
Kedua tangan Yusuf meraba naik secara perlahan untuk melepas gaun transparan yang hanya menjadi aksesoris. Ingin sekali Yusuf merobeknya namun isi kepalanya masih ingat bagaiman ia di omeli sang istri karena gaun malam kesayangannya robek tak berbentuk.
Yusuf langsung melahap salah satu ujung choko chip favoritnya disaat kedua tangan Nissa terangkat agar gaun dinasnya terlepas.
"Om..." Rintih Nissa.
Bukan hal aneh bagi Nissa saat Yusuf meny*usu seperti bayi kelaparan. Tapi Kekuatan mulut Yusuf benar-benar membuat tubuh Nissa bergetar.
"Aaahhh Ooommm..."
Nissa spontan menjambak rambut Yusuf, Tapi Yusuf tetap dengan pertahanannya untuk menikmati kedua manik coklat. Sedangkan tangannya yang pro sudah bermain di area utama. Area yang bahkan tidak Nissa amankan dengan benda yang sering di sebut segi tiga bermuda.
"Om pelan Om." Rintih Nissa memohon.
Bukannya memelankan aktivitas jarinya. Yusuf dengan tingkat ke mes*umannya tentu semakin cepat bergerak.
Tubuh Nissa semakin menegang, keringatnya terus mengucur karena terlalu panas suasana saat ini. Dan ruang kamar mereka tentu sudah di penuhi dengan deru nafas dan suara Nissa yang sudah tak terkendali.
"Aku nggak ku...at Om." Rintih Nissa terbata. Tangannya semakin menekan kepala Yusuf. Agar Yusuf sulit bernafas lalu melepaskannya. Tapi nyatanya, pergerakan Yusuf semakin cepat.
"Ooommm... Aaahhhggg..."
Tubuh Nissa seketika mengejang hebat, bergetar kuat seolah tulang terasa lepas dari raga. Da*danya membusung ke depan dan wajahnya mendongak keatas. Yah, lepas sudah apa yang seharusnya di lepaskan.
"Jadi sekarang siap yang tersiksa?" Tanya Yusuf sambil mengusap tangannya pada celana yang masih ia kenakan. Ia begitu sangat puas mendengar irama yang menggema kuat di dalam kamar. Suara rintihan memohon yang selalu membuat Yusuf ingin terus mendengarnya.
"Om selalu nyiksa aku tanpa libur. Tapi aku suka." Jawab Nissa lemah. Ia langsung menghambur ke pelukan Yusuf karena tubuhnya masih tak bertenaga setelah apa yang terjadi. Nafas Nissa bahkan masih belum teratur, dan masih ingin menikmati semuanya sampai tenaganya pulih. Tapi...
"Sekarang giliran aku sayang."
Nissa langsung mengeratkan kedua tangannya pada leher suaminya. Dan cengkraman kedua kaki pada pinggang Yusuf. Disaat Yusuf berdiri menuju ranjang mereka.
__ADS_1
Yusuf langsung melepaskan penutup terakhirnya setelah meletakkan Nissa di atas tempat tidur. Tempat tidur yang tanpa libur mendapatkan goncangan. Kecuali saat Nissa sedang bulanan atau disaat Zen tidur bersama mereka.
"Aaahhh..."
Des*ah nafas Nissa mulai terdengar lagi saat Yusuf mulai mencoba memasuki ruang hangat Nissa yang begitu memabukkan.
Yusuf langsung membekap mulut Nissa sambil terus mencoba masuk. Membuat deru nafas Nissa tertahan tanpa bisa ia luapkan.
Nissa hanya bisa mencengkram punggung suaminya kuat-kuat. Serutin apapun pergulatan mereka, nyatanya menerobos lorong surga tetap harus sabar Yusuf lakukan.
"Ahhh..." Rintih Nissa dan Yusuf bersamaan.
Yusuf memilih diam sejenak setelah ia sudah berhasil masuk gawang lawan. Yusuf mengangkat wajahnya menatap wajah istrinya.
"Sejak dulu sampai sekarang bahkan rasanya masih sama sayang." Ucap Yusuf sambil bergerak memutar ping*gulnya. "Padahal sudah setiap hari aku nik*mati."
Kedua kaki Nissa membelit tubuh Yusuf yang masih bergerak pelan, dan menekannya kuat. Tangan Nissa mengusap wajah Yusuf yang penuh dengan peluh.
Yusuf mulai bergerak pelan tapi dengan sengaja ia menekannya dalam-dalam untuk menggoda istrinya. Bahkan tatapan mereka nampak jelas begitu dalam.
"Mungkin kalau kita tambah satu lagi, bisa lewat pintu Om."
"Mana mungkin sayang."
"Apa yang nggak mungkin Om. Semua yang tidak mungkin bisa jadi mungkin. Tambah satu lagi ya." Ucap Nissa hanya berniat menggurui suaminya.
Yusuf yang memang trauma berkepanjangan perkara Nissa koma selama dua minggu saat Nissa jatuh dalam keadaan hamil tua dan akhirnya Zen lahir. Tentu ucapan Nissa barusan menyulut perasaannya, membuat Yusuf bergerak tanpa kendali.
Bergerak cepat, menekannya kuat agar masuk sedalam-dalamnya. Membuat de*sah nafas Nissa kuat tanpa jeda.
Ruang kamar itu benar-benar dibuat ramai dengan aktivitas sepasang suami istri. Suhu panas benar-benar mendominasi padahal AC sudah on sejak tadi. Hingga sampai akhir, tubuh kecil Nissa di timpa tubuh Yusuf setelah calon bibit unggul keluar. Bibit yang jelas tidak akan mungkin jadi kecuali kuasa Tuhan semesta.
__ADS_1
"Aku hanya bercanda Om. Kenapa serius sekali?" ucap Nissa setelah nafasnya kembali normal, meski masih terasa pengap karena Yusuf masih enggan beranjak dari atas tubuhnya.
"Aku minta maaf sayang. Aku tahu, sayang masih muda. Jadi wajar kalau sayang masih ingin punya anak sebanyak yang sayang inginkan. Tapi aku akan tetap egois karena aku benar-benar takut kehilangan kamu."
Nissa tidak mendebat suaminya yang baperan. Ia langsung bergerak cepat membalik posisi mereka berdua. Bukan hal sulit bagi Nissa melakukan seperti ini walau badan Yusuf besar dan kekar.
"Lumer kemana-mana sayang." Ucap Yusuf saat merasakan perutnya basah karena luapan cairan yang ia keluarkan di dalam tadi.
Nissa bergerak naik sampai posisi duduknya pindah ke dada suaminya untuk meraih kotak tissu.
"Luluran gratis om." Ucap Nissa sambil mengelap lelehan yang membasahi tubuh Yusuf.
"Sayang mau apa sebenarnya?" tanya Yusuf. Kedua tangannya yang usil tentu menarik gemas dua manik choko chip kesayangannya.
"Aku mau kasih servis ples ples hari ini." Ucap Nissa sambil mengedipkan satu matanya menggoda sang suami.
"Aku terima dengan senang hati."
Kali ini Nissa benar-benar mengambil kendali penuh atas diri suaminya. Mencari peluh untuk mendapatkan puncak kesenangan mereka berdua.
Disaat Kamar Nissa dan Yusuf di penuhi dengan suara pertandingan mereka berdua, ramai dan menunggu siapa pemenangnya.
Hal itu jelas jomplang dengan keadaan kamar pengantin baru yang jelas sunyi senyap tanpa suara. Mungkin hanya suara detak jam dinding yang terdengar tanpa mau berhenti.
Hendri sejak tadi hanya bisa menatap wajah lelap istrinya. "Aku ini sedang cemburu loh sayang, kok kamu nggak peka sih?" Gumam Hendri yang jadi gemas sendiri dengan sang istri.
Bersambung...
Kalau kurang panas, coba bacanya sambil buat api unggun π€π€π€
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan π₯° kasih like dan komennya π tab favorit juga ya β€οΈ
__ADS_1