Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 50 PERMAINAN UTAMA


__ADS_3

"Ayo." Ajak Hendri setelah menjatuhkan tubuhnya tepat di samping Reina.


Reina langsung menoleh ke samping membuat tatapan mereka bertemu. Menatap Hendri dengan ekspresi bingungnya.


"Ayo ngapain mas?"


"Bukannya kamu mau lagi?" Goda Hendri dengan ekspresi penuh seringai menggoda iman.


Wajah Reina semakin memerah mendengar ucapan Hendri barusan. Rasanya ingin sembunyi saja kedalam lubang semut andai saja bisa.


"Ta...tapi aku harus apa mas?" Tanya Reina Terbata.


"Jangan sok polos gadis nakal ku." Ucap Hendri sambil menarik salah satu pucuk gundukan yang menggoda.


Godaan Hendri bahkan semakin memperjelas semburat kemerahan di wajah Reina.


"Aku sudah bukan gadis lagi mas." Reina bangun secara perlahan sambil menahan rasa sakit pada inti tubuhnya. "Sssttt..." Reina mendesis menahan sakit saat akan naik ke atas tubuh Hendri.


"Sakit kan sayang." Tutur Hendri mulai cemas sambil duduk dan mengusap pundak Reina. "Kita istirahat dulu saja. Hal seperti ini bisa kita lanjutkan esok. Yang sudah pasti kamu tidak akan kesakitan seperti saat ini."


Reina malah tersenyum menatap wajah cemas Hendri. Bagaimana mungkin ia mau berhenti begitu saja saat kilatan gairah masih tercetak jelas di wajah Hendri.

__ADS_1


Reina langsung menarik tengkuk Hendri agar mereka saling melu*mat. Bermain bibir mungkin akan bisa memberikan sebuah jawaban untuk Hendri bahwa Reina tidak ingin berhenti. Ia masih ingin melanjutkan permintaan tabunya yang terlontar begitu saja.


Meski ingin mengalahkan gairah yang tersulut. Meski ingin menyudahi karena rasa khawatirnya pada sang istri. Tapi kini Hendri sudah kembali aktif dan membalas pagutan dari serangan Reina. Seketika lupa dengan rasa cemasnya karena kini tubuhnya terkobar rasa hasrat yang ingin tersampaikan lagi.


Reina menggenggam benda tumpul yang membuatnya ingin mendapatkan tusukan lagi pada inti tubuhnya. Meremas dan memainkan pusaka yang kini terasa semakin berdiri kokoh dan semakin membesar saja.


Hendri sampai mengerang tertahan dalam aktifnya peperangan lidah yang mereka lakukan. Jantung Hendri bekerja semakin cepat. Sungguh tidak ia sangka jika Reina bisa memberikan trip pada tubuhnya yang kini semakin panas. Suhu AC bahkan sudah tidak terasa.


Reina mendorong Hendri agar lelaki ini kembali merebahkan tubuhnya. Setelah itu, Reina langsung naik keatas tubuh Hendri. Duduk tepat di perut Hendri. Tentu dengan posisi membungkuk, mengunci Hendri. Menguasai tubuh kekar lelaki yang sudah mengambil mahkotanya.


Satu tangan Hendri membelai punggung Reina sedangkan satu tangannya menyusup diantara tubuhnya dan tubuh Reina yang rapat. Tentu sudah jelas tujuan tangan Hendri kemana. Meremas dan mempermainkan salah satu gundukan yang terjangkau dengan tangannya.


Mereka sama sama mengerang tertahan menerima sentuhan yang saling terus mereka salurkan.


Hendri mendongak wajahnya, memberi akses Reina yang kini menyusuri leher Hendri menggunakan bibir dan juga lidahnya.


Rasa aneh dapat di nikmati Reina karena tubuh mereka yang kilat dengan peluh.


Mata Hendri terus terpejam menikmati sentuhan Reina yang semakin turun. Mulutnya terus menganga mengeluarkan suara keenakan.


"Ooowhhh... Re..." Pekik Hendri.

__ADS_1


Reina mengecup pelan, turun sampai ke dada Hendri. Berusaha membuat jejak kepemilikan yang ingin Reina ukir. Sedangkan Tangan Hendri kini hanya bisa mengusap kepala Reina. Karena dua kembar yang dapat ia mainkan sudah tidak terjangkau lagi.


Suara Hendri semakin memenuhi ruangan hotel mereka saat Reina mempermainkan dua pucuk hitam yang menempel pada dada Hendri. Secara bergantian Reina memainkan benda itu dengan bibir dan juga lidahnya.


Kecupan Reina semakin turun dan terus turun secara perlahan setelah ia bermain dengan dada Hendri.


"Aaaahhh... Re..."


Hendri semakin meracau saat kecupan Reina berhenti tepat di perut Hendri. Membuat benda kokoh yang menjulang itu bersentuhan dengan leher Reina. Membuatnya menggeliat tanpa sentuhan yang Reina lakukan seolah ingin di puaskan.


Reina mengangkat wajahnya menatap wajah Hendri yang sudah penuh dengan kabut hasrat.


"Mari kita ke permainan utama." Ucap Reina menatap benda pusaka yang sudah menegangkan otot-otot disana.


Hendri seketika mengerang dengan tubuh menegang saat jari Reina dengan sengaja menyentil pelan miliknya.


"Reina..." Geram Hendri.


Bersambung...


Ah entahlah aku nulis apa sebenarnya πŸ€”πŸ€”πŸ€”

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️


__ADS_2