Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 68 SUDAH SIAP


__ADS_3

Tak lama kemudian Hendri keluar dari kamar mandi. Ia melihat Reina yang sudah masuk kedalam selimut tebal. Sedangkan matanya masih terpesona dengan sinetron azab.


"Sayang, Jangan nonton acara seperti itu kalau bikin pikiran sayang jadi over thinking." Ucap Hendri ikut masuk, berlindung di bawah selimut.


"Iya mas. Ini juga nanggung kok karena nonton dari awal jadi penasaran. Tuh tinggal di kubur mas, berarti sebentar lagi selesai." Tunjuk Reina agar Hendri ikut melihat layar televisi.


Tak lama kemudian acara azab pun selesai. Reina langsung mematikan televisi dan langsung meletakkan remote di atas meja.


"Ngapain mas lihat aku seperti itu?" tanya Reina menatap curiga tatapan Hendri yang seperti siap memangsanya.


"Apa sekarang aku boleh menagih janji?"


"Boleh. Tapi kita cukup sekali saja ya mas, Jangan tiga kali. Karena besok aku harus ke studio. Nggak lucu kalau aku ngantuk." Tawar Reina.


"Ok." Jawaban singkat Hendri membuat senyum di wajah Reina terbit seperti cahaya terangnya bulan. "Tapi luasa kamu harus ganti dua kali lipat." Luntur seketika senyum cerah Reina yang baru saja terbit.


"Mas ini gragas banget sumpah."


"Jadi bagaimana?"


"Ok lusa kita puas-puasin." Ucap Reina pasrah.

__ADS_1


"Ehm... masalah yang tadi, apa aku juga boleh melakukannya?"


Masih haruskah Reina menjawab. Jika tadi saja ia memberikan izin saat ia akan mencium bibir Hendri. Apa lagi kini otak nakal Reina jadi penasaran bagaiman rasanya jika ia menerima perlakuan Hendri yang seperti bayangannya.


"Boleh. Tapi kita harus suit dulu mas. Kalau mas menang sampai tiga kali. Mas boleh lakuin apa saja ke aku."


Sungguh kekanakan memang sikap Reina. Tapi justru hal itu yang membuat Hendri senang dengan sikap Reina yang lucu baginya.


"Ayo kita mulai mas. Satu dua ti...ga..."


"Aku menang." Ucap Hendri karena dia memang jari kelingking sedangkan Reina memasang ibu jari.


"Ck. kok aku kalah sih. Masih ada dua kesempatan. Ayo lagi mas." Tantang Reina. "Satu dua ti... ga..." Hitung Reina. "Ye... aku menang." Girang Reina karena ia memasang ibu jari sedangkan Hendri memasang jari telunjuk. "Satu sama kita mas."


"Jangan terlalu pede mas." Cibir Reina. "Ayo kita mulai. Satu dua ti... ga..."


"Habis kau malam ini sayang." Ucap Hendri karena ia memasang jari telunjuk sedangkan Reina jari kelingking.


Mendengar ucapan penuh ancaman, tubuh Reina seketika terasa meremang. Apalagi tatapan mematikan seperti harimau kehausan.


"Mas lepas baju dulu. Biar nanti nggak pake acara berhenti." Ucap Reina saat Hendri akan bergerak mengurungnya.

__ADS_1


"Wah sepertinya kamu sudah tidak sabar lagi."


Tanpa perlu turun dari ranjang. Hendri langsung melepaskan seluruh pakaiannya tanpa sisa.


"Jangan lupa baca doa. Semoga setelah ini kita cepat di karunia buah hati." Bisik Hendri.


"Aamiin."


Reina yang sejak tadi duduk dengan mengapit selimut untuk menutupi tubuh bagian atasnya. Seketika itu selimut lepas dari cengkramannya saat Hendri dengan lembut mendaratkan bibirnya pada bibir Reina.


Reina langsung mengalungkan kedua tangannya pada leher Hendri.


Karena tubuh mereka masih berjarak, Hendri mendekat, membuat tubuh Reina tertidur dan dengan gerakan cepat, Hendri sudah menguasai tubuh Reina dibawah Kungkungannya.


"Luar biasa. Bahkan dia sudah siap?" Batin Hendri sambil terus memperdalam pagutan mereka berdua.


Sedangkan tubuh mereka yang berbalut selimut di bawah sana. Senjata pusaka milik Hendri sudah saling bersentuhan. Karena ternyata Reina lebih dulu menanggalkan pakaian yang membalut tubuh bagian bawahnya.


Bersambung...


Sesuai dengan sinopsis kalau novel ini rate 21 ples πŸ˜‚ jadi jangan heran ya kalau jari laknut ku mulai khilaf 😌 yang merasa tidak nyaman harap di skip saja ya,πŸ™πŸ™πŸ™ nanti malam insha Allah aku langsung 🀭 doakan otak ku selalu cemerlang Agar bisa selalu crazy up 😘πŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺ

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️


__ADS_2