Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 9 LIPSTIK


__ADS_3

Hendri mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Setelah tadi mereka makan malam bersama dirumahnya. Kini Hendri harus mengantar pulang kedua bibit unggul yang dimiliki Yusuf.


"Heran banget deh sama kedua orang tua dirumah. Bisa-bisanya sampek jam segini nggak nanyain anak-anaknya yang belum pulang ke rumah." Ucap Reina.


"Ayah sama nda kan tahu kalau kita pergi sama om Hendri kak." Tutur Zen tepat.


Benar juga. Baik Yusuf maupun Nissa tidak akan bingung mencari kedua anak mereka jika keluar rumah bersama Hendri.


Reina dan Zen langsung keluar dari mobil ketika sudah sampai di depan rumah mereka.


"Om nggak mampir dulu?"


"Om langsung pulang saja ya Zen." Ucap Hendri. Karena memang begitulah kebiasaannya. Zen langsung lari masuk kedalam rumah.


"Mas laporan dulu sama ayah aku kalau anak gadis dan pangeran kecebongnya sudah di kembalikan dengan keadaan selamat tanpa kelaparan sedikit pun." Ucap Reina memperingati.


Hendri langsung keluar dari mobil. Tanpa sadar manut-manut saja dengan ucapan Reina. Padahal biasanya hal ini tidak pernah dilakukan.


"Berasa aku habis bawa anak orang kencan saja." Gumam Hendri.


"Apa mas?" Tanya Reina yang mendengar mulut Hendri komat-kamit.


"Enggak."


.


.


.


Sinar matahari sudah mulai masuk melalui Jendela yang tertutup gordeng. Karena sejak tadi sudah sengaja Reina buka. Sepertinya sudah kebiasaan Reina setelah subuh ia tidur lagi.


Reina langsung mematikan alarm ponselnya setelah bunyi nyaring mengganggu kenyamanan tidurnya pagi ini. Dengan malas-malasan Reina bangun untuk segera membersihkan diri.


Cukup sepuluh menit saja Reina mandi, gadis cantik itu langsung keluar dari kamar mandi. Kemudian melangkah menuju lemarinya, memilih baju mana yang akan ia kenakan hari ini.


Setelah menggunakan setelan baju yang menurutnya cocok, Reina langsung duduk di depan meja rias. Memoles wajah cantiknya dengan skincare dan make up tipis-tipis agar wajahnya yang sudah manis semakin legit.


Reina berdiri di depan kaca menatap pantulan seluruh tubuhnya yang sudah perfect menurutnya.


"Masya Allah. Manusia spek bidadari dan secantik ini saja tidak laku-laku. Kasihan kamu Re... Re..." Sepagi ini bahkan Reina sudah memuji dan menghina diri sendiri.


Reina langsung turun menuju ruang makan yang sudah dapat diperkirakan semua orag sudah ada disana.


"Morning adek kakak yang paling guanteng dewe." Puji Reina sambil mencium pipi Zen.


"Ih kakak jangan cium-cium Zen dong. Kan Zen mau sekolah. Nanti kalau lipstick kakak nempel di pipi Zen lagi gimana coba? Malu tahu kak." Ucap zen memperingati.


Pernah sekali saat Zen di antar Reina sekolah. Pipi Zen merah terkena lipstick Reina saat tadi sebelum masuk sekolah Reina mencium pipi Zen dengan gemasnya. Membuat Zen malu karena di ledeki teman-temannya.


"Lipstik kakak tuh mahal loh Zen. Anti air, anti badai, antai angin. Pokoknya kebal dan kokoh dari mata bahaya yang melanda." Ucap Reina Membela lipstiknya.

__ADS_1


"Loh ayah sama nda dimana dek?" Tanya Reina saat sadar disana hanya ada ia dan Zen yang sedang menikmati roti bakar.


"Makannya kakak Rere yang jones. Setiap habis subuh jangan tidur lagi biar tahu ayah sama nda kemana. Harusnya bangun tidur itu olahraga biar kakak sehat kaya Zen." Ucap bocah tengil yang mulai menasehati orang dewasa.


"Halah sok tuwek kamu dek."Cibir Reina tidak ingin di enyek adiknya. "Memang ayah sama nda kemana?'


"Ayah tadi pagi-pagi sudah pergi sama om Hendri."


"Kemana dek?" Tanya Reina ingin tahu.


"Kakak pengen tahu?" Reina langsung mengangguk. "Ya kakak tanya saja sama ayah ata om Hendri pergi kemana."


"Kalau nggak tahu mah bilang dek." Cibir Reina.


"Yang pasti kerja kak."


"Iya juga sih." Batin Reina sambil terus menghabiskan roti bakarnya. "Terus nda ikut ayah juga?"


"Nda pergi ke panti asuhan."


"Kenapa sepagi ini perginya?"


"Haduh kak Re banyak tanya. Nanti tanya sendiri sama nda." Zen lagi mode buru-buru berangkat sekolah.


"Heh bocah mau kemana?" Pekik Reina saat Zen sudah akan meninggalkannya lebih dulu.


"Menurut kakak kemana?" Tanya Zen kembali. Kan sudah jelas Zen pake baju sekolah tentu sudah jelas Zen akan pergi kemana.


"Kak lebih cepat dong. Nanti Zen telat." Ucapnya sambil melihat jam yang melingkar ditangan Zen.


"Sabar dek. Alon-alon pokok kelakon."


"Alon-alon kalau telat Zen nggak boleh masuk sekolah loh nanti kak."


Baru juga itu bibir Zen mengatup tidak ingin mendebat kakaknya lagi. Tiba-tiba saja mobil yang di kemudikan Reina berhenti. Beruntung ia jalan di sebelah kiri jadi tidak begitu mengganggu pengendara lainnya.


"Loh kenapa ini mobilnya dek?" Tanya Reina.


"Sudah jelas mogok kak." Jawab Zen tepat.


Reina langsung keluar dari mobil dan membuka bagian depan mobilnya. Zen juga ikut turun ingin tahu apa yang akan dilakukan kakaknya.


"Aduh kakak nggak tau mesin lagi." Reina mulai panik.


"Kalau nggak tahu mesin kenapa pake acar dibuka segala sih kak." Ucapan Zen memang selalu benar. Benar-benar bikin orang kesal juga.


"Ck. Iya juga ya." Gumam Reina sadar dengan apa yang ia lakukan.


"Itu kak ada bengkel tuh." Tunjuk Zen memberi tahu.


Kini Zen dan Reina hanya melihat apa yang dilakukan orang bengkel pada mobil yang mereka kendarai tadi.

__ADS_1


"Tahu begini tadi mendingan juga Zen diantar sopir kakak." Kesal Zen.


Reina melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah pukul 07.30 WIB, itu artinya jam waktu sekolah Zen sudah masuk.


Reina langsung mengambil tasnya di dalam mobil dan langsung mengambil ponsel pintarnya. Jalan ninjanya ialah memesan ojek online.


"Kita naik ojek saja dek. Biar cepat. Jangan lupa acting." Ucap Reina sambil mengedipkan mata.


"Siap mommy." Ucap Zen paham. "Yes akhirnya bisa naik motor lagi." Batin Zen senang.


"Pak. Nanti ada orang yang kesini mengurus mobil saya ya pak."


"Baik mbak."


Tak lama kemudian ojek online yang Reina pesan sudah datang.


"Ibu Reina."


"Iya betul." Reina langsung menerima pelindung kepala yang harus ia gunakan. "Ayo nak." Ajak Reina sambil membantu Zen naik ke atas motor metik. "Ayo pak jalan." Ucap Reina yang sudah ikut naik ke atas motor.


"Untung saja aku tadi pakai celana panjang. Kalau nggak bakal ribet ini naiknya." Gumam Reina.


"Sesuai titik tujuan ya bu."


"Iya." Ucap Reina singkat. "Tolong lebih cepat ya pak, anak saya keburu masuk sekolah."


"Baik bu."


Motor langsung melaju lebih kencang melewati jalanan yang sudah jelas masih sangat padat.


Reina dan Zen langsung turun dari motor saat sudah sampai didepan gerbang sekolahan.


"Belajar yang pintar." Ucap Reina saat Zen mencium punggung tangannya.


"Siap mommy." Ucap Zen. "Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Reina langsung mendekati pak ojek lagi. "Tolong antar saya ke DS Group ya pak." Ucap Reina memberi tahu. Ia langsung naik motor lagi.


"Wah ibu kerja disana ya?" Tanyanya. Ia langsung menjalankan lagi motor metiknya.


"Iya." Jawab Reina singkat.


"Hari rabu besok saya ada jadwal interview disana. Doakan saya keterima ya bu.'


"Aamiin. Memangnya bapak ini daftar di bagian apa pak?" Tanya Reina jadi ingin tahu tiba-tiba.


"Jangan panggil saya bapak dong bu, saya ini masih single dan muda loh. Masih 28 tahun."


"Lah dikira aku juga nggak single kali ya?" Batin Reina.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️


__ADS_2