
Satu minggu sudah berlalu. Setelah selesai membersihkan diri, Reina segera menuju lemari pakaian untuk melihat baju mana yang akan ia pakai hari ini.
Klek
Reina langsung menoleh saat suaminya membuka pintu kamar mereka.
"Mas." Sapa Reina sejenak. Ia kemudian kembali fokus lagi pada tumpukan pakaian dan sederat baju yang tergantung.
"Pakaian kok hanya dilihatin?" tanya Hendri sambil memeluk erat tubuh Reina dari belakang.
"Bingung aku mas, mau pakai yang mana." Hendri melorotkan jubah mandi Reina. Ia mendapatkan kecupan di pundak Reina sampai ke leher. "Mas jangan mancing-mancing aku ya. Kita harus ngantor loh ini."
"Siapa yg mancing sih, kan gak ada ikan disini."
Reina mengacak-acak rambut Hendri, karena dia masih terus dengan aktivitasnya.
"Dari pada Mas goda aku seperti ini, alangkah lebih baik kalau Mas pilihkan aku baju yang cocok aku pakai. Yang mas suka tentunya."
"Aku lebih suka kamu nggak pakai baju sayang. Lebih se*ksi dan sangat menarik."
"Ihhh... pagi-pagi mesum."
__ADS_1
"Aw... Aw... Aw..." Hendri mendapatkan beberapa cubitan di perutnya. Dengan cepat Hendri langsung menggendong Reina lalu memangkunya, setelah Hendri mendapatkan tubuhnya di tepi ranjang.
"Kita hari ini ke dokter saja ya."
"Mau ngapain Mas?"
"Waktu itu kamu kan flek pas jadwal bulanan, terus kemarin begitu lagi. Sebaiknya kita ke dokter saja biar tahu kamu kenapa?"
"Nggak usah khawatir gitu dong mas. Aku ini pernah kok seperti ini waktu masih di luar negeri. Ini hanya karena aku stres, banyak pikiran."
"Kalau memang pekerjaan bikin kamu lelah, sementara waktu biar aku yang handle kerjaan kamu dengan Gita. Kamu istirahat dulu dirumah, atau ingin kemana biar aku temani."
"Bukan pekerjaan yang Aku pikirkan Mas."
"Aku ingin cepat punya anak." Cicit Reina pelan.
Untuk sejenak Hendri terdiam. Menatap wajah sang istri yang menatapnya sendu.
"Sayang dengar aku, anak itu amanah sebuah rezeki. Kalau memang belum rezekinya kita ya sudah jangan di harapkan. Jangan terlalu di pikirkan hingga buat sayang jadi stres sendiri. Apalagi usia pernikahan kita baru hitungan bulan."
"Tapi kita ini sudah tua mas. Bagaimana kalau aku lama hamilnya."
__ADS_1
"Siapa bilang kamu sudah tua Re? Kamu belum melewati kepala tiga loh."
"Lah mas Hen sudah melewati kepala empat."
"Loh iya ya." Ucap Hendri menyadari usianya sendiri. "Tapi tetap saja Re, ini bukan masalah usia kita yang masih muda ataupun sudah tua. Kalau kita memang belum di kasih, tentu kita harus berusaha dan coba lagi sampai jadi." Terang Hendri sambil menarik tali bathrobe Reina.
"Mas mau apa?" tangan Reina sudah mencekal tangan Hendri.
"Coba lagi."
"Kerja mas, kerja."
Hendri terkekeh melihat kekesalan di wajah istrinya karena ia goda pagi-pagi seperti ini.
"Tapi kita tetap harus ke rumah sakit sayang."
"Ngapain sih Mas. Aku tuh nggak sakit mas."
"Kamu tuh Re, semakin kurusan. Sudah berapa Minggu coba kamu nggak doyan makan nasi, lauk, sayuran. Kamu makan roti terus, makan buah, ngemil. Aku takut kamu kenapa-napa."
"Mas ini jangan lebai deh. Kalau aku sakit aku sudah pasti bilang. Ya kali tubuh mau sekarat, aku diam saja. Aku ini memang lagi enek lihat nasi mas. Jangan terlalu khawatir." Reina langsung turun dari pangkuan Hendri. ia harus segera berganti baju.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan π₯° kasih like dan komennya π tab favorit juga ya β€οΈ