
Setelah mengisi perut yang butuh asupan nutrisi. Reina mengajak semua orang menuju taman kota. Terutama ketiga adiknya. Apa lagi besok Qia dan Amira sudah harus kembali ke Malang.
Nggak melulu main di mall atau tempat mewah lainnya. Tentu Reina juga menyukai tempat yang sederhana dengan keindahan yang ada. Tempat yang biasanya menjadi pilihan orang untuk menghilangkan penat. Atau sekedar untuk menyenangkan keluarga.
Sepertinya, selera Reina sudah seperti Nissa. Hal apapun yang di sukai Nissa kini juga di sukai Reina. Ibu sambung yang telah mencuri hati Reina dengan caranya sendiri. Memberikan kasih sayang secara utuh tanpa membedakan antara dirinya dan Zen.
Nissa dan Luna duduk berdampingan sambil nyeruput es jeruk yang ada di dalam kemasan gelas plastik bening. Mereka berdua asik menatap Reina, Hendri, Zen, Qia, dan Amira yang nampak seru bermain.
"Kita ngapain sih?"
"Nonton." Jawab Nissa asal. "Kamu tahu Lun. Sejak dulu hingga sekarang, Zen lebih dekat dengan Rere. Meskipun Rere pernah jauh dari kita saat di luar negeri, tapi dengan sangat mudahnya mereka berdua lengket."
"Itu karena adiknya hanya Zen. Dan Zen juga hanya punya satu kakak. Coba kamu kasih satu lagi mbak ipar, Biar Rere dan Zen punya tambahan adik."
"Kamu seperti nggak tahu om Yusuf saja."
"Mas Yusuf begitu juga karena takut kehilangan kamu."
"Aku tahu Lun. Maka dari itu aku tidak pernah mengajaknya memiliki anak lagi, meski sebenarnya aku sangat ingin. Namun sejujurnya aku juga terkadang takut jika memikirkan hal itu." Nissa menghela nafasnya. "Aku ingin melihat mereka tumbuh besar dan memberikan aku cucu."
"Gemoy banget pasti kalau nanti Rere sama mas Hen punya anak. Kita bakal jadi nenek nenek cantik." Tutur Luna terkekeh geli.
"Ahhh... Aku jadi berharap Rere dan mas Hen kasih kita cucu yang banyak. Aku sangat ingin mengurus bayi." Tutur Nissa. Bahkan ia sudah membayangkan akan sangat mengurus Reina dengan sangat baik saat Reina mengandung calon cucunya.
"Tapi apa Rere akan meninggalkan rumah." Batin Nissa menatap sendu Reina yang nampak tergelak tawa bahagia disana. Nissa sepenuhnya sadar karena kini Reina sudah menjadi seorang istri, yang sudah pasti akan mengikuti kemana suaminya pergi. "Rumah pasti akan sangat sepi." Tanpa Luna ketahui, Nissa menyeka air mata yang menggenang di sudut matanya. Mengingat bagaimana ributnya Reina dan Zen saat ada dirumah.
"Aamiin..."
*
"Kakak mau minum dulu dek." Ucap Reina yang kini merasa kehausan.
__ADS_1
"Zen juga haus kak." Kemana Reina pergi ini bocah ngikut terus.
"Ih kamu mah dek ikut-ikutan."
"Namanya juga haus kakak bekicot." Ejek Zen.
"Ohhh... dasar kecebong." Gemes Reina sambil mengacak-acak rambut Zen.
"Kakak stop. Nanti gantengnya Zen berkurang kalau rambut Zen acak-acakan." Zen yang memiliki tingkat kepercayaan diri level akut sejak dini, tentu sangat menjaga penampilannya agar tetap ganteng tak tertandingi.
Reina tentu tersenyum mendengar celotehan Zen yang memang nyata. Ia menarik pipi Zen Gemes. "Mas haus nggak?"
"Enggak Re."
Zen mengusap kedua pipinya yang selalu jadi korban kakaknya. "Tadi rambut sekarang pipi. Untung Zen sayang." Ngedumel Zen menatap Reina dan Hendri bergantian.
"Qia, Amira haus nggak?"
"Ayo dek kita ke nda dan tante." Reina sudah mengulurkan tangannya agar mereka saling bergandengan.
Zen menggelengkan kepalanya. "Kita lari kak. Dulu-duluan sampai sana." Tantang Zen sambil menunjuk arah dimana Nissa dan Luna duduk nonton mereka.
"Siapa takut." Reina mana mungkin menolak dengan tantangan adiknya yang nggak seberapa menurutnya.
"Satu... dua... ti... ga..." Hitung Zen yang langsung lari sekuat tenaga agar tidak kalah dari kakaknya.
"Aw..." Ringis Reina yang baru dua langka lari. Menyadari bahwa pangkal tubuhnya belum mengizinkannya untuk bergerak leluasa. Rasanya masih nyeri-nyeri linu untuk bertingkah bebas.
"Lari kak. Bukannya jalan kaya bekicot." Teriak Zen kuat karena merasa tidak ada tantangan jika Reina tidak mengejarnya.
"Dasar kecebong." Pekik Reina tertahan. "Sudah kamu duluan saja dek." Teriak Reina membiarkan adiknya menang untuk kali ini.
__ADS_1
"Kakak ini, di ajak lari dulu-duluan kok malah ngesot." Cibir Zen saat Reina baru sampai. Tapi tangannya mengulurkan es jeruk pada Reina.
"Dipikir suster ngesot kali. Kakak tadi kan jalan bukan ngesot dek." Reina menyeruput es sebanyak banyaknya karena rasa haus yang melanda.
"Zen tadi ngajak lari bukan jalan kakak." Debat Zen tidak terima karena dia menang cuma-cuma.
"Kakak nggak kuat lari."
"Tumben." Zen menyilang kedua tangannya di depan dada. "Kenapa?"
"Karena sakit kalau buat lari kencang." Reina kembali nyedot es jeruk.
Wajah Zen tentu langsung berubah khawatir. "Kakak sakit? Dimananya yang sakit kak? ayo Zen antar kakak berobat biar nggak sakit lagi."
"Eh..." Reina langsung menatap wajah Zen yang sudah khawatir.
Sedangkan Nissa dan Luna menahan kekehan mereka yang ingin terbahak saat melihat wajah panik Reina. Nampak jelas bingung mau menjelaskan bagaimana.
"Zen nggak mau kakak sakit."
"Uluh-uluh adik kakak satu ini. Selain tengil dan ngeselin tapi perhatian banget sama kakak. Kalau adek sudah besar, sudah bujang. Pasti banyak cewek yang naksir adeknya kakak satu ini." Puji Reina sambil mengusap pucuk kepala Zen. "Duh jadi nggak sabar perempuan mana yang akan dapatkan adek yang ganteng ini."
"Kakak..." Peringatan Nissa. Bisa-bisanya Reina ngomong ngalor ngidul disaat Zen masih bocah seperti ini. Membuat Reina jadi cengengesan di tatap Nissa.
"Kakak tadi hanya mengizinkan Zen agar menang. Sesekali kakak baik hati sama Zen."
Bersambung...
Apa ada perempuan yang mau sama Zen yang tingkahnya saja model begitu πππ ku tunggu bujangmu Zen π€π€π€
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan π₯° kasih like dan komennya π tab favorit juga yaβ€οΈ
__ADS_1