Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 103 IKHLAS


__ADS_3

Prosesi pemakaman berjalan dengan sangat lancar. Satu persatu orang-orang meninggalkan area pemakaman. Termasuk Jaya, Jumiasih, Zen, Amira, dan Qia yang pulang lebih dulu.


Sejak tadi pagi, langit begitu nampak sendu. Rintik hujan berjatuhan satu persatu. Di lokasi pemakaman yang luas, yang baru berisi lima makam.


Yusuf kembali mengajak Nissa, Adam, Luna untuk membacakan doa sebelum akhirnya mereka pulang ke rumah. Setelah selesai membaca doa, Adam dan Luna lebih dulu pulang.


Yusuf diam terpaku melihat gundukan tanah yang masih nampak basah. Sungguh tidak bisa dipercaya, ia sudah mengantarkan orang tuanya berpulang.


Yusuf menelisik lima gundukan tanah disana. paling ujung ada makam Ningsih Arumi, ibu yang telah melahirkannya ke dunia ini, yang telah berpulang saat ia masih berusia lima tahun. Lalu disampingnya, ada makam ayahnya, Iman Dzuhairi Sucipto. Dan kini tepat di sampingnya ada makam Wati Diningrum. Perempuan yang telah membesarkannya, memberikan kasih sayang dengan seluruh rasa yang dia punya. Bahkan Wati lebih menyayanginya ketimbang Adam. Beruntung Adam tidak mempermasalahkan kasih sayang Wati yang mungkin saja berat sebelah. Lalu tepat di bawah makam ibu kandung dan ayahnya, ada makam istri pertamanya. Perempuan yang telah melahirkan Reina, Erlin Naura Hidayat. Dan makam kecil, Calon anaknya bersama Nissa yang telah gugur.


Lagi, Yusuf menarik nafas dalam. Hanyut dengan pikirannya sendiri.


"Ayy..."


Panggilan Nissa membuyarkan lamunan Yusuf. Apalagi usapan tangan Nissa yang menyentuh lengan tangan Yusuf.


"Ayo kita pulang. Sepertinya akan turun hujan."


Reina sudah mulai menerima, sudah mulai mengerti dengan keadaan yang begitu mengejutkan dirinya. Dirumah sakit, Reina, Hendri, pak Makruf, dan Bu Rumi menyaksikan siaran langsung prosesi pemakaman dari awal hingga akhir.

__ADS_1


"Wes nduk. Seng ikhlas." Bu Rumi mengusap punggung Reina.


"Rere akan belajar ikhlas Bu."


"Saiki seng penting iku dungane cah ayu." Pak Makruf mengusap puncak kepala Reina.


"Iya pak."


"Sekarang waktunya makan. Kamu tadi sudah janjikan, mau makan setelah selesai pemakaman."


"Iya mas."


Setelah semua orang yang hadir ke acara tahlilan sudah pulang semua. Nissa langsung menemani Zen dan Qia agar segera tidur. Bocah kecil itu memang ingin tidur bersama di kamar Qia.


Setelah dua anak itu tertidur, Nissa segera menuju ke kamarnya bersama sang suami.


Nissa menatap punggung Yusuf. Suaminya itu sedang berdiri di pinggiran pagar balkon. Seharian ini, mereka memang tidak banyak bicara karena terlalu sibuk dengan orang yang silih berganti datang ke rumah untuk bela sungkawa.


Nissa sendiri jelas tahu sejak di rumah sakit tadi pagi, Yusuf tidak banyak bicara setelah menyatakan Wati telah tiada.

__ADS_1


Nissa juga mendengar suara Yusuf hanya saat Yusuf berbincang dengan beberapa orang yang datang dan saat mengadzani sebelum Wati di kebumikan.


"Ayy di luar dingin. Ayo masuk."


Yusuf langsung masuk kedalam kamar sesuai ucapan Nissa. Diluar memang angin malam begitu terasa sangat dingin.


"Sudah ikhlas?" tanya Nissa setelah mereka berdua merebahkan tubuh lelah mereka di atas ranjang.


"Insha Allah."


"Tidak ada larangan lelaki menangis jika ingin menangis ayy. Jangan di pendam seorang diri. Sini peluk."


Yusuf langsung menghambur ke pelukan Nissa. Ia menangis pelan untuk melegakan perasaannya sendiri.


"Sudah lega?" Tanya Nissa sambil mengusap air mata yang membasahi wajah rupawan suaminya.


Yusuf terkekeh pelan. "Bukankah ini lucu sayang. Aku sudah tua masih menangis seperti anak kecil?"


"Tidak ada peraturan siapa yang boleh menangis dan siapa yang tidak boleh ayy. Semua orang berhak meluapkan isi hatinya. Agar tidak menyiksa diri sendiri."

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️


__ADS_2