
Enam bulan sudah berlalu, Reina sudah mulai aktif bekerja semenjak tiga bulan yang lalu. Kalau boleh jujur, Reina ingin sekali mengurus Divya setiap saat, setiap waktu dalam pantauannya. Namun, Reina juga tidak mungkin membiarkan usahanya dan tanggung jawabnya sebagai pemilik R-DS Fashion ia abaikan begitu saja.
Toh Hendri mendukung apapun yang di lakukan Reina selama itu baik dan positif. Lagi pula mana mungkin Hendri meminta istrinya di itu mengabaikan mimpi yang sudah berjalan cukup baik.
Divya, gadis kecil yang kini sudah mulai Mpasi. Balita itu di jaga bergantian. Setiap hari senin dan selasa yang menjaga Divya adalah Pak Makruf dan bu Rumi. Reina menambah baby sitter untuk membantu kedua mertuanya. Biar bagaimanapun menjaga balita itu cukup menguras energi, apa lagi semakin hari Divya semakin aktif. Tentu Pak Makruf dan Bu Rumi yang sudah sepuh akan kelelahan jika menjaga Divya tanpa bantuan tenaga orang lain.
Setiap hari rabu, kamis, dan jumat. Tentu saja Nissa yang menjaga seorang diri. Perempuan yang masih cocok memiliki bayi itu, tentu saja selalu antusias saat gilirannya menjaga Divya.
Sisa hari yang ada, tentu saja Divya bersama Reina dan Hendri, karena hari itu adalah hari libur bekerja.
Tok ... tok ... tok ...
"Aduuuhhh ... siapa sih, jam istirahat begini main ketuk pintu," gerutu Reina kesal. Baru saja ia akan menuju ruangan istirahat untuk memompa asi terlebih dahulu.
Dengan langkah kesalahannya, Reina langsung bergegas membukakan pintu. "Loh Mas Hen kok sudah di kantor lagi?" tanya Reina. Biasanya mereka memang selalu makan bersama saat istirahat kerja. Tapi tadi Hendri mengatakan sedang menemui klien di luar kantor.
"Pekerjaan sudah selesai, ini aku bawakan makan siang buat kita."
"Aku mau pompa dulu Mas, sakit banget ini," keluh Reina sambil menyentuh dadanya yang sudah mengeras.
__ADS_1
"Loh, memangnya dari tadi kamu nggak sempat pompa sayang? Sampek keras begini." Hendri ikut menyentuh dada Reina yang terlihat penuh.
"Lupa aku Mas, gara-gara kebanyakan kerjaan."
Hendri mengikuti langkah Reina menuju kamar kecil yang biasanya Reina gunakan untuk istirahat.
"Lain kali harus tetap sempatkan untuk pompa dulu sayang, aku takut badan kamu sakit nanti kalau sampai penuh begini."
"Iya Mas." Reina langsung melangkah menuju ruang istirahat yang ada di sana dan di ikuti Hendri.
Reina segera membuka baju atasnya untuk segera memompa kedua aset berharga yang mengandung cairan penting bagi Divya.
"Mau sembari aku suapi atau makannya nanti setelah pompa?"
Hendri menatap Reina lekat. Benar, perempuan itu serba bisa. Melakukan semua tugasnya dengan baik tanpa pernah mengeluh.
"Mas ngapain lihat aku seperti itu?"
"Terimakasih sudah jadi perempuan hebat untuk kami," ucap Hendri sambil mengusap puncak kepala Reina.
__ADS_1
Bukannya tersanjung, Reina malah memicingkan matanya. Menatap penuh selidik pada sang suami.
"Kok serem ya. Mas mau apa sebenarnya?"
"Ya Allah Re ... bukannya terharu ini malah curiga sama suaminya."
Reina langsung beranjak dan memasukkan asi kedalam lemari pendingin untuk ia bawa pulang nanti.
"Abis tatapan Mas, bikin aku merinding," Reina langsung mengambil baju atasnya untuk kembali ia gunakan. "Mas ..." Hendri merebut tiba-tiba baju Reina lalu menariknya agar mendekat.
"Karna kamu sudah curiga dengan ku, maka aku akan mewujudkan kecurigaan mu."
"Aaaa ... Mas modus, ngomong aja tergoda lihat aku seperti ini," pekik Reina. Namun, pada kenyataannya Reina tidak melawan apapun yang ingin di lakukan suaminya. Ia dengan senang hati memberikan perlakuan terbaik untuk suaminya. Saling menyentuh, saling menggugah hasrat agar semakin melambung tinggi.
De*sah nafas Reina mulai terdengar di telinga Hendri saat ia terus mencu*mbu tubuh tanpa benang itu. Keduanya mengabaikan jam istirahat yang sebentar lagi habis.
"Tunggu Mas." Reina mengehentikan aksi Hendri saat ingin menyatukan tubuh mereka secara utuh.
"Kenapa?"
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan π₯° kasih like dan komennya π tab favorit juga ya β€οΈ