
Semua orang sudah berkumpul diruang makan. Pagi ini keceriaan dan kebahagiaan nampak jelas terlihat dari raut wajah semua orang. Belum lagi celoteh Zen dan Qia yang terus meramaikan ruangan, karena memang dua bocah itu yang paling muda diantara semua orang disana.
"Zen, kalau sudah selesai makannya, ajak mbak Amira sama Qia lihat kelinci ya. sama bi Darmi." Tutur Nissa saat melihat tiga bocah itu telah menghabiskan menu sarapannya.
"Baik nda. Ayo mbak Mira, Qia. Kita lihat hewan kesayangan Zen." Ajaknya.
Tiga bocah beda usia itu langsung turun dari kursi untuk menuju halaman belakang. Diikuti bi Darmi yang akan menjaga mereka.
"Setelah semuanya sarapan. Ayo kita kumpul semua di ruang keluarga. Ada yang perlu Nissa omongin."
"Ada hal penting nda?" Tanya Yusuf setelah meneguk air minumnya.
Nissa mengangguk. "Sangat." Nissa menatap Reina dan Hendri bergantian.
Hendri langsung beranjak saat ponselnya berdering. "Maaf saya permisi dulu."
Hampir sepuluh menit Hendri berbincang dengan orang yang menelponnya. Hendri langsung menuju ruang keluarga untuk berpamitan dengan Yusuf.
"Maaf saya mengganggu. Pak saya mau permisi lebih dulu untuk segera menemui klien hari ini."
"Iya. Salamkan permintaan maaf ku karena tidak bisa datang secara langsung ya Hen."
"Baik pak."
"Rere kedapur sebentar." Pamitnya. Padahal ia membuntuti langkah Hendri yang menuju garasi mobil. "Mas." Panggil Reina sambil menggenggam pergelangan tangan Hendri agar lelaki itu berhenti melangkah.
"Eh Re. Kenapa menyusul kesini. Bagaimana kalau ada yang lihat?"
"Kita seperti orang yang sedang berselingkuh tahu nggak mas."
"Aku juga merasa begitu. Oh iya, apa maksud Nissa untuk berkumpul semua mau membahas hubunganmu dengan Bayu?"
Reina mengangguk. "Aku sudah tidak bisa menunda lagi kan mas?"
"Tapi sekarang aku harus meeting Re. bagaimana aku harus ikut menjelaskan?" Dilema sudah Hendri. Tugas Negara dan urusan pribadinya menjadi hal yang sangat penting.
Tangan Reina dan Hendri saling menggenggam. Saling mengisi diantara sela-sela jari. "Aku belum ingin mengatakan tentang kita sekarang."
__ADS_1
"Lalu?"
"Aku harus menyelesaikan urusan ku dengan Bayu. Setelah semua selesai, baru kita mengakui dan mengatakan langsung keseluruh keluarga ku dan keluarga mas tentang hubungan kita ini."
"Sepertinya lebih baik seperti ini. Kalau begitu biarkan aku pergi, karena aku harus bekerja dahulu." Ucap Hendri sambil mengangkat tangan mereka yang masih bergenggam tangan. Tanpa perduli dengan beberapa pegawai yang lalulalang membersihkan halaman.
Reina tersenyum melihat penyatuan tangan mereka.
"Kasih aku ciuman mas." Frontal sekali Reina meminta hal seperti ini.
"Mana boleh."
"Kenapa nggak boleh. Semalam saja mas sudah seperti alat vakum, lihat ini bibir aku sampai seperti ini." Ucapnya manja sambil menyebikkan bibir bawah Reina yang jelas nampak membengkak.
Hendri benar-benar dibuat malu sendiri. Bahkan telinganya sudah memerah jika saja Reina melihatnya.
"Semalam itu karena aku sudah tidak bisa mengontrol diri aku. Jadi sekarang kita harus sama-sama menahan hal itu sebelam kita menikah nanti."
"Cieee... yang ingin cepat menikah." Goda Reina.
Hendri menghela nafasnya. Ingin menanggapi ejekan Reina namun ia harus segera bekerja. "Re. aku benar-benar sudah harus pergi sekarang."
"Ya sudah ayo sini." Hendri menantang dan langsung mendekatkan wajahnya pada Reina.
"Hyaaa... kabuuurrr..." Teriak Reina yang langsung melepaskan genggaman tangannya dan lari cepat-cepat.
Hendri terkekeh pelan. Karena hal itu terlihat lucu bagi Hendri. Pagi ini ia sudah dibuat tertawa dengan sikap kekanakan Reina. Sikap manja yang sangat ia sukai dari anak bosnya tersebut.
"Kalau tahu kamu bisa menerimaku, sudah sejak dulu aku pasti akan berusaha memintamu dari pak Yusuf Re." Batin Hendri. Ia langsung cepat melangkah menuju mobilnya. Menyelesaikan tugas yang harus ia urus secepat mungkin.
Diruang keluarga. Semua orang sudah nampak serius menunggu Nissa membicarakan hal yang katanya sangat penting.
Nissa menarik nafas dalam untuk memulai dan mengungkap semua. Apa yang terjadi diantara anak sambungnya dan juga sekertaris suaminya itu.
"Re, mau nda yang bicara atau Rere sendiri yang mengatakan pada semua orang?"
Ucapan Nissa barusan membuat semua orang lain bingung dan juga penasaran. Semua orang jadi menatap Nissa lalu Reina secara bergantian.
__ADS_1
Reina menarik nafas dalam. Ia yang membuat pilihan untuk dirinya sendiri namun kini, dia jugalah yang ingin mengakhiri apa yang menurutnya tidak sesuai dengan kata hatinya.
Mau memaksa diri pun Reina tidak bisa lagi. Apalagi dengan suka rela dirinya mau disentuh lelaki yang jelah dengan sadar itu sebuah kesalahan.
Reina bahkan sampai menghapus rekaman cctv yang ada di bagian ruang makan. Entah amukan seperti apa yang akan ia terima dari Yusuf jika tahu tentang semua itu.
Reina menatap dalam satu persatu wajah semua orang yang sangat ia sayangi. Reina berharap apa yang menjadi keputusannya bisa diterima dengan besar hati oleh semua keluarga.
"Rere ingin minta maaf. Jika kejujuran dan keputusan Rere ini akan membuat semua yang ada disini kecewa dan marah pada Rere."
Mendengar ucapan pembuka dari Reina membuat semua orang semakin penasaran. Kecuali Nissa tentunya.
"Ayah, nda, oma, mbah kung, mbah uty, om dan tante." Reina menatap dalam satu persatu orang yang ada di ruangan keluarga itu.
"Rere tidak bisa melanjutkan pernikahan Rere dengan bayu." Ucap Reina pelan lalu menunduk dalam. Siap menerima pertanyaan introgasi dan mungkin juga kemarahan secara bersamaan.
Jederrrr...
Bagai di sambar petir di malam hari namun ini masih pagi. Tentu semua orang nampak terkejut dengan ucapan Reina barusan. Semua orang terdiam, nampak sangat syok dengan ucapan Reina.
"Kalian ada masalah apa Re, ayo bicara baik-baik sebelum mengambil keputusan yang seperti ini." Tutur Wati.
"Pernikahan tinggal beberapa hari lagi Re, ada masalah apa sebenarnya?" Tanya Jaya.
Reina melirik ayahnya yang nampak diam belum memberikan tanggapan apalagi pertanyaan.
"Ada apa nak. Coba ceritakan dengan jelas pada kami semua." Tutur Jumiasih. Ia sadar bahwa Reina belum menjelaskan semua yang ingin disampaikan.
Reina mengangkat wajahnya. Melirik takut ekspresi Yusuf yang tak terbaca saat ini.
"Rere tidak bisa menikah dengan orang yang hanya mencintai Rere saja. Tanpa mencintai keluarga Rere yang sangat penting dalam hidup Rere."
Setelah dipikir secara matang, memang itu alasan utama Reina yang sempat buta selama menjalin kasih dengan Bayu. Sedangkan urusan Hendri adalah alasan selanjutnya.
Yusuf memejamkan matanya. Sungguh tidak percaya dengan anaknya yang kini peka dengan apa yang ia rasakan. Yusuf sengaja diam selama ini, karena ia menjaga perasaan anaknya yang memang terlihat menyukai Bayu.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan π₯° kasih like dan komennya π tab favorit juga ya β€οΈ