Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 101 OMA SUDAH MENINGGAL DUNIA


__ADS_3

Saat mereka selesai solat jamaah subuh. Wati mengatakan ingin tidur karena merasa sangat mengantuk. Tentu saja Yusuf, Nissa dan yang lainnya memilih untuk tidak menggangu Wati yang memang sangat jelas kedua matanya nampak sayu. Mereka semua memilih untuk berbincang sambil duduk di sofa dan menikmati teh hangat.


"Bagaimana keadaan bunda kami dok?" tanya Yusuf yang tidak sabar menunggu hasil pemeriksaan yang sedang di lakukan oleh dokter dan perawat.


Tentunya semua orang sangat nampak panik. Pikiran mereka sudah melayang entah kemana larinya.


"Dokter." Kini Adam yang sudah tidak sabaran menunggu dokter yang sedang melakukan tindakan.


Yusuf sepenuhnya sadar. Dengan keadaan yang sejujurnya belum siap ia hadapi sekarang. Melihat wajah pucat bundanya, tentu itu seperti gambaran saat ia melihat ayahnya meninggal dunia kala itu.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun."


Jedeeerrr...


Sebaris kata yang baru saja diucapkan dokter, tentu bagai sebuah bom yang meledak begitu saja. Menghantam jantung, dan membuatnya seolah berhenti berdetak. Remuk berkeping-keping menjadi abu.

__ADS_1


Membuat mulut terasa kelu untuk berucap. Bahkan tubuh pun tiba-tiba terasa beku tak bisa bergerak dari tempatnya, walau hanya sekedar menggerakkan jari.


Yusuf maju satu langkah, ia langsung menyentuh tangan yang sudah sendekap di depan dada. Yusuf mencium beberapa kali punggung tangan Wati. Tangan yang biasanya hangat saat membelai wajahnya kini terasa sangat dingin.


"Bunda ini nggak lucu Bun. Yusuf kan semalam sudah janji akan pulang setiap bulan sekali. Atau bunda mau Yusuf menetap di Malang. Yusuf akan menuruti maunya bunda. Yusuf bisa mengurus semua pekerjaan dari sini walau harus wira wiri. Asal bunda bangun dan lihat Yusuf lagi. Bunda bahkan baru tahu kalau Rere hamil. Bukankah Bunda ingin sekali menggendong cicit?" tanpa suara tanpa air mata Yusuf mengatakan itu di dalam hatinya. Bayangan suara Wati yang selalu menelponnya dan mengatakan ingin segera menggendong cicit tentu bagai menusuk relung hati.


"Maksud dokter apa?" tanya Adam yang belum lega dengan sebaris ucapan yang sebenarnya jelas Adam pahami.


Yusuf berpindah mengusap wajah pucat bundanya. Lalu mendaratkan kecupan di kening dan di kedua mata yang terpejam. Wajah yang begitu sangat nampak tenang.


"Kami turut berduka cita yang sedalam-dalamnya Pak, Bu. Ibu Wati dinyatakan telah meninggal dunia."


Sudah jelas sekarang. Keadaan yang sedang terjadi di dalam ruang rawat rumah sakit ini.


Yusuf melangkah mundur memberi ruang adiknya. Ia menatap tak terbaca saat Adam memeluk tubuh Wati. Sangat jelas terlihat, Adam menangis tanpa suara. Ia juga melihat Luna dan Nissa yang sudah menangis disana.

__ADS_1


Yusuf langsung menggendong Zen yang jelas nampak tenang. Ia juga langsung menggendong Qia yang nampak terdiam dengan wajah memerah.


Yusuf langsung membawa keluar dua bocah itu dari dalam ruangan.


"Zen, Qia. Oma sudah meninggal dunia. Artinya Oma akan pergi ke surga dan mulai hari ini Oma tidak akan bersama kita lagi."


"Qia paham ayah." Ucapnya sambil mengusap air mata yang sudah jatuh.


Yusuf menatap Zen yang jelas terlihat tenang. "Zen."


"Zen juga paham ayah."


"Ayah harus menelpon mas Hendri dulu." Ucap Yusuf sambil menurunkan kedua anak yang ia gendong.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️


__ADS_2