
Renita menatap Anggara dengan tatapan horor, tubuh nya di sandar ke pintu mobi.l Anggara hanya tersenyum tipis melihat respon Renita menatap lekat gadis itu menunggu apa respon Renita selanjutnya.
"m_maksud kamu tahu apa Angga??"
Anggara tersenyum, tangan nya terulur ke arah rambut gadis nya membelai lembut rambut bagian belakang kepala Renita
"aku tahu trauma kamu karena kejadian empat tahun yang lalu sayang, karena tunangan sialan mu itu kamu jadi menutup diri mu untuk menjalin hubungan serius dengan pria, tapi aku seperti nya harus berterima kasih pada lelaki biadab itu karena pengkhianat biadab itu akhirnya aku yang bisa memiliki mu ya kan" ucap Anggara dengan tenang namun tatapan mata nya seolah mencengkeram netra coklat terang Renita. bola mata sebiru samudra itu masih mengunci netra coklat terang milik Renita.
"dari mana kamu tahu cerita itu Anggara?"
"dari mas Adam"
"apa benar mas Adam yang cerita?" tanya Renita masih tak yakin dengan penuturan Anggara
"iya sayang,masa aku bohong sih"
balas Anggara sembari menjepit pelan hidung mancung Renita dengan dua jari nya karena gemas
"aish,, Anggara..." ucap Renita setengah teriak karena jepitan itu
Anggara tersenyum gemas melihat respon Renita yang berakhir dengan kecupan mesra di bibir Renita
cup
"Anggara..." protes Renita lagi
"iya sayang... kenapa? kurang ya ciuman nya?" goda Anggara gemas
"aish!" gumam Renita
wajah Renita merona karena itu buru-buru wajah nya di palingkan ke arah jendela mobil.
"sayang" panggil Anggara
"hmmm.." sahut Renita tanpa menoleh ke arah Anggara
"empat hari lagi kamu akan menjadi istri ku"
"lalu?" sahut Renita
"ganti dong panggilan mu itu pada ku,,masa panggil suami mu hanya nama saja sih, nggak sopan dan tak elok di dengar sayang"
Renita mengulum senyum nya mendengar permintaan Anggara, apa lagi Anggara bicara dengan nada sedikit manja.
"tatap wajah ku kalau sedang bicara dengan ku sayang atau kamu ingin aku..." belum selesai Anggara berucap, dengan cepat Renita memposisikan dirinya kembali ke arah Anggara
menatap lekat wajah rupawan calon suami nya itu bagaimana tidak rupawan, kulit wajah Yang di miliki Anggara sangat halus tanpa cacat hanya sedikit cambang halus menghiasi rahang tegas nya melengkapi wajah tampan nya
"terus mau di panggil apa dong"
"ya enaknya kamu apa, asal jangan nama saja"
Renita memegang dagu nya tampak seperti sedang berpikir keras dengan bibir di buat munyung dan itu membuat Anggara tambah gemes.
__ADS_1
"mas?" ucap Renita
"jangan, sudah terlalu banyak yang di panggil mas di keluarga kita, yang ada kalau kamu panggil aku mas di kala kumpul keluarga bisa-bisa semua ikut menoleh"
Renita tertawa kecil merespon ucapan Anggara hingga lesung pipi sebelah kanan nya tampak terlihat
"cantik sekali" gumam Anggara melihat gadis nya tertawa kecil
"kamu bilang apa tadi?" tanya tanya Renita sedikit mendengar ucapan Anggara namun kurang jelas
"tidak ada" elak Anggara.
Renita mencebik merespon
"Abang?" ucap Renita
Anggara sejenak diam, mencoba menyesuaikan pendengaran nya dengan panggilan kata 'Abang' yang Renita sematkan tadi.
"baik lah, seperti nya kedengarannya bagus panggilan itu" akhirnya Anggara menyukai panggilan Abang yang di sematkan oleh Renita untuk panggilan ke dirinya.
"benar kamu mau di panggil Abang?" tanya Renita lagi meyakinkan
"iya panggil aku Abang saja belum ada kan, di keluarga kita yang di panggil Abang" terang Anggara
"baik lah kalau begitu Abang bule ku sayang.." ucap Renita mencoba panggilan pertama memanggil Anggara dengan sebutan Abang.
Anggara tersenyum merasa bahagia mendengar Renita memanggil dirinya dengan mesranya
Drrrt..
Drrrt
"sebentar sayang aku angkat telepon dulu ya"
Anggara mengambil ponsel nya yang berada di saku celana nya, melihat nama kontak yang tertera di panggilan layar ponsel nya
"Yusuf?" ucap Anggara, tatapan ke arah Renita, lalu jari nya menggulirkan layar ponsel nya ke mode panggilan.
"assalamualaikum mas" ucap Yusuf di sana terlebih dahulu menyapa Anggara setelah tahu panggilan telepon nya di terima oleh Anggara.
"waalaikumu sallam, ada apa yus?" balas Anggara
"mas seperti kamu mesti balik ke rumah sekarang deh" pinta Yusuf
langsung ke inti nya.
"lho ada apa yus?" tanya Anggara heran
"seperti nya pertemuan dengan klien kita di Singapura di majukan jadwal temu nya, jadi besok siang kita harus sudah menemui klien kita dan otomatis keberangkatan kita ke Singapura di majukan penerbangan nya nanti jam tujuh malam biar kita di sana ada waktu istirahat" jelas Yusuf di panggilan telepon
Anggara menggaruk ujung alisnya
pria itu nampak seperti berat karena tidak bisa menghabiskan waktu hari ini bersama Juwita hati nya Anggara menatap sendu Renita di saat masih mendengar kan Ucapan Yusuf di panggilan telepon nya, menghela nafasnya berat .
__ADS_1
"kenapa kamu mas?" tanya Yusuf karena sangat kentara sekali Anggara menarik nafas nya sehingga Yusuf pun mendengar tarikan berat nafas Anggara di sana.
"kenapa sih harus di majukan rencana ketemu klien mu itu Yusuf.."
ucap Anggara kesal
"lho kenapa emang nya? kamu marah mas?" tanya Yusuf
Renita hanya tersenyum melihat tingkah Anggara menggelengkan pelan kepala nya.
"ya sudah aku akan pulang segera sudah ya"
Tut.
Anggara memutuskan panggilan telepon nya dengan Yusuf dengan malas Anggara memposisikan dirinya untuk melajukan mobilnya
"kamu ikut ke rumah Ku dulu ya sayang"
Renita menganggukkan kepalanya.
****
di ruang tengah rumah kediaman keluarga Subianto, Rahman, Yusuf Aisyah serta tidak ketinggalan Madina duduk di sofa tampak wajah Aisyah berengut masam menatap Rahman.
"kamu nggak punya perasaan banget sih By,masa calon pengantin masih di suruh perjalanan bisnis, padahal seharusnya kan mereka itu sekarang dalam masa pingitan! parah nya lagi tiga hari di sana, sedangkan hari H tinggal Empat hari lagi!" ucap Aisyah sedikit tinggi bicara dengan suaminya.
"mi, maafkan Aby ya, soalnya masalah ini tidak bisa di tunda lagi, lagi pula bukan urusan Aby saja kok, Anggara pergi ke Singapura juga karena ada peresmian gedung kampus baru cabang di Singapura jadi, ini bukan rencana Aby sepenuhnya.yang jadi pengantin saja seperti itu" jelas Rahman panjang lebar masih mencari pembenaran dari rencana nya pada istrinya yang terus saja ngomel.
Aisyah mendelik tajam ke arah suaminya yang duduk di sebelah nya, yang terus mengusap lembut punggung tangan nya mencoba menenangkan hati nya tapi itu tidak berhasil.tetap saja Aisyah masih bersungut-sungut
"anak sama bapaknya sama saja!" sungut Aisyah
Rahman hanya nyengir kuda menanggapi Omelan Aisyah.
"assalamualaikum" salam Anggara dan Renita dan mendapatkan balasan salam dari suara orang yang berada di dalam rumah nya
Anggara dan Renita tiba, masuk ke dalam rumah tersebut berjalan menuju ke ruang tengah di lihat nya sudah ada papahnya, umi Aisyah serta Yusuf duduk di sofa dan di sebelah nya sudah ada koper yang cukup besar tapi tampaknya Anggara merasakan sesuatu, seperti aura menegangkan di ruang tersebut
nampak wajah ummi nya sedang di tekuk habis dan di sebelah nya duduk papah nya dengan raut wajah
nampak bersalah?
perlahan Anggara menarik tangan Renita untuk ikut duduk di sebelah nya di sofa.
Anggara menatap ke arah Yusuf
menggerakkan bola matanya seolah bertanya ke Yusuf,ada apa ini?
dan Yusuf yang mengerti arti tatapan Anggara, pria berusia dua puluh dua tahun itu hanya mengangkat kedua bahunya merespon artian tatapan kakak sepupu nya.
"kenapa ummi? seperti nya ada hal yang tidak menyenangkan?" tanya Anggara hati-hati dan suasana pun semakin dingin mencekam
Aisyah menatap tajam ke arah Anggara.
__ADS_1
*
TBC..