
Reina dan Hendri keluar dari ruang pemeriksaan dokter dengan wajah yang sangat bahagia. Perut Reina yang jelas sudah nampak membesar, karena sekarang sudah berusia lima bulan. Reina sehat dan tentunya calon anak mereka juga sehat.
"Mas, aku jalan saja ya mas. Kan tadi kata dokter anak kita sudah kuat." Ucap Reina sambil mengangkat wajahnya karena Hendri berada di belakangnya. Tengah mendorong kursi roda.
Hendri yang tidak ingin terjadi apa-apa pada Reina dan calon anak mereka, ia sampai membeli kursi roda. Hendri memang tidak membolehkan Reina jalan terlalu jauh. Demi keselamatan istri dan calon anak mereka, tentu saja Hendri begitu ekstra ketat menjaga istrinya yang suka bertingkat pecicilan.
"Kamu harus hemat tenaga sayang."
"Ck. parkiran juga sudah dekat loh Mas." Rengek Reina. Tapi seketika senyumnya terbit saat kursi roda berhenti berjalan. "Boleh Mas, aku jalan?" tanya Reina dengan wajah penuh harapan.
"Kan tadi aku sudah bilang kamu harus hemat tenaga." Bisik Hendri sambil membungkukkan tubuhnya.
Entah kenapa, tiba-tiba tubuh Reina terasa meremang. "Terus?"
"Sepulang nanti aku dari kantor, kita cek in. Jadi, persiapkan energi mu hanya untuk aku."
Blus...
Seketika wajah Reina kembali memerah. Tadi juga wajah Reina memerah akibat Hendri menanyakan perihal kehamilan Reina yang sudah sepenuhnya kuat untuk melakukan hubungan suami istri. Dan kini wajah Reina lebih memerah lagi, karena Hendri sudah memancingnya dengan kecupan bibir yang mendarat pada daun telinga Reina, yang jelas tidak tahu tempat.
Sebenarnya Mereka sudah diperbolehkan berhubungan saat usia kandungan Reina sudah berusia empat bulan. Namun harus tetap hati-hati.
Hendri yang tidak ingin terjadi apa-apa pada istri dan anaknya tentu memilih menahan diri. Siapa yang bisa tahan kendali, jika sudah berkaitan dengan hubungan yang menimbulkan rasa panas kecanduan.
"Mas ingat apa kata dokter tadi kan? Harus hati-hati."
"Tentu saja aku harus hati-hati, agar kita bisa melakukan lebih dari satu kali."
"Ayo cepat ke mobil mas. Malu aku."
.
.
.
"Aku kembali ke kantor sekarang ya." Pamit Hendri setelah merebahkan tubuh Reina di atas ranjang.
"Aku nitip berkas itu untuk mbak Gita ya mas." Reina menunjuk beberapa berkas diatas meja yang telah selesai di tanda tangani.
Meski sebenarnya Reina sudah di katakan siap untuk melakukan pekerjaan kantor seperti semula. Tentu saja Hendri lebih baik melarang Reina kembali bekerja, setidaknya sampai Reina melahirkan dan sudah kembali pulih untuk bekerja lagi.
"Ok." Hendri mendaratkan kecupan pada bibir Reina. "Hati-hati dirumah sayang, Karena aku nggak bisa kontrol tindakan kamu." Pesan Hendri setiap kali ia akan pergi ke kantor. Reina dengan sikap kekanakannya tentu harus membuat Hendri ekstra waspada.
__ADS_1
"Iya suami bawel ku."
Reina langsung turun dari atas ranjang saat Hendri di perkirakan sudah berangkat menuju kantor. Ia menuju halaman belakang dimana kedua mertuanya berada disana.
"Ibu mau nanam apa?" tanya Reina saat melihat Bu Rumi sedang mengisi pot dengan tanah kompos.
"Loh nduk, sudah pulang?" bukannya menjawab pertanyaan Reina, Bu Rumi malah balik tanya pada anak mantunya.
"Sudah Bu." Reina duduk jongkok di depan Bu Rumi.
"Duduk disana nduk. Jangan ikut panas-panasan." Ucap Pak Makruf.
"Nggak apa-apa Pak. Bantu masukin tanah ke dalam pot nggak bikin capek kok."
Bu Rumi langsung beranjak untuk segera mencuci tangan dan kakinya. "Wes ayo, kita duduk disana nduk."
"Tapi ini belum selesai Bu."
"Biar di teruskan bapak mu. Ayo."
Reina menurut. Kedua mertuanya memang tidak kalah posesif dengan Hendri. Mungkin karena Reina sedang mengandung cucu yang sangat mereka harapkan, jadi Kedua mertua Reina ikut memastikan agar Reina tidak melakukan pekerjaan apapun. Bahkan hanya sekedar mencuci beberapa piring saja tidak di perbolehkan oleh Bu Rumi.
"Bagiamana tadi hasil pemeriksaannya?" tanya Bu Rumi setelah mereka duduk di teras halaman belakang. Tangannya mengusap perut Reina yang buncit.
"Alhamdulillah. Tapi meski begitu, Rere nggak boleh melakukan apapun yang bikin kelelahan. Ibu nggak mau Rere sama cucu Ibu kenapa-napa."
"Iya Bu."
"Ibu tadi sudah buatkan bubur jagung. Ayo makan."
Sampai usia kehamilan Reina sekarang, Melihat bentuk nasi saja sudah membuatnya enek, membuat selera makanya menghilang.
.
.
.
Sejak tadi setelah mengantar Reina ke rumah sakit, Hendri baru menghubungi Reina satu kali. Hal itu membuat Reina jadi over thinking dengan suaminya, karena biasanya, Hendri selalu mengirim pesan singkat atau menelpon Reina untuk mengetahui apa yang sedang Reina lakukan.
"Mas Hen lagi sibuk kali ya?" gumam Reina sambil memainkan ponselnya. "Atau jangan-jangan Mas Hen lagi ketemu dengan perempuan lain." Ucap Reina kembali negatif thinking.
Wajar Reina berfikir begitu, karena pertama kali Hendri tidak menghubunginya terus menerus, tepat saat Hendri sedang bertemu klien di luar kantor. Reina marah saat itu, karena saat Reina menelpon secara video call. Ternyata klien Hendri seorang perempuan cantik. Padahal sudah jelas Hendri tidak hanya berdua, karena klien Hendri didampingi sekretarisnya.
__ADS_1
"Aku harus sidak dadakan ini." Ucap Reina setelah mendapat balasan pesan dari Gita.
Reina langsung turun dari ranjang dan langsung untuk berganti baju. Selama hamil, Reina sudah tidak pernah memakai make up. Entah kenapa ia merasa lebih nyaman tanpa make up. Tapi kali ini, Reina dandan agar terlihat sangat cantik. Ia harus mempersiapkan diri kalau Hendri ternyata sedang bertemu klien perempuan. Reina pergi dari rumah tanpa sepengetahuan kedua mertuanya.
.
.
.
Setelah beberapa jam meeting dengan tim redaksi, akhirnya Hendri dapat bernafas lega karena kini ia sudah kembali kedalam ruang kerjanya. Akhir-akhir ini, banyak berita yang harus di pilah dengan lebih teliti untuk lolos tayang di media.
Hendri meletakkan berkas diatas meja kerjanya. Ia segera menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya agar kembali segar.
Setelah itu Hendri kembali ke kursi kerjanya. Ia menyambar ponselnya yang ada di atas meja. Hendri tersenyum membaca semua pesan ungkapan kekesalan Reina karena ia tidak memberi kabar.
"Lagi apa sih kamu sayang. Kenapa nggak angkat telpon ku." Gumam Hendri karena sudah beberapa kali menghubungi Reina, namun panggilan teleponnya tidak juga di angkat.
Hendri : "Halo Bu."
Bu Rumi : "Iyo. Ngopo le?"
Hendri : "Rere apa sama Ibu? Hendri telpon nggak di angkat soalnya Bu."
Bu Rumi : "Rere dari tadi sudah masuk kamar, mau mandi katanya."
Hendri : "Tolong ibu lihat di dalam kamar ya Bu."
Bu Rumi : "Iya."
Bu Rumi yang sejak tadi berada di halaman belakang tentu langsung menuju tempat dimana kamar yang di tempati kedua anaknya sekarang.
Tok...tok...tok...
"Re..."
Sudah beberapa kali Bu Rumi mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban dari Reina.
Hendri : "Langsung masuk saja Bu." Ucap Hendri karena tiba-tiba saja ia merasa khawatir.
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan π₯° kasih like dan komennya π tab favorit juga ya β€οΈ
__ADS_1