Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 125 MANDI LEBIH AWAL


__ADS_3

"Ayy tahu nggak kenapa badan aku rasanya begitu."


"Memangnya kenapa?" tanya Yusuf was-was. Karena gejalanya sudah seperti Reina saat sebelum tahu kalau sedang hamil. Otak Yusuf sudah mencoba mengenyahkan pikirannya sendiri.


"Ternyata aku tadi pagi belum sarapan Ayy."


"Hahaha hammmppp ..." Nissa langsung membungkam mulut suaminya yang menertawainya.


"Sssttt ... Jangan ketawa kuat-kuat Ayy, nanti Zen bangun. Jadi tadi setelah Rere selesai melahirkan aku langsung ke warteg buat isi tenaga."


"Kenapa nggak pesan makan di kantin rumah sakit?"


"Kelamaan Ayy. Harus nunggu di masakin dulu, kalau ke warteg kan sudah siap sedia langsung makan."


"Lagian kenapa bisa tadi nggak sarapan sih sayang?"


Nissa merebahkan tubuhnya, menyusupkan wajahnya di leher Yusuf, dan saat itu juga kedua tangan Yusuf memeluk Nissa dengan senyum seringai yang sudah pasti akan mengubah suasana.


"Biasanya kita makan selalu sama-sama, beberapa hari nggak ada Ayy rasanya begitu aneh. Jadi tadi pagi aku hanya minum teh hangat, Zen sarapan sama roti bakar. Padahal dimeja makan sudah banyak makanan."


"Jadi mau aku temani makan sekarang?" tawar Yusuf. Sifat manja Nissa terhadapnya, tentu membuat jiwa Yusuf terasa kembali muda.


"Tadi kan waktu di rumah sakit kita sudah makan sama-sama Ayy."


"Tadi kan ramean sayang, yang berduaan belum."


Tentu saja Nissa sudah merasakan gelagat suami yang sudah dapat di tebak.


"Awas ih Ayy, aku mau tidur." Nissa mencoba melepaskan diri. Sebenarnya Nissa hanya iseng setiap kali mengatakan dan berusaha melepaskan diri dari Yusuf. Karena pada dasarnya Nissa sendiri sangat suka dengan yang di lakukan Yusuf padanya.


Siapa yang bisa menyangka jika kini Yusuf benar melepaskan Nissa. Tidak berniat memaksa seperti cara Yusuf yang sangat Nissa suka.


"Ayo tidur." Yusuf membawa Nissa kedalam dekapannya. Lengannya menjadi bantal sang istri dan satu tangannya melingkar di pinggang Nissa.


"Tumben, nggak jadi Ayy?" ada rasa kecewa dan keheranan saat Yusuf tidak melanjutkan aksinya.


"Kamu pasti lelah seharian ini." Tutur sambil mengeratkan pelukannya.


Yusuf membuka kedua kelopak matanya kembali saat mendengar suara nafas yang sudah terdengar teratur. Yusuf mengatur posisi Nissa agar lebih nyaman tidurnya.

__ADS_1


Yusuf mendaratkan kecupan di kening Nissa, dan menatap wajah Nissa lekat.


"Istri kecil ku." Gumamnya. Yusuf kemudian pindah tidur di sebelah sisi Zen. Harus jaga-jaga takut anaknya terjun bebas ke lantai.


Pelan-pelan kedua mata Zen mulai terbuka, ruang kamar masih jelas nampak temaram. Zen melihat disebelah kanan dan kirinya. Ayah dan Ndanya tidak ada disebelahnya. Menyisakan bantal guling yang menggantikan posisi kedua orang tuanya.


"Ayah, Nda." Zen turun dari atas ranjang. Baru saja Zen akan membuka pintu walk in closed, tiba-tiba pintu sudah di buka lebih dulu oleh Nda nya.


"Loh adek sudah bangun?" tanya Nissa yang terdengar gugup dan waspada. Ia juga langsung menggendong Zen dan langsung mengganti pencahayaan lampu kamar agar lebih terang.


Zen menatap heran Nissa. Nda nya itu menggunakan jubah mandi dan kepala di Gelung handuk. Serta tubuh yang terasa dingin seperti orang baru selesai mandi.


"Sayang," panggil Yusuf berniat menghampiri Nissa.


Zen langsung melihat jam dinding, saat melihat Yusuf juga nampak baru selesai mandi, karena menggunakan jubah mandi. Masih pukul 03.50 wib.


"Nda sama Ayah belum subuh kok sudah mandi?" tanya Zen seolah sedang menyelidiki.


Nissa dan Yusuf saling pandang. Keduanya kebingungan mau menjawab apa.


"Jangan-jangan Nda sama Ayah mandi duluan karena mau tinggalin Zen ke rumah sakit buat lihat princess." Ucap Zen kuat. Seketika Yusuf dan Nissa bernafas lega karena tidak perlu membuat alibi.


"Iya kita pagi-pagi mau lebih awal lihat princess."


"Ya di ajak dong sayang. Ini tadi Nda mau bangunkan Zen biar cepat mandi terus kita lihat princess dulu sebelum berangkat ke sekolah." Tutur Nissa.


"Yeee ... Asiiikkk ... Ayo Nda, Zen mau mandi sekarang, kita cepat ke rumah sakit ya Nda."


"Iya sayang ... "


Dasar Om Yusuf, mana mungkin Nissa di lepaskan begitu saja. Apalagi setelah berjarak jauh selama tiga hari. Om suami milik Nissa yang rajin membuat tapi tidak ingin nambah anak. Ckckck ... Mungkin itulah arti tatapan Nissa ke Yusuf saat ini.


Benar saja, pagi-pagi buta Yusuf sudah membawa Nissa dan Zen ke rumah sakit. Mempercepat waktu karena Zen sudah tidak sabar ketemu princess.


Sebenarnya pagi buta bukanlah jam jenguk pasien. Tapi kekuatan orang dalam tentu akan mempermudah segalanya. Apapun Harus Yusuf lakukan demi anak bujangnya agar tidak merengek lagi. Padahal Yusuf juga sudah tidak sabaran ingin bertemu cucunya juga. (Maaf jangan ditiru.)πŸ™πŸ™πŸ™


"Dedeknya wangi, seger ya Ayah." Ucap Zen yang terus menerus mencium bayi mungil yang ada di pangkuan Yusuf. Bayi cantik itu tentu saja sudah di mandikan oleh petugas kesehatan.


Yusuf ikut mencium princess. "Iya princess wangi, kalau om, wangi nggak ya?"

__ADS_1


"Zen juga wangi Ayah." Zen yang tidak terima dengan pertanyaan Yusuf, tentu ia langsung berdiri dan mencondongkan tubuh kecilnya agar ayahnya mencium wangi tubuhnya.


Hal itu membuat Hendri yang sedang menikmati nasi uduk terkekeh melihat tingkah Zen.


Yusuf langsung mencium tubuh anak bujangnya. "Nggak wangi tuh," ucap Yusuf menjahili Zen.


"Iiihhh .... Nda, Zen tadi kan Pakai parfum ya Nda."


"Iya." Jawab Nissa yang sedang duduk di dekat Reina yang sedang menikmati nasi uduk pesanannya.


Sebelum datang ke rumah sakit, Reina meminta dibelikan nasi uduk kesukaannya.


"Coba sini Mas cium wanginya."


Zen langsung mendekatkan diri kepada Hendri. "Wangi kan Mas?"


"He'em ... Wangi banget, seger lagi. Dan ganteng seperti biasanya." Tutur Hendri fakta.


"Tuh Ayah, kata mas Hen, Zen itu wangi."


"Ah itu pasti karena Mas Hen ingin menyenangkan hati Zen saja." Yusuf masih belum ingin berhenti menjahili Zen yang terlihat lucu saat kesal.


"Coba sini, Nda cium."


Tentu saja Zen langsung menghampiri Nissa dan Reina yang duduk bersebelahan. Saat itu juga tubuh Zen langsung di cium Nissa dan Reina bersamaan.


"Zen wangi kan?"


"Wangi kok." Ucap Nissa dan Reina bersamaan.


"Tuh kan, Zen itu wangi Ayah ..." Zen diam sesaat. " Atau jangan-jangan hidung ayah sakit." Tebak Zen.


"Eh mana mungkin ayah yang sehat ini sakit Zen."


"Sudah Ayah." Nissa cepat memotong perdebatan antara Ayah dan anak yang bisa panjang berbab-bab. "Ayo Zen kita berangkat sekolah dulu."


Zen langsung menghampiri Yusuf, lebih tepatnya bayi yang ada di pangkuan Yusuf. "Princess cantik, Om yang super ganteng ini mau sekolah dulu ya."


Ucapan Zen barusan membuat semua orang hanya geleng-geleng kepala keheranan dengan tingkat kepedean Zen sejak dini. Meskipun itu fakta bahwa Zen ganteng maksimal.

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️


__ADS_2