
"Aku sudah nggak tahan Re." Ucap Hendri sambil menuntun tangan Reina untuk menyentuh milik Hendri yang sudah ingin di bebaskan.
"Eh." Reina jelas terkejut. Menatap Hendri dengan pupil melebar. Sedangkan tangannya terasa bergetar saat merasakan benda keras seperti tertahan seolah ingin di bebaskan.
(Tolong di baca setelah buka puasa bagi yang menjalankan π)
Hendri jelas tersenyum melihat ekspresi wajah Reina yang begitu tidak menyangka dengan apa yang tengah ia sentuh.
"Kenapa kamu terkejut seperti ini. Padahal tangan dan bibir mu begitu lincah saat menjajah dada ku."
Disaat suasana mencekam seperti ini, masih sempat-sempatnya mereka saling berbincang.
Tangan Reina tetap terbuka lebar, tidak berani menggenggam apa yang kini ia sentuh. Benda aneh yang memberi rasa penasaran namun juga bingung harus melakukan apa untuk membuang rasa ingin tahunya.
Tangan Hendri melepas cengkraman pada tangan Reina. Namun, tangan Reina masih berhenti dibawah sana.
Kedua tangan Hendri mengusap wajah Reina yang masih menatapnya lekat.
"Mau lanjut atau berhenti?"
Reina terkekeh mendengar pertanyaan Hendri yang sudah jelas tidak mungkin untuk mereka berdua berhenti disaat suasana panas seperti ini.
"Apa mas bisa menahan setelah dia seperti ini?" Tanya Reina. Meskipun tangannya bergetar ragu untuk melakukan apa yang mungkin Hendri kira tidak akan Reina lakukan. Reina menggenggam benda yang terasa keras seperti batu, yang masih aman pada tempatnya.
"Ahhhggg Re... Kamu benar-benar buat aku gila." Hendri menge*rang kuat atas perlakuan berani Reina yang tidak Hendri sangka-sangka. Hendri juga sampai memeluk Reina erat, membuat tubuh mereka rapat.
Jantung mereka sudah terasa ingin lari kemana-mana karena sentuhan da*da polos keduanya yang begitu memanaskan jiwa.
"Jangan pernah gila mas, karena aku menyukai lelaki waras untuk melakukan hal ini." Tutur Reina sambil menurunkan resleting celana milik Hendri. Meski masih di peluk Hendri kuat tapi Reina mencoba untuk meloloskan kain yang membalut kaki Hendri.
Hendri yang kini justru di buat salah kaprah oleh Reina langsung merenggangkan dekapannya. Ia langsung meloloskan setiap benang yang menempel pada tubuhnya sendiri.
Mata Reina terbuka lebar sampai tak berkedip, nafasnya juga terasa berhenti karena sesak dan memenuhi rongga dada saat ia melihat dengan nyata apa yang ia genggam tadi.
"Apakah benda sebesar itu benar benar akan masuk ke dalam tubuh ku." Batin Reina bergejolak. Meskipun Reina pernah sekali menonton film nakal, tapi ia benar-benar di buat tidak menyangka jika benda yang pernah ia lihat di film kini terpampang tajam seolah siap untuk menembus tubuhnya.
Hendri yang sudah terbakar api gair*rah, langsung menarik Reina lagi untuk saling menikmati bi*bir. Pagutan mereka semakin dalam dan bar-bar. Saling menyesap bi*bir bawah dan atas.
__ADS_1
Tangan Hendri merapatkan tubuh mereka, sambil menikmati bagaimana dalamnya dua aset kembar Reina tenggelam dalam dadanya.
Sedangkan Reina terus membelai punggung Hendri. Menyalurkan rasa yang sepertinya ingin lebih dari ini.
Hendri yang mulai sadar jika Reina kesulitan terus berjinjit agar tubuhnya lebih tinggi, ia langsung menggendong Reina menuju Ranjang.
Hendri juga langsung menindih Reina setelah ia merebahkan Reina di ranjang hotel mereka. Ranjang yang sudah jelas masih banyak kelopak bunga berhamburan disana.
Cecapan mereka semakin dalam dan liar membuat Reina merintih tertahan. Apalagi sekarang tangan Hendri semakin gencar memainkan lembah kembar milik Reina.
"Mas ahhh..."
Reina terus merinding sambil mendongakkan wajahnya memberi ruang untuk Hendri yang kini mencecap leher Reina yang tak kalah kuatnya seperti saat sedotan pada bibirnya.
Hendri terus mengabsen tanpa celah leher Reina, meninggalkan jejak jejak yang sudah pasti akan hilang dalam beberapa hari.
Pelan tapi pasti, mulut Hendri mulai turun hingga sampai pada pucuk lembah yang memiliki saudara kandung, eh kembar lebih tepat.
"Mas Hen." Lirih Reina sambil mencengkram rambut Hendri.
Merasakan lidah Hendri yang sedang lomba tari dengan Sangat lincahnya. Membuat tubuh Reina meliuk ingin ikut menari juga jika saja bisa.
Ruang hotel mereka kini di penuhi dengan suara Reina yang terus merintih. Bukan Rintihan sakit yang ia terima melainkan Rintihan yang seolah menyampaikan kata untuk meminta Hendri terus melakukannya.
Hendri terus menyesap kuat berganti agar tidak terjadi rasa iri di antara keduanya. Dan meninggalkan jejak jejak gigitan membuat Reina semakin menjerit.
Ini belum ke pertarungan sebenarnya. Jika masih seperti ini saja membuat pangkal milik Reina mulai cenat cenut. Lalu bagaimana rasanya jika Hendri sudah menyatukan kepemilikan mereka.
Kecupan Hendri turun pelan dan santai hingga ke perut. Bahkan meninggalkan desiran aneh yang semakin kencang di dalam tubuh Reina.
Hendri mengangkat wajahnya, tangannya mulai bergerak ingin melepas penutup segi tiga terakhir, yang masih menempel pada tubuh Reina.
"Mas..." Panggil Reina saat Hendri akan meloloskan kan benang terakhir.
"Kenapa?"
"Apa tidak sebaiknya lampu kita ganti dulu agar tidak seterang sekarang?"
__ADS_1
Hendri menggelengkan kepalanya. "Aku ingin terus menatap wajah cantik mu Re."
Hendri langsung melanjutkan apa yang ingin ia lepaskan. Reina langsung merapatkan pa*hanya saat Hendri sudah berhasil melepas benang terakhir.
Setelah melempar secara asal segi tiga pengaman, Hendri mencoba untuk merenggangkan kedua pa*ha Reina. Namun tidak bisa karena Reina merapatkan kuat.
"Kalau kamu belum siap kita bisa menundanya."
"Bukan begitu mas, aku hanya malu."
"Tidak perlu malu istri ku." Hendri mengecup kedua lutut Reina bergantian. Membuat tubuh Reina bergetar hebat. "Karena kita harus sering melakukan ini agar Zen cepat punya adik cantik."
Hendri langsung memberikan jarak diantara kedua pa*ha Reina saat ia sudah merencanakan keduanya.
"Baca doa ratu bekicot." Tutur Hendri.
Hendri mengusap pelan jalan arah tanah akan ia lalu. Membuat tubuh Reina bergejolak begitu saja.
Sudah terasa basah dan siap untuk masuk ke pertarungan selanjutnya.
"Aaahhh..." Rintih Reina saat Hendri mulai mencoba menerobos pertahanannya.
"Tahan sebentar ya." Tutur Hendri. Ia langsung mencecap bibir Reina lagi agar suara kesakitan Reina tenggelam dalam pagutan yang semakin dalam. Sambil terus menerobos Reina.
Air mata Reina sudah tidak dapat di tahan lagi. Tubuhnya terasa di belah menjadi dua. Runtuh berkeping keping.
Rasa sakit yang membuat Reina penasaran dengan rasa selanjutnya. Rasa sakit yang memang harus ia tahan agar ia bisa tahu bagaimana rasanya suatu hal yang membuatnya penasaran.
Hendri Terus berusaha, agar pertahanan Reina rubuh akan kuatnya Hendri mencoba melesak.
"Ahhhggg..." Teriak Hendri saat ia sudah berhasil masuk ruang lingkup yang sudah lama tidak ia rasakan.
"Ouhhh... sakit mas." Teriak Reina pelan bersama dengan Hendri tadi. Karena suaranya terasa tercekat karena terus menahan sakitnya tubuh yang seperti tengah di belah-belah. Sedangkan tangan Reina mencengkram kuat bahu Hendri.
Hendri berhenti sejenak. Merasakan inti tubuhnya yang kini sudah tidak karatan lagi.
Bersambung...
__ADS_1
Aku nulis bab ini malam habis tarawih yaπ semoga lolos malam ini dan maaf jika malah lolosnya besokπ
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan π₯° kasih like dan komennya π tab favorit juga ya β€οΈ