Dikira Janda

Dikira Janda
BAB 102 TERAKHIR KALI


__ADS_3

Hendri menatap botol infus yang terus meneteskan cairan agar masuk kedalam tubuh Reina. Hendri kemudian menatap wajah sang istri. Bahkan kini selang oksigen pun terpasang.


Dari hasil pemeriksaan dokter tadi, akibat syok yang dialami Reina, membuatnya sampai kesulitan bernafas. Dokter tentu langsung melakukan tindakannya. Akan sangat bahaya bagi janin Yang berada dalam kandungan Reina jika sampai tubuh Reina kekurangan pasokan oksigen.


"Sadar sayang." Gumamnya. Hendri sangat ingin Reina terbangun. Tapi ia juga dilema, bingung harus menenangkan Reina dan memberinya pengertian bagaimana.


Hendri terus menggenggam telapak tangan Reina. Kecupan juga mendarah di punggung tangan istrinya.


"Mas." Panggil Reina pelan.


Hendri langsung mengangkat wajahnya saat mendengar suara Reina. "Alhamdulillah, kamu sudah bangun sayang. Jangan dilepas sayang." Hendri menahan tangan Reina yang ingin melepas selang oksigen yang terpasang di hidungnya.


"Aku nggak apa-apa mas. Kenapa harus pakai tambahan oksigen."


Keduanya tangan Hendri langsung mengusap wajah Reina yang menangis deras tanpa dapat dihentikan.


"Mas, aku tadi mimpi kan Mas. Hik... hik... mana mungkin Oma... Oma..." Reina menepuk dadanya sendiri karena merasakan sesak. Terlalu sulit menerima hal yang belum siap ia hadapi. "Mas aku nggak bisa nafas Mas. Dada aku sakit banget Mas. Tolong aku, ini gimana Mas." Reina semakin kuat menepuk dadanya sendiri.


Hendri langsung memeluk Reina erat. "Istighfar sayang." Tangan Hendri menekan tombol nurse call agar perawat dan dokter segera datang.


"Mas Oma nggak mungkin tinggalin aku kan Mas. Oma... Oma... Aku nggak bisa Mas. Aku... nggak kuat Mas. Aku... aku..." Suara Reina kembali melemah dan ia jatuh pingsan lagi tepat saat dokter baru saja memasuki ruang rawatnya.


Setelah hampir setengah jam, Reina kembali membuka kedua matanya.


"Sayang."


"Mas, ayo kita pulang ke Malang sekarang Mas. Aku yakin ini semua nggak bener." Reina tertawa dengan deraian air mata yang tidak bisa di bendung lagi. "Aku yakin Oma lagi ngeprank aku biar aku pulang ke Malang mas."

__ADS_1


"Istighfar sayang." Hendri mengusap wajah Reina yang semakin sembab penuh air mata.


Hendri sangat paham jika Reina syok dengan keadaan sekarang. Apa lagi peran Wati bukan hanya sebagai Oma untuk Reina. Tapi juga sebagai ibu yang membesarkannya penuh kasih apa lagi saat Erlin meninggal dunia.


"Aku kuat kok mas buat pulang ke Malang."


"Kamu mungkin kuat sayang. Tapi belum tentu anak kita kuat. Aku tahu bagaimana perasaan mu sekarang. Tidak mudah bagimu, bagi kita semua kehilangan Oma secar tiba-tiba. Tapi coba ingat ucapan Oma tadi malam."


Tangis Reina kembali pecah, Saat mengingat lagi perbincangannya semalam bersama Wati, menyadari jika itu menjadi pesan untuk yang terakhir kalinya.


"Istighfar sayang, istighfar. Sekarang yang Oma butuhkan adalah doa dari kita."


Hal ini memang tidak lah mudah. Tapi setiap yang hidup pasti akan kembali pada tempat yang sebenarnya, disaat waktunya telah tiba. Mau tidak mau, siap tidak siap. Siapa pun yang ditinggalkan harus melepas dengan hati yang ikhlas.


.


.


.


Tentu yang memberikan keterangan secara langsung pada para wartawan adalah pengacara keluarga Yusuf.


Sejak jenazah Wati di bawa pulang, silih berganti orang memasuki rumah untuk mengirimkan doa didekat jenazah.


Jika Nissa duduk berdampingan bersama Luna. Yusuf jelas berada di dekat Adam. Sedangkan Zen dan Qia, bocah dua itu aman dalam pengawasan Jaya dan Jumiasih beserta Amira. Demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, Zen dan Qia diminta Yusuf untuk tidak melepas masker yang mereka kenakan.


"Mbah, Kak Re telepon." Ucap Zen sambil mengarahkan ponsel Nda nya, yang memang sengaja Nissa berikan ke Zen.

__ADS_1


"Diangkat nak. Ayo kita cari ruangan yang tidak banyak orang." Ajak Jaya.


Zen : "Assalamualaikum Kakak."


Reina : "Waalaikumsalam. Adeeekkk... Mbah..." Lagi, Reina menangis lagi.


Zen : "Kak Re nggak boleh nangis, nanti Oma sedih kalau kak Re menangis."


Diseberang sana, terlihat jelas dilayar ponsel jika tangan Hendri tengah mengusap kedua mata Reina yang sudah bengkak.


Reina : "Kakak nggak nangis kok dek." Ucapnya dengan suaranya yang lemah dan serak.


Zen : "Kata Oma, Kak Re harus bahagia dengan mas Hendri. Terus, Kak Re nggak boleh nangis, nggak boleh sedih. Kalau kak Re nangis dan sedih nanti adek Zen juga ikut nangis, ikutan sedih Kak. Kata Oma Kak Re harus jaga kesehatan agar cicitnya Oma sehat. Memangnya cicit itu apa kak Re?" Zen tanya dengan wajah polosnya. Sedangkan Jaya terus membelai puncak kepala Zen.


Reina terkekeh pelan, Ia kini mulai terhibur dengan pertanyaan adiknya.


Reina : "Adek, kita kan anak Ayah dan Nda, itu Artinya kita cucu Oma, Mbah kung dan mbah uty. Nah karena Kakak akan kasih adik buat Zen, jadi calon adik Zen ini nanti kalau sudah lahir akan jadi cicitnya Oma, Mbah kung dan mbah uty."


Zen : "Ooowhhh..." Zen mengangguk paham.


Reina : "Adek, Kakak ingin lihat wajah Oma sebentar saja. Untuk yang terakhir kalinya."


Bersambung...


Good night all ❀️ semoga pada mimpi indah 🌹


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️

__ADS_1


__ADS_2