Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 39 MEMINTA MAAF


__ADS_3

Esok harinya, Bayu yang sudah tidak bisa melakukan hal apapun akhirnya memutuskan untuk segera pergi dari apartemennya dan menuju ke kediaman mantan calon mertuanya.


Tentu tidak mudah bagi Bayu untuk membuat gerbang yang menjulang tinggi itu terbuka lebar agar mobilnya bisa memasuki halaman rumah Yusuf.


Segala macam negosiasi di lakukan Bayu, agar scurity mau membukakan gerbang untuknya. Namun sangat sulit meluluhkan hati para keamanan disana.


Sampai akhirnya, Gerbang terbuka tanda mempersilahkan masuk untuk Bayu. Setelah salah satu scurity memberikan informasi kepada Yusuf bahwa Bayu ingin menemuinya.


Bayu langsung berdiri saat melihat Yusuf datang. Karena sejak tadi, Bayu menunggu Yusuf seorang diri diruang tamu.


"Aku dengar kamu ingin menemui ku?" Tanya Yusuf setelah duduk disalah satu sofa yang ada disana.


"Om. Saya..."


"Siapa om kamu?" Tanya Yusuf tidak suka.


"Saya datang kesini untuk meminta maaf pak." Ucap Bayu. Ini keputusan yang paling akhir untuk menyelamatkan hidupnya dan keluarganya.


"Apa dengan kamu meminta maaf, kata itu bisa menyembuhkan luka di hati anak ku?"


Yusuf tentu sangat tidak menyangka jika kisah masa lalunya itu kembali muncul kepermukaan. Namun itu bukan hal yang bisa ia sesali karena memang itulah adanya.


Yusuf justru sangat marah, amarah yang ia pendam karena banyak artikel dan berbagai gosip diluar sana yang menyebut Reina adalah anak haram.


Belum lagi teori kematian istri pertama Yusuf yang di definisikan sedramatis mungkin. Seolah Erlin (ibu kandung Reina) adalah perempuan malang yang kecelakaan akibat dosa yang di perbuatnya.


"Saya melakukan itu karena saya kecewa atas keputusan Reina yang telah mengakhiri acara pernikahan kami pak."


"Jadi sekarang kamu menyalahkan anakku atas semua ulah yang kamu ciptakan sendiri?" Tanya Yusuf sinis.


Bayu kembali menunduk setelah melihat sekilas wajah amarah Yusuf saat ini. Bahkan kini kakinya yang masih berusaha bertahan untuk berdiri semakin terasa bergetar karena rasa takut yang tidak bisa di pungkiri Bayu.


"Bu-bukan begitu maksud saya pak." Cicit Bayu gelagapan. Bingung harus menjelaskan bagaimana karena kini, Bayu merasa salah berucap.


"Atau kedatangan kamu kesini karena tidak ingin menjadi gelandang karena kehilangan uang yang telah kamu terima dari anak ku juga?" Tanya Yusuf telak.


Bruk...


Kaki Bayu yang sejak tadi bergetar takut mencoba bertahan untuk berdiri kuat, kini ambruk sudah. Karena sudah tidak mampu lagi menopang beban tubuhnya sendiri.


"Saya benar-benar minta maaf pak. Tolong kasihani saya untuk kali ini. Saya benar-benar butuh uang untuk biaya pengobatan bapak saya pak. Sejak kemarin bapak saya masuk rumah sakit karna terkena serangan jantung pak." Bayu menggunakan alasan terakhirnya. Berharap Yusuf berbelas kasih untuk kali ini. Karena memang itu yang Bayu perjuangkan saat ini.


Yusuf jadi teringat kembali raut wajah orang tua Bayu saat datang ke rumah ini untuk melamar Reina saat itu. Sepasang suami istri yang sudah nampak tua. Meskipun Yusuf sendiri sadar dirinya susah tua tapi melihat orang tua Bayu, jujur saja hati Yusuf terenyuh.


"Akan saya bantu buka kembali akun bank yang kamu gunakan. Tapi ingat, jangan berani-beraninya kamu menipu saya dengan menggunakan nama orang tua kamu."


"Saya berkata jujur pak. Terimakasih atas kebaikan hati bapak."

__ADS_1


Yusuf langsung beranjak dari tempat duduknya. Malas juga rasanya berlama lama dengan lelaki muda yang tidak tahu cara menghargai orang lain.


"Pak Yusuf."


Yusuf langsung menghentikan langkahnya dan balik badan menatap Bayu kembali.


"Apa boleh saya meminta tolong juga untuk mengembalikan saya ke dunia entertainment."


Dasar Bayu, Sudah di kasih hati sekarang dengan tidak tahu dirinya meminta jantung. Membuat Yusuf menatap sinis Bayu yang menundukkan wajahnya.


Bayu langsung pergi meninggalkan rumah mantan calon mertuanya. Setelah Yusuf meningkatkan ruang tamu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


.


.


.


"Kakak." Panggil Zen setelah membuka pintu kamar Reina.


"Kenapa dek?"


Zen langsung menutup pintu lalu lari menuju ranjang Reina. "Kakak. Tolong telponkan om Hendri dong. Zen ingin main kesana."


Reina langsung mengangkat Zen agar duduk di atas tempat tidur. "Om Hendri sedang istirahat dirumah dan tidak boleh keluar rumah dek. Nanti kalau om Hendri sudah menikah sama kakak, Baru kita bisa maen sama-sama sepuasnya."


"Halah. Adek kangen kakek sama nenek apa sama kelinci dan burung peliharaan disana?"


Zen hanya cengengesan dengan wajah tersipu karena tabiatnya sudah di ketahui kakaknya dengan sangat baik.


"Dirumah juga peliharaan adek sudah banyak, kenapa masih saja inginnya yang dirumah om Hendri?"


"Kan beda kak."


"Bedanya dimana dek. Ayah sama nda saja sampai belikan jenis burung dan kelinci yang sama seperti dirumah om Hendri."


"Beda tempat kak." Jawab Zen singkat. Bocah itu langsung turun dari ranjang dan keluar dari kamar Reina.


Baru saja Zen keluar dari kamar Reina. Panggil video call, Hendri lakukan dari seberang sana.


Reina : "Hai mas."


Hendri : "Lagi ngapain? Kenapa kamu senyum sendiri begitu?"


Reina : "Itu mas, Zen ke kamar minta mas jemput dia karna kangen kakek nenek katanya. Memangnya aku bisa ditipu apa."


Hendri : "Mungkin dia lagi kangen sama aku." Hendri masih terus mengusap rambutnya dengan handuk kecil, karena baru selesai mandi.

__ADS_1


Reina : "Sepertinya begitu mas."


Hendri : "Terus kamu nggak kangen sama aku?"


Reina : "Eh. Yang ada mah mas yang kangen aku kan. Setiap saat video call aku terus."


Hendri : Ia diam menatap wajah Reina lekat di layar ponselnya. Lalu senyumnya terbit membuat Reina bersemu. "Aku memang kangen kamu Re. Rasanya sudah nggak sabar ingin dekat terus sama kamu."


Reina : "Ih mas ini bikin jantung orang nggak aman saja. Mas lagi ngapain sih?" Tanya Reina mengalihkan perasaannya yang semrawut.


Hendri : "Baru selesai mandi."


Reina menatap lekat Hendri saat lelaki itu memposisikan ponselnya sehingga Reina bisa melihat aktivitas Hendri.


Calon suami Reina itu hanya menggunakan celana pendek dan telanjang da*da. Hendri melangkah menuju lemarinya. Lalu mengambil kaos disana.


Hendri kembali mendekati ponselnya dan melihat wajah Reina yang diam terpaku.


Hendri : "Kenapa diam?"


Reina : "Astagfirullah mas. Jangan pamer aurat yang menggugah selera kenapa. Mas berdosa tahu nggak sudah menodai mata indah dan suci ini." Tutur Reina gelagapan karena ketahuan menikmati pemandangan indah yang terpampang nyata.


Hendri : Tentu saja Hendri terkekeh di seberang sana. "Aurat mana yang aku pamerkan Re?" Tanya Hendri sambil mengenakan kaosnya. "Dari pusar sampai lutut ku juga tertutup."


Reina : "Mas tahu nggak."


Hendri : "Enggak. Kan kamu belum ngomong apa-apa."


Reina : "Hisss... mas ini ngeselin tahu nggak."


Hendri : "Sini aku pijitin biar nggak kesel lagi."


Reina : "Aku serius masss..."


Hendri : "Aku juga serius."


Reina : "Dengerin ya mas. Sepertinya rata-rata perempuan suka dengan dada bidang lelaki. Enak untuk bersandar apa lagi pelukan." Tutur Reina tanpa rasa malu.


Hendri : "Setelah sah nanti, aku pasti peluk kamu terus menerus. Bahkan lebih dari sekedar pelukan." Tutur Hendri sengaja menggoda Reina. Sambil terkekeh menatap wajah Reina yang diam melongo menatapnya.


Reina : "Sumpah mas jangan ngajak otak aku traveling mas." Pekik Reina saat sadar kemana arah obrolan mereka saat ini.


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️


Yang gabut butuh bacaan. Mampir yuk di "Hujan, beri aku cinta" tamat 103 bab. Tapi mulai bab 40 keatas di rekomendasikan baca saat malam hari ya 🀭🀭🀭 novel ini akan kolaborasi dengan kisah Zen nanti ❀️❀️❀️ Karena disana sudah ada beberapa bab Sekuel tentang Zen juga πŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ˜‰

__ADS_1



__ADS_2