Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 87 ISTRI NAKAL


__ADS_3

"Loh... loh... loh... ini kenapa kok gendong-gendongan?" tanya Yusuf saat bertemu Hendri.


"Rere kesandung yah." Jawab Hendri.


"Lah kesandung opo?" Seketika wajah Yusuf berubah ikut khawatir. Apalagi anaknya di gendong, berarti kan jatuhnya parah.


"Aduh ayah kok malah serius banget?" batin Reina sambil mengeratkan kedua tangannya yang melingkar di leher Hendri.


"Oh iya. Kamu kesandung apa Re?" tanya Hendri yang baru ingat kalau ia belum tanya hal itu ke istrinya.


Yusuf hanya tercengang saat anak perempuannya memainkan mata memberinya kode, bahwa ia sedang sandiwara.


"Aduh sakit masss..." Ringis Reina mendramatisir. "Cepat obati aku mas."


"Iya... iya... dimana kotak P3K nya?"


"Di kamar kita ada mas."


Hendri segera melangkah menuju lift. Sedangkan Reina melempar kecupan jauh untuk sang ayah karena sudah suka rela kompromi dengannya.


"Heh. Anak siapa dia? Bisa-bisanya anak itu pintar modus. Ckckck keturunan siapa coba? Seharusnya sejak dulu anak itu aku jadikan artis, pasti terkenal." Gerutu Yusuf.


"Kakak..." Teriak Zen yang baru memasuki rumah.


"Heeehhh... cil mau kemana kamu bocil?" Yusuf menghentikan langkah kecil Zen sambil menarik kerah kaos Zen bagian belakang.


"Ayah kak Re kesandung. Zen mau bantu mas Hen obati Kak Re." Berontak Zen. Sambil lari di tempat berharap ayahnya melepaskan cengkraman tangannya.


"Biarin Mas Hen saja yang obati Kak Re. Itu kucing sama kelinci belum Zen masukkan ke kandang." Perintah Yusuf agar Zen tanggung jawab.


"Baik ayah." Zen sudah tidak melawan lagi.


.


.


.


Hendri langsung mendudukkan Reina pada tepi ranjang. Ia langsung mengambil kotak P3K untuk segera mengobati Reina.


"Aduh mas sakit..." Keluh Reina manja sambil memijit kakinya.


"Sebentar aku obati." Ucap Hendri. Ia duduk jongkok didepan Reina sambil menaikkan celana panjang Reina. "Nggak bisa di naikkan lagi ini Re?" tanya Hendri. Karena celana Reina berhenti di bagian betis.


"Mentok mas. Terus gimana? Sakit banget kaki aku. Takut infeksi mas kalau nggak segera di obati."

__ADS_1


"Berarti ini celananya harus di lepas Re."


Ide nakal sudah berkeliaran di otak Reina. "Ada untungnya juga aku tadi pake celana ini." Batin Reina sambil terkekeh di dalam hati.


"Iya mas. Bantu aku lepas celananya ya."


Hendri yang memang khawatir, dan tidak menyadari wajah Reina yang sedang akting, tentu saja Hendri langsung membantu Reina melepaskan celana panjangnya.


"Tuh mas lecet kan?" tunjuk Reina pada lututnya.


Hendri bernafas lega. "Lecet hanya sedikit seperti ini kamu sampai bikin aku khawatir Re." Hendri sambil memberikan obat merah pada lecet di kulit Reina yang tidak seberapa.


"Tapi ini lecet mas. Kaki aku juga jangan-jangan terkilir deh mas." Untung Reina mendapat alasan yang bisa ia gunakan selanjutnya.


"Serius sayang?"


Reina mengangguk sambil memijat kakinya. "Aw... sakit ini mas."


Hendri segera merapihkan kembali kotak P3K dan mengembalikan ke tempatnya di simpan.


Hendri langsung membantu Reina mengubah posisi duduknya, lalu kedua kaki Reina ia letakkan diatas pahanya. Secara perlahan Hendri memberitahu pijatan pada kaki Reina.


Dengan senyum seringai Reina, ia sudah memikirkan banyak hal untuk meluluhkan Hendri.


Hendri menelan salivanya kasar, saat kedua matanya menatap kedua kaki Reina hingga menjalar keatas. kedua pa*ha mulus seolah melambai, memanggil Hendri untuk segera datang.


Hendri menggelengkan kepalanya untuk mengusir godaan setan yang terkutuk.


"Bisa-bisanya kamu berpikir mesum saat istri mu kesakitan Hen." Gumamnya dalam Hati.


Tiba-tiba saja Hendri terkejut saat Reina bergerak cepat pindah duduk di pangkuannya.


"Re..."


"Mas marah sama aku?" Reina mengalungkan kedua tangannya pada leher Hendri.


"Siapa yang marah. Kaki kamu masih sakit, sini aku pijat."


Reina terkekeh. "Sepertinya aku akan jadi orang yang sangat terkenal kalau aku jadi artis."


"Jadi sejak tadi kamu bohong?"


"Sedikit."


"Aku bahkan sangat khawatir."

__ADS_1


"Suruh siapa diamkan aku. Aku salah apa mas." Hendri tak menjawab dan hanya terpaku menatap Reina. "Mas cemburu dengan Kak Arya?"


Mendengar nama barusan. Hendri langsung mencium bi*bir Reina dengan sangat menuntut. Walau terasa kasar, namun Reina tidak mempermasalahkan hal itu.


"Aku harus membersihkan bi*bir mu setelah kamu menyebut nama lelaki lain di depan ku." Ucap Hendri setelah melepaskan serangannya. Jari Hendri mengusap bibir Reina yang memerah.


Reina masih mengatur nafasnya agar cepat kembali normal. "Itu hanya masa lalu mas. Mungkin aku masuk kategori perempuan yang mudah jatuh cinta. Tapi aku akan lebih mencintai orang yang sangat mencintai aku. Aku nggak mungkin melakukan hal bodoh mas. Apalagi sekarang aku sudah punya mas Hen."


"Tapi kenapa kamu tadi tersenyum saat kalian bertemu?"


"Aku tersenyum karena aku merasa bersyukur. Diriku tidak melakukan hal bodoh sampai cinta buta pada lelaki yang tidak mencintai aku mas. Rasanya juga aku tadi ingin mencongkel matanya, karena dia menatap nda seperti tadi. Mau melakukan hal itu, aku baru ingat kalau kita belum punya anak." Reina sambil melepas kaosnya sendiri.


"Kamu mau ngapain Re?" Hendri sedikit gugup dan terkejut dengan setiap keberanian istrinya.


"Menurut mas?" tanya Reina setelah ia memberikan kecupan di dagu Hendri.


"Astagfirullah sayang. Aku benar-benar pusing tujuh keliling dengan kenakalan tak terduga mu."


"Makannya biar nggak pusing lagi, aku kasih obat mujarab penawar pusing." Reina langsung mendorong Hendri agar posisinya jadi tertidur.


Hendri di buat kalang kabut saat Reina pindah duduk di atas perutnya. Lalu kedua tangan Reina mengunci pergerakannya.


"Istri nakal." Ucap Hendri sambil menarik ikat rambut yang mengekang rambut panjang Reina agar tergerai indah.


"Aku bisa kalem kalau mas nggak suka aku yang seperti ini." Tangan Reina sudah bergerak menjelajah.


"Aku lebih suka kamu yang ini. Aktif dan produktif, sangat menguji adrenalin."


Baru juga keduanya hendak menarungkan bibir mereka. Tiba-tiba kedua telinga mereka mendengar suara adzan. Membuat Hendri dan Reina terkekeh.


"Maghrib sayang."


"Aku tahu. Kita main sebentar yuk mas."


"Double aksi nanti malam saja ya, nggak enak kalau hanya sebentar."


"Maaasss..." Rengek Reina saat Hendri menurunkan tubuhnya.


"Nanti malam ya."


"Awas saja kalau nanti malam aku ditinggal tidur seperti tadi siang." Ancam Reina.


"Kita begadang nanti malam ok."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2