
Sudah sejak tadi Reina masih memandangi ponselnya. Bahkan mukena yang ia pakai belum juga terlepas dari tubuhnya. Jelas wajah Reina menatap keheranan dengan tetap melihat ponselnya.
Hendri : "Ini" (terdapat picture hasil jepretan salah satu dari beberapa pelamar kerja).
Pesan chat yang sangat singkat dengan foto yang menurut Hendri paling bagus diantara beberapa foto yang kemarin Reina kirim via email.
"Hanya seperti ini saja responnya." Gumam Reina mengandung kekesalan tanpa ia sadari. "Apa mas Hendri menghindari aku atau bagaimana?"
Memilih mengabaikan kegundahannya, Reina lebih memilih untuk cepat menghubungi Gita.
Reina : "Halo mbak Git."
Gita : "Halo, selamat pagi bu."
Reina : "Pagi. Mbak tolong mbak hubungi siapa yang memiliki hasil jepretan yang aku maksud ya. fotonya aku kirim setelah ini."
Gita : "Baik bu."
Reina : "Hari ini juga mbak urus pemotretan. Aku nggak bisa ikut ke lokasi, karena pagi dan siang ada meeting penting mbak. Usahakan sebelum sore hasil sudah jadi ya mbak. Biar sore itu juga kita selesaikan masalah kita."
Gita : "Iya ibu, baik."
Reina langsung melepas mukenanya yang masih ia pakai. Setelah Reina lipat, mukena ia letakkan di atas ranjang begitu saja. Reina langsung segera turun untuk mencari adiknya.
"Pagi nda." Sapa Reina saat melihat Nissa sedang sibuk membuat pudding.
"Pagi kak."
Reina mengambil air mineral untuk ia teguk. "Adek kemana nda?"
"Biasalah kak, joging sama ayah, kemana lagi."
"Ih dua lelaki itu, kenapa nggak pernah ajakin Rere juga. siapa tahu cuci mata pagi-pagi bisa ketiban jodoh." Ngedumel Reina pelan. Namun Nissa masih bisa mendengarnya.
"Lagian kebiasaan kakak juga sih setiap habis subuh pasti lanjut tidur." Ucap Nissa fakta.
"Namanya juga ngantuk nda. Tapi tadi Rere nggak tidur lagi kok nda. Tapi tetap saja nggak ada yang ajak Rere joging." Rajuk Reina sambil cemberut.
"Lagian siapa yang tahu kalau kakak nggak tidur. Kan kakak ngerem di dalam kamar. Coba tadi selesai solat langsung keluar kamar." Ucap Nissa sambil meneruskan aktifitasnya.
__ADS_1
"Ya Tuhan, kenapa tidak ada yang membela gadis secantik Rere." Adu Reina pada sang pencipta. Suara Reina bahkan dibuat semenyedihkan mungkin berharap ada yang iba.
Membuat para ART yang ada di sana tersenyum mendengar ucapan Reina barusan.
.
.
.
Sudah dari pagi sampai siang, Reina disibukkan dengan berbagai macam pekerjaan. Disaat meeting sedari tadi, ia dan Hendri bertemu.
Wajar bertemu, karena Hendri yang mewakili Yusuf untuk pertemuan penting dengan tim produksi. Bekerja dalam ruangan yang sama hanya sesekali pandangan Reina dan Hendri saling bertatap.
Hal itu benar-benar membuat Reina kesal sendiri. Apalagi mengingat pesan chat Hendri yang sungguh singkat tanpa memberikan penjelasan dari contoh foto yang menurutnya paling tepat. Padahal biasanya Hendri selalu memberi arahan sekalipun keputusan Reina sudah tepat.
"Mas aku mau ngomong." Ucap Reina setelah keluar dari ruangan meeting.
Reina bahkan tanpa sadar menggenggam pergelangan tangan Hendri untuk menghentikan langkah kaki lelaki itu. Tanpa menyadari masih banyak pasang mata yang menatap kearah mereka.
"Tolong berhati-hati menyentuh lelaki ibu Reina." Ucap Hendri formal. Berusaha menyadarkan Reina agar cepat melepaskan tangannya.
"Maaf." Ucap Reina sambil melepaskan genggaman tangannya.
"Aku masih banyak pekerjaan. Ada apa?"
Bahkan kini suara Hendri terdengar datar dan dingin seperti tengah menjaga jarak. Atau mungkin Reina memiliki kesalahan sehingga Hendri bersikap demikian.
"Apa aku punya salah sama mas Hen? Kenapa sejak kemarin mas terasa sedang menjauhi aku. Kalau aku ada salah tolong bilang, jangan seperti ini. Membuat aku jadi kebingungan memikirkan dimana letak kesalahan aku sendiri." Tutur Reina jujur dengan apa yang membuatnya gundah sejak kemarin.
Jujur saja, Hendri juga sangat berat mengacuhkan gadis didepannya ini. Bukan hanya karena ia yang tertarik dengan anak bosnya ini. Tapi juga karena Hendri sadar, jika perempuan ini tergantung dengannya. Selalu menceritakan masalah apapun dengannya. Terutama untuk pekerjaannya sendiri.
Hendri jadi merasa egois karena sudah bersikap seperti ini. Biarlah dia menahan perasaan yang jelas sulit untuk berbalas. Sekalipun perasaannya terbalas, ia juga tetap tidaklah sebanding jika berdampingan dengan perempuan yang terus mengusik hatinya.
Hendri menghela nafas. Mencoba memahami maunya Reina saat ini. "Aku hanya banyak pekerjaan Re."
Reina langsung tersenyum saat nada suara Hendri sudah berubah seperti biasanya. "Jadi mas nggak marah dengan aku?"
"Memangnya untuk alasan apa aku marah dengan mu?"
__ADS_1
"Syukurlah." Ucap Reina lega.
Hendri tersenyum melihat raut wajah Reina yang kini sudah berseri. "Lain kali jangan sembarang menyentuh ku saat banyak kariyawan mengerti."
"Aw..." Reina mengusap keningnya yang mendapat sentilan tangan Hendri. "Memangnya kenapa?"
Entah Reina ini jenis perempuan seperti apa. Bisa-bisanya Reina tidak peka dengan Hendri yang selalu menjelaskan tentang status mereka.
"Orang akan menatap salah jika kamu menyentuh sembarang lelaki Re." Tutur Hendri. Berharap Reina paham jika ia melihat Reina sebagai seorang perempuan. Lelaki yang tertarik padanya. Bukan tentang orang kepercayaan ayahnya yang akan terus membibingnya dalam mengambil keputusan setiap masalah yang di hadapinya.
"Orang juga tahu mas orang hebat yang menjadi orang kepercayaan ayah dan sudah seperti saudara kan." Tutur Reina tanpa memperhatikan raut wajah Hendri.
Orang yang dapat membaca isi hati Reina pasti akan tahu jika didasar dirinya ada perasaan yang sama sekali belum ia gugah sehingga tidak menyadari perasaannya sendiri.
Sedangkan Hendri tidak berfikir sejauh itu. Hendri menganggap ketergantuangan Reina padanya, hanya karena Reina butuh pendapatnya saja. Tidak lebih dan tidak kurang.
"Kamu benar." Ucap Hendri pelan. Sadar diri mungkin diperlukan bagi Hendri saat ini, karena sesuai penilaiannya. Reina menganggapnya seperti saudara saja.
Jika anggapan Reina saudara Adam dan hawa mungkin Hendri akan percaya diri dan memberanikan diri mendekati Reina sekaligus meminta izin Yusuf untuk meminta anaknya. Masalah hasilnya bagaimana itu tergantung jawaban Yusuf nanti. Tapi Reina menganggapnya Saudara seolah mereka ada hubungan darah.
"Mas masih ada pekerjaan lagi? aku mau kasih tahu hasil jepretan dua fotografer pilihan mas semalam."
"Aku keruangan ku dulu ya, ada berkas yang harus segera aku periksa dan aku berikan ke bos kita. Setelah itu aku pasti keruangan mu."
"Aku tunggu." Ucap Reina yang langsung berlalu meninggalkan Hendri.
Tak lama, mungkin hanya beberapa langkah saja Reina kembali lagi mendekati Hendri.
"Kenapa?" Tanya Hendri.
"Kita kan menggunakan lift yang sama untuk menuju ruangan kita mas. Ayo." Ajak Reina.
Bagaimana mungkin perasaan Hendri tidak tumbuh begitu saja, dan mengharapkan Reina lebih dari ini. Jika saat ini saja dengan begitu saja, Reina melingkarkan tanganya pada lengan Hendri lalu membawa lelaki itu untuk masuk lift, menuju ruang kerja mereka yang berbeda hanya satu lantai.
Bersambung...
Sabar dulu ya🙏 ikuti alurnya dulu karna tokohnya belum aku keluarkan semua 😊 biar greget 🤭 semoga tidak membosankan🙏
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️
__ADS_1