
"Zen mau apa tadi?" Tanya Hendri yang masih betah menggendong bocah tampan itu.
Setelah berkenalan dengan Bayu, Hendri lebih memilih menjauhi Reina dan Bayu. Walau pada kenyataannya mereka berdua masih mengikuti kemana Hendri dan Zen pergi.
Walau berat hati Hendri berlaku seperti sekarang ini. Tapi Hendri cukup sadar diri sekarang. Apalagi dengan sangat jelas, Reina hanya menganggapnya seperti saudara.
"Zen mau itu om." Tunjuk Zen ada penjual cilok bakar.
"Hai bos kecil, ini terakhir kalinya kita beli makanan tanpa di ketahui ayah dan nda ya." Peringatan Hendri.
"Tapi kata kak Re tadi kalau sama om nggak apa-apa."
"Nggak boleh bos. Kalau mau makanan apapun Zen harus izin sama nda atau ayah. Mengerti."
Zen mengangguk. "Mengerti om."
Setelah membeli cilok dan minuman cup dingin. Zen dengan lahap menghabiskan apa yang telah dibelikan Hendri untuknya. Setelah habis dan puas melihat kesana kemari, kini tiba saatnya Zen pulang. Karena sebentar lagi adalah waktu jam tidurnya Zen yang selalu tepat waktu.
"Waktunya Zen pulang." Ucap Hendri setelah melihat jam yang ada di pergelangan tangannya.
Hendri juga langsung mendekati Reina dan Bayu yang sejak tadi terlihat asik mengobrol. Entah apa yang di obrolkan karena sesekali Hendri juga melirik Reina yang tertawa dengan canda tawa Bayu. Mungkin.
"Ayo Zen, pulang." Reina mengulurkan tangan untuk mengambil alih Zen dari gendongan Hendri.
Zen mengeratkan kedua tangannya yang melingkar di leher Hendri. "Zen mau pulang sama om Hendri mom." Masih sempatnya disaat seperti ini Zen menjadi aktor cilik terbaik malam ini.
"Pulang sama mommy saja ya. biar om Hendri nggak bolak balik." Reina mencoba memberi pengertian.
"Pokoknya Zen mau pulang sama om Hendri." Kekeh Zen.
"Ya sudah, ayo om antar pulang. Re, Bayu. Aku duluan ya."
Kini Hendri melajukan mobilnya. Disamping kursi kemudi ada Zen yang sudah banyak bertanya apa saja yang mengganggu isi kepalanya.
Sampai pada akhirnya mobil Hendri sudah memasuki halaman rumah Yusuf. Hendri langsung keluar dari mobil dan langsung menuju pintu samping Zen. Hendri langsung menggendong Zen yang sudah lelap.
"Loh Hen, kok Zen sama kamu?" Tanya Yusuf yang sejak tadi menunggu kedua anaknya yang belum juga pulang.
"Iya pak. Tadi Zen nelpon saya agar menyusul dimana Zen dan Rere."
"Terus Rere mana?" Tanya Yusuf saat menyadari anak gadisnya belum memaski rumah.
"Mungkin masih di perjalanan pak."
__ADS_1
Yusuf mengangguk. "Ya sudah antar sekalian ke kamarnya." Perintah Yusuf.
"Baik pak. Saya permisi keatas dulu."
Hendri langsung keatas dan menuju kamar Zen. Zen juga sempat terbangun sejenak untuk buang air kecil dan sikat gigi. Hendri baru keluar dari kamar Zen, setelah Zen sudah selesai dari kamar mandi.
"Mas Hen." Panggil Reina. Berpapasan dengan Hendri dan Reina merasa diacuhkan membuatnya lagi-lagi merasa kesal.
"Ya." Jawab Hendri. Hendri menghentikan langkah kakinya yang akan menuruni anak tangga dan langsung berbalik menatap Reina.
Reina mendekati Hendri. "Mas cuekin aku lagi?" Protes Reina.
"Apa maksud kamu Re?"
"Sejak di pameran tadi mas hanya fokus dengan Zen dan tidak menanyai aku." Tutur Reina yang mulai kesal.
"Lalu apa aku harus mengganggu kalian yang sedang asik mengobrol." Tanya Hendri. Wajahnya saja sudah menunjukkan rasa cemburu yang sudah jelas tidak disadari Reina.
"Memangnya apa salahnya aku mengobrol dengan Bayu?"
"Lalu apa aku salah lebih memilih dengan Zen dari pada mengganggu kalian tadi?" Tanya Hendri balik. Reina terdiam bingung dengan diri sendiri. "Aku pulang."
Reina juga langsung masuk kedalam kamar setelah melihat Hendri menuruni anak tangga hingga tidak dapat lagi punggungnya untuk Reina lihat.
"Jangan salahkan aku kalau aku merasa kalian berdua punya rasa yang sama." Gumam Nissa yang sejak tadi menyaksikan perbincangan yang terasa memanas diantara Hendri dan Reina.
"Kak."
"Iya nda." Jawab Reina. Ia tengah asik berbalas pesan dengan Bayu. Entah kenapa, Reina bisa seakrab itu dengan waktu yang sangat cepat. Mungkin karena Bayu orang yang sangat asik. Atau karena Reina yang memang tidak banyak memiliki teman.
"Chat dengan siapa?" Tanya Nissa ingin tahu saat melihat Reina senyum-senyum dengan menatap ponsel.
"Bayu nda." Jawab Reina setelah meletakkan ponselnya begitu saja.
"Bayu siapa?"
"Bayu Hardityan. Dia pegawai baru di perusahaan."
Tumben bisa cepat akrab dengan orang baru?" Selidik Nissa.
"Waktu mobil Rere mogok, kebetulan dia saat itu yang menjadi ojek online nda. Dan sekarang tiba-tiba saja begitu bisa akrab.
"Oh.."Nissa mengangguk saja. "Tadi kok bisa Zen pulang sama mas Hendri. Kalian janjian di pameran ya?" Tanya Nissa nggak pake basa basi lagi.
__ADS_1
"Ah itu mah adek saja nda yang minta hape Rere buat nelpon mas Hen biar nyusul kita."
"Beneran?"
"Iya lah nda. Makanya tadi kita jadi jalan berempat."
"Kok jadi berempat?" Nissa jadi heran dan penasaran.
"Sebelum mas Hendri datang, Bayu datang hampiri kita tadi." Jelas Reina.
"Oh jadi ini yang buat mas Hendri tadi terlihat marah. Cemburu ternyata." Batin Nissa menilai ekspresi Hendri tadi.
"Kakak sebenarnya suka dengan lelaki seperti apa sih?"
"Jangan bilang nda masih kekeh ingin jodohkan Rere dengan Faris?" Todong Reina terdengar mencecar.
"Enggak kok. Untuk apa memaksa perjodohan kalau kakak nggak mau."
"Serius nda?"
"Iya. Jadi kakak suka lelaki seperti apa." Tanya nissa ulang.
"Rere hanya ingin lelaki dewasa, pengertian, setia, bisa Rere andalkan, dan yang pasti kita saling jatuh cinta. Nggak ribet kan nda?"
"Bukannya criteria itu ada di mas Hendri?" Tanya Nissa mulai beraksi.
"Mas Hendri? Nda yang serius dong."
"Loh benar kan, mas Hendri dewasa sudah pasti, pengertian banget, setia sepertinya sudah tidak diragukan lagi, kakak juga selalu megandalkan mas Hendri dalam banyak hal, dan nda rasa kalian cocok." Tutur Nissa.
Reina terdiam nampak berfikir. Apa iya yang di katakan Nissa barusan benar adanya.
"Coba kakak lihat mas Hendri sebagai lelaki."
"Tapi mas Hen kan memang lelaki nda." Ucap Reina membenarkan.
"Maksudnya lihat mas Hen sebagai lelaki yang tertarik dengan perempuan yang ada di dekatnya. Ingat kak, mas Hendri itu bukan saudar sedarah dengan kakak. Jadi siapa yang tahu jika selama ini dia menyukai perempuan yang ada di dekatnya."
Sejak tadi Reina terus mengganti posisi tidurnya. Setelah Nissa keluar dari kamarnya, Reina terus memikirkan ucapa Nissa yang terus saja mengusik pikirannya. Hingga sampai larut malam mata Reina tetap tidak bisa di ajak lelap.
"Dari segi mananya mas Hendri suka sama aku? Nda ini jadi bikin aku mikir hal yang nggak mungkin aku temukan buktinya. Mas Hen dekat sama aku kan karena memang ayah juga yang minta mas Hen selalu bimbing aku, apa lagi dulu waktu aku sama om adam mulai bekerja."
Secetek itu Reina menilai kedekatan yang terjalin antara dirinya dan Hendri. Atau memang Reina tidak membuka hati nya untuk Hendri karena memang ia menganggapnya sebagai saudara.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan π₯° kasih like dan komennya π tab favorit juga ya sayang β€οΈ