
"Mas mau ngapain ngikutin aku?" Tanya Reina sambil memicingkan tatapan matanya penuh kecurigaan.
"Ke kamar mandi." Tunjuk Hendri.
"Mas beneran nggak percaya aku ingin pipis?" Reina masih menaruh curiga dengan Hendri.
"Gara-gara kamu ingin pipis, aku juga jadi ingin."
Mereka berdua bukannya segera masuk ke dalam kamar mandi bergantian atau bersamaan. Keduanya malah asik berdebat tanpa di sadari.
"Mas penguntit aku ya?" Semakin aneh saja kecurigaan Reina terhadap Hendri.
"Wes sak karep mu lah istri." Hendri langsung membopong Reina agar mereka cepat masuk kedalam kamar mandi.
"Mas turunin maaasss..." Pekik Reina namun kedua tangannya terasa erat mengalung dileher Hendri.
Hendri langsung menurunkan Reina setelah mereka sudah masuk kedalam kamar mandi. Tepatnya Reina Hendri dudukkan di atas kloset.
"Cepat pipis. Gantian."
"Mas keluar sana." Usir Reina karena malu.
"Ngapain aku harus keluar kalau aku juga ingin pipis."
"Iiihhh... dasar ngeselin." Gerutu Reina. Ia kembali berdiri membuka kloset duduk, lalu menurunkan celananya membuat wajahnya memerah malu karena Hendri menatapnya lekat.
"Ayo cepat." Ucap Hendri karena ia tidak mendengar ada suara keluarnya air seni yang tertahan di dalam tubuh Reina.
__ADS_1
"Sumpah aku malu mas, jadi nggak bisa keluar kalau mas lihatin aku terus."
"Ya sudah aku balik badan nih." Hendri langsung balik badan memutuskan tatapan lekatnya pada sang istri. Seketika itu keluarlah air yang membuat adegan panas mereka tadi tertunda. "Lagi goreng apa bu?" Goda Hendri mendengarkan Reina bunga air kecil.
"Goreng tempe." Jawab Reina asal.
"Wah enak tuh. Jangan lupa di baluri tepung ya Bu."
"Ih... dasar tukang usil." Gerutu Reina kesal.
Hendri langsung balik badan saat gendang telinganya sudah tidak mendengarkan suara keluarnya air seni.
"Biar aku yang bantu bersihkan." Ucap Hendri sambil merebut shower toilet yang sudah Reina pegang.
"Mas, Jangan bikin aku malu kenapa. Biar aku sendiri." Ingin sekali Reina merebut shower toilet yang ada di tangan Hendri. Namun bagaimana mungkin Reina melakukan hal itu jika bagian inti tubuhnya belum ia bersihkan.
Kedua kaki Reina terasa bergetar dan sulit untuk bergerak saat merasakan tangan Hendri dengan lembutnya membersihkan inti tubuhnya bersamaan dengan air yang menyembur dari shower toilet.
"Mas cari kesempatan kan?" Tuduh Reina.
"Mungkin." Jawab Hendri singkat sambil membalas tatapan penuh selidik dari Reina.
"Mas nggak jorok apa melakukan hal seperti ini?"
Hendri tersenyum penuh arti. "Jika kamu mengizinkan bahkan aku ingin menciumnya."
Seketika kedua mata Reina membulat sempurna setelah mendengarkan ucapan tabu yang terlontar dari mulut Hendri.
__ADS_1
"Jangan memandang ku seperti itu sayang. Apa kamu sedang berusaha mengulitiku?" Hendri meletakkan kembali shower toilet pada tempatnya. Lalu tangannya meraih handuk kecil yang tersedia untuk mengeringkan bagian tubuh setelah buang air kecil atau besar.
"Mas sungguh tak terduga."
"Kenapa begitu. Hal lumrah pasangan suami istri melakukan apa yang mereka inginkan, toh yang terpenting bukan melalui jalan belakang." Jelas Hendri sambil mengeringkan pangkal paha Reina.
"Tapi bukankah hal seperti itu kurang tepat. Maksudnya, ada cara yang baik kenapa harus pakai cara seperti itu?" Geli sendiri Reina membayangkan Hendri melakukan itu padanya. Reina berdiri untuk mengenakan celananya kembali. Entah apa untungnya, padahal bagian atas tubuh Reina sudah tak berbenang.
"Tapi bukan berarti salah kan? Maka demi kenyamanan bersama, sebagai pasangan aku harus meminta izin dari mu. Apa aku boleh melakukan apa yang aku mau?" Tanya Hendri. Tangannya melempar handuk kecil kedalam wadah yang sudah di sediakan disana.
Reina bingung harus menjawab apa. Ia hanya hanyut dengan tatapan Hendri yang seolah sangat menginginkannya. Kedua tangan Reina langsung bertengger pada leher Hendri.
Reina menarik tengkuk Hendri, agar mereka bisa saling mencecap. Sekaligus memberikan sebuah jawaban pada Hendri bahwa ia akan terima apa saja yang ingin di lakukan Hendri padanya.
"Aku belum pipis ratu bekicot." Ucap Hendri saat Reina memejamkan mata, mulut Reina bahkan sudah terbuka, siap untuk melahap bibirnya.
"Eh." Reina baru ingat apa tujuan mereka masuk kedalam kamar mandi bersama.
"Biarkan aku buang air dulu. Ngilu sayang kalau harus berhenti saat sudah on seperti tadi."
"Sumpah mas ngeselin banget." Ucap Reina yang langsung kabur dari kamar mandi dengan wajah yang nampak memerah.
"Perasaan yang ngeselin dia, kenapa jadi aku." Gumam Hendri. Ia langsung menuntaskan apa yang ingin ia keluarkan juga.
Bersambung...
Mas Hen diam-diam horor πππ
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan π₯° kasih like dan komennya π tab favorit juga ya β€οΈ