Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 10 PAK OJEK


__ADS_3

"Jangan panggil saya bapak dong bu, saya ini masih singel loh. Masih 28 tahun."


"Lah dikira aku juga nggak singel kali ya?" Batin Reina.


"Ibu sudah biasa naik ojek begini ya?" Tanya orang yang mengaku diri masih muda ini.


"Iya." Jawab Reina singkat.


Pak ojek tetap fokus mengendarai motornya. Menyalip beberapa mobil saat ada renggang jalanan.


"Memangnya nggak diantar suaminya bu biasanya saat berangkat kerja?" Tanyanya masih ingin mengajak Reina mengobrol.


"Saya nggak punya suami." Jawab Reina, lupa kalau ia tadi sedang berakting. Karena kini Reina sedang berbalas pesan dengan asistennya di kantor.


"Oh ibu ini singel parent toh." Ucapnya.


Reina kemudian tersadar saat lelaki yang fokus dengan jalanan itu mengucapkan singel parent. Reina menepuk mulutnya pelan. "Aku kan tadi akting sama Zen. Biar ilfil ini orang, nggak sembarangan sok kenal sok deket sama orang yang baru ditemuinya.


Mungkin Reina lupa, kalau zaman sekarang status jandalah yang membuat orang tergila-gila. Apa lagi kalau janda yang bentukannya seperti Reina. Hem...


"Ibu sudah lama kerja di DS Group?" Tanyanya melanjutkan pembicaraan.


"Baru." Jawab Reina. Memang benar kan kalau Reina baru enam bulan bekerja membantu ayahnya mengurus DS Group.


Tak lama kemudian motor sudah sampai di depan perusahaan. Sesuai perintah Reina, motor berhenti tepat di depan lobby perusahaan. Reina langsung turun dari atas motor dan langsung mengambil dompetnya yang ada di dalam tasnya.


"Berapa pak?" Tanya Reina.


"Jadi 53.000 ya bu, ples ongkos dari sekolahan anak ibu kesini." Jawabnya.


Reina mengangguk saja. "Sial banget mana nggak ada uang cast lagi." Batin Reina. "Tunggu sebentar." Ucap Reina yang langsung menghampiri petugas scurity yang bertugas menyambut orang yang akan memasuki kantor pusat tersebut.


"Selamat pagi bu." Sapa scurity sopan.


"Pagi. Pak, ada uang seratus ribu nggak? Saya nggak ada uang cast mau bayar ojek." Ucap Reina pelan sambil menunjuk pak ojek.


"Ada bu." Jawabnya. Security tersebut langsung mengambil dompet didalam saku celananya dan langsung memberikan selembar uang berwarna merah.


"Pinjam dulu ya pak." Ucap Reina yang langsung berlalu untuk menghampiri pak ojek. "Ini pak." Ucap Reina sambil mengulurkan uang hasil pinjamannya.


Pak ojek yang melihat kalau Reina tadi meminjam uang untuk membayarnya jadi menatap Reina, mungkin kasihan atau apa. Reina pun tidak tahu.


"Ini." Ulang Reina karena uang yang ia berikan tak cepat di terima.


"Ibu bisa bayar saya lain waktu. Kasian kalau ibu pinjam uang scurity bu." Ucapnya jujur. Apalagi saat ini mendekati tanggal tua.


'Bapak kira saya nggak punya uang?" Kesal sendiri akhirnya Reina. Belum tahu saja dia siapa disini. Anak pimpinan DS Group mana mungkin ia tidak punya uang kan.

__ADS_1


"Bukan begitu bu. Hanya saja..."


Halah kelamaan, mana Reina harus meeting lagi. menanggap perdebatan yang menurut Reina tidak penting harus mengeluarkan jurus kilatnya. "Ini ongkosnya saya bayar, ambil sekalian sama kembaliannya." Ucap Reina setelah menarik pergelangan tangan pak ojek dan meletakkan selembar uang berwarna merah itu di telapak tangannya. "Terimakasih." Ucap Reina yang langsung berlalu.


"Loh helm ojekku belum di kembalikan." Gumam pak ojek saat akan mengendarai kembali motornya.


Ia langsung melepas helm yang masih terpakai di kepalanya. Dan angsung melangkah lebar dan cepat untuk mengejar Reina.


"Pak saya mau ambil helm saya di ibu tadi." Ucapnya pada security yang berjaga dan langsung lari begitu saja.


"Bu... ibu... tunggu dulu bu." Panggilnya menghentikan Reina yang akan masuk lift.


Reina yang mendengar suara pak ojek barusan langsung berbalik melihat si pemilik suara. Untuk beberapa detik ia terhipnotis dengan orang yang menghentikannya memasuki lift. Tapi dengan cepat juga Reina mengenyahkan pikiran terkesimanya.


"Ada apa lagi? saya kan sudah bayar terus kenapa masih kesini?" Tanya Reina yang menjadi sedikit kesal karena ia sedang buru-buru.


"Itu bu."


"Kembaliannya kan sudah buat kamu. Terus apa lagi?"


"Itu bu. Helmnya belum ibu kembalikan." Terangnya sambil menunjuk kepala Reina.


Spontan Tangan Reina menyentuh kepalanya. Dan benar saja, ternyata ia belum mengembalikan helm yang ia kenakan tadi. Pantas saja saat ia memasuki kantor banyak pasang mata yang menatapnya. Tatapan yang aneh menurut Reina.


"Dasar karyawan sontoloyo, kenapa nggak ada yang memberi tahu aku." Batin Reina benar-benar malu.


Lagi pula jelas saja kariyawannya tidak berani sembarangan berbicara dengan anak pimpinan perusahaan mereka. Apa lagi Reina masih baru bergabung disini.


Pak ojek menerima helm bermerk aplikasi ojek. "Terimakasih bu.' Ucapnya. "Kalau begitu saya permisi bu." Tambahnya dan langsung pergi dari kantor ini.


Reina dengan cepat menekan tombol lift, karena ia harus cepat sampai di lantai atas. Sudah bosan merasakan getaran ponselnya karena di terror asistennya sendiri.


.


.


.


Hendri dan Yusuf langsung keluar dari area pembangunan apartemen yang masih berjalan proses pembangunannya. Untuk mengetahui langsung berapa persen proses yang sudah dilakukan.


"Kita cari makan dulu Hen." Ucap Yusuf setelah mereka memasuki mobil.


"Baik pak."


Hendri langsung menghidupkan mobilnya dan langsung mengemudikannya. Mencari tempat makan yang sudah pasti sesuai dengan selera bosnya.


Setelah mobil masuk ke parkiran Restoran. Hendri dan Yusuf langsung keluar mobil dan langsung masuk ke dalam Restoran.

__ADS_1


Dua lelaki tampan dengan usia yang matang sungguh sangat menghipnotis setiap mata perempuan yang memandang kearah mereka. Namun, tabiat Yusuf dan juga Hendri itu sebelas dua belas. Mereka tidak pernah terkesima saat mendapatkan tatapan dari lawan jenis mereka.


Apa lagi Yusuf. Mau bunuh diri saja jika dia berani merespon perempuan lain. Bisa-bisa ia tidur di luar karena di kunci pintu kamarnya oleh Nissa.


"Aku ke toilet dulu Hen." Ucap Yusuf setelah mereka memesan makan siang untuk mengisi perut yang keroncongan.


"Silahkan pak."


Hendri mengambil ponselnya dari dalam saku jasnya. Ia langsung menempelkan ibu jarinya pada layar ponsel untuk membuka kunci layarnya.


Senyum langsung menghiasi wajah Hendri saat melihat ada yang mengiriminya pesan.


"Dasar bocah ingin tahu terus kemana kita pergi." Gumam Hendri.


Reina : "Mas, pergi kemana sama ayah?"


Hendri : "Keppo."


Reina : "Kasih tahu mas."


Hendri : "Wani piro?"


Reina : "Jalok piro wes."


Hendri : "Kami sedang meliahat pembangunan di Bandung."


Reina : "Belikan aku surabi ya mas."


Hendri : "Siap bos. Apa ada yang lain?"


Reina : "Cukup itu saja mas."


Hendri : "Ok."


Reina : "Terimakasih duda karatan yang baik hati."


Hendri : "Kembali kasih ratu bekicot."


"Ehm..." Deham Yusuf membuayarkan senyum Hendri yang tengah menatap ponselnya.


"Pak." Hendri spontan mematikan layar ponselnya dan langsung memasukkan lagi kedalam jasnya.


"Orang yang spesial? Kok senyum mu mencurigakan." Ucap Yusuf yang langsung duduk di kursinya.


"Bukan pak."


Yusuf jelas tidak percaya dengan raut wajah Hendri tadi. "Jika sudah cocok harus di segerakan. Aku akan antar kamu melamar perempuan pilihan kamu."

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️


__ADS_2