
Setelah di pindah ke ruang rawat, Gita dan Zen menunggu Reina disana. Sedangkan Nissa menuju ke ruangan dokter untuk mengetahui hasil pemeriksaan.
"Bagaiman keadaan anak saya dokter?" Nissa sudah sangat-sangat khawatir dengan keadaan Reina. Apa lagi sekarang Reina nampak lebih kurus, karena nafsu makannya berkurang.
"Dari hasil pemeriksaan, ibu Reina positif hamil."
"Alhamdulillah." Ucap syukur Nissa. "Tapi dok, Dari yang saya tahu. Rere beberapa kali mengalami flek. apa itu tidak kenapa-kenapa?"
"Flek yang di alami ibu Reina itu umum terjadi pada beberapa kasus bu, pada usia kehamilan dibawah 12 minggu. Penyebabnya karena proses implantasi. Flek atau perdarahan yang terjadi karena proses pelekatan sel telur yang telah dibuahi pada dinding rahim."
Setelah mendapatkan banyak penjelasan dari dokter, Nissa langsung melangkah cepat menuju ruang rawat Reina.
Nissa langsung mendekati Reina setelah masuk ke dalam ruangan.
"Nda, Rere sakit apa?" tanyanya dengan suara lemas. Pikiran Reina bahkan sudah bercabang kemana-mana.
Karena terlalu pusing, Reina sampai tidak kuat membuka mata, saat ia mendapat tindakan dari dokter. Reina hanya mampu menjawab apa yang di tanyakan dokter.
__ADS_1
"Alhamdulillah, kakak hamil."
"Serius Nda?" Reina di buat tidak percaya. "Alhamdulillah." Ucapnya setelah mendapat anggukan kepala Nissa.
Begitu juga Gita yang ikut bersyukur atas kehamilan Reina.
"Untung mbak Gita, cepat bawa Kakak ke rumah sakit. Kalau nggak bisa fatal akibatnya."
Reina terdiam, tangannya menyentuh perut yang masih rata. Tentunya Reina jadi merasa bersalah karena sudah mengabaikan rasa sakitnya. Tidak mengutarakan semua yang di rasakan pada Hendri. Dan kekeh tidak mau ke rumah sakit, karena merasa dirinya masih sehat dan kuat untuk aktivitas.
"Kata dokter dia masih kuat Kak. Tapi sekarang Kakak harus bed rest. Kalau butuh apapun, bilang sama Nda ya." Reina tentu langsung mengangguk.
Zen menatap Nissa serius. "Nda, Hamil itu penyakit apa? Kenapa semua pada senang saat kak Re sakit?" tanyanya serius dengan wajah super polos.
mendengar ucapan Zen barusan membuat Reina, Nissa, dan juga Gita jadi cekikikan.
"Hamil itu bukan penyakit dek." Ucap Nissa sambil mengangkat tubuh Zen agar duduk di pinggir berangkat. "Kak Re hamil karena Kak Re sama mas Hen akan segera menjadi orang tua, artinya akan kasih Zen adik keponakan. Zen akan jadi om sedangkan Nda sama ayah akan jadi nenek dan kakek."
__ADS_1
"Jadi Zen mau di kasih adik cantik Nda?" tanyanya antusias.
"Adek dengar Nda ya." Zen menatap serius Nissa. "Adik di perut kak Re, Kita bahkan belum tahu cantik atau ganteng. Kita harus bersyukur entah nantinya adik Zen itu cantik atau ganteng yang penting adalah kak Re sehat terus sampai melahirkan. Dan adik Zen lahir dalam keadaan sehat, selamat dan tanpa kekurangan suatu apapun."
"Kalau begitu kenapa nggak sekalian cantik dan ganteng saja adiknya Nda?"
Nissa tersenyum gemas sambil menarik pipi Zen. Bocah kecil ini benar-benar diluar ekspektasi pikirannya. Belum lagi begitu kokoh keinginannya mempunyai adik perempuan.
"Nggak semua orang bisa mempunyai adik bayi kembar dek. Seharusnya Zen sekarang bersyukur karena sebentar lagi Zen akan punya adik. Dan yang lebih penting lagi entah itu adiknya perempuan atau laki-laki yang lahir nanti, Zen harus sayang sama adik bayi. Zen juga harus jadi om yang baik buat adik."
Zen langsung mengangguk. "Zen pasti sayang sama adik Zen Nda."
"Adek Kakak ini memang pintar." Puji Reina sambil mengusap puncak kepala Zen.
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan π₯° kasih like dan komennya π tab favorit juga ya β€οΈ
__ADS_1