
"Tidak ada peraturan siapa yang boleh menangis dan siapa yang tidak boleh ayy. Semua orang berhak meluapkan isi hatinya. Agar tidak menyiksa diri sendiri."
"Sejujurnya aku menyesal tidak mengikuti naluri sendiri. Aku pikir, aku akan mengajak mu dan Zen pulang ke Malang setelah beberapa urusan selesai, sekalian menunggu libur sekolah Zen. Tapi ternyata jalannya seperti ini." Yusuf menghela nafasnya. "Bahkan bunda tidak mengatakan padaku dan Adam kalau memang satu bulan terakhir ini sudah merasakan sakit jantung."
"Bunda pasti berpikir tidak ingin membuat anak-anaknya khawatir."
Yusuf diam memandang wajah Nissa lekat. "Sayang."
"Iya."
"Kalau nanti aku pergi lebih dulu, apa kamu mau menikah lagi?"
Spontan Nissa langsung memukul dada Yusuf. "Ayy ngomong apa sih. Setiap hari aku berdoa agar kita selalu sehat, panjang umur, hidup bersama sampai tua. Zen masih kecil ayy."
"Tapi kan kita tidak pernah tahu kapan giliran kita sayang. Aku ini sudah mau kepala lima sayang."
Jika tadi Yusuf yang menangis, sekarang Nissa lah yang sudah tersedu-sedu karena pertanyaan Yusuf.
"Loh, kok malah cengeng begini?" Yusuf mengusap wajah Nissa yang mulai basah.
"Aku tahu, kita tidak tahu sampai kapan umur kita ayy. Tapi jangan pernah bahas seperti ini lagi." Nissa mengusap wajahnya sendiri. "Rere sudah bahagia dengan mas Hendri. Tapi anak kita yang satunya masih kecil ayy. Aku pasti akan terus berdoa, disaat giliran kita nanti, Setidaknya Zen sudah bahagia dengan pasangan hidupnya ayy."
(Ayo Zen kamu cepet bujang terus nikah π biar kita nangis Bombay lagi π£π« duh gak sabar istri model apa nanti buat si Zen π€)
.
.
__ADS_1
.
Satu minggu sudah berlalu, Reina sudah di bawa pulang semenjak tiga hari yang lalu. Wajahnya kini sudah nampak lebih bersinar. Perlahan-lahan, kesedihan di wajah Reina mulai sirna.
"Kok belum datang juga ya Mas." Sejak tadi Reina hanya mondar-mandir di depan Hendri. Sudah satu jam mereka sampai dirumah Yusuf. Tentu mereka menunggu kepulangan orang-orang kesayangan dari kota Malang.
"Duduk sini Sayang. Capek nanti kamu." Hendri pusing sendiri karena Reina terus saja jalan kesan kemari. "Kamu baru pulang dari rumah sakit loh sayang."
Mendengar hal itu, Reina tentu langsung duduk di samping Hendri.
"Nggak sabar aku Mas." Reina menggigit jari telunjuknya sambil membayangkan sesuatu.
Tak lama kemudian, suara mobil terdengar berhenti didepan rumah.
"Itu pasti mas." Pekik Reina semangat.
"Sayang."
Reina langsung cengengesan melihat tatapan Hendri yang nampak memperingatinya.
"Aku nggak akan pecicilan mas."
"Assalamualaikum." Salam Yusuf, Nissa, dan Zen bersamaan.
"Waalaikumsalam." Jawab Hendri dan Reina serta beberapa ART disana.
"Kakaaakkk..." Teriak Zen heboh sambil lari menghampiri Reina dan Hendri.
__ADS_1
"Adeeekkk..." Reina ikutan heboh juga. Mereka langsung berpeluk. "Kangennya sama anak ganteng ini."
Selama mereka berjauhan, tidak pernah sekalipun Reina dan Zen tidak saling menyapa melalui video call. Apa lagi Reina sedang tidak bekerja, maka saat dirumah ia habiskan untuk menelpon Zen dan kedua adiknya yang lain.
Hendri dengan cepat mengambil alih Zen saat Reina akan menggendong Zen.
"Kata ayah sama nda, kakak nggak boleh gendong-gendong Zen lagi."
Reina menatap Hendri sejenak. "Tapi kakak kangen."
"Kan sudah berpelukan."
"Ada apa to ini?" tanya Yusuf yang baru saja menghampiri anaknya yang sudah membuat keributan.
"Mana Yah." Reina sudah menadahkan kedua tangannya meminta sesuatu.
"Salim nak."
"Oh iya." Reina langsung bersalaman dengan Yusuf dan Nissa berganti. Begitu juga dengan Hendri.
"Ini pesanan kakak." Ucap Nissa sambil memberikan paper bag pesanan Reina.
"Akhirnyaaa... Al CI RO kuuu..." Ucap Reina kegirangan.
Bersambung...
ngomongin aiciro jadi inget Matosπ€π€π€
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan π₯° kasih like dan komennya π tab favorit juga ya β€οΈ