sudah lah lebih baik kamu pergi dari sini.dan jangan bertanya urusan pribadi ku, karena kita tidak pernah punya hubungan apapun" jelas Anggara tegas.
Debi berdiri dari duduknya berjalan mendekati Anggara dan pria itu menjadi waspada khawatir Debi berbuat nekad.apa lagi dia tahu Renita masih di ruangan nya Anggara tahu gadis nya itu bersembunyi
Anggara menjadi gusar sendiri kenapa Renita harus bersembunyi pikir Anggara seperti itu.
"banyak lelaki yang datang mendekati aku tapi aku tolak, karena aku mengharapkan cinta itu dari mu Angga.. bukan dari lelaki lain" ucap Debi terus bergerak mendekati Anggara. tapi ketika Debi sudah dekat di mana Anggara berdiri tangan gadis itu hendak menyentuh dada bidang Anggara..
"jaga sikap mu Debi, jangan kamu jadi murahan begini!"
Anggara menepis tangan Debi yang hampir menyentuh dadanya. membuat gadis itu meringis karena terpisan kuat tangan Anggara.
"Anggara kasar banget sih kamu?!"
"aku tidak akan sungkan, kalau kamu terus menguji kesabaran ku Debi! pergilah dari sini" Anggara menjulurkan satu tangan nya mengarah ke pintu mempersilakan Debi keluar dari kantor nya.wajah Anggara terlihat dingin.
akhirnya dengan rasa kesalnya Debi keluar dari kantor Anggara.
"aku tidak mau kamu muncul di hadapan ku lagi kalau hanya ingin mengganggu hidup ku" ucap Anggara tegas ketika Debi baru melangkah keluar dari kantor Anggara.
Debi menoleh sebentar menatap kecewa pada Anggara lalu gadis itu benar benar pergi dari hadapan Anggara. dan pria itu pun menghela nafas nya lega.kemudian Anggara berjalan ke belakang ruangan kerjanya yang penuh buku buku dia yakin Renita bersembunyi di sana.
dan benar saja Renita berdiri kaku bersender di wastafel.
"Ren? kamu kenapa bersembunyi di sini hm? kenapa kamu tidak menghadapi Debi dan tunjukkan diri mu pada dia"
Anggara mendekati Renita dan langsung memeluk erat tanpa ada jarak sedikitpun.
"siapa perempuan tadi yang kamu panggil Debi ngga?" tanya Renita pelan.
"bukan siapa siapa" jawab Anggara singkat.
__ADS_1
"tapi sepertinya wanita itu tidak menganggap mu seperti itu" ucap Renita di dalam pelukan Anggara
Anggara mengurai pelukan nya pada Renita dan tersenyum tipis
"ya begini Resikonya kalau jadi orang ganteng Ren" ucap Anggara pede
Renita mencebik merespon ucapan pede Anggara.
"makanya punya wajah jangan berlebihan"
"apa nya yang berlebihan?" tanya Anggara tersenyum simpul menanggapi ucapan Renita.
"ganteng nya! bagi-bagi kek, sedikit sama yang jelek" ucap Renita tanpa dosa.
Anggara tergelak mendengar ucapan nyeleneh Renita.
"kamu ini ya,mana bisa ketampanan ku di bagi-bagi begitu..habis dong ntar, dan kamu malah ngelirik Lelaki lain" sahut Anggara sekenanya.
Anggara menyentil gemas hidung Bangir Renita.
"issh, sakit" keluh Renita.
"kan aku pernah bilang ke kamu bakal ada lagi wanita-wanita di luar sana yang akan ada untuk mengganggu hubungan kita dan kamu harus tetap berdiri di sisi ku, kamu harus percaya pada ku" terang Anggara
"ya sudah, urusan nya sudah clear, aku mau pulang sudah sore. capek emang punya suami tampan banyak yang kepengen!" cibir Renita mendorong pelan tubuh Anggara dari hadapan nya.kemudian berjalan menuju pintu.
"kaya nya ada yang udah anggap aku suami nih" goda Anggara karena ucapan Renita tadi menyebut dirinya suaminya.
Renita mendelik ke arah Anggara yang berjalan di sebelah nya wajah terasa panas Renita yakin kalau sekarang wajah nya memerah.
Anggara tertawa kecil melihat tingkah Renita dengan gemas nya dia merangkum bahu Renita dan mencium sekilas kening Renita membuat gadis itu melotot ke arah Anggara karena mereka masih di area kampus, dan Anggara tidak perduli itu.senyum nya terus saja mengembang di bibir sang Arjuna bule.
*
*
to be continued...
terima kasih sudah mampir ke cerita novel saya 😊🙏
__ADS_1
jangan lupa untuk like n comen nya