
pemikiran Renita yang terlalu rumit membuat dirinya terasa sulit menerima kenyataan kalau sekarang dirinya telah menikah, dan yang menjadi suami nya adalah seorang Anggara pramuja Subianto. lelaki yang mempunyai sejuta pesona, dan jangan lupakan lelaki yang menjadi suami nya sekarang ini, pemimpin dari yayasan Handersson yang mendalangi beberapa sekolah dan universitas swasta ternama dan terbesar di negara tercinta ini.
dan dalam sekejap saja lelaki yang bernama Anggara ini sudah menjadi suami nya yang di kenal nya hanya empat bulan.jujur saja entah apa yang menjadi alasan Renita menerima hubungan dari seorang Anggara, lelaki yang lebih muda empat tahun usia nya dari dirinya
dan dengan begitu mudah nya lelaki itu masuk ke dalam kehidupan nya serta tak tanggung-tanggung memilih dirinya menjadi istri nya.
sedangkan Renita belum begitu tahu bagaimana dan siapa Anggara di cerita kehidupannya. tapi karena memang Anggara dapat meyakinkan dirinya untuk menerima seorang Anggara dalam hidup nya maka Renita seharusnya siap, masuk ke dalam dunia Anggara.
tapi kenyataannya itu masih cukup sulit untuk Renita jalani. dengan berbagai pikiran yang berkecamuk membuat dirinya menjadi gugup
rasanya tubuh nya terasa kaku dan dingin, kaki nya bahkan terasa berat untuk melangkah.
oh, ayolah Renita.. seharusnya kamu harus siap,, karena kamu tahu siapa yang menjadi suami mu itu kan?
gemes juga dengan Renita ini.
wanita cerdas, selalu terbaik dalam akademis nya terbukti, selalu mendapatkan beasiswa penuh dari sekolah atau pun perguruan tinggi.
tapi sepertinya hal itu semua tidak berfungsi saat ini. kecerdasan nya tidak bisa mencover rasa percaya diri nya bersuamikan seorang Anggara pramuja Subianto.
"kamu kenapa sayang?"
Anggara menghentikan langkahnya karena merasakan tangan istrinya terasa dingin dan berkeringat.
"aku? kenapa memang nya?"
Renita masih tak mengerti apa yang sedang di tanyakan oleh Anggara.
"kamu gugup?" tanya Anggara sambil menarik tangan Renita ke arah wajah nya yang dalam genggaman nya kemudian di kecup nya punggung tangan Renita dengan lembut.
mata Renita membola karena itu
"bang. apa yang kamu lakukan,, malu.. nanti ada lihat"
Renita bicara sedikit berbisik mendekat kan wajah nya ke arah wajah Anggara.
"biarin, memang kenapa kalau ada yang lihat? kamu istri ku. ada yang salah?"
"issh,, apa sih! iya tahu kamu itu suami aku, tapi nggak gini juga"
Renita mencebik merespon ucapan Anggara dan dirinya sangat risih dengan sikap Anggara yang seenaknya. dan lelaki tampan itu hanya tersenyum melihat ketakutan wajah istrinya.
"sudah, kamu jangan bersikap aneh sayang.. kamu harus sadar.kalau kamu adalah nyonya pemilik yayasan ini jadi tidak ada yang perlu kamu khawatir kan"
Anggara terus menjelaskan status Renita.
"tapi bang"
"kalau kamu masih bersikap seperti ini, lebih baik kamu tidak usah mengajar"
"maksud mu apa bang?"
Renita tampak gusar karena ucapan Anggara.
"ya, kamu tinggal di rumah saja menjadi istri rumahan dan hanya melayani suami saja beres kan? dan itu lebih membahagiakan buat aku sayang... kamu tidak akan kekurangan apapun walaupun kamu tidak bekerja kamu tahu itu" jelas Anggara jujur dengan keinginan nya
walaupun bisa dia tebak kalau istri nya tidak akan setuju menjadi seorang istri yang hanya di rumah saja.
"tidak,, aku tidak mau seperti itu.. kamu mengenal aku sebelum nya kan, memang sudah mengajar, dan aku tidak bisa menjadi wanita yang hanya tinggal berdiam diri di rumah"
tentu saja Renita menolak keinginan suaminya itu.
Anggara tersenyum tipis dia sudah menduga apa jawaban dari istri nya.
dan tentu saja Anggara tidak mau memaksa kan kehendak nya.
dia mengusap lembut pucuk rambut milik istri nya itu dan berkata dengan lembut, seraya menatap lekat wajah cantik istri nya.
"iya, sudah aku duga. kamu pasti tidak bisa hanya tinggal di rumah saja dan aku mengerti sayang.. padahal aku memimpikan istri ku yang selalu menunggu ku di rumah dan menyambut kepulangan ku setiap hari nya dengan sambutan mesra"
Renita diam, hatinya terasa tercubit dengan perkataan suami nya.
__ADS_1
dan membalas tatapan suaminya
"apa kamu tidak menginginkan aku bekerja bang?"
"tentu saja bukan itu maksud ku sayang, aku hanya ingin kamu tidak kelelahan saja, cukup tugas kamu sebagai istri hanya mengurus ku dan... Anggara mendekat kan wajah nya pada telinga istrinya.
"agar kamu tidak capek saat suami mu ini ingin membajak mu setiap hari sayang"
hembusan nafas hangat Anggara menerpa leher jenjang milik Renita sontak saja Renita menarik diri nya agak menjauh dari Anggara dia melihat tatapan mesum suami nya.
"bang...!"
Renita berteriak walaupun tidak kencang karena merasa malu mendengar kata mesum suaminya
"hahaha.. Anggara tergelak senang menggoda istri nya.
"sudah, ayo kita sudah terlambat, bukan nya kamu ada jam kuliah satu jam lagi?"
Anggara melihat jam tangan nya yang melingkar di pergelangan tangan nya. lalu kembali melanjutkan langkahnya, masih tangan istrinya dalam genggaman nya dan Renita hanya pasrah membiarkan tangan nya di genggam oleh suami nya. maka tak ayal setiap kali bertemu dengan dosen atau pun mahasiswa yang kebetulan berpapasan dengan kedua nya atau yang ada tak jauh di sekitar mereka berdua nampak tersenyum melihat kemesraan yang di perlihatkan oleh pasangan sejoli yang baru beberapa hari menikah itu.
lain mereka yang merasa senang dengan kemesraan Anggara dan Renita tapi beda dengan sepasang mata yang sedari tadi berjalan yang cukup jauh di belakang mereka berdua namun cukup jelas di lihat oleh sepasang mata nya kemesraan Anggara dan Renita. dadanya terasa bergemuruh menahan rasa cemburu di dadanya.
"nanti siang kamu makan di kantor ku ya sayang" pinta Anggara ketika mereka berada di koridor kampus menghadap dua arah. ke kanan arah ke ruangan Anggara yang berada di lantai empat, sedangkan ruangan dosen tempat Renita mengarah ke arah kiri.
Renita mengangguk menyetujui ajakan suami nya.
dan Anggara pun tersenyum sambil satu tangan nya mengelus lembut pundak istri nya lalu berlalu dari hadapan Renita.
begitu juga dengan Renita dia pun berjalan ke arah ruangannya nya.
dan baru beberapa langkah Renita berjalan suara berat seseorang memanggil dirinya.
"Ren, tunggu"
Renita menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah belakang punggung nya.
"Raga?"
ucap Renita pelan. Raga berjalan cepat mendekati Renita.
"iya, aku baru masuk kan aku cuti tiga hari" jelas Renita
"ini sudah empat hari, kamu menambah sendiri cuti kamu"
Renita tersenyum kaku. memang benar dia menambah satu hari cuti nya yang seharusnya hanya tiga hari menjadi empat hari karena paksakan Anggara dan Renita sekali lagi tidak bisa membantah permintaan sang suami apa lagi kalau sang suami sudah menunjukkan kekuasaan nya.
Renita tidak bisa berkutik.
"iya, aku menambah izin cuti ku"
"apa ada sesuatu yang membuat kamu menambah cuti mu?"
wajah Renita nampak tidak suka dengan pertanyaan Raga. ada hak apa Raga harus tahu secara detail urusan nya dan itu tidak bersangkutan dengan Raga iya kan?
"mm, maaf pak. saya sebentar lagi ada kelas, permisi"
Renita mengalihkan pembicaraan dia enggan menjawab pertanyaan Raga yang menurut nya terlalu jauh
tapi dia pun tidak mau menyinggung perasaan Raga, jadi Renita memilih
pembicaraan lain.
"oh iya, silahkan"
Raga melihat perubahan wajah Renita karena pertanyaan. dia pun membiarkan Renita pergi begitu saja dari hadapan nya dan ikut berjalan mengiringi langkah Renita tanpa ada pembicaraan lagi di antara kedua nya.
dalam hati nya Raga masih tidak rela melihat Renita telah menikah dengan seorang Anggara.
sungguh dia menyesal karena tidak sedari dulu mengungkapkan perasaan nya. dulu sewaktu masih SMA memang penampilan Renita yang serampangan terkesan kumal hingga menutupi kecantikan gadis yang selama ini tak jauh dari diri nya sewaktu di SMA. menjadikan Raga terus berpikir ulang untuk tertarik dengan Renita. tapi sekarang? gadis serampangan dan kumal itu, menjelma menjadi seorang gadis yang sangat cantik dan menawan
kulit nya yang sekarang terawat, menjadi kan Renita seperti gadis bangsawan yang memiliki kulit bening, putih mulus tanpa cacat.
__ADS_1
"ah, Renita.. kamu berhasil menyembunyikan sesuatu yang sangat berharga yang ada di diri mu
dan sial nya aku baru menyadari nya sekarang sial!" gumam Raga menyesali diri nya.
di dalam ruangan Anggara nampak lelaki tampan itu sedang fokus dengan pekerjaan nya yang sudah menumpuk karena sudah di tinggalkan beberapa Minggu ini.
tak lama kemudian fokus nya terpecah karena suara ketukan pintu
beberapa kali di ketuk oleh seseorang dari luar.
"masuk!" Anggara sedikit meninggi kan suaranya untuk mempersilakan seseorang yang ada di luar sana untuk masuk ke dalam.
merasa sudah di izin kan masuk, pintu itu pun di buka dan seorang lelaki masuk ke dalam ruangan kerja Anggara.
"papah?"
Anggara terkejut karena orang yang datang ke ruangan nya itu papahnya bersama Yusuf. Anggara pun berdiri dari duduknya berjalan mendekati Rahman dan langsung meraih punggung tangan lelaki paruh baya itu dan mencium punggung tangan itu dengan takzim.
"silahkan duduk pa"
Rahman duduk di sofa panjang yang ada di ruangan tersebut begitu juga dengan Yusuf.
"kamu tidak ada jam kuliah yus?" tanya Anggara melihat Yusuf datang bersama papah nya.
"nanti sore jam tiga sampai jam tujuh malam"
"oh begitu" Anggara hanya mengangguk saja mendapatkan jawaban yusuf.dan Anggara duduk di sofa tunggal yang berhadapan dengan Rahman.
"kenapa emang mas nanyain jam kuliah ku?"
Anggara tersenyum tipis
"tidak apa-apa.. cuma aku sempat berpikir kamu nganterin papah kesini karena takut papah nyasar gitu?" ucapan Anggara terdengar seperti menyindir Rahman dan pria paruh baya itu hanya tersenyum tipis merespon ucapan anak sulung nya itu.
"kamu marah sama papah Anggara?" tanya Rahman langsung karena sebenarnya dia sudah tidak nyaman dengan sikap Anggara yang terkesan menghindari diri nya terbukti Anggara yang selalu beralasan sibuk bila di hubungi lewat telepon, begitu juga selalu ada alasan untuk menghindar saat Rahman menyuruh pulang kerumahnya. yang akhirnya Rahman memutuskan menemui Anggara di kampus dan memang benar Yusuf datang bersama nya untuk mengantar karena Rahman memang tidak pernah sama sekali menginjak kan kaki nya di kampus manapun milik sang mertua yang kini di kelola oleh putra satu satunya dan karena itu pula Rahman merasa kurang suka dengan keputusan sang mertua yang merekrut putra nya untuk mengelola yayasan milik mertua nya itu. sedangkan Rahman mengharapkan kelak semua perusahaan milik nya itu Anggara lah yang memimpin nya. tapi kenyataannya Anggara lebih memilih menerima warisan dari kakeknya Jakson Handersson.
siapa orang tua yang tidak kecewa di saat menggantung kan harapan pada anak lelaki nya satu satunya untuk meneruskan usahanya tapi kenyataannya tidak seperti yang dia harapkan. boleh kan Rahman marah dan kecewa? pada mertua lelaki nya itu, karena merebut perhatian putra satu satunya yang dia bangga-banggakan selama ini.
mendapatkan pertanyaan seperti itu dari papahnya Anggara terdiam, namun memberikan tatapan dingin pada lelaki paruh baya yang darah nya mengalir deras di dalam tubuh nya.
"apa menurut papah aku tidak boleh kecewa dan marah sama papah?"
"sekecewa nya itu kah kamu Anggara?"
Anggara menunduk kan wajah nya memejamkan matanya sesaat tapi ada senyuman lebih tepatnya sebuah seringai di wajah nya Anggara merasa tidak habis pikir dengan pola pikir papah nya yang terlihat masih tidak terima kalau apa yang sudah di lakukan papah nya itu sudah sangat membahayakan dirinya, malah nyaris menghancurkan hidup nya.
lalu Anggara mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Rahman dengan tatapan entah bermakna apa karena sorot mata nya seperti seorang psikopat. dan Yusuf yang melihat itu seketika bergidik. baru kali ini melihat mimik wajah Anggara seperti itu.
"apa menurut papah sesimpel itu?"
"maksud mu apa Anggara?"
Anggara terkekeh tapi terdengar menakutkan karena tidak ada mimik orang tertawa yang tercetak di wajah tampan itu melainkan hanya wajah datar tapi tertawa pelan.
Rahman sedikit kaget dengan reaksi Anggara yang seperti itu. tapi Rahman berusaha tenang dan tidak terpancing dengan reaksi Anggara dia tahu putranya itu sedang menahan diri nya agar tidak emosi.
"aku tahu papah ingin menghancurkan perusahaan tekstil milik opa yang di Belanda ya kan? dengan menggaet tuan Kim dengan imbalan perjodohan sialan itu ya kan pah?!"
Rahman terkesiap mendengar penjelasan Anggara dan entah apa yang akan dia katakan untuk membantah semua perkataan Anggara.
"papah kaget kan kenapa aku bisa tahu rencana papah?" Anggara menggeleng kepala nya pelan seolah tak percaya apa yang di perbuat papah nya.
"kenapa pa?? kenapa papah berencana menghancurkan usaha tekstil opa Jackson? why?!" Anggara mendesak Rahman agar menjelaskan apa alasan dari rencana papah nya itu yang ingin menghancurkan perusahaan tekstil milik keluarga Handersson.
Rahman menarik nafas nya panjang sebelum dia bicara menatap lekat wajah tampan putra nya itu yang terlihat sangat marah.
"ini semua karena kamu Anggara"
mata Anggara melebar mendengar apa yang di ucap papah nya.
"karena aku?!" Anggara menunjuk pada dirinya sendiri dengan raut wajah terlihat tak percaya.
__ADS_1
*
TBC...