
Hanya sebentar Hendri tidur untuk menghilangkan kekesalan hatinya yang hadir tiba-tiba. Entah kenapa Hendri jadi tidak terima saat melihat sang istri tertawa lepas dengan lelaki lain. Dan yang membuat Hendri kesal lagi adalah tatapan mata Faris saat menatap Reina, walau hanya sekilas, tapi Hendri bisa menilai tatapan yang di berikan Faris untuk Reina.
Hendri melihat kesamping, tapi tidak nampak wujud istrinya.Hendri melihat jam dinding, waktu sudah mau magrib. Hendri bergegas turun dari atas ranjang, lalu menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya.
Hendri melihat pantulan wajahnya pada cermin, wajah yang sedang ia keringkan dengan handuk kecil. Hendri menghela nafasnya sendiri, menyadari sikapnya yang sudah pasti menyakiti sang istri.
"Bisa-bisanya kamu yang sudah tua ini bersikap kekanak-kanakan Hen." Gumamnya. Hendri bergegas keluar dari sana dan segera mencari keberadaan sang istri.
"Bapak, Ibu. Rere dimana?"
"Loh, bukannya di kamar sama kamu toh Hen."
"Rere nggak ada di kamar Pak. Hendri cari di halaman belakang dulu kalau begitu."
Hendri langsung bergegas ke halaman belakang tapi Reina tetap tidak ada di sana. "Dimana kamu sayang," gumamnya sambil melangkah menuju ke samping rumah.
Langkah kaki Hendri terhenti saat melihat Reina duduk di pinggiran kolam renang sambil memainkan kedua kalinya didalam air, tapi sangat jelas kalau Reina sedang melamun.
"Sayang."
Reina langsung tersadar dari lamunannya sendiri. Ia menoleh kearah Hendri, karena merasa namanya di panggil.
"Mas sudah bangun?"
Hati Hendri terasa tercubit saat Reina bertanya bersamaan dengan senyum yang terlihat dipaksakan.
"Ayo masuk kedalam rumah. Sebentar lagi magrib."
Reina mengangguk, lalu menaikkan kedua kakinya dari dalam kolam renang. Hendri langsung membantu Reina berdiri. Karena sudah dapat di pastikan kakinya licin karena basah.
Hendri langsung duduk jongkok untuk memeras bagian bawah daster yang di gunakan Reina, karena ikut terendam.
Tindakan Hendri kemudian mengejutkan Reina, karena dengan tiba-tiba Hendri menggendong tubuh Reina. "Kita masuk sekarang."
"Aku bisa jalan sendiri Mas." Reina mengeratkan kedua tangannya yang sudah melingkar di leher Hendri.
"Baju dan kaki kamu basah sayang. Jangan merendam kaki mu di kolam renang jika sendirian. tetesan air dari baju kamu bisa membuat licin lantai. Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan mu."
Reina diam tidak menjawab. Tetapi Hendri bisa mendapatkan jawaban dari bahasa tubuh Reina saat ini. Reina menyusupkan wajahnya pada leher Hendri.
__ADS_1
Hendri langsung menurunkan Reina setelah sampai didalam kamar. Reina menurut saja saat Hendri melepas baju dasternya yang basah. Setelah meletakkan daster dalam keranjang baju kotor, Hendri langsung mengambil baju untuk Reina. Kemudian memakaikan baju daster pada Reina.
"Mas kenapa?" tanya Reina. Hendri duduk jongkok didepannya setelah ia mendaratkan tubuhnya pada pinggiran ranjang.
Hendri menggenggam kedua tangan Reina, lalu mencium punggung tangan istrinya itu.
"Aku minta maaf sayang."
"Mas minta maaf soal apa?"
"Soal sikap ku tadi. Aku tahu, aku pasti sudah sakiti kamu kan sayang? Aku sangat kekanak-kanakan."
Reina memukul pundak Hendri karena merasa kesal. "Kalau ada yang salah dari aku, coba Mas langsung bilang saja. Jangan tiba-tiba diam kan aku seperti tadi."
"Aku minta maaf. Aku janji nggak akan seperti tadi lagi."
"Janji ya Mas," todong Reina dan Hendri pun langsung mengangguk. "Sebenarnya hal apa yang bikin Mas tiba-tiba diamkan aku? Aku salah apa?"
"Kamu nggak salah apa-apa sayang, hanya aku saja yang sensitif mungkin." Hendri berniat tidak ingin membahas apapun lagi.
"Mas." Tatapan Reina bahkan sangat menuntut Hendri untuk berterus terang. "Aku nggak mau dikemudian hari, aku buat kesalahan yang sama seperti tadi. Sampai Mas diamkan aku, hati aku sakit Mas digituin."
"Sudah jarang. Kalau nggak salah semenjak kita menikah dia nggak pernah lagi kirim pesan. Mungkin hanya satu bulan sekali dia chat aku untuk tanya kabar. Mas bisa lihat ponsel aku kalau nggak percaya."
"Aku percaya sayang." Hendri tersenyum menatap Reina. Tangannya mengusap wajah Reina yang menatapnya penuh dengan tanya. "Aku hanya cemburu saat melihat istri ku tertawa lepas dengan lelaki lain."
"Mas cemburu sama Faris?" tanya Reina tidak percaya.
Tatapan mata Hendri begitu dalam. "Aku bahkan tidak suka tatapan matanya saat melihat istri ku."
"Mas, nggak salah cemburu dengan Faris? Dia itu sahabat aku Mas. Bukannya Mas nggak tahu tentang hal itu."
"Sayang dengar aku. Tidak ada persahabatan antara laki-laki dan perempuan yang murni sahabat. Karena didalamnya pasti akan timbul perasaan lebih dari itu."
"Tapi aku nggak punya perasaan lebih dari sahabat dengan Faris, begitu pun sebaliknya Mas." Ucap Reina yakin.
"Kalau sayang aku percaya. Tapi aku nggak yakin dengan Faris."
"Mas jangan negatif thinking gitu sama orang."
__ADS_1
"Aku ini lelaki sayang. Tentu aku bisa menilai tatapan lelaki lain kepada seorang wanita bagaimana. Maaf, aku nggak bermaksud bikin persahabatan kalian renggang karena aku." Hendri menatap Reina dalam. "Sejak tadi aku ketakutan sendiri, Dia masih muda begitu juga sayang. Aku takut kamu tinggalin aku karena aku sudah tu ..."
Reina langsung membekap mulut Hendri agar tidak meneruskan ucapan yang tidak ingin Reina dengar. "Jangan memikirkan hal yang tidak penting, karena aku sudah jadi milik Mas. Aku memilih Mas karena aku cinta sama Mas. Kebahagiaan kita sebentar lagi lengkap," Reina membawa tangan Hendri menyentuh perutnya, dan saat itu juga mereka berdua merasakan tendangan dari malaikat kecil didalam sana. "Kita harus saling percaya dengan perasaan kita Mas."
.
.
.
Sudah waktunya tidur malam, dan malam ini Zen ikut tidur di kamar Nissa dan Yusuf.
"Bagi-bagi dong Dek, Nda nya." Yusuf sengaja membuat keributan pada anak bujangnya yang masih kecil. Dengan usilnya, Yusuf mengangkat tubuh Zen ke pinggir Nissa. Setelah itu ia memeluk Nissa erat.
"Ayah. Sudah dong, seneng banget godain anak sendiri."
Zen kesal dengan Ayahnya. Ia turun dari atas ranjang dengan kaki yang di hentak-hentakkan kuat. Zen mengitari ranjang lalu naik keatas ranjang lagi tepatnya di sisi Ayahnya.
Zen langsung naik keatas tubuh ayahnya, lalu menggelitik tubuh Yusuf. Yusuf yang geli dengan sentuhan tangan mungil Zen tentu saja langsung melepaskan dekapan tangannya pada tubuh Nissa.
"Hahahaha ... Dek sudah Dek, geliii ... Ayah ngaku kalah," Yusuf tentu langsung menyerah karena anaknya tahu kelemahannya.
"Nda itu punya Zen, Ayah." Ucapnya. Zen langsung memeluk Nissa erat. "Emmm ... enaknya tidur di peluk Nda." Tambah Zen pamer.
Yusuf mengacak-acak rambut Zen dengan gemasnya. "Anak siapa kamu Dek, tengil banget."
Zen langsung melepas pelukannya pada Nissa lalu bangun untuk duduk menatap Yusuf. "Ayah nggak tahu Zen anak siapa?"
"Nggak tahu, memang Zen anak siapa?"
Zen langsung mengulurkan tangannya dan Yusuf pun langsung menjabat tangan kecil anaknya. "Kenalin Zain Dzuhairi Sucipto anaknya Bapak Yusuf Dzuhairi Sucipto dan Ibu Zakia Nissa Wardani."
"Kenalin, Yusuf Dzuhairi Sucipto anaknya Bapak Iman Dzuhairi Sucipto dan Ibu Ningsih Arumi ples Ibu Wati Diningrum." Yusuf senyum penuh kemenangan. "Wleeekkk ... " Yusuf menjulurkan lidahnya menggoda Zen. "Memang siapa coba? Ayah punya dua ibu," ucap Yusuf bangga.
Spontan Zen menatap Nissa. "Ndaaa ... Zen mau juga punya dua ibu," pinta Zen dengan polosnya.
"ZEEENNN ... " Teriak Nissa sambil memguyel-uyel anaknya.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan π₯° kasih like dan komennya π tab favorit juga ya β€οΈ